
Dari balik jendela istana yang sangat besar, dimana jendela itu menghadap langsung ke pemandangan perkotaan, Ratu Tisifon memandangi pemandangan itu dengan sangat lekat. Tak jauh dari singgasana, jendela itu ditempatkan di tempat favorit Ratu. Terkadang Ratu melihatnya sambil tersenyum, membayangkan bagaimana Negara yang ia pimpin sudah berkembang seperti ini.
Tapi kali itu berbeda, Ratu Tisifon tak bisa tersenyum. Bagaimana bisa ia tersenyum, apabila langit berubah menjadi neraka, dimana warnanya menjadi sangat gelap, terlebih lagi ada meteor yang berjatuhan dari atas sana. Sambil gemetar ketakutan, Ratu hanya bisa membisu, menuggu meteor-meteor itu jatuh menabrak kotanya.
Sayangnya ketakutan Ratu membuatnya buta, dia sempat mengira kalau meteor akan jatuh di pusat kota. Ketika dia sadar kalau meteor jatuh di tempat yang lebih jauh, Ratu mulai memberanikan diri dan berniat untuk melihatnya langsung.
Tanpa pikir panjang, Ratu langsung berlari menuju keluar istana dengan tergesa-gesa. Semua warga istana termasuk pelayan hanya bisa terkejut ketika Ratu mereka berlari tanpa pengawal.
“Cepat, bawa aku ke tempat meteor itu!”
Ucap Ratu ketika dia sampai di lapangan istana, beberapa meter sebelum keluar dari gerbang. Disana ada banyak kereta kuda yang terparkir, itu adalah kendaraan untuk warga istana, sengaja disediakan banyak agar tak perlu lagi repot menunggu kalau Ratu sedang ada keperluan mendadak.
“.. Ratu?”
Jawab sang supir kereta kuda, saat itu dia sedang membersihkan roda keretanya sambil mengadah ke langit hitam, dan terkejut ketika suara Ratu sampai di telinganya.
“Supir, cepatlah bawa aku ke sana!”
Tak menghiraukan supir yang sedang kebingungan, Ratu nekat masuk ke dalam kereta kuda dan duduk di dalam.
“T-Tapi, Ratu.. bukankah di sana sangat berbahaya?”
“Ini adalah kepentingan mendadak, cepat antarkan saja aku!”
“Itu.. saya tidak bisa melakukannya. Keselamatan Ratu adalah yang paling penting!”
“Aku tak peduli.. astaga, cepat antarkan saja aku!”
Ratu membentak dengan sangat keras, membuat sang supir tidak bisa menjawabnya.
Begitulah, Ratu Tisifon dengan kereta kudanya tengah menuju ke lokasi jatuhan meteor. Dari dalam kereta kuda, Ratu hanya bisa terus menerus berdoa kepada para Dewi. Semoga semuanya akan baik-baik saja, itulah yang ia pikirkan. Tapi Ratu tidak bodoh, dia juga paham kalau semuanya tidak baik-baik saja.
Bahkan ketika Ratu melewati jalanan di kota, para warga juga tidak bisa menyembunyikan ketakutan mereka terhadap meteor-meteor itu. Para warga juga tidak sadar kalau Ratu saat itu sedang lewat di antara mereka. Wajah-wajah ketakutan para warga itu membuat Ratu semakin panik.
Meteor terus menerus berjatuhan, benar-benar terlihat seperti hujan, tak pernah ada batuan satu menunggu batuan yang lainnya untuk jatuh. Itu terus-menerus jauh dari langit seolah tidak ada habisnya. Getaran dari ledakan itu bahkan sampai di istana, itulah yang membuat Ratu ingin segera melihat langsung ke tempat kejadian.
“Ratu.. sepertinya lokasinya ada di desa itu!”
“Ya, ya, cepatlah!”
Kereta kuda Ratu masuk ke dalam desa yang tak pernah Ratu kunjungi sebelumnya. Tak sempat Ratu melihat bagaimana keadaan desa itu, apakah makmur atau tidak, itu bukanlah yang harus dipikirkan Ratu untuk sekarang.
Tetapi yang membuat Ratu membodohi dirinya sendiri, justru karena dia tidak melihat bagaimana ‘keadaan’ desa itu.
“Ini.. bukan lagi desa.”
Ya, itu bukan lagi desa. Itu adalah medan perang. Semua yang dilihat Ratu hanyalah puing-puing rumah gosong,
sisanya rata tak bersisa. Kaki Ratu seolah tidak bisa digerakkan lagi ketika dia menginjak abu hitam di kakinya.
Ratu menangis, sangat sedih ketika desanya sudah habis tak bersisa. Tak ada tangisan anak-anak, karena memang sudah tak ada lagi anak-anak tersisa. Tak ada orang ketakutan, memang karena sudah tak ada lagi orang yang tersisa.
Ratu menjerit dengan sangat keras, berlutut di tanah dan menggenggam erat abu yang mengotori pakaian dan kakinya. Baginya itu adalah kesalahan terburuk dalam hidupnya, kesalahan yang membuatnya tak pantas untuk berduka. Tapi nyatanya, Ratu tetap berada di desa ini, dengan segala penyesalan yang ia buat.
Kira-kira begitulah, jeritan Ratu berhenti ketika dia melihat cahaya indah yang menjulang ke langit. Cahaya itu membuat seluruh dunia bergetar, membuat langit kembali menjadi terang, dan hembusan anginnya membuat air mata Ratu kering.
Spontan, Ratu berlari menuju ke cahaya itu. Langkahnya membawa dia ke sebuah halaman belakang rumah, tempat itu adalah lapangan medan perang yang sangat besar. Dan disanalah, dia melihat dua sosok yang saling membunuh.
“Kepada iblis Astaroth, salah satu bangsawan neraka yang menundukkan kepalanya di depan Azazel. Dengan ini Dewi Corter sebagai Pencipta-mu akan menghapuskan dirimu dari semesta agung kami!!”
Salah satu dari dua sosok yang saling membunuh adalah seorang wanita, dan wanita dengan rambut biru berteriak seperti itu, di depannya berdiri sosok pria yang tampan tetapi menakutkan. Ratu memperhatikan mereka berdua dari kejauhan.
Sang wanita dengan rambut biru membawa pedang yang cantik, pedang itu bersinar, dan ternyata sinar itulah yang menjulang sampai ke langit. Ratu melupakan kesedihannya, dan termakan dengan takjubnya cahaya agung di depan matanya.
Wanita berambut biru menebas sosok pria di depannya, dengan pedang yang ia pegang. Cahaya dari serangan itu sangat menyilaukan mata, Ratu sampai menutup matanya untuk waktu yang sangat lama. Ketika dia membuka matanya, pandangannya sedikit gelap dan telinganya berdenging. Tetapi syukurlah keadaannya semakin lama semakin baik.
Ketika dia membuka mata, ternyata pertarungan itu sudah berakhir, wanita berambut biru berhasil menancapkan pedang di perut musuhnya yang terbaring lemas di tanah. Tetapi sepertinya itu bukan kemenangan, karena pria yang ia tusuk menghilang seketika.
Seusai dari itu, wanita berambut biru mengucapkan kalimat yang tidak bisa Ratu dengar. Tapi Ratu sangat takjub karena setelah mengucapkan beberapa kalimat, dunia ini kembali seperti semula. Langit kembali menjadi terang, dan desa kembali terbangun seperti waktu yang diputar mundur.
Ratu bersembunyi di sebelah rumah, yang baru saja selesai diperbaiki oleh waktu. Ratu meringkuk dan kembali memikirkan apa-apa saja yang sebenarnya terjadi. Mungkin Ratu sudah gila. Bayangkan saja, beberapa menit yang lalu ada meteor menghujani kotanya, dan beberapa menit setelahnya semua itu seolah tidak pernah terjadi.
Terdengar suara pintu terbuka dari tempat Ratu bersembunyi, ternyata wanita berambut biru itu masuk ke dalam suatu rumah. Dengan keberanian tinggi, Ratu hanya bisa percaya kalau dia bukanlah orang jahat, dan Ratu menghampirinya.
-
Aku mendesah lelah sambil menaruh kepalaku di atas sofa. Rayen tertidur di sebelahku. Sambil sedikit curi-curi kesempatan, aku menaruh kepalaku di pundak Rayen. Pundak Rayen terasa sangat nyaman, saking nyamannya aku sampai menjatuhkan kepalaku ke pangkuannya. Tapi justru pangkuannya lebih nyaman, aku bisa beristirahat dengan tenang disini.
Walau terkadang ketika aku menggerakan kepala, ada jendolan aneh di selangkangan Rayen yang terasa dengan jelas di kepalaku.
Yah, aku tahu apa itu, dan aku tidak ingin membahasnya.
“Starlight Eternity.. ya?”
Omong-omong, pedang agung masih ada di tanganku. Tampaknya ini tetap ada meskipun pertarungannya sudah berakhir. Yah, aku sudah menduga hal itu, lagipula aku juga menciptakan pedang ini dari skill God’s Will.
Entahlah, sepertinya aku pernah bilang kalau aku tidak memerlukan senjata. Aku akan menarik kata-kata itu.
“..mm.. permisi..”
“Eh?”
Disaat aku sedang memejamkan mata di pangkuan Rayen, tiba-tiba suara seorang wanita terdengar dari belakang kami. Dia berdiri dengan anggun di muka pintu.
Perempuan itu memiliki rambut sebahu sama sepertiku, namun warnanya coklat kemerahan. Tak usah diragukan lagi kecantikannya, dia terlihat begitu menawan.
Ruangan tempat aku dan Rayen berada saat ini adalah ruangan yang langsung menuju ke lapangan belakang, jadi ketika aku membuka pintu belakang, tentu saja pemandangan yang terlihat adalah lapangan rumput yang sebelumnya. Ini bukanlah ruang tamu.
Tapi kenapa ada perempuan muncul dari pintu belakang?
“Siapa?”
Ucapku sambil bangkit dan berdiri di depannya, pedang agung yang tadinya kutaruh di sofa ikut merosot jatuh dan menyebabkan seisi ruangan bergema suara dentingan. Perempuan itu juga tidak bisa menyembunyikan wajah kaget begitu pedang agung terjatuh.
“I-Itu.. perkenalkan, diriku adalah Tisifon Erinyes, pemimpin sekaligus Ratu dari Kerajaan Bagian ini.”
Jawabnya.
Yah, meskipun aku percaya kepadanya kalau dia adalah seorang Ratu, tapi wajahnya terlalu kurang percaya diri. Berbagai macam pertanyaan muncul di kepalaku, apakah dia takut terhadapku? Atau dia memang memiliki sifat yang semacam itu. Masalahnya, Erinyes adalah Negara monarki yang kepemimpinannya berdasarkan garis keturunan, tak jarang kasus dimana Ratu minder tetap memimpin.
Mengesampingkan hal itu, aku justru penasaran kenapa dia bisa ada disini.
“Aku, Dewi.. tidak. Aku Darren Corter, salam kenal!”
“Darren Corter?.. nama lelaki..?”
“Geh! Y-Ya.. banyak yang bilang begitu.”
Aku menolehkan wajah malu karena hal itu. Sebenarnya ini agak sedikit merepotkan, dulu ketika masih menjadi laki-laki aku sangat bangga dengan nama ini, tetapi sekarang nama ini terdengar lucu dan tidak pantas dengan sosokku yang cantik.
“Oh, maaf, aku tidak bermaksud begitu!”
Ucap sang Ratu, setelah aku menggembungkan pipi karena kesal.
Singkat cerita, aku menyuruh Ratu untuk duduk bersama dengan kami. Untungnya sayangku Rayen bukanlah pria pemalas yang tidak memperhatikan interior rumahnya, Rayen menyediakan dua sofa yang saling berhadapan di ruangan ini, dengan meja di tengahnya. Sekilas justru ini terlihat seperti ruang tamu, tapi karena adanya di belakang, aku berkesimpulan kalau Rayen sering menghabiskan waktunya disini.
Begitu juga di dapur, bahan makanan Rayen sangat berlimpah, semuanya tersusun sangat rapi. Berbeda dengan diriku yang selalu seenaknya menaruh barang. Bahkan di apartemenku, sebungkus roti bisa ditemukan di lemari pakaian. Sial, apa roti itu sekarang sudah basi ya?
Aku membawa dua cangkir teh ke ruangan tempat Ratu berada. Aku menyuguhkan satu gelas kepadanya, dan satu untuk kuminum sendiri. Untuk Rayen? Biarlah, dia sedang tertidur sekarang.
“Jadi, apa yang membuat Ratu seperti anda datang kemari?”
Tanyaku.
“Tentu saja itu karena hujan meteor! Bayangkan saja, kotaku dihujani oleh meteor. Mana bisa aku diam saja!”
Ratu berteriak dengan sangat keras, setelah pertanyaanku yang barusan tadi sepertinya terlalu menyinggung.
Yah, padahal yang membuat hujan meteor itu tadi adalah aku sendiri.
“Biarlah, itu semua juga sudah berakhir. Aku mendatangi rumah ini adalah karena ingin menanyakan sosok apa sebenarnya kamu ini?”
Tambah Ratu.
“Mau dikatakan sosok apapun juga.. seperti yang anda lihat, aku adalah manusia bukan?”
“Ya, tapi bukan manusia biasa! Aku melihatmu melawan iblis itu.. begini dan begitu.. dengan pedang kau itu.. kau.. boom dan wooshh!!”
Hah? Apa-apaan? Ini Ratu khayalannya tinggi sekali. Aku seumur hidup belum pernah menjelaskan peristiwa dengan kalimat semenakjubkan itu. Aku tidak tahu apakah dia terlalu cerdas sampai-sampai tidak bisa menyusun kata, atau terlalu bodoh sampai-sampai tidak bisa menyusun kata.
Yang penting, Ratu, kalau di duniaku yang lama kau menjadi seorang presenter dan mengucapkan kalimat seperti itu, sungguh direktur pasti akan memecatmu!
“Meskipun aku mengatakan yang sebenarnya pun, belum tentu kau akan percaya!”
“Aku akan percaya! Aku akan percaya!”
Keras kepala sekali Ratu ini, mirip siapa ya?
“.. mm.. kau bisa menganggapku sebagai manusia super, mungkin?”
Wajah Ratu berubah menjadi datar ketika aku mengucapkan kalimat istimewa. Maaf saja, aku juga tidak mau mengucapkan sembarangan kalau aku ini adalah Dewi.
“Hah? Manusia super?.. huh.. terserah kamu sajalah.. aku hanya tidak bisa berhenti merasa takjub dengan dirimu. Tak pernah aku melihat manusia sekuat dirimu sebelumnya.”
Dari bercanda, raut wajah Ratu berubah menjadi serius.
Aku tak tahu apakah dia memang seserius itu ketika bertanya kepadaku, hanya saja aku menjadi sedikit merasa bersalah karena membuatnya kecewa. Aku juga bukan orang bodoh yang akan membeberkan semuanya hanya demi perasaan seseorang, daripada begitu lebih baik aku menenangkan hati Ratu.
“Ratu, apakah kau adalah tipikal orang yang tidak begitu percaya diri dengan orang yang belum pernah kau temui?”
“.. ya.. tak kusangka ada orang yang menyadarinya.”
“Sebenarnya aku pernah salah masuk jurusan sosial, ketika kuliah dulu.”
Salah masuk jurusan ya? Kalau diingat lagi, sepertinya waktu-waktu aku kuliah itu adalah waktu yang paling membosankan. Aku bahkan tidak mendapatkan ilmu apa-apa setelah lulus dari sana.
“Kuliah? Apa itu..”
“Darren Corter.. apakah ada Darren Corter disini?!!”
Lagi-lagi suara perempuan yang tiba-tiba muncul dari pintu belakang kembali terdengar. Suara itu memotong kalimat Ratu.
Aku tidak tahu siapa wanita itu, tapi dia memotong pembicaraan kami begitu saja. Memang terdengar tidak sopan, tapi aku takjub dengan kecantikannya. Wanita itu berdiri dengan anggun, dengan kedua tangan ia taruh di dadanya. Setidaknya dia lebih feminim daripada Ratu Tisifon, tapi tidak lebih cantik dariku.
“Megaira?”
“Tisifon? Apa yang kau lakukan disini?”
Ratu Tisifon berdiri dan dengan terkejut dia mengucapkan nama ‘Megaira’. Sepertinya kedua orang ini saling mengenal.
Oh, benar juga, kalau tidak salah Megaira adalah salah satu Ratu Erinyes. Berarti perempuan dengan rambut panjang itu adalah Ratu Megaira begitu? Lantas apa yang membuatnya datang kesini? Selain itu, kalau tidak salah dia juga menanyakan namaku bukan?
Suara teriakan dari Ratu Megaira, dan dialog yang saling bertukar balas, sepertinya membuat Rayen terbangun. Yah, sejak awal aku dan Ratu Tisifon berbincang, sebenarnya Rayen tetap ada di sebelahku dan dia tertidur dengan nyenyak. Tak ada alasan untuk membangunkannya, aku hanya ingin dia beristirahat.
Tapi kini dia terbangun, melihat ke sekeliling dengan tatapan aneh, dan mulai bertanya-tanya.
“.. eh.. kenapa rumahku dipenuhi wanita cantik begini?”