
Pada akhirnya kami semua melupakan tentang Kardagon, mereka tidak membahas tentang diriku yang habis membatantai Negara itu. Mungkin karena mereka takut dengan diriku, atau karena situasinya sedikit canggung ketika Reftia dan Nivalda ikut berkumpul. Yah, tapi tetap saja para ahli sihir kerajaan menjadi cenderung takut kepadaku.
Kami semua menggunakan sihir teleportasi milik Rayen untuk sampai ke Megaira, bahkan Nivalda juga ikut. Sepertinya dengan adanya dia, jalan ceritaku akan menjadi sedikit berantakan.
Yang manapun itu, Nivalda adalah sosok yang bisa bergaul dengan mudah. Ia tak segan untuk membalas perkataan setiap orang yang menegurnya.
Singkat cerita saja, kami semua sudah berkumpul di istana Megaira. Benar-benar kami semua, itu berarti Ratu Alekto dan Tisifon, serta para penduduk Akarka.
Ketiga ratu sedang mempersiapkan pertemuan mendadak dengan Negara-Negara di benua ini, tujuannya adalah untuk membahas masalah tanah kosong Kardagon. Bukan apa-apa, tanah itu menyimpan segudang emas di dalamnya, agak sedikit runyam kalau tanahnya dibiarkan begitu saja.
Untuk penduduk Akarka, mereka sedang menikmati pelayanan istana ini. Mereka yang tidak pernah merasakan dunia luar pastinya akan merasa sangat senang, walaupun tujuan awal mereka adalah bertemu denganku. Aku menyuruh mereka untuk beristirahat, karena diriku juga sebenarnya sudah sangat lelah.
“Dengan sifatnya yang seperti itu.. aku bahkan tak tahu kenapa Nivalda melambangkan kenyamanan..”
Tanyaku kepada Reftia, ketika aku berbicara dengannya empat mata di dalam kamarku. Kami hanya membahas sedikit masalah Dewi Agung, dan bagaimana hubungannya dengan Vedetta. Hingga pada akhirnya aku membahas Nivalda yang konyol.
Tapi setelah itu Reftia menjawabnya dengan perkataan yang menarik,
“Seharusnya kau tak perlu bingung, karena dia sama sepertimu. Nivalda melambangkan kenyamanan, dan kenyamanan itu berlaku untuk dirinya sendiri. Kamu juga sama, nafsumu hanya untuk dirimu sendiri.”
Padahal aku akan sangat berterima kasih kalau Reftia tidak membahas soal nafsu.
“Yah, paling tidak aku sudah melihat tiga sosok Dewi Agung.. sisanya hanya Hymera saja. Kira-kira perempuan seperti apa dia, ya?”
“Hymera, dia sangat pendiam. Kau tahu.. jiwa dan pikiran bekerja di bawah alam sadar, jadi tak perlu ada ucapan dari bibir untuk merefleksikannya.”
“Hah? Apa yang kau bicarakan?”
“Hah?.. bukankah kita berbicara tentang jiwa dan pikiran?”
“Astaga, jelaskanlah dengan lebih sederhana!”
“Maksudku.. Hymera adalah Dewi yang lebih sering berpikir daripada bertindak.”
Oh, yang itu lebih sederhana.
***
Ketika aku sedang duduk di kasur bersama Reftia, tiba-tiba saja seorang penjaga masuk ke dalam kamar. Penjaga itu terlihat sangat tergesa-gesa, dia bahkan tidak mengetuk pintu dan langsung masuk begitu saja. Sadar akan kesalahannya, dia segera sujud sembah kepada dua Dewi di hadapannya.
“Ada apa?”
Tanyaku kepada penjaga itu.
“Nona Corter.. anda diminta untuk bergabung dalam rapat.”
Ucap penjaga tersebut dengan napas yang berantakan.
Tapi kenapa aku harus ikut ke dalam rapat? Bukankah ini akan sedikit membongkar identitasku? Kalau mereka memintaku untuk datang, aku ragu mereka tidak akan bertanya tentang siapa sosok diriku yang sebenarnya. Seorang gadis yang membantai 20 juta jiwa menghilang, itu tidak munkin tidak menarik perhatian.
Aku menggaruk-garuk kepalaku sebentar, kemudian bertatapan dengan Reftia. Kami berdua saling mengangkat bahu sambil tersenyum, dan pada akhirnya aku dan Reftia mendatangi rapat itu. Si penjaga mengantar kami ke tempat rapat, itu adalah di ruangan yang dikhususkan untuk mengadakan pertemuan penting.
Ketika aku memasuki ruangan bersama Reftia, ada penjaga yang mengantarkanku sampai ke kursi yang kududuki. Kami berdua duduk di antara Ratu Alekto dan Rayen, meskipun aku masih bingung kenapa Rayen bisa ada disini.
“Inikah sosok yang menghabisi Kardagon?”
Seorang wanita cantik, dengan wajah polos yang tampak lemah, ia bertanya seperti itu ketika aku baru saja menaruh bokongku di kursi. Aku tak tahu ia siapa, mungkin saja perwakilan dari Negara lain.
Di dalam ruangan itu terdapat empat meja panjang yang membentuk persegi. Setidaknya setiap meja bisa diisi 7-8 orang. Bahkan saat ini pun, ruangan itu hampir penuh karena perwakilan dari suatu Negara tidak hanya pemimpinnya saja. Aku berbisik kepada Ratu Alekto, bagaimana mereka bisa terkumpul secepat ini, dan Ratu Alekto menjawab kalau sihir teleportasi bisa ditemukan di Negara manapun.
Jadi anggap saja kalau sihir teleportasi bukanlah suatu hal yang mahal di dunia ini. Yah, tapi bukan berarti mudah untuk melakukannya.
“Ya, seperti yang aku bicarakan tadi.”
Ucap Ratu Megaira, menjawab pertanyaan sebelumnya.
“Kau.. aura-mu sedikit berbeda dengan kebanyakan orang ya.. terutama gadis yang ada di sebelahnya. Entah kenapa, agak sedikit.. kuat.. atau.. indah?”
Kondisi kami memang sulit dijelaskan dengan kata-kata. Ketika aku dan Reftia duduk bersebelahan seperti ini, aura yang kami keluarkan memang sangat besar. Aku yakin kalau Reftia sudah menahan auranya, tetapi terkadang ada orang yang peka sehingga dia bisa membaca aura lebih akurat.
“Gadis berambut biru ini, Darren Corter, dan yang di sebelahnya adalah.. adalah.. adiknya Corter.. Firena Corter.”
Ucap Ratu Megaira.
Dengan bersusah payahnya memikirkan nama dalam waktu singkat, Ratu Megaira secara ajaib mampu menyembunyikan identitas Reftia. Sebenarnya aku juga tidak keberatan kalau ratu menyebutkan nama Reftia disini, lagipula tidak akan ada yang percaya. Yah, paling tidak dengan penyamaran menjadi lebih baik.
Setelah itu, rapat berjalan seperti biasanya, aku dan Reftia hanya bisa mendengar saja tanpa memberikan pendapat. Lagipula tak ada yang bertanya alasan aku menghancurkan Kardagon. Apakah ini aneh? Mereka sejak tadi membicarakan tentang bagaimana mengolah tanah Kardagon, bukan membicarakan tentang hukumanku.
Dalam situasi ini, dimana petinggi Negara saling memberikan pendapat, itu berarti yang paling memahami bahasa tubuh adalah yang akan menang. Tetapi untuk para petinggi seperti mereka, dimana harga diri adalah sesuatu yang sangat mahal, tentunya mereka sangat mengerti konsep poker face. Aku kurang bisa memahami gerak-gerik mereka.
Saat itulah, aku berbisik kepada Reftia, bertanya tentang sihir yang bisa kupakai untuk membaca pikiran.
“Reftia, aku ingin membaca pikiran mereka. Apakah ada sihir untuk itu?”
“Entah.. aku tak pernah menggunakan sihir.”
“Ya ampun, setidaknya beri aku jawaban. Kau itu lambang kecerdasan, bukan?”
“Hah.. kalau kau memang bersikeras, mungkin sesuatu bernama Neutral Eyes.. itu bisa membantumu.”
Neutral Eyes? Aku belum pernah mendengarnya sama sekali. Tapi kalau dilihat dari namanya, apakah ini ada hubungannya dengan teknik mata?
Sebelum aku sempat bertanya, Reftia melanjutkan penjelasannya,
“Itu adalah sihir yang akan mempengaruhi matamu, membuatmu bisa melihat aura orang lain. Itu adalah sihir dasar, tetapi kalau kamu seharusnya bisa mengembangkannya, kan?”
Mendengar kata-kata penyemangat dari Reftia, aku berpikir kalau itu adalah sihir yang mudah. Tentunya yang dikatakan Reftia adalah benar, seharusnya aku bisa mengembangkan sihir ini dengan mudah.
Neutral Eyes!
Pandanganku mulai berubah, mataku kini mulai melihat warna-warna pada aura seseorang. Warna apapun yang kulihat, entah kenapa aku bisa mengerti perasaan seseorang dari warna itu. Misalnya saja ketika aku melihat warna orange pada salah satu petinggi, aku langsung tahu kalau dia adalah orang yang hangat.
Tapi sepertinya ini masih sihir dasar, kalau begini aku tidak bisa membaca pikiran mereka. Aku menaikkan jumlah Reft pada mataku, mencoba semaksimal mungkin menekan kekuatannya. Dan yang kudapatkan sungguh mengejutkan.
Begitu aku melihat ke salah satu petinggi wanita, aku tidak bisa berkata apa-apa lagi.
Ketika aku ingin berteriak dan mengajak Reftia pergi, dengan cepat Reftia mencubit tanganku.
“Tenanglah, kau sudah menyadarinya, kan?”
Ucap Reftia dengan tenang. Diriku tetap saja masih merinding dengan apa yang baru saja kulihat.
Sebenarnya ketika aku memandang ke seorang perempuan cantik yang duduk di dekat Rayen, awalnya itu tampak biasa, aura-nya pun berwarna putih. Tapi ketika aku mulai menaikkan Reft, perwujudannya tiba-tiba saja berubah.
Dari sudut pandang mata biasa, perempuan itu kini sedang duduk sambil tersenyum memperhatikan ketiga Ratu Erinyes, tetapi dari Neutral Eyes bisa terlihat kalau dirinya kini sedang disiksa. Di belakangnya ada monster mengerikan yang tak berbentuk, sedang mencekik leher perempuan itu hingga membuatnya berdarah-darah.
Meskipun Reftia menyuruhku tenang sekalipun, aku tak bisa membiarkan itu terus terjadi.
“Reftia, apa kita akan diam saja?”
Bisikku pelan.
Sebisa mungkin aku tidak melakukan kontak mata dengan si monster, takut dirinya sadar kalau dia bisa
“Wanita itu sudah mati. Tubuhnya hanya hiasan bagi si monster. Aku akan menghidupkannya nanti.. untuk sekarang kau tenang saja.”
“Tetap saja.. kalau itu kamu seharusnya kau bisa melakukan sesuatu, kan?”
Ucapku sedikit keras kepada Reftia, tentu saja dengan tetap berbisik.
“Tidak bisa.. monster itu sepetinya.. utusan Azazel..”
Yang benar saja, Azazel mampu menciptakan makhluk? Kalau Reftia saja sampai berkata tidak bisa untuk monster itu, entah seperti apa kekuatan Azazel. Bayangkan saja, Reftia yang Dewi Agung dan berteman dengan Vedetta saja sampai berkata tidak bisa.
Bagaimana ini? Bukankah Azazel itu terlalu curang? Dia membelot dan mampu menentang Pencipta-nya sendiri, sedangkan aku yang hanya Dewi biasa ini bisa apa?
Tanpa kusadari aku sudah berkeringat dingin dengan hanya memikirkan si monster, dengan tatapan bodoh terkadang aku melirik ke si monster dengan perasaan takut. Tampaknya monster itu memperhatikan ke seluruh penjuru ruangan, kepalanya selalu berkeliling jadi aku memiliki kesempatan untuk melihatnya.
Tapi ada suatu saat ketika aku sangat ceroboh, karena terlalu takut aku tak sengaja melakukan kontak mata dengan si monster. Seketika saja aku langsung mengalihkan pandangan.
Melihat diriku yang sadar akan sesuatu, si monster menatapku dengan tatapan menyeramkan. Sialnya, dia mulai mendekat dan berdiri tepat di hadapanku. Aku memandang kosong ke depan, berpura-pura tidak tahu kalau dia sedang memelototiku.
Wanita yang ia tempeli tampak masih tetap dalam pengaruhnya, ia tetap duduk tersenyum meskipun si monster sudah tak ada di belakangnya.
“Seiren.. bagaimana ini, tolonglah aku!”
“Perlukah saya keluar dan menghabisinya?”
“.. hah.. sebaiknya jangan. Seiren, kalau terjadi sesuatu, kau langsung bergabung dengan Renatta dan selamatkan Rayen.. ini perintah!”
“Dimengerti.”
Sayang sekali karena monster itu tidak tertipu, dia mulai bertanya kepadaku,
“Iblis.. Demon God.. apakah kau adalah Darren Corter?”
Tidak! Tidak! Jangan mengajakku berbicara, iblis! Wujudmu mengerikan begitu, aku selalu membenci monster-monster seperti itu! Selain itu suaranya berat sekali, menakutkan!
Dia mengatakan Demon God tadi, ada apa sebenarnya?
Eh? Tunggu, iblis itu jangan-jangan..
“Kau bisa melihatku, kan? Kenapa tidak menjawab?”
Bodoh, mana mungkin aku mau menjawabnya! Kalau aku sampai berdialog dengan monster menjijikan sepetimu, bisa-bisa harga diriku turun! Sudahlah, kenapa tidak pergi saja?!
Monster itu terlihat kebingungan melihat reaksiku yang aneh. Perlahan, ia mulai mengangkat tangan kanannya dan bergerak menuju kepalaku. Sial, apa yang akan dia lakukan kepadaku? Tangannya yang sangat besar dan berlendir hanya berjarak beberapa centi dari kepalaku. Dan ketika tangannya sudah benar-benar menempel, aku berteriak dan beranjak dari kursi.
“Ahhh!!! Rayen.. Rayen.. aku, aku sudah tidak suci lagi!!”
“Corter ada apa?!”
“Darren, sudah kubilang untuk tenang!”
“Mana mungkin aku bisa tenang! Monster menjijikan itu, dia.. dia menyentuh tubuku!! Hii.. menjijikan!”
Semua orang terkecuali Reftia mulai kebingungan dengan reaksiku, ini karena di pandangan mereka aku hanya berteriak tanpa alasan. Tak pernah ada monster di ruangan ini.
Disitulah masalahnya, sebenarnya aku tidak ingin mempermalukan diri sendiri dengan berteriak, tetapi kalau monster itu menyentuh tubuh suciku, apa boleh buat.
Aku memeluk erat tubuh Rayen dari belakang, sambil sesekali mengintip ke arah monster itu. Tampaknya ia masih berdiri disana, memandang tajam kepada Reftia. Awalnya Reftia berpura-pura tidak menyadarinya, namun ketika monster itu mulai mendekat, Reftia balik menatapnya dengan tatapan yang lebih tajam.
Seketika Reftia mengeluarkan aura yang sangat menyeramkan tapi juga indah. Auranya berwarna hitam dan putih. Aku tak tahu apakah hanya aku saja yang merasakannya, tapi sepertinya monster itu menjadi sedikit jinak ketika menerima aura dari Reftia.
Reftia melihat ke arahku, kemudian dia menggelengkan kepala seolah mengisyaratkan untuk pergi dari ruangan.
“Sepertinya ada sedikit masalah, mohon maaf, kami permisi!”
Reftia berdiri dari kursinya dan beranjak pergi. Aku mengikutinya dari belakang, bersamaan dengan monster itu. Aku juga sempat menarik tangan Rayen sebelumnya.
***
Di luar ruangan, Reftia membuat dunia baru dengan kekuatannya. Dunia itu berisikan tempat yang sama dengan dunia yang sekarang, hanya saja bentuknya tercermin. Ya, itu adalah dunia cermin. Walaupun sama, nyatanya tak ada satupun orang yang ada di dunia ini.
Aku, Reftia, Rayen dan si monster masuk ke dalam dunia itu secara bersamaan. Kami berdiri di lorong istana yang tercermin. Padahal biasanya di lorong ini ada banyak penjaga, tapi di dunia ini sama sekali tidak ada tanda-tanda kehidupan.
“Sebenarnya ada apa ini?”
Tanya Rayen kebingungan. Karena ini adalah dunia yang diatur langsung oleh Reftia, Rayen sudah sadar kalau monster mengerikan sedang ada di depannya. Awalnya ia tampak terkejut, tapi itu tak lama. Aku segera memeluk manja tangan Rayen dengan erat.
“Apa Azazel yang memerintahkanmu?”
Tanya Reftia kepada si monster. Sikap Reftia yang sangat tenang itu sungguh membuatku takjub, apa Reftia tidak ingin muntah melihat monster buruk rupa seperti itu? Padahal aku yang Dewi biasa saja sampai tidak ingin mendekat.
“Apa urusanmu?”
Jawab si monster kasar.
“Diriku, Reftia sang Dewi Agung, sedang bertanya kepadamu dengan baik-baik. Apakah Azazel yang memerintahkanmu?”
Mengulangi pertanyaannya, Reftia bertanya dengan lebih tegas. Mendengar bentakan dari seorang Dewi, si monster sedikit terguncang. Auranya mulai melemah, menandakan dia sedikit takut. Tapi, tak ada alasan untuk menengtang Dewi Agung lebih jauh lagi.
“.. Demon God Darren Corter.. Azazel memerintahkanku untuk mencari iblis baru itu..”
Darren Corter sudah jelas-jelas itu adalah namaku, tapi apa-apaan dengan ‘Demon God’, aku tidak pernah memiliki gelar semacam itu sebelumnya.
Sambil terus memeluk tangan Rayen, aku secara tidak sengaja saling pandang dengan Reftia. Pandanganku seolah tidak mengerti, tetapi Reftia justru kebalikannya, ia mengerti betul dengan apa yang dikatakan si monster.
Melihat tatapan Reftia yang sangat mirip dengan Vedetta, seketika aku teringat dengan kutukan sang Pencipta tertinggi itu. Benar juga, kini aku adalah iblis, bagaimana aku bisa lupa sedangkan sudah jelas-jelas rambutku bertambah panjang. Bahkan ketika aku menunduk, aku bisa melihat rambutku yang berwarna hitam di ujungnya. Bagaimana aku bisa lupa?
“Kenapa Azazel menginginkan Darren Corter?”
Reftia melanjutkan bincangnya dengan si monster begitu aku sudah menyadari dimana letak kelupaanku.
“Mana kutahu!”
Reftia tetap tenang menanggapi jawaban dari si monster, mau bagaimanapun sepertinya dia tidak berbohong. Kalau dibandingkan dengan Astaroth, dirinya terlalu lemah, aku ragu Azazel memberitahukan keperluannya pada monster ini.
Reftia menjetikkan jarinya, seketika monster itu lenyap dan berubah menjadi abu. Monster itu benar-benar sudah mati, sama sekali tidak ada aura-nya yang tersisa.
Pandangan kami semua tertuju pada monster yang meledak menjadi abu itu. Kami memperhatikannya dengan seksama, seiring abu itu menghilang. Dan ketika abu itu sudah sepenuhnya mendarat di tanah, apa yang ada di belakang pemandangan itu adalah sesuatu yang mengejutkan.
Di ujung lorong, aku bisa melihat sosok menyerupai manusia yang sangat menyeramkan. Auranya hitam pekat, tak pernah aku melihat warna sehitam ini. Meskipun dengan wujud manusia, makhluk itu lebih menyeramkan daripada si monster.
Tapi kenapa bisa ada orang disini? Bukankah ini dunia ciptaan Reftia?
“Selamat siang, Dewi Agung Reftia..”
Sosok itu menundukkan kepala dan mengatakan kata-kata yang hangat kepada Reftia. Aku dalam posisi siap ketika sosok itu mulai berbicara. Dia memiliki senyuman licik yang membuat siapapun tidak bisa percaya.
Kemudian, Reftia mengucapkan kata-kata yang sangat menyeramkan.
“Lama tak bertemu.. Azazel!”