
Mata semua orang terkunci pada satu sosok yang terbang di atas langit. Sosoknya bercahaya, mengeluarkan aura indah yang menyeramkan.
Aura yang dikeluarkannya terlalu kuat untuk manusia biasa. Bahkan aura dari miliaran orang yang tersisa tak lebih besar dari aura milik Rayen.
Sedikit demi sedikit satu orang mulai melancarkan sihir kepada sosok itu. Ledakan, api, keluar dari lingkaran sihir dan membakar sosok yang terbang. Semua orang ikut menyerangnya. Berharap, sosok itu segera menghilang dan aura menjijikannya lenyap.
Teriakan keras mulai terdengar dari para penyerang. Ada begitu banyak serangan yang muncul, membabi buta, dan sangat berantakan.
Sihir itu berkumpul di satu titik, menabrak sosok ‘Rayen’ yang ada di atas sana. Bayangkan sihir dari miliaran orang dengan kekuatan yang luar biasa, yang bahkan mampu mengubah padatnya bumi menjadi pasir, menabrak satu sosok tanpa pelindung sedikitpun.
Saking kuatnya ledakan yang muncul, orang-orang sampai membuat perlindungan demi melindungi diri mereka dari sihir mereka sendiri.
Ketika serangan pamungkas berakhir, yang tersisa hanyalah kepuasan ketika sosok Rayen sudah lenyap.
Seharusnya begitu. Ternyata tidak juga..
Sosok itu masih ada disana, utuh dengan tubuhnya yang sehat segar tanpa luka sedikitpun. Sangat menyedihkan, miliaran orang bahkan tak mampu menggores tubuh Rayen.
“Tidak mungkin.”
“.. monster..”
“Siapa dia?! Tak pernah ada dia di perang sebelumnya.”
Semua orang membual, tertekan karena sosok yang ada di atas mereka.
Setelah itu, sosok itu turun dari langit, menuju ke kerumunan orang yang melindungi sebuah benda. Itu adalah
sebuah pedang panjang yang tertancap di batu, bersinar, dan mengeluarkan energi yang begitu kuat dari setiap sudutnya, itu adalah pusaka.
Rayen turun tepat di dekat pusaka, semua orang tanpa peringatan hanya bisa menghindar. Mereka tak mau mendekat.. tidak.. mereka tidak bisa mendekat karena aura Rayen yang begitu seram. Kaki mereka yang tak bergerak hanya bisa berdoa, semoga sosok itu bukan orang pilihan Dewi.
Sayang sekali karena mereka berdoa pada kekasih Rayen.
Dengan hanya satu tangan, Rayen mencabut pusaka itu dari batu. Tanpa tenaga, tanpa energi, bahkan tanpa niat sedikitpun. Sungguh tak masuk akal, orang pilihan Dewi sekalipun harus mengeluarkan tenaga terbesarnya untuk mencabut itu.
Tapi Rayen berhasil mencabutnya dengan sedikit tenaga.
“Kalian, para makhluk ciptaan Dewi Agung Corola, dengarkan aku.”
Sosok itu berbicara dengan pusaka di tangannya, dengan suaranya yang membuat seluruh dunia bergemetar.
“Ada yang spesial dari perang kali ini. Tentu saja, karena ada dua Dewi Agung yang menonton kita semua,”
Orang-orang mulai bertanya-tanya, apa maksud dari orang ini mengatakan itu? Atau, kenapa dia bisa tahu mengenai hal itu.
Bagi para makhluk ciptaan Corola, pengetahuan mereka hanya terbatas sampai Penciptanya sendiri saja. Ilmu pengetahuan tentang Dewi Agung lain tak pernah ada di semesta dengan dua langit ini.
“Aku ingin kalian menjatuhkan pedang kalian, dan menyerahkan seluruh jiwa kalian kepada kedua Dewi yang menonton kita. Hadiah yang kalian dapatkan tak lebih dari sekedar sampah, itu hanyalah sesuatu yang memuaskan hasrat kalian.
” Rayen berkata dengan nada meremehkan.
Miliaran orang yang mendengar perkataan ini menjadi sedikit kesal karena tujuan utama mereka untuk mendapatkan wanita, dihina.
“Aku tak ingin memenangkan perang ini, aku hanya ingin menyampaikan sesuatu. Bahwa hidup kita akan lebih dihargai kalau diserahkan kepada Dewi. Berdoalah sampai mulut kalian membisu, sampai hati kalian membatu, berdoalah!”
Rayen mengeluarkan senyum jahat yang begitu lebar.
Tapi semua orang sudah terlebih dahulu tertawa karena Rayen menyinggung masalah berdoa. Untuk apa berdoa Kekuatan bukanlah sesuatu yang didapatkan dari sebuah doa.
Rayen ditertawakan miliaran orang yang melihatnya.
Kemudian, sedikit demi sedikit perang kembali pecah.
Berawal dari satu sihir tembakan yang mengarah ke Rayen. Orang-orang tidak lagi panik dan takut, mereka justru kembali bersemangat untuk melanjutkan perang. Paling tidak, humor mereka sedikit tergelitik karena ucapan barusan.
Tak sampai lima menit, semua orang menghadap Rayen dan bersiap untuk menyerangnya.
Rayen sendirian, dikepung oleh miliaran orang terkuat dari semesta Corola. Dipikir secara apapun menghadapi mereka semua adalah hal yang tak mungkin.
Tapi.. mereka membuat keputusan yang salah ketika tak menghiraukan perkataan manusia setengah dewa.
“Serang!!”
“Habisi dia!!”
“Matilah!!”
Semua orang berlari ke tempat yang sama. Dan saat itulah Rayen mulai serius,
“Starlight Eternity!”
Sebuah pedang agung muncul.
Cahaya yang tak kalah terang dari pusaka, muncul di tangan kiri Rayen. Orang yang tergelitik karena canda Rayen sudah tak lagi peduli kalau dia sekuat itu.
Kini, Rayen memegang dua pedang paling mematikan di seluruh semesta. Satu pedangnya pernah disentuh oleh Dewi, dan satunya lagi adalah pedang yang diizinkan Dewi untuk membasmi semua ciptaannya.
Apa yang terjadi kalau kedua pedang itu digunakan untuk menyerang?
Rayen tak mau banyak berpikir, tidak ketika semua orang sudah hampir menyentuhnya. Rayen melompat dan terbang di ketinggian tiga meter dari tanah.
Barulah, serangan kombinasi dari kedua pedang di tangan Rayen muncul.
Rayen menebas pedangnya 360 derajat, ke seluruh penjuru dari dunia ini.
Yang terjadi adalah, semesta Corola hancur.
Jutaan kali lebih mematikan dari Ragnarok Collapse milik Reftia, pedang Rayen mampu melenyapkan satu semesta dari dalam. Yang tersisa setelah serangan itu adalah kekosongan. Tanpa warna, dan tanpa jiwa.
***
Aku dan Corola menciptakan ulang semesta yang baru saja Rayen hancurkan.
Dasar, apa tak bisa sedikit saja menahan diri? Padahal kita sedang bertamu.
Aku tak pernah menyangka serangan serius dari Rayen mampu menembus langit, aku terkejut bukan main ketika cahaya meledak dari lantai istana milik Corola.
Beruntung kami para Dewi Agung tak bisa terluka oleh serangan apapun.
Jadi dengan sedikit bantuan dariku, Corola menciptakan kembali semestanya seperti sedia kala.
Lucunya adalah, pertandingan untuk perempuan terpaksa dibatalkan karena satu semesta hancur. Aku menonton Pisces yang sedang berusaha melawan pasukan gabungan, tepat sebelum planet itu hancur dan Pisces mati.
Dan kini, semesta Corola sudah kembali normal, begitu juga dengan makhluknya. Double Royale War berakhir, dengan Rayen sebagai pemenang untuk kategori laki-laki dan perempuan.
Semua rekanku berkumpul di tempat dimana kami disambut oleh Corola. Rayen dengan tatapan bersalah, Pisces dengan tatapan bingung, Seiren, Renatta, Azazel di tubuh Rayen dan.. Gabriel yang kupangku sejak awal.
“Hasil yang sedikit mengejutkan menurutku. Siapa sangka kalau serangan itu bisa mencapai langit dimana aku dan Darren menonton.”
Ucap Corola dengan nada yang dewasa.
Aku bertanya-tanya, apakah sebenarnya Corola marah dengan Rayen karena mengganggu permainannya? Wajar untuk seorang Dewi marah ketika kehendaknya diganggu, tapi ekspresi Corola sekarang sangat sulit ditebak.
“Colt Rayen, benarkah itu namamu?”
Tanya Corola ke Rayen yang berdiri di sebelahku.
“I-Iya..”
“Bagus, aku terkesan dengan kekuatanmu.”
Corola menepuk pundak Rayen.
Tapi Rayen meresponnya dengan mundur, kemudian bersujud di kaki Corola.
“Maafkan aku! Dewi Corola, aku sungguh minta maaf!”
Rayen meminta maaf dengan berteriak di kaki Corola.
Corola terkejut, dari tatapannya ia pasti tak pernah mendapati sosok manusia yang meminta maaf dengan begitu tulus. Umumnya manusia pasti akan takut kepada Dewi, takut sampai tak berani meminta maaf.
Corola tersenyum.
Tunggu, apa-apaan senyuman itu? Itu senyuman yang berbahaya.
“Rayen, angkatlah kepalamu!”
“..!”
Eh? Aku tak bisa bicara? Tak bisa bergerak? Sial, Corola melarangku untuk mencegahnya? Ah, tak sempat menentang kehendak Corola.
Rayen perlahan mengangkat kepalanya, dan saat itulah semuanya sudah terlambat.
Corola mencium Rayen tepat setelah mata mereka saling menatap.
Tak tanggung-tanggung, Corola mendekap kepala Rayen sampai kekasihku itu tak bisa bergerak. Ciuman mereka begitu panas. Corola memainkan lidahnya, menjilat dan menyentuh bagian dalam mulut Rayen dengan seksi.
Rayen tak bisa menentang itu, dia hanya bisa diam ketika Dewi Agung menciumnya.
Penyiksaan yang begitu lama berlalu, Corola melepas bibirnya. Aku baru bisa bergerak sesaat setelah itu. Tanpa pikir panjang aku langsung berlari, memeluk Rayen.
Sama seperti Corola, aku juga mencium Rayen dengan ciuman yang lebih panas. Bukan apa-apa, aku hanya tak mau kalah kalau sampai kekasihku tergoda oleh perempuan lain.
Semua orang yang melihat kejadian ini tak bisa berkata apa-apa. Azazel bahkan sampai berpindah merasuki Pisces sebelum Corola mencium Rayen. Untuk raja iblis sepertinya, niat buruk Corola pasti terasa.
***
“Bagaimana rasanya, dicium dua Dewi Agung sekaligus?”
“Eh?!! Y-Ya.. i-itu menakjubkan,..”
“Jangan begitu, aku cemburu, kamu tahu..”
“M-Maaf.”
Rayen tidur di pangkuanku, kami membicarakan banyak hal setelah kejadian itu.
Corola mempersilahkan aku dan rekanku untuk menetap di semesta ini. Dia menyediakan kamar untuk kami semua, dan aku meminta untuk satu kamar dengan Rayen. Aku sempat berdebat dengan Corola karena ia tak mau mempersatukanku dengan Rayen.
Dilihat bagaimanapun juga, aku merasa Corola jatuh hati pada Rayen.
Di kamar besar, dengan satu kasur yang bisa ditempati lebih dari 5 orang. Aku bermanja-manja dengan Rayen setelah satu minggu tak bertemu secara langsung.
Aku mulai berpikir, bahwa ini adalah hidupku sekarang.
Aku adalah Dewi, bukan lagi Darren Corter yang merupakan pekerja kantoran.
Apakah ini adalah mimpi? Astaga, ini sulit dipercaya. Aku tak bisa berhenti bertanya-tanya, apakah selama ini yang kualami nyata atau tidak?
Bertahun-tahun aku hidup, belajar, berteman, dan berakhir sebagai seorang Dewi.
Kalau aku menetapkan hatiku untuk Rayen, maka ada hal yang harus kusampaikan kepadanya terlebih dahulu.
“Rayen.. kalau kamu tak suka, kamu boleh mengabaikannya.”
Aku mengucapkan itu sambil mengusap kepala Rayen.
“Hmm? Ada apa?”
“.. kamu pernah bilang, kalau kamu akan mencitaiku apapun yang terjadi.”
“Itu benar. Aku.. mencintaimu.”
Aku takut.
Bagaimana kalau Rayen tak lagi mencintaiku setelah aku mengatakan yang sebenarnya.
“.. aku.. b-bagaimana kalau aku mengatakan.. bahwa dulunya aku adalah laki-laki?”
Tanpa sadar, kalimat itu sudah kuucapkan.
Berakhir sudah, Rayen pasti membenciku. Mana ada laki-laki yang siap menjalin hubungan dengan mantan laki-laki.
“Tak masalah. Walaupun kamu terlahir sebagai monster sekalipun aku tetap cinta. Lagipula.. itu dulu, kan?”
Jawab Rayen tanpa keraguan sedikitpun.
Aku sudah salah.
Seharusnya aku tak meragukan kekasihku sendiri. Aku memang egois, tapi ada alasan kenapa pria ini berhasil menarik hatiku di saat kami belum lama bertemu. Colt Rayen, syukurlah takdir mempertemukanku dengannya.
“Apa kamu mau bertemu dengan aku yang dulu?”
“.. boleh saja.”
***
Ketika semua orang beristirahat di kamarnya masing-masing, dan Corola sama sekali tak memperhatikan kami.
Aku dan Rayen pergi dari semesta Corola dengan kemampuan milik Rayen. Kami pergi ke semesta dimana aku yang dulu tinggal.
Tapi bukan hanya berpindah semesta, aku juga berpindah waktu ke masa lalu dimana pada saat itu aku belum mati.
Dengan God’s Will melakukannya adalah hal yang mudah. Tapi siapa sangka, Rayen menghentikanku dan membiarkan dia yang melakukannya sendiri dengan kemampuannya.
Secara teori, yang digunakan oleh Rayen adalah Space Control dan Time Control, itu sangat memungkinkan untuk berpindah semesta dan berpindah waktu. Aku sempat tak percaya bahwa Rayen mampu melakukannya, sedangkan skill itu sendiri setara dengan kemampuan Dewi.
Skill milik Rayen berhasil, kami muncul di semesta lamaku.
Pemandangan yang kami lihat adalah kota dengan langit malam berbintang. Mobil-mobil, serta cahaya dari gedung-gedung tinggi yang membuatku terharu setelah tak lama melihatnya.
Aku menggenggam tangan Rayen, tak kuat kakiku berdiri setelah kembali pulang ke rumah. Rayen masih bingung dengan benda-benda modern yang ada disini, tapi dia menahan semua pertanyaan.
Alasan kenapa aku menangis terharu adalah karena satu hal, aku kenal tempat ini.
Di seberang jalan sana, terlihat seseorang dengan jas menunggu di bawah lampu. Dia terlihat frustasi, mondar-mandir tak jelas menunggu lampu hijau yang rusak berubah menjadi merah. Sudah jelas aku kenal dia, orang itu adalah aku.
Dulu, yang berdiri di seberang jalan adalah Reftia. Tapi kini yang berdiri adalah aku sendiri, dengan penampilan baru.
“Itukah kamu?”
Tanya Rayen, berbisik di telingaku.
“Aku terlihat konyol, ya?”
“.. tidak.. aku heran, dia begitu tampan.”
Wajah apa yang harus kupasang untuk pujian itu?
Aku menguatkan tekadku, untuk berbicara dengan diriku sendiri di masa lalu.
Aku menggenggam tangan Rayen, melangkah perlahan menghampiri diriku sendiri. Lampu masih menyala hijau, tapi kini tak ada mobil yang membuatku harus berlari menyelamatkan diriku sendiri.
“Hei, nona, lampunya masih hijau! Cepatlah kalau kau mau menyebrang!”
Ucap diriku dari masa lalu.
Suara itu, suara yang keluar dari mulutku selama bertahun-tahun. Aku tak bisa menahan tangis.
Aku sampai di ujung jalan, berdiri bersebelahan dengan diriku di masa lalu.
“Hei, Darren.”
‘Darren’, terkejut ketika aku menyapanya. Dia sebelumnya mengira bahwa aku adalah perempuan aneh yang mengenakan pakaian cosplay.
“Apa kita pernah bertemu sebelumnya?”
Ucap Darren kepadaku.
Aku yang dulu memiliki tatapan anak-anak, tatapan masa muda yang melihat dunia dari lubang kunci.
Kemudian, aku menangis.
Air mataku jatuh deras tanpa kusadari.
Darren menjadi panik karena perempuan yang ia ajak bicara tiba-tiba menangis. Salah tingkah, ia menanyakan apakah aku baik-baik saja. Ya, aku baik-baik saja. Ini bukanlah tangisan kesedihan.
“Nona, ada apa denganmu?”
Aku mengusap air mataku dan menggelengkan kepala,
“Darren, maaf karena meninggalkanmu.”