
Di gang yang sempit itu, kami berpelukan. Aku menyembunyikan wajahku di dada Rayen. Terasa sesak memang,
aroma tubuh Rayen yang tak sedap juga tercium. Tapi, entah kenapa perasaan ini terasa nyaman. Aku sangat puas ketika berhasil mendaratkan wajahku di dada Rayen.
Sedangkan Rayen, dia hanya bisa salah tingkah dan mencoba melepaskan tubuhku darinya. Tapi itu percuma, aku
sudah mengunci tanganku pada pelukan ini, aku tidak akan melepaskannya.
“C-C-Corter, a-apa yang kamu lakukan?”
Aku mencubit punggung Rayen dengan tangan kananku, dan dia menjerit kecil karena terkejut.
“Terima kasih.”
Aku juga menambahkan kata-kata itu, diselingi dengan dia yang bertanya-tanya sebenarnya apa yang sedang aku
lakukan.
Yah, sebenarnya ini hanyalah ucapan terima kasih dariku, walau terkesan agak menyeramkan tapi sepertinya laki-laki menyukai pelukan. Oh, mungkin tidak, nyatanya hanya Darren Corter laki-laki yang menyukai pelukan, dan itu terbawa hingga sekarang.
Rayen tidak sama sepertiku, bahkan tidak sama dengan diriku yang masih menjadi laki-laki dahulu. Walaupun si cantik Reftia berkata kalau aku adalah orang yang baik, nyatanya kebaikanku masih kalah jauh dibandingkan dengan dirinya.
Dia adalah pria yang hanya bisa memikirkan orang lain, tak peduli sekalipun dia harus kehilangan harga diri untuk itu. Sungguh lelaki yang bodoh, si Rayen ini. Tapi, aku menyukainya.
“Terima kasih.. untuk apa?”
“..entahlah. Aku tidak mau membahasnya.”
“Hah? Apa-apaan itu.. kamu sangat aneh.”
Ya, aku memang sangat aneh. Tidak ada wanita yang menarik lelaki ke dalam gang dan memeluknya. Kalau saja ada seseorang yang melihat kami, pasti akan ada tanggapan yang bukan-bukan. Tapi, ini adalah kehendak Dewi Corter. Aku menginginkan pelukan Rayen lebih dari siapapun.
Perasaan ini, sepertinya kudapatkan ketika aku memeluk lengannya, ketika berdebat dengan Roh Agung saat itu. Padahal hanya lengannya saja, tapi itu sudah membuat hatiku nyaman dan hangat. Aku sangat menantikan saat dimana aku bisa memeluk tubuhnya secara penuh. Dan tanpa pikir panjang aku malah melakukannya sekarang.
Aku mengangkat wajahku, dan melempar senyuman kepadanya.
“Bodoh. Aku menyukaimu!”
*
20 koin perunggu, itu adalah semua yang kudapatkan dari misi kali ini. Benar, aku mengambil semuanya, dengan
alasan Rayen sudah mengambil hadiah berupa kenaikan pangkat. Yah, dia sempat tersinggung dan ingin protes, tapi dia mengurungkan niatnya dan membiarkanku mengambil semuanya.
Dia berkata aku harus menggunakan uang ini untuk mencari tempat tinggal, bagaimanapun ternyata dia
masih mengingat kondisi hidupku yang susah karena tidak memiliki tempat tinggal.
Aku berkeliling sebentar untuk mencari penginapan, dan ada satu yang membuatku tertarik. Penginapan dengan
hanya satu kamar, tanpa ada lemari, karpet dan meja, hanya ada satu kasur di sana. Ruangan yang tidak terlalu besar, tapi ini cukup untuk beristirahat.
Bayangkan saja, aku hanya memerlukan biaya 7 koin perunggu untuk menginap semalaman disini. Walaupun tidak ada fasilitas sama sekali, yah, kupikir ini cukup untuk kamar yang sempit. Lagipula kasurnya juga tidak terlalu keras.
Kamarku terletak di lantai dua, walaupun kamar ini tidak memiliki balkon tapi setidaknya memiliki jendela untuk melihat keluar.
Aku memejamkan mataku di kasur putih itu, masih belum berkeinginan untuk tidur karena tubuhku masih kotor.
Yang kulakukan adalah membayangkan kembali sensasi ketika aku memeluk tubuh Rayen. Kenapa ya aku bisa
berani-beraninya melakukan hal itu? Padahal sebelumnya aku tidak memiliki perasan kepadanya.
Eh? Kenapa ini? Kenapa ketika memikiran Rayen badanku jadi panas dingin begini? Rasanya sangat malu ketika membayangkan kami berepelukan pada saat itu. Apa yang salah denganku?
Saat aku mulai bertanya-tanya kepada diriku sendiri, dunia ini menjadi sedikit aneh. Semua warna berubah menjadi hitam dan putih, angin yang berhembus dari jendela juga tiba-tiba berhenti.
Aku bangun dan mulai melihat ke sekeliling.
Sepertinya kejadiannya sama dengan saat aku berendam di kolam Akarka. Kalau tidak salah, saat itu Dewi Reftia menemuiku dan dunia juga berubah menjadi seperti ini. Apakah dia mencoba menemuiku lagi?
Ya, sepertinya begitu. Sosok wanita cantik, yang tidak lain adalah Dewi Reftia, memanggilku yang sedang kebingungan. Dia duduk di kasurku, aku sempat tidak menyadarinya karena aku melihat keluar jendela.
“Dewi Reftia..”
Ucapku spontan.
“Selamat malam, Darren Corter.”
“Hmm.. kali ini ada urusan apa?”
“Ahaha.. langsung ke intinya? Kamu tidak mau menceritakan dulu pengalamanmu di dunia barumu?”
Yah, tawanya barusan terdengar sangat manis. Bahkan dengan tatapan Dewi Reftia yang terlihat sadis, justru ‘manis’ itu memiliki level yang berbeda. Tapi cara aku memandang Dewi Reftia sudah sedikit berbeda dengan diriku sebelum mati dulu.
Aku menganggapnya sebagai wanita cantik panutanku, sepertinya tidak ada rasa cinta disana.
Tidak seperti pertemuan sebelumnya dimana dia tidak berniat untuk turun ke tanah, kini dia tidak segan untuk duduk di kasurku. Menyebalkan? Kupikir tidak juga, terserah dia apa yang ingin dilakukannya. Lagipula dia Pencipta juga sih.
Aku bersandar di tembok, di hadapan Dewi Reftia langsung.
“Jadi.. apa ada hal yang menarik belakangan ini? Kalau tidak salah ini hari ketigamu benar?”
“Benar, dalam waktu sesingkat itu sepertinya sudah banyak terjadi.”
“Termasuk Roh Agung di dalam tubuhmu?”
“..ya.. mungkin. Aku terkejut kau bisa mengetahuinya.”
Dewi Reftia selalu tersenyum ketika sedang berbicara, dan kuyakin itu akan membuat siapapun lawan bicaranya menjadi senang. Bagaikan setangkai bunga, kalimat yang keluar dari mulut Dewi Reftia juga selalu melambangkan keindahan. Keajabaiban bagai surga yang tak akan pernah bisa dipahami manusia.
Tapi Dewi yang satu ini selalu tertawa kecil setiap kali aku menjawab, terlepas dari sifatku yang tidak canggung dengannya, sepertinya dia hanya sedang mempermainkanku saja. Yah, kupikir itu bukanlah hal yang buruk untuk bisa akrab dengan seorang Dewi.
“Darren Corter.. hal yang ingin kukatakan padamu adalah.. masalah gelarmu.”
“Gelar?”
“Ya, walaupun kau memiliki kekuatan setara Dewi, tapi jangan lupa kalau gelarmu tetaplah manusia biasa. Selain itu, kekuatan pencipta yang bisa digunakan olehmu juga tergolong di bawah Dewi Agung, jadi aku akan memperingatkanmu sekali lagi..”
Dewi Reftia menceritakan, bahwa semesta ini memiliki 4 Dewi Agung (The 4 Great Goddess) yang mampu mengatur dunia ini sesuka hati mereka. Kekuatan Pencipta/Kehendak Pencipta (God’s Will) adalah perwujudan dari kekuasan mereka yang tidak terbatas. Mereka benar-benar bisa melakukan apapun dengan kekuatan itu.
Dan seperti yang sudah pernah kulakukan sebelumnya, aku juga memiliki kekuatan bernama God’s Will. Sayangnya, penggunaannya masih tidak efisien karena ada risiko diriku yang diselimuti aura Dewi ini terdeteksi oleh iblis.
Ada empat Dewi Agung, setidaknya mereka memiliki gelar sebagai salah satu dari empat Pencipa, kurang lebih gelar mereka adalah seperti ini:
Dewi Agung Reftia - Kebijaksanaan dan Kecerdasan (Great Wisdom and Intelligence Goddess Reftia)
Dewi Agung Hymera – Jiwa dan Pikiran (Great Soul and Mind Goddess Hymera)
Dewi Agung Nivalda – Kebahagiaan dan Kenyamanan (Great Happiness and Comfort Goddess Nivalda)
Dewi Agung Teressa – Kehidupan dan Kematian (Great Life and Death Goddess Teressa)
Mereka memiliki gelar, yang mencerminkan bagaimana sikap mereka, dan apa spesialisasi mereka di bidang Pencipta, yah ini terdengar lucu. Tapi kalau dipikirkan lagi ada yang aneh dengan itu. Apalagi Dewi Reftia sempat mengingatkanku sebelumnya.
“Kami para Dewi Agung melambangkan dua hal, contohnya seperti aku yang melambangkan ‘kebijaksanaan dan kecerdasan’. Dan biasanya kedua hal itu tidak jauh berbeda.”
“..hmm.. kalau tidak jauh berbeda.. bukankah Dewi Teressa agak sedikit aneh? Kenapa dia melambangkan hal yang saling berkebalikan?”
“Kehidupan dan kematian tidaklah saling berkebalikan, Darren Corter. Kematian adalah arti dari hidup itu sendiri. Kalian para manusia bisa mati pun karena kalian mengalami kehidupan itu sendiri bukan?”
Kalimat yang terdengat sulit dimengerti, tapi kalau dipikirkan lebih jauh itu memiliki artian yang sangat dalam. Hanya dengan perkataannya, ada banyak yang bisa ditangkap.
Kematian adalah bagian dari kehidupan itu sendiri, setidaknya itu adalah apa yang ingin disampaikan Dewi Reftia. Astaga, itu adalah hal yang tidak pernah kupikirkan sebelumnya. Benar-benar, Dewi yang satu ini memang tidak salah dalam melambangkan arti ‘kecerdasan’.
Benar juga, walaupun mereka memiliki gelar Dewi Agung, nyatanya aku boleh memanggil mereka dengan sebutan
Dewi saja. Karena kekuatan yang kupunya, sangat tidak pantas kalau menyebut mereka Dewi Agung.
Saat itulah, Dewi Reftia mengatakan sesuatu yang tidak terduga. Dia bilang, dengan mengetahui informasi semacam itu, maka diriku sudah dianggap sebagai penganut para Dewi. Tapi, syukurlah dia hanya bercanda. Sebenarnya yang ingin dia bicarakan kepadaku adalah tentang pemberian gelar.
Dewi Reftia ingin memberikanku gelar ‘Dewi’, tentunya gelar ini ada dibawah Dewi Agung. Kekuatanku bertambah dan dengan ini aku resmi menjadi seorang Dewi.
Yang menakjubkannya adalah, aku juga memiliki kekuatan untuk mengatur semesta sesukaku, sama seperti mereka. Tapi itu adalah hal yang tidak bisa dilakukan selama iblis masih membangkang meskipun aku sudah menjadi Dewi, pada akhirnya kebebasanku juga dikekang karena keberadaan para iblis itu.
Yah, sebenarnya alasan Dewi Reftia memberikanku gelar ini adalah karena dia ingin tahu apa yang dilambangkan oleh diriku sebagai seorang Dewi. Dan setidaknya, ini adalah gelarku,
Dewi Corter – Nafsu dan Keegoisan (Lust and Selfishness Goddess Corter)
“Tunggu! Tunggu! Kenapa aku melambangkan nafsu?!”
Aku membentak keras, protes dengan gelar yang diberikan Dewi Reftia kepadaku. Dia hanya tertawa karena itu.
“Ahaha.. jangan marah kepadaku. Itu adalah sesuatu yang mencerminkan seorang Dewi. Aku bahkan tidak melakukan apapun?”
“Tidak melakukan apapun? Bukankah kau yang memberikanku perlambangan ini?”
“Tentu saja tidak.. itu adalah kehendak..”
Dewi Reftia menahan kalimatnya. Seolah sedang menutupi kesalahan, dia sendiri juga terkejut ketika dia hampir saja mengatakan itu. Beruntungnya, dia sempat menutup mulutnya sebelum itu.
“Kehendak.. siapa? Bukankah itu kehendak kalian para Dewi Agung?”
“.. diamlah!.. aku salah bicara tadi!”
Dewi Reftia membuang pandangannya, kulihat tak ada lagi senyuman di wajah si cantik Reftia.
Aku tidak ingin membahasnya, dengan hanya hilangnya senyuman Dewi Reftia kupikir itu sudah menjadi alasan
yang jelas agar tidak membuatnya tersinggung.
Syukurlah, kejadian canggung antara aku dan Dewi Reftia itu tidak berlansung lama. Dia kembali menoleh ke
arahku dan berdiri dari duduknya. Senyumannya pun kembali, itu membuatku senang.
Dia mengambil beberapa langkah menuju jendela. Pandangan Dewi Reftia tertuju kepada bulan purnama yang bersinar indah di atas sana. Walaupun dunia dimana Dewi Reftia muncul berwarna hitam dan putih, nyatanya bulan itu tetap bersinar layaknya lampu yang sangat besar.
“Hari ini.. kamu menunjukkan sifat aslimu sebagai seorang Dewi.”
“Apa? Kapan?”
“Sore tadi.. ketika kamu memeluk pria bernama Colt Rayen itu.. fufu, romantis sekali.”
“Hah!! Kamu melihatnya?”
Perasaanku menjadi sangat malu karena tiba-tiba Dewi Reftia membahas itu. Padahal aku sudah mencoba untuk melupakannya, tapi dalam waktu beberapa detik saja, ingatan itu kembali.
Dewi Reftia tampak senang akan hal itu. Dia membuat-buat tawa yang aneh sambil menutupi mulutnya dengan
tangannya.
Sedangkan aku, harus bisa menahan malu dan rasa panas dingin di dalam tubuhku. Secara spontan saja, aku menutup wajahku karena aku yakin wajahku memerah. Astaga, padahal saat aku memeluk Rayen rasanya tidak sememalukan ini, tapi kenapa?
“Ahaha.. tampaknya kamu sudah melakukan keduanya, nafsu dan egois. Kamu egois karena kamu selalu berbuat
seenaknya, berpelukan adalah contohnya. Kamu nafsu karena kamu rela tubuhmu disentuh olehnya, dan lagi-lagi berpelukan adalah contohnya. Ahaha.. aku tidak pernah melihat makhluk sememalukan kamu.. Darren Corter.”
Dasar, si Dewi Reftia ini sifatnya langsung berubah 180 derajat. Padahal kukira tadinya dia akan berbicara secara sopan sampai berpisah, tak kusangka yang ingin dia lakukan hanya mengejekku.
Benar juga, kalau dipikirkan lagi, berbarti semuanya jelas. Alasan Dewi Reftia memberikanku gelar adalah agar perlambanganku bisa diketahui. Kalau perlambanganku diketahui, itu artinya dia bisa mengejekku. Sial, aku sudah dipermainkan.
Hah, tapi bukan itu masalah pentingnya. Aku yang melambangkan nafsu dan keegoisan, tampaknya sudah terpengaruh karena hal ini, karena itulah tadi sore aku berani memeluk Rayen tanpa ragu. Tapi apa yang harus kulakukan dengan sifat ini? Apa aku akan bernafsu kepada semua lelaki?
Aku berlutut lemas karena menahan malu, tanganku masih menempel di wajahku. Dan karena aku menahan malu, wajahku juga menjadi serasa sangat panas.
“Apakah.. aku akan bernafu dengan semua laki-laki yang kutemui ya?”
“Ara.. kupikir tidak sekejam itu. Alasan kenapa kamu memeluknya pasti karena cinta juga, karena itulah kamu melambangkan keegoisan. Dengan kata lain.. kamu hanya akan bernafsu dengan Colt Rayen itu saja..”
“C-C-Cinta? N-Nafsu? Yang benar saja.. m-mana mungkin aku.. mencintai Rayen!”
Tidak, tidak, kalau begini terus aku bisa semakin malu dan malu. Hanya dengan membayangkan wajah Rayen saja diriku sudah seaneh ini. Sebenarnya apa yang terjadi denganku? Padahal aku tidak begini sebelumnya.
“Justru kelakuanmu mencerminkan kalau kau benar-benar mencintai lelaki itu.. ahaha.. semoga cintamu semakin
tumbuh.. aku menantikan anak kalian!”
“Diam! Diam! Jangan bicara lagi! M-M-Mana mungkin aku dan Rayen bisa punya anak.. kami baru saja bertemu
dua hari!!”
“Yah, terkadang nafsu berkata lain bukan?”
Aku hanya bisa menangkap tanggapan dari Dewi Reftia itu secara mentah-mentah. ‘Terkadang nafsu berkata
lain’ itu adalah hal yang mutlak. Tak ada manusia yang mampu menahan nafsunya, bahkan ketika dia sudah menjadi Dewi sekalipun.
Apakah nafsu adalah sesuatu yang buruk? Entahlah, kupikir asalkan nafsuku tidak mengarah kepada orang yang
salah, maka itu baik-baik saja.
Tapi apakah aku mencintai Rayen? Apakah nafsu dan keegoisanku benar-benar membuat diriku jatuh cinta secepat ini? Dan lagi, orangnya itu adalah Rayen. Lelaki sepertinya sangatlah tidak peka, yang ada aku hanya bisa tersiksa dengan perasaan ini.
“Ahaha.. sudahlah.. aku tidak mau mengganggu Dewi yang sedang kasmaran. Bermimpilah tentang dirinya malam
ini. Aku pergi dulu.”
“.. dasar kamu ini..”
“Oh, Darren Corter, aku lupa menanyakan hal ini tapi.. apakah dalam hatimu kamu masih memanggilku ‘Dewi Reftia’?”
“Ya.. begitulah.”
“Lupakan saja itu.. kita sama-sama Dewi sekarang. Panggil aku ‘Reftia’ saja. Sudah ya, aku pergi dulu, sampai jumpa!”
Setelah mengucapkan salam perpisahan, sosok Reftia menghilang. Dunia kembali berwarna, dan angin kembali
berhembus. Aku bertanya-tanya apakah waktu tadi itu berhenti?
Udara sangat dingin, aku langsung kembali ke kasurku dan menarik selimut. Walau kulitku merasa dingin, tapi di dalam aku merasa sangat panas. Ini bukanlah perasaan ketika seseorang marah, tapi ketika seseorang bergairah. Astaga, sebenarnya apa yang terjadi denganku?
Aku memikirkan hal itu terus menerus sambil mengumpatkan wajahku di dalam selimut.
“Nona.. ada apa? Tadi keberadaan nona sempat hilang? Sebenarnya apa yang terjadi?”
Kata Roh Agung. Ia sempat bertanya seperti itu ketika aku menutup mata.
“Tidak ada. Tidak usah dipikirkan.”
Sudahlah. Aku tidak mau membahasnya. Kalau aku membayangkan Rayen terus menerus, justru aku tidak akan
bisa tidur dengan ini.
Dasar, Rayen bodoh itu, membuatku kesusahan seperti ini.