
Aku terbangun di sebuah tempat yang gelap. Ketika aku membuka mataku, yang kulihat pertama kali adalah langit-langit bebatuan hitam. Terdapat banyak batuan yang membentuk meruncing ke bawah dan ke atas.
Ketika aku mengangkat kepalaku, barulah aku sadar kalau ini adalah di dalam gua.
Sebenarnya tidak terlalu gelap, ada sedikit cahaya di sebelah kiriku yang bergerak-gerak dengan aneh. Selain itu ada suara air mengalir yang menggema sampai ke ujung gua. Suara itu terdengar seperti air yang menghantam daratan.
Aku mulai mengangkat bokongku yang basah karena tanah di gua sangat lembab. Apa ada yang aneh dengan bokongku? Sepertinya ini tidak seperti diriku yang biasanya.
Ya sudahlah, yang lebih penting saat ini adalah mencari tahu, tempat macam apa ini.
Aku hanya bisa setengah berdiri di gua itu karena tempat itu terlalu kecil. Kudekati cahaya yang ada di ujung gua sambil berhati-hati melangkah. Ada banyak bebatuan yang menghalangi jalanku.
Setelah sampai di muka gua, aku bisa melihat pemandangan yang luar biasa indah. Bentangan pohon dengan dedaunan tebal, dan langit biru yang sangat luas. Aku melihat ke bawah, ada sebuah kolam yang berjarak sekitar 3 meter di bawahku. Dan sebelah kiri muka gua ini, terdapat air terjun besar yang menumpahkan airnya dari atas gua ini.
Air di kolam dan air terjun itu memiliki warna biru kehijauan, pantulan cahayanya juga sangat indah.
Setelah aku perhatikan kembali, ternyata ada seorang wanita yang sedang berendam di kolam itu. Dia menggunakan pakaian putih sederhana sambil mengambil air kolam dengan kendi. Dia melakukannya berulang kali dan memindahkan air itu ke sebuah tong batu yang lebih besar.
“Hei!”
Aku menyapa seperti itu, kemudian melompat ke dalam kolam. Mungkin dia adalah orang yang tinggal di daerah ini, ada banyak hal yang ingin kutanyakan padanya.
Tapi wanita itu merespon dengan ekspresi takut dan kaget, ia hampir membuat kendinya hanyut karena dia melepaskannya.
“Tidak, tidak, kamu tidak perlu takut. Aku bukan orang jahat.”
“S-S-Siapa kamu? Kenapa bisa ada di tempat ini?”
“Yah, panjang ceritanya. Hanya saja kau harus percaya kalau aku datang dari gua yang ada disana.”
Aku menunjuk kepada gua kecil di atas tebing itu. Dia memperhatikannya dengan seksama. Bagaimanapun, tampaknya dia bukanlah tipikal wanita yang keras kepala. Tatapannya lemah lembut, perawakannya bagaikan wanita polos, kalau boleh jujur mungkin dia adalah orang yang mudah ditipu.
“Kau.. datang dari gua itu?”
Aku hanya tertawa kecil sambil menggaruk-garuk rambutku. Kalau aku mengatakan ‘iya’ justru terdengar sangat aneh. Mungkin dia akan menganggapku gila.
“T-Tunggu disini.. aku akan memanggilkan kepala desa.”
Gadis itu berlari, meninggalkan kendinya yang terisi penuh dengan air bersamaku.
Tak tahu apa yang dia maksud, yang kuingat dia hanya mengatakan ingin memanggil kepala desa. Sudah lama aku tak mendengar kata “desa” setelah pindah ke kota dan menjadi pekerja kantoran. Tapi, dunia lain memang hebat. Aku benar-benar berpindah ke dunia zaman dulu, yang masih dipenuhi oleh pepohonan.
Tak lama berselang, segerombolan orang datang menemuiku. Di depannya berdiri seorang kakek tua yang membawa tongkat, dengan rambut putih yang memanjang sampai ke dadanya. Di sebelahnya, ada si gadis kendi, dia menunjuk ke arahku.
Mereka semua mendekat, mungkin agak sedikit tidak sopan kalau aku merasa takut. Jadi, atas nama manusia zaman modern, aku akan menghadapi mereka semua.
Ketika semakin dekat, aku sadar ada yang aneh dengan mereka semua. Keanehan itu tampak di telinga mereka. Telinga mereka lebih panjang dari manusia normal, dan memiliki ujung yang cukup runcing. Apakah ini adalah ras elf seperti yang digambarkan itu?
“Apa benar anda datang dari gua?”
“Ya.. sejujurnya aku bereinkarnasi ke dunia ini.. setelah bertemu dengan dewi Reftia.”
Mereka semua terkejut, kemudian dengan senang dan bangga menatap satu sama lain.
“Dewi Reftia.. bagaimana kalau kita membicarakan ini di tempat yang lebih nyaman?”
Ucap si kakek tua.
Singkatnya begitu. Setelah mengucapkan nama si cantik Reftia, entah kenapa mereka begitu terlihat senang. Tanpa keraguan sedikitpun, mereka mengajakku berbicara. Aku dengan senang hati meladeninya, tapi apakah hanya perasaanku saja atau memang ini benar terjadi, pasalnya suaraku terdengar lebih halus dari biasanya.
Melewati banyak pepohonan, kerumunan kami sampai di sebuah desa. Benar-benar mencerminkan pedesaan, semua rumahnya terbuat dari kayu. Tak ada satupun yang menggunakan kaca jendela di sini. Atapnya menggunakan dedaunan panjang yang ditumpuk dan diikat. Dan rumah seperti itu tak hanya satu, hampir semua rumah di desa ini memiliki model yang sama.
Aku diajak ke dalam satu rumah di sana, ditinggalkan berdua dengan si kakek saja. Sedangkan penduduk yang lainnya menunggu di luar.
Si kakek menawariku teh, kami berdua duduk di lantai tanpa meja. Jujur, budaya seperti ini terkadang tidak terlalu buruk. Aku menikmati teh itu dengan segenap hati. Dan karena hal itu, pertemuan kami menjadi semakin lama.
Dirasakan bagaimanapun, teh ini terasa tawar. Tidak seperti meminum air putih, teh ini cenderung pahit. Aku ingin bertanya apakah teh ini sengaja dikasih gula atau tidak, tapi mengingat diriku yang dipertemukan dengan kakek begitu singkat, aku menahan pertanyaan itu.
Dengan ketidaksponanku yang melegenda, begitu selesai menenggak teh, aku langsung bertanya.
“Kalau boleh aku bertanya, ada dimana aku sekarang ini?”
Tanyaku.
“Sebelum itu. Apakah benar bahwa anda bereinkarnasi? Apakah benar anda bertemu dengan dewi Reftia?”
Dengan nada lemah yang khas dengan orang-orang tua, si kakek bertanya dengan lembut.
“Ya, beberapa jam yang lalu aku berbicara dengan Reftia.. aku dihidupkan kembali olehnya dan muncul di gua air terjun itu.”
“Begitu.. anda bahkan sudah berbicara langsung dengan sang dewi."
Sepertinya dewi Reftia sangat dihargai disini. Apakah mereka tidak tahu kalau sosok aslinya adalah perempuan egois yang sombong. Aku masih ingat kalau wajahku ini pernah dijadikan alas kakinya.
“Dan.. ini dimana?”
“Ah, benar. Selamat datang di desa kami, Akarka. Ini adalah desa yang kami buat untuk menyembunyikan diri.”
“Menyembunyikan diri?”
“Ya, ras Half Elf seperti kami tidak terlalu disukai, diluar sana kami selalu ditindas. Karena itu, aku memimpin banyak elf yang senasib denganku, dan kami menemukan tempat ini. Dengan perjuangan besar, pada akhirnya kami berhasil menyembunyikan Akarka dengan pelindung sihir.”
Cerita yang sedikit memilukan, aku menjadi sedikit kecewa dengan dunia lain karena penindasan seperti itu tetap terjadi.
Yah, seharusnya aku tidak perlu terkejut, di duniaku yang lama pun penindasan seperti itu tetap terjadi. Walau aku tidak mau memperhatikan hal semacam itu, melihat orang yang ditindas adalah sebuah siksaan tersendiri untuk orang-orang sepertiku.
“Dan beruntungnya, air terjun yang kami temukan itu adalah titipan langsung dari dewi Reftia. Sekitar 5 tahun yang lalu, dewi Reftia datang dan memberikan berkah kepada air terjun itu. Makanan dan air bersih, semuanya kami dapat dari sungai itu.”
Aku ingin bertanya “apakah dia menginjak wajahmu terlebih dahulu?”. Tapi tentu saja aku tidak mengatakannya, itu adalah penghinaan paling besar untuk ras yang menyembah si cantik Reftia.
“Omong-omong.. anda memiliki aura yang sama dengan dewi Reftia.. kecantikan yang sama juga.”
Entah aku yang salah dengar atau apa. Tapi aku langsung mengecek ke seluruh bagian tubuhku. Betapa terkejutnya diriku ketika tahu tubuhku menjadi mungil. Pinggangku ramping, dan pinggulku membesar. Pantas saja aku merasa aneh ketika berdiri tadi.
Apakah dadaku tumbuh? Astaga, untung saja dadaku tetap rata. Apa yang harus kulakukan kalau aku memiliki buah yang menggantung di dadaku ini.
“C-Cermin.. aku butuh cermin.”
Si kakek menunjuk ke sebuah meja kayu. Aku segera berdiri dan melihat bahwa ada cermin kecil di sana.
Ketika aku melihat diriku sendiri, barulah kutahu kalau si kakek tidak berbohong. Wajahku benar-benar cantik layaknya seorang gadis, tidak, bahkan ini terlalu cantik untuk bisa dibayangkan. Rambutku yang semula hitam keunguan, berubah menjadi biru muda dan panjangnya sampai ke bahu.
“Yang benar saja..”
Aku kembali mengingat perkataan dewi Reftia, ketika dia berkata “Dewi adalah sosok yang dilambangkan dengan perempuan”, tentu saja aku mengerti setiap arti dari perkataanya. Tapi kalau seluruh tubuhku menjadi wanita cantik itu sangat tidak masuk akal.
“Benar juga!”
Aku tersadar akan sesuatu. Seseorang tidak bisa disebut perempuan kalau dia tidak memiliki alat vital perempuan. Aku meraih selangkanganku, kurasakan semuanya rata, tak ada sedikitpun jendolan dan menara yang biasa kupakai sebelumnya.
Ah, habis sudah, masa depanku sudah berakhir. Yang kurasakan justru sebuah lekukan yang terasa risih ketika dipegang. Tak salah lagi kalau itu adalah kelamin perempuan.
Tapi semua itu tidak terlihat, yang penting dadaku tidak tumbuh, cukup itu saja.
Aku menghela napas lega karena hal itu.
“Gawat! Kepala desa!”
Seorang pria dewasa, dengan otot kekar, tiba-tiba saja datang membuka pintu dan berteriak dengan sangat keras. Aku dan kepala desa terkejut bukan main, apalagi ketika mendengar suara pintu yang terbanting.
Tanpa menunggu perhatian dari kami, pria itu melanjutkan kalimatnya.
“Laba-laba.. laba-laba itu kembali..”
Dengan napas tersengal-sengal, ia hampir mengatakan sesuatu yang tidak jelas. Tapi setelah kucerna kembali ternyata si tuan berotot mengatakan sesuatu tentang laba-laba. Tentu saja aku yang tidak mengetahui apa-apa tentang masalah internal desa hanya bisa menatap kepala desa dengan banyak pertanyaan.
Pak kepala desa memasang raut wajah kesal. Ia berdiri dan segera meninggalkanku.
Tapi sebelumnya ia sempat mengatakan sesuatu.
“Nona.. tunggulah disini..”
Kalau mereka bisa panik karena sebuah laba-laba, mau dipikirkan bagaimanapun itu pasti bukanlah laba-laba biasa yang sering kutepuk di dinding. Walaupun aku sama sekali tidak tahu apapun, tidak ada salahnya kalau mencoba membantu.
“Tidak. Aku akan ikut. Lagipula.. ada hal yang ingin kucoba terlebih dahulu.”
Ya, tentu saja, hal yang ingin kucoba adalah kekuatan pencipta.
Pak kepala desa sepertinya kurang setuju akan usulanku, tapi semangatku terlalu besar hingga mungkin dia bisa merasakan auranya. Dia mengangguk pelan dan mempersilahkanku mengikutinya.
Diluar, suasana lebih ricuh. Para warga desa, terutama perempuan, berlarian dan berteriak, mereka masuk ke dalam rumah mereka dan menutup pintu rapat-rapat.
Astaga, jangan membuat keadaan menjadi lebih menyeramkan, dasar laba-laba.
Pemuda berotot di desa ini tak hanya satu. Kami bertemu dengan sekumpulan pria berotot lainnya, tampaknya mereka sedang menunggu kedatangan pemimpin desa mereka. Sambil terus membicarakan hal yang tidak kumengerti, aku selalu melihat wajah panik diantara mereka semua.
“Dan.. nona ini adalah..”
Salah satu pria yang sedang berbicara langsung dengan kepala desa mulai melirikku dan menanyakan hal tersebut. Tentu saja dengan seorang gadis cantik diantara para preman, pasti akan ada yang bertanya.
“Aku adalah Darren Corter. Utusan dewi Reftia.”
Seakan tak percaya, mereka hanya bisa menatap heran kemudian melirik ke kepala desa.
“Ya, dia berkata jujur. Kalau ada dia disini, mungkin aku bisa sedikit tenang.”
“Yah.. kuharap begitu.. hanya saja laba-laba yang menyerang kali ini sedikit berbeda.”
Suasana pembicaran menjadi sedikit suram. Mereka yang tampaknya mengetahui sesuatu hanya bisa diam menunduk. Pak kepala desa berulang kali menanyakan apa yang berbeda, tapi tampaknya mereka ragu untuk menjawab.
“Itu.. laba-laba yang menyerang kali ini adalah.. Mid Spider.."
“Mid Spider? Laba-laba tingkat tinggi itu, maksudmu?”
Kepala desa menatap kosong sambil bertanya hal yang sudah jelas. Dan para pemuda hanya bisa mengangguk lemah. Kalau memang sesuatu yang disebut Mid Spider itu sekuat itu. Maka, satu-satunya yang bisa mengalahkannya adalah dengan kekuatan dewi sepertiku bukan?
“Tak masalah. Antarkan aku ke sana.”
“Tetapi..”
“Aku akan mengalahkannya.”
Seperti yang diharapkan dari pria berbadan besar dengan hati imut, mereka tidak sanggup membantah kata-kata berani dari seorang gadis mungil nan cantik ini. Seandainya ini adalah zaman modern mungkin mereka akan merasa terhina dan mulai memukuliku.
Aku diantarkan ke sebuah tempat di belakang desa, dengan banyak pepohonan. Ada sebuah pagar kayu setinggi dua meter dengan banyak kawat besi yang mengikat di sana-sini. Ada suara jeritan hewan buas yang menggema dari balik pagar itu.
“Seharusnya dia ada di dalam hutan sana.."
Aku melompati pagar setinggi dua meter itu tanpa keraguan, dan itu benar-benar berhasil, tubuhku serasa melayang. Kini hanya ada aku sendiri di daerah yang terisolir itu. Para pemuda mulai berteriak panik karena pagar memisahkan aku dengan mereka, sedangkan aku berada di kawasan yang berbahya.
Tak masalah, tubuhku sedang dalam keadaan yang teramat sangat hebat. Aku merasakan kekuatan yang sangat besar mengalir di tubuhku.
Aku sendirian, berjalan menuju ke dalam hutan, semakin dekat dengan suara jeritan hewan itu berasal. Semakin lama jeritannya semakin terdengar jelas, dan semakin memekikkan telinga.
Ketika sudah masuk cukup dalam, barulah sosok laba-laba itu terlihat. Aku cukup terkejut karena melihat sosok laba-laba yang luar biasa besar. Badannya berwarna hitam dengan banyak corak polkadot berwarna merah. Kakinya dipenuhi dengan bulu yang bergerak-gerak.
Saat itu dia tengah hingga di sebuah batang pohon besar, bersarang dengan jaringnya yang dibentuk seperti piring di atas sana.
Anehnya, si laba-laba semakin menjerit keras ketika aku dan dia saling bertukar pandangan. Aku bahkan tak sempat melakukan apapun, apa mungkin dia sudah membenciku sebelumnya?
Biarlah. Mangsanya sudah ada di depan mataku, saatnya mencoba kekuatan asli dari seorang dewi.