Goddess Corter

Goddess Corter
Sihir (2)



Karunia dari sang Dewi, mungkin itu adalah sebutan mutlak untuk sihir. Konon para Dewi menciptakan sihir untuk mempermudah kehidupan para makhluknya, itu adalah kekuatan Dewi langsung. Yah, aku tak tahu apa yang dipikirkan Reftia ketika dia menciptakan sihir bersama dengan 3 Dewi Agung yang lainnya.


Umumnya, sihir diaktifkan dengan cara mengombinasikan Reft pada sebuah rapalan, kemudian merapalkannya sefokus mungkin. Rapalan itu sendiri adalah bentuk rasa sembah dan syukur manusia terhadap sihir yang diberikan oleh Dewi.


Tapi ada juga beberapa kasus dimana seseorang tidak memerlukan rapalan, itu kalau dia sudah mengusai dan mengembangkan suatu sihir untuk dirinya sendiri. Tapi ini tak berlaku untuk monster, karena keberadaan mereka adalah pengartian dari sihir itu sendiri. Dengan kata lain, mereka tidak memerlukan rapalan untuk menciptakan sihir.


-


Rayen sibuk membersihkan perlengkapannya,  sedangkan aku pergi ke halaman belakang rumahnya untuk mempraktekkan beberapa sihir. Tak ada waktu untuk belajar banyak, kami berdua juga memiliki pekerjaan yang menunggu di Guild, lagipula aku juga belum menaikkan Rank-ku.


Wind Blade, adalah sihir yang membuatku tertarik, tetapi karena buku ini tidak memiliki nomor halaman, aku kehilangannya dan terpaksa mempelajari sihir lain.


“Seiren.. menurutmu sihir apa yang seharusnya kupelajari? Aku menginginkan sesuatu yang memiliki daya hancur besar, namun dengan akurasi tinggi.”


“Nona, saya mohon maaf, karena saya sebagai Roh Agung sangat berfokus kepada elemen api. Memang benar elemen api memiliki daya hancur besar, tapi ledakannya bisa meluas..”


“Ah, tidak, tidak.. ledakkan memang bagus, tapi aku takut terlalu sering menggunakannya dan menjadi liar karena itu.”


Seiren hanya terdiam, mungkin juga dia memaklumi pendapatku, atau mungkin juga dia tersindir karena pendapatnya ditolak oleh majikannya. Apapun itu, aku juga tidak mungkin membahasnya lebih lanjut.


Tanah yang kutapak adalah tanah berumput yang sangat luas, setidaknya cukup untuk hanya sekedar latihan. Rumah Rayen juga terletak di ujung desa, jadi dibelakang rumahnya hanyalah padang rumput saja. Tetapi di ujung yang jauh di sana aku bisa melihat pepohonan yang rindang, mungkin itu kebun, tapi juga tampak seperti hutan.


Terus menerus aku membaca buku itu, mencari beberapa sihir yang membuatku tertarik. Jujur saja, terkadang ada


sihir yang sangat berbahaya, tapi ada juga yang tidak penting. Contohnya ada sihir yang membuat sapi perah mengeluarkan banyak susu. Astaga, itu sungguh menjijikan.


“Oh.. yang ini sepertinya bagus.”


Gumamku.


'Disturbance', adalah sihir yang memungkinkan diriku untuk mengambil alih tubuh seseorang secara penuh. Umumnya ini adalah sihir tingkat tinggi, namun terkadang seorang petapa juga tidak bisa menggunakannya lama-lama, dan hanya bisa digunakan kepada satu orang dalam satu waktu.


Tapi, aku adalah Dewi, tidak memerlukan fakta miris seperti itu. Disturbance itu adalah sebagian yang sangat kecil dari kekuatan maha dahsyat God’s Will. Sial sekali aku karena dibatasi dalam penggunaannya.


Sekalian saja aku mencoba sihir Disturbance itu, aku memfokuskan diriku terhadap sihir itu dan berusaha mengaktifkannya. Tentu saja aku tidak memerlukan rapalan.


Tenaga yang tidak terhitung jumlahnya seolah bergerak-gerak di seluruh sel darahku, kemudian itu semua berkumpul di hati dan jiwaku. Tak salah lagi kalau yang kurasakan saat ini adalah fase sihir. Fase sihir adalah fase dimana Reft berkumpul dan bersiap menjadi sihir jadi. Selain Reft, fase sihir inilah yang menentukan seberapa besarnya sihir yang akan dikeluarkan.


Disturbance!


Pikiranku serasa melayang, terlepas dari ragaku. Seolah menjadi pusat dunia, aku terhubung dengan pikiran semua orang di dunia. Tapi yang terdekat dari posisiku saat ini adalah Rayen. Aku berkesempatan untuk mengambil alih tubuhnya.


Dalam sekejap, aku benar-benar menjadi sosok Rayen yang sesungguhnya. Ketika sadar, aku sudah berada di dalam rumah. Di tanganku terdapat pedang mengkilap yang dibalut dengan kain.


Aku melihat kedua tanganku, ternyata aku benar-benar mengambil alih tubuh Rayen.


Yah, karena terlalu berbahaya berada di dalam tubuh laki-laki, aku segera menonaktifkan sihirnya dan kembali ke tubuhku.


“Mengambil alih tubuh seseorang.. di dunia yang dulu, aku selalu mengimpikannya untuk bertukar tubuh dengan direktur..”


“Nona?”


“Ah, tidak. Aku hanya berbicara sendiri, tidak usah dipikirkan!”


Tetapi, skill seperti itu memang hebat sekali, kalau saja sihir seperti itu bisa dipelajari dengan mudah maka dunia pasti akan menjadi sangat kacau. Yang penting, setidaknya aku memiliki sihir untuk menyerang seseorang dari dalam.


Apakah aku memerlukan senjata ya? Sepertinya tidak perlu, lagipula dengan sihir, kemampuan fisik pasti tidak akan berfungsi. Bukan berarti aku merendahkan Rayen, tetapi itu adalah kenyataan.


Buku ini membuatku pusing, sihir bagus ada dimana-mana, tapi sepertinya terlihat berbahaya. Aku hanya menghapal sihir itu dan tidak mempraktekannya satu-persatu, karena aku sudah tahu kalau itu pasti akan berhasil.


Wind Blade adalah sihir yang sedang kucari-kucari sejak tadi, tetapi karena sama sekali tidak menemukannya, aku terpaksa mengembangkan sihir itu menjadi versiku.


Seingatku, sihir itu mampu membuat angin menjadi setajam pisau. Tetapi itu juga mungkin terlalu menyeramkan untuk membayangkan tubuh seseorang dikoyak-koyak oleh sesuatu yang tidak terlihat.


Dari Wind Blade, aku mengembangkan sihir baru ciptakanku sendiri. Kuberi nama ‘Handless Pointing’, sebenarnya itu hanyalah telekinesis biasa, namun karena kekuatanku yang terlampau besar, telekinesis itu menjadi tidak terbatas. Bayangkan saja, aku bisa membuat bulan terbelah bahkan tanpa menjetikkan jari sekalipun.


Yah, sebenarnya aku tidak mempraktekkannya ke bulan, aku hanya mempraktekkannya kepada pohon di depanku.


Aku membuat pohon itu melintir dan membuatnya terlihat seperti baut. Dari situ saja aku sudah tahu kalau kekuatanku sanggup melakukan hal yang lebih.


“Nona, anda hebat sekali.. tak pernah kulihat sihir semengerikan itu sebelumnya..”


“Kumohon, jangan mengatakannya mengerikan. Aku tak akan sering menggunakan sihir seperti itu untuk melukai manusia.”


“Mohon maaf.”


Aku menghela napas senang.


Aku berbaring di padang rumput itu, merentangkan kedua tangan dan kakiku. Angin yang mengusap wajahku terasa sangat nyaman, ingin sekali aku memejamkan mata dan tidur disini. Tetapi itu tidak mungkin, ini masih terlalu pagi untuk bisa tidur.


Kala aku sedang melihat langit biru yang luar biasa luas, mataku juga menangkap pemandangan awan putih yang terurai-urai. Walaupun awan itu putih, tapi karena keberadaannya, bayangan yang gelap menyeramkan bisa muncul di dunia ini. Karena keberadaannya, langit biru yang indah tertutupi dengan paksa.


Pemandangan ini sama seperti hidup. Ada sesuatu yang baik muncul di depanmu dan kau tergila-gila karenanya, tanpa kau sadari, kau menjadi buta dan lupa kalau di belakangnya ada yang lebih baik lagi.


Itu adalah iblis.


Iblis membuatmu buta, mereka memberikan segala yang sejuk dan nyaman, tapi karena itulah kita menjadi lupa


akan kehangatan dari cahaya malaikat, juga menjadi lupa akan keindahan dan kecantikan Pencipta.


Kenapa pikiranku mengarah ke situ ya?


“Seiren.. apakah kau pernah bertemu dengan iblis?”


“Iblis? Aku hanya pernah mendengarnya, nona. Makhluk seperti mereka terlalu sulit untuk dijangkau, kekuatannya bahkan sama dengan malaikat.”


“Tapi.. apakah ada cara untuk bertemu dengan mereka?”


Aku mengangkat badanku, dengan penuh penasaran akan jawaban Seiren. Situasi menjadi tegang karena dalam sekejap aku berkeinginan untuk bertemu dengan iblis. Entah apa alasannya, tapi aku memiliki perasaan untuk segera menemuinya.


Memang benar, kalau aku tidak bertemu dengan iblis secara langsung, maka aku tidak akan pernah tahu semenyeramkan apa makhluk itu.


“Setahuku.. ada sihir yang berguna untuk memanggil iblis. Tapi sihir itu tingkatannya terlalu tinggi, seorang ahli sihir pun tak mungkin sanggup untuk memanggil iblis tingkat rendah.”


“.. Demon Call.”


Entah teori macam apa yang mendasari sihir itu, tetapi hanya dengan mendengarnya seolah itu cukup untuk melakukan pemanggilan iblis. Karena memang pada intinya, sihir itu adalah untuk memanggil iblis, bukan? Sekalipun aku tidak mengetahuinya, aku hanya perlu melakukan sihir yang serupa.


Aku berdiri, menjulurkan tangan kananku ke depan dan mulai memfokuskan Reft. Yang kubayangkan adalah sesuatu yang dapat memunculkan iblis, terserah apa yang akan keluar nantinya. Aku hanya percaya kalau yang kulakukan seharusnya sudah tepat.


Dugaanku benar, hanya dengan membayangkannya saja sihir ini sudah bekerja. Lingkaran sihir berwarna hitam


dan ungu, tiba-tiba muncul di tanah yang tepat berada di depanku. Lingkaran itu mengeluarkan cahaya yang terpancar gelap, daripada disebut cahaya mungkin itu lebih terlihat sebagai bayangan yang terpancar.


Sejauh yang kulihat, lingkaran sihir itu hanya menghasilkan bayangan gelap yang hitam pekat saja.


Tiba-tiba, sebuah gumpalan api seukuran bola basket terhempaskan dari dalam bayangan itu. Tapi aku dengan


mudah menahannya dan membuat sihir itu menghilang. Tak cukup sampai disitu, dua serangan tambahan kembali muncul, kali ini dengan ukuran yang lebih besar. Tapi itu juga percuma, hanya dengan tersentuh tanganku, api itu bisa padam tanpa sedikitpun aku merasakan panas.


Sepertinya tamu yang kuundang tidak begitu ramah.


“Tidak sopan ya.. menyerang orang yang memanggilmu!”


Teriakku kepada makhluk yang sosoknya sudah mulai terlihat seiring menghilangnya bayangan.


Ketika lingkaran sihirnya lenyap, bayangannya pun ikut menghilang, dan sosok yang kupanggil menunjukkan wujudnya dalam kondisi penuh.


Sesosok lelaki dengan tatapan menyeramkan, dia tersenyum seolah melihat santapan yang lezat. Matanya berwarna kuning, redup dan gelap. Di kepalanya, terdapat mahkota kecil yang sangat indah, itu menghiasi kepalanya yang berambut hitam pekat. Dia juga membawa buku di tangan kirinya. Tapi yang seram adalah sosok seperti rakun yang menempel di pundaknya, binatang itu tak memiliki bulu dan perwujudannya sangat menyeramkan.


“Anda yang memanggilku, benar?”


Tanya sosok yang kupanggil.


“.. bukankah sedikit tidak sopan kalau kau menyerang orang yang baru saja memanggilmu?”


“Owh.. itu hanyalah sekedar tes, kalau orang yang memanggilku teralu lemah, seharusnya dia sudah mati ketika api sepanas neraka itu menempel di kulitnya. Tapi.. seperti yang kulihat, anda masih bertahan..”


Tak salah lagi kalau yang kupanggil adalah iblis. Kalau saja ekspresinya tidak menyebalkan, mungkin aku bisa mempertimbangkan wajahnya, justru dia terlihat seperti pria muda yang tampan. Tapi aura yang dikeluarkannya sungguh menjijikan. Seandainya yang berdiri di depannya bukanlah aku, mungkin orang itu sudah muntah-muntah karena menerima aura yang terlampau mengerikan.


“Wahai iblis, siapa namamu?”


Iblis itu menunduk, dia memperkenalkan dirinya seperti seorang bangsawan. Tangan kanan di depan perut, dan kiri di belakang.


“Namaku adalah Astaroth, pelayan setia Yang Mulia Raja Iblis Azazel.”


Raja iblis Azazel? Kalau gelarnya saja sudah mencapai Raja iblis (Demon Lord), ada kemungkinan kalau dia sudah menjadi sosok yang terlampau kuat.


Melihat bagaimana Reftia yang sangat terganggu dengan keadaan iblis, seharusnya para Dewi Agung sudah turun tangan untuk membereskan para iblis, tapi kenapa mereka tidak melakukannya? Mungkin jawabannya adalah karena mereka tidak bisa mengatur para iblis.


Seandainya memang benar bahwa para iblis sudah lepas dari kendali Dewi, seperti Azazel yang mendapat gelar Raja Iblis, berarti ada kemungkinan dia lebih kuat dariku. Ya, kemungkinan itu ada.


“Sosok yang kau layani, Azazel, apakah aku bisa bertemu dengannya?”


“Ahaha, tolong jangan bercanda. Makhluk lemah seperti anda tidak pantas bertemu dengannya. Bahkan saling menatap pun juga tidak pantas. Tapi.. apakah jiwa anda tidak gila menyebutkan nama Yang Mulia?”


Iblis Astaroth terlalu meremehkanku, dia tertawa dengan kejam setelah menyelesaikan kalimatnya.


Tetapi ada yang aneh disini, apakah Astaroth menyadari gelar Dewi-ku? Seharusnya di jarak yang sedekat ini, dia bisa tahu kalau aku bukanlah sekedar manusia kuat biasa. Atau dia hanya berpura-pura tidak mengetahuinya? Yah, dengan tatapan setenang itu, dia bisa dengan mudah menipu seseorang.


Sebuah ide gila tiba-tiba terpikirkan olehku, aku bahkan sampai takut terhadap diriku sendiri yang mampu memikirkan ide seaneh itu. Tetapi kalau dipikirkan, ide itu sangat menentukan jawaban dari pertanyaanku sebelumnya. Tergantung kondisinya, kalau Astaroth terlalu bodoh, aku bisa menang.


“Astaroth, bersujudlah kepadaku!”


Aku mendekati Astaroth sambil mengatakan hal sebodoh itu. Tapi aku tidak menyesal dengan apa yang kukatakan. Justru, itulah yang ingin kukatakan. Aku ingin melihat sendiri bagaimana tanggapannya.


Iblis Astaroth kehilangan senyumnya. Ketika kami hanya berjarak dua meter, sosok Astaroth yang penuh dengan kengerian semakin jelas. Tetapi dia tidak bisa lagi memperlihatkan senyum sadisnya kepadaku.


“Kau.. apa kau tidak takut mengatakan hal seperti itu kepada Bangsawan Neraka sepertiku?”


“Tidak. Aku serius. Sekarang juga, jatuhkanlah kepalamu di kakiku!”


Astaroth sangat marah, dia merasa terhina ketika aku mengangkat kakiku setinggi perutnya.


Spontan, Astaroth melancarkan serangan kepada diriku yang berada tepat di depannya. Dia memukulku dengan keras. Yang terakhir kulihat, dirinya meninju wajahku dengan tangannya yang penuh dengan api.


Aku terpental cukup jauh, menabrak sebuah pohon yang tumbuh tak jauh dari situ. Tapi pukulan itu sama sekali tidak terasa sakit. Aku menyentuh pipiku, tak ada bekas luka juga disana.


Jujur saja, kupikir pukulan yang mampu membuat seseorang terpental jauh hanya ada di film-film saja, tapi kini aku sendiri yang merasakannya. Apapun itu, ini terasa seperti penghinaan bagi sosok Dewi sepertiku. Walaupun tidak terasa sakit, iblis Astaroth sudah menghinaku seperti ini.


Aku menciptakan dua buah bola api yang sama seperti miliknya, kemudian dengan cepat menembakkan bola api itu kepadanya. Astaroth tak sempat menghindar dan mengharuskannya berlindung dengan kedua tangannya.


“Sialan!”


Astaroth menjadi benar-benar murka, dia tidak bisa lagi menahan amarahnya. Aku bisa melihatnya dari api yang mulai muncul di sekitar badannya.


Astaroth menjulurkan tangannya, dan ajaibnya badanku tertarik menuju ke genggamannya. Sekarang, Astaroth sedang mencekik leherku dengan sangat keras. Tapi tenang saja, aku tetap tenang, karena apapun yang dia lakukan sama sekali tidak membuatku kesakitan.


“Menerima serangan dari makhluk sepertimu.. kini aku sudah tak lagi suci untuk menemui Yang Mulia Azazel. Matilah!”


Astaroth membanting badanku ke tanah. Badanku yang menabrak tanah membuat lapangan ini hancur dan menciptakan lubangan besar. Di sekitar kami sudah tak ada lagi bentuk lapangan rumput yang indah, yang ada justru terlihat seperti medan bekas bom.


“Aku tak tahu makhluk seperti apa dirimu ini.. tapi nyatanya kau lebih rendah dariku!”


Ucap Astaroth menghina.


Dia meletakkan kakinya di kepalaku, menginjaknya dengan keras dan membuat aku tidak bisa bangkit dari berbaring. Tapi, aku bisa saja bangun kalau aku mau. Aku tidak bisa bangkit begitu saja, karena diriku sudah penuh dengan amarah yang luar biasa.


Kaki seonggok iblis kini ada di kepalaku, itu adalah penghinaan besar.


Apakah Astaroth ingin tahu makhluk apa sebenarnya aku ini? Atau dia hanya terlalu bodoh untuk meremehkan seorang Dewi? Terserah, apapun itu, aku akan menunjukkan kekuatan yang sebenarnya kumiliki. Kekuatan seorang Dewi.


God’s Will!