
Erinyes, adalah sebuah kerajaan paling maju yang terletak di benua ini. Jumlah penduduk yang tidak bisa dibayangkan, serta dengan sumber dayanya yang berlimpah, menjadikan Erinyes salah satu kerajaan paling disegani.
Walaupun disebut sebagai kerajaan, nyatanya di dalam Erinyes, kepemimpinan dibagi menjadi tiga. Dengan tiga ratu bersaudari yang memiliki wilayahnya sendiri-sendiri, namun tetap menjalin hubungan yang baik dengan kepemimpinan yang lain.
Ketiga ratu itu adalah Alekto Erinyes, Tisifon Erinyes, dan Megaira Erinyes. Anggap saja ketiga ratu itu memiliki kota yang mereka perintah sendiri-sendiri dengan nama kotanya adalah nama depan mereka, tentunya dengan pembatas antara kota satu dengan yang lain. Namun mengesampingkan hal itu, ketiga kota itu tetaplah satu, yaitu kerajaan Erinyes.
Aku, ketika keluar dari Akarka, baru saja diceritakan oleh seorang kakek tua tentang sejarah Erinyes. Tentang bagaimana kerajaan ini menyembah Dewi Reftia, dan perjuangan mereka untuk mencapai keempat Dewi Agung. Ada banyak sejarah yang bisa diceritakan.
Kota Tisifon, adalah kota yang kutinggali saat ini, yang juga merupakan ibukota Kerajaan Erinyes, sedangkan
Akarka terletak di ujung kota dan berdekatan dengan kerajaan selatan.
“Tak kusangka nona muda sepertimu sampai repot-repot bertanya seperti itu..”
Kata kakek yang menceritakan sejarah itu.
Dia bilang, dia adalah pengembara yang memiliki mimpi untuk mengelilingi dunia. Mempelajari sejarah dunia adalah makanannya sehari-hari. Dia tampak antusias ketika menceritakan sejarah kerajaan ini kepadaku. Apapun itu, aku hanya beralasan kalau diriku adalah warga pindahan dari benua yang jauh di sana.
Kebetulan kami bertemu secara tidak sengaja. Si kakek terlihat sedang duduk di sebuah bangku kayu, dan aku
menghampirinya setelah kelelahan berkeliling kota.
Sejujurnya aku juga sedang bingung, setelah aku meninggalkan Akarka, sama sekali tidak ada yang kubawa keluar. Bahkan uang sepeser pun tidak ada. Tampaknya di dunia sebelumnya aku terlalu bergantung dengan uang digital, karena itulah aku merasa tenang walau tidak ada uang di dompetku.
“Setelah ini apa yang akan kau lakukan? Apa kau memiliki tempat tinggal?”
Tanya sang kakek.
Sebenarnya aku juga menceritakan keadaanku yang susah tanpa uang, tentu saja aku tidak berniat untuk meminta sumbangan dari si kakek.
“Entahlah. Menurut kakek, biasanya apa yang orang akan lakukan untuk mencari uang tanpa modal?”
Kataku.
Walau kata-katanya terdengar miris, nyatanya aku tidak terlalu panik. Masalahnya ketidakadaan uang ini hanyalah
masalah sepele bagiku. Aku memiliki banyak pilihan untuk mendapatkan uang dengan mudah. Pertama, kembali ke Akarka dan meminta modal. Kedua, menggunakan kekuatan pencipta dan membuat uang dalam jumlah yang sangat besar. Tapi aku ragu dengan pilihan yang kedua itu.
“Aku tidak terlalu pandai dalam urusan pekerjaan.. bahkan berjudi pun tetap membutuhkan modal. Kalau nona mau.. mungkin kau bisa menjadi petualang?”
“Petualang?”
“Ya, ada Guild di kota ini, mereka tersebar di mana-mana. Pekerjaan sebagai petualang hanyalah mengalahkan
monster dan menyelesaikan pekerjaan yang diminta.. itu bukanlah sesuatu yang cocok untukku, karena itu aku tidak tertarik untuk mengetahuinya.”
Minim informasi, tak ada dana, tak ada hubungan dan status sosial, kalau begini apa bedanya aku dengan bayi
yang baru lahir? Bahkan tunawisma sekalipun setidaknya memiliki informasi untuk mereka bisa bertahan hidup. Dasar aku.
Aku dan kakek tua duduk di sebuah bangku kayu, yang terletak di pinggir jalan besar. Area ini terlihat seperti permukiman warga, tapi tak jauh dari sini ada sebuah pasar yang sangat ramai. Para petualang dengan pakaian khas mereka, dan dengan tameng, berjalan dengan penuh kegembiraan. Dua atau tiga wanita memeluk-meluk tubuh para petualang itu.
“Apakah kau tertarik untuk menjadi petualang nona? Biasanya petualang tingkat rendah hanya diberikan tugas
membantu saja, nona tidak memerlukan senjata untuk itu. Jadi kupikir itu adalah pekerjaan yang cocok untukmu.”
“Membantu seperti apa yang kakek maksud?”
“Entahlah, artiannya luas. Berkebun, memotong rumput, membersihkan kadang, terkadang itu juga dilakukan oleh para petualang baru.”
Ah, aku mengerti.
Walaupun aku adalah manusia yang sempat tinggal di zaman modern, yang diberikan pemandangan perkotaan dan
kenikmatan gadget setiap hari, bukan berarti diriku ini menolak suatu kebudayaan tradisional.
Tidak seperti para atasanku dan rekan kerja lainnya yang merasa jijik dengan perkebunan dan pertanian, sejujurnya aku cukup tertarik dengan pekerjaan desa semacam itu. Bukan apa-apa, aku besar di desa selama 7 tahun bersama dengan kedua kakek dan nenekku.
“Petualang, ya? Aku akan mencobanya. Terima kasih atas waktunya. Semoga impianmu itu menjadi nyata!”
Aku mengatakannya sambil berdiri dari bangku dan pergi. Si kakek hanya bisa melihat kepergianku tanpa mengucapkan salam. Mungkin juga ketika dia menyadari aku pergi, aku sudah menghilang dari penglihatannya.
-
Beberapa jam berlalu, aku sangat sibuk mencari informasi tentang cara hidup di kota ini. Mulai dari pedagang, kolektor, bahkan sampai petualang juga semuanya kutanyakan. Rata-rata mereka adalah laki-laki yang menjawab dengan pipi yang merona. Yah, aku tak heran lagi kalau ada laki-laki yang terpesona melihatku.
Kalau dilihat lagi, ini sudah hampir waktunya makan siang. Anehnya, perutku tidak meronta-ronta dan tenagaku tetap pulih seperti biasanya. Makanan terakhir yang kumakan hanyalah roti pemberian kepala desa Akarka tadi pagi, dan sekarang aku masih kuat menahan lapar.
Tidak, aku tidak menahan lapar. Aku memang tidak merasakan kelaparan, itu saja.
Di dalam Guild yang kumasuki, aku hanya bisa mondar-mandir tidak jelas karena tak ada satupun yang bisa kulakukan. Rata-rata meja Guild dipenuhi oleh pria berbadan kekar dengan tatapan yang tidak mengenakkan.
Aroma bir tercium di segala penjuru ruangan, tampaknya Guild bukanlah tempat yang bisa dengan mudah sepi
pengunjung. Para petualang dengan jirah yang mewah mendominasi meja disini, seperti yang kuceritakan sebelumnya, setidaknya pasti ada wanita di sebelah mereka.
Walaupun hormonku mungkin sudah berubah menjadi perempuan, nyatanya ingatanku sebagai Darren Corter laki-laki masih tetap ada. Setidaknya ini bisa membantuku dalam menilai laki-laki.
Tapi diantara para petualang berotot dan berjirah itu, ada seorang pria yang tampak murung, dia duduk di bagian pojok Guild. Segelas bir tersajikan di mejanya, tapi kupikir dia tidak berkeinginan untuk meminumnya.
“Hei, apa kau petualang baru?”
Tanyaku. Aku langsung mengambil posisi duduk di sebelahnya.
Awalnya ia tampak was-was, tapi setelah melihat yang duduk di sebelahnya adalah wanita cantik, dia tidak bisa lagi menunjukkan wajah takutnya.
“Ah, y-ya.. begitulah.”
“Kau tampak murung.. ada apa?”
“Yah, aku hanya sedang memikirkan rank ku.”
Guild menetapkan setidaknya ada 3 rank utama, yaitu Newbie, Pro, dan Master. Tapi dalam satu ranking, setidaknya ada 5 sub-ranking. Sebagai contohnya, ada Newbie I dan Newbie II. Begitu seterusnya sampai satu petualang mencapai ranking tertinggi yaitu Master V.
Omong-omong, gelar disini sedikit berbeda dengan gelar Mid pada laba-laba itu. Monster memiliki gelarnya sendiri seperti King dan Demon, tapi aku hanya mendengarnya dari kabar angin saja, jadi aku tidak begitu paham akan hal itu.
“Aku pengguna pedang panjang amatir. Dan sudah beberapa minggu rank-ku sama sekali tidak naik.”
“Dan.. kau berencana membuat party?”
“Begitulah.”
Party bisa dibilang sebuah kelompok yang berisikan petualang, sistemnya mereka akan berpetualang dan menyelesaikan misi bersama, tentunya uang hasil dari satu misi akan dibagikan ke semua anggota. Umumnya sebuah party memiliki struktur yang tepat, yaitu berisikan Assasin (Penyerang), Support (Pendukung. Dalam konteks ini anggap saja pelindung atau pemulih kekuatan), dan Mage (Penyihir).
“Tapi aku bahkan tidak memiliki koneksi dengan siapapun.. rata-rata temanku adalah seorang pedagang, itu
masalahnya.”
memiliki teman pedagang.”
Ucapku memberikan saran.
“Itu.. aku tidak bisa. Aku juga sudah berulang kali memikirkannya, tapi.. aku mengemban mimpi seseorang dari
pekerjaan ini..”
Dia tampak memikirkan sesuatu yang jauh ketika mengatakan alasannya.
Yah, masalah ini aku tidak ingin kucampurtangani lebih dalam. Dunia ini lebih rumit dari dugaanku, mimpi dan tujuan ada di diri semua orang. Kupikir dunia masa depan yang maju juga berkat dari dunia yang penuh dengan mimpi ini.
Walau aku sedikit ragu, apakah ini memang dunia di masa lalu atau dunia di semesta yang berbeda. Aku tak sempat menanyakannya ke Dewi Reftia waktu itu.
“Omong-omong.. kenapa wanita sepertimu ada di gedung Guild seperti ini? Jangan-jangan kau.. itu.. pekerja seks?”
“H-Hahh!! Apa-apaan itu!! Cepat tarik kembali ucapanmu!!”
Aku berteriak dengan sangat keras, menggebrak meja dan berdiri.
Mau dilihat bagaimanapun juga perkataannya sungguh tidak sopan, aku tidak peduli kalaupun dia memiliki wajah yang polos, itu adalah sesuatu yang tidak bisa dimaafkan.
“M-M-Maaf.. aku tidak bermaksud begitu.. hanya saja kau tidak memiliki perlengkapan, jadi kukira kau bekerja di
lantai atas dan menjadi.. pe-pelacur..”
Menyebalkan sekali laki-laki ini, apa dia tidak sadar kalau baru saja melecehkan seorang dewi? Harga diriku yang pernah berbicara dengan Dewi Reftia lenyap begitu saja. Yah, tapi itu hanya kekesalan pribadiku saja.
Pria ini, yang bahkan belum kuketahui namanya, mengatakan hal itu dengan wajah malu-malu. Sepertinya dia bukan sosok pria nakal yang bisa dengan mudah mengotori perempuan. Kalaupun perkataannya itu adalah hal yang wajar di dunia ini, berarti kemarahanku yang salah.
Aku tidak berniat untuk meminta maaf sih, tapi dengan sosok perempuan sekarang ini, biasanya laki-laki harus
diuji dengan sifat perempuan yang cenderung egois.
“Yah.. memaafkanmu bukanlah masalah..”
“Te-Terima kasih.”
Hah, benar-benar, kalau begini jadinya aku sangat yakin kalau pria ini bukanlah pria yang jahat. Melihatnya seperti itu saja sudah membuatku yakin. Inikah yang disebut dengan “insting wanita”, selama ini aku meremehkannya, tapi ternyata itu cukup hebat.
“Jadi, masalah rank-mu bagaimana? Mau berhenti jadi petualang saja?”
“Oh.. terima kasih sudah mencemaskanku.. tapi aku akan berjuang sedikit lagi untuk mencari orang yang bisa kuajak kerja sama.”
Opsi ketiga untuk mencari modal milik Darren Corter akhirnya muncul. Aku bisa saja bekerja sama dengan pria ini dan menjadi seorang petualang untuk beberapa waktu. Sambil berpetualang, sambil mencari informasi, dan sedikit-sedikit aku akan mencari cara untuk memerdekakan Akarka.
Sihir bukanlah sesuatu yang perlu dipikirkan, aku yakin dengan kekuatan setara dewi, seharusnya aku bisa menciptakan sihir sesuka hatiku. Yang masalah adalah penggunaannya, kalau saja tubuhku bisa segesit ketika melawan Mid Spider, itu akan bagus. Tapi kalau aku hanya menjadi beban baginya, itu yang menjadi masalah.
Tidak. Seharusnya aku tidak ragu dengan hal itu. Aku adalah Darren Corter, orang yang memiliki kekuasaan setara dengan dewi. Benar, aku bahkan bisa menghancurkan bumi ini kalau aku mau. Tenang saja, tak ada yang perlu dikhawatirkan.
“Hmm.. bagaimana kalau aku menjadi anggota party-mu?”
Ucapku dengan penuh percaya diri.
“Eh? Kau? Memangnya kau seorang petualang?”
“Ya.. kalau kau mengijinkanku berarti aku adalah seorang petualang.”
Aku tertawa karena tanggapanku sendiri, sedangkan dia merespon dengan ekspresi yang aneh.
“Aku sih tidak masalah kalau kita membuat party.. tapi aku tidak yakin bisa selalu melindungimu. Kalau kau memiliki kemampuan, bukankah lebih baik kau bergabung dengan petualang dengan rank Master? Biasanya mereka tidak menolak perempuan cantik.”
Dasar, lelaki seperti inilah yang selalu kuhina di duniaku yang sebelumnya, tidak percaya diri.
Teman-temanku memiliki sifat yang sama sepertinya, tidak percaya diri. Aku selalu berulang kali menasihati sahabatku agar berani menyatakan cintanya kepada direktur, tapi dia tidak kunjung melakukannya. Pada akhirnya dia menyesal ketika direktur menikah dengan orang lain.
Yah, sebenarnya karena alasan itu juga direktur menjadi orang yang kurang disukai di kantorku. Banyak orang yang menganggapnya sebagai pemberi harapan palsu, dan aku adalah salah satu orang yang membencinya.
“Kenapa? Kau tidak mau satu grup dengan perempuan cantik ini?”
“B-Bukan begitu.. aku hanya merasa tidak pantas.”
Aku menepuk kepalanya. Kemudian dengan senyuman yang sangat manis, aku mulai menasihatinya. Dia tidak bisa
menyembunyikan pipi merahnya ketika aku mulai tersenyum.
“Tak masalah bagiku.. aku yang menginginkanmu. Masalah merepotkan atau tidak tenang saja, aku cukup percaya
diri dengan sihirku.”
Ketika wajahnya semakin memerah, tingkah lakunya mulai aneh. Aku sengaja menggodanya dengan mendekati wajahku, dan hasilnya dia benar-benar salah tingkah. Yah, kupikir sesekali menjahili laki-laki polos bukanlah hal yang buruk. Lelaki sepertinya memiliki ekspresi yang unik ketika dihadapkan dengan perempuan.
Hasil akhirnya, aku dan dia menjadi satu anggota party. Kami mendaftarkan nama kami di bagian resepsionis Guild.
Karena menjadi satu party, rekanku ini juga terpaksa mendaftarkan kembali namanya. Tapi semua rank dan statusnya akan tetap sama jadi itu bukanlah masalah.
Resepsionis menggunakan sihir tertentu untuk melihat status kami, nantinya hasil dari sihir itu akan tercetak di sebuah kartu identitas petualang.
Guild memberikan sebuah kartu yang terbuat dari logam, setidaknya disitu tertulis nama, rank, tipe petualang, dan jumlah Reft.
Reft adalah sejenis tingkatan berupa energi yang menjadi pengukur bersarnya kekuatan seseorang untuk mengeluarkan sihir. Kupikir nama Reft diambil dari nama Dewi Reftia, tapi aku tidak memperdulikan itu, kalaupun salah ya siapa peduli.
Colt Rayen, adalah nama yang tertulis di kartu petualang rekanku. Dengan rank Newbie I, status Assasin, dan jumlah Reft kurang lebih 5.000.
Sebenarnya, Reft 5.000 adalah jumlah yang teramat sangat kecil, tak banyak sihir yang bisa digunakan dari Reft sekecil itu. Tetapi karena dia adalah seorang Assasin yang berfokus dengan pedang, kupikir ini adalah hal yang wajar kalau memiliki Reft kecil.
Yang menjadi masalahnya adalah milikku sendiri. Aku yang memiliki kekuatan setara dewi juga sudah menduga akan ada kesalahan dalam penilaian skill-ku. Si resepsionis juga sempat berdecak heran ketika membuatkan kartu untukku.
Tertulis “Tidak diketahui” pada kolom “Tipe petualang” dan “Jumlah Reft” milikku. Ini adalah hal yang tidak mungkin terjadi untuk manusia biasa, masalahnya jumlah Reft sebesar apapun pasti akan terdeteksi dan tertulis, bahkan kalaupun jumlah Reft itu tidak terbatas.
Masalah tipe petualang ini juga tidak biasa, resepsionis menjelaskan kepadaku kalau status ini adalah status paling
dominan yang dimiliki seorang individu, bahkan walaupun dia tidak berkeinginan menjadi petualang. Dengan kata lain, tipe petualang seseorang sudah ditentukan bahkan sebelum dia menjadi petualang. Kolom ini tidak hanya diisi satu tipe saja, tapi bisa dua ataupun tiga.
Tapi tak ada satupun tipe petualang yang tertulis di kartuku, apakah ini menandakan kalau aku sangat kuat bahkan sampai tidak bisa dibaca? Atau aku sangat lemah bahkan sampai tidak bisa dibaca?
Ya sudahlah, masalah itu bisa dikatakan sudah selesai, aku dengan susah payah menyembunyikan hal itu dan membuat rekanku melupakannya. Kami kembali ke tempat duduk dan mulai memperkenalkan diri masing-masing.
“Aku Colt Rayen.. mulai saat ini, mohon kerja samanya..”
“Darren Corter. Aku juga mohon kerja samanya.”
“Darren Corter? Bukankah itu nama laki-laki?”
Geh!!