
Di sebuah hamparan tanah kosong yang mati, kuburan terbesar yang kuciptakan. Di tempat itu, aku hanya bisa menunduk dalam kesepian ketika 20 juta jiwa yang kutelan meronta-ronta di dalam diriku. Dari penggunaan skill Dead One Lightburn, jiwa mereka terlahap dan masuk ke dalam diriku.
Badanku terasa berat, tetapi sepatutnya ini tidak masalah untuk seorang Dewi. Yang masalah adalah karena aku tidak merasa bersedih, apakah aku telah kehilangan kemanusiaanku?
Aku bahkan tak menangis, sampai dua sosok yang muncul secara tiba-tiba seperti malaikat di depanku. Sosok itu adalah Reftia, dan Yang Mulia Vedetta. Melihat mereka yang tiba-tiba muncul, aku segera berdiri.
Tak seperti pertemuanku dengan Reftia yang biasanya, dimana dunia akan kehilangan warna dan waktu akan berhenti. Kali ini tidak, aku benar-benar masih bisa merasakan hembusan angin di kepalaku. Yang Mulia dan Reftia benar-benar tampil tanpa menutupi apapun.
Yang Mulia, entah bagaimana aku bisa mengetahui kalau dia bernama Vedetta, ketika aku melihatnya seolah pengetahuan itu muncul begitu saja di kepalaku.
Reftia muncul dengan wajah cemas, dia menatap dalam kepadaku.
“Benar-benar hancur tak bersisa..”
Ucap Yang Mulia setelah ia memandangi sekeliling hamparan tanah di sekitarnya.
Yang Mulia Vedetta sangat cantik, sosoknya memang benar lebih indah dari makhluk manapun. Tanpa bertanya pun, bahkan dari cara ia berdiri aku bisa membedakan mana Dewi yang lebih agung antara Reftia dan Vedetta.
“Itukah, sosok yang kau berikan gelar Dewi?”
Yang Mulia bertanya kepada Reftia, dan Reftia menjawabnya dengan anggukan.
“Dewi Corter, kemarilah!”
Yang Mulia menyuruhku untuk mendekatinya.
Jarak kami saat pertama kali dia muncul tak lebih dari 10 meter, dan dia menyuruhku untuk mendekat itu artinya dia menyuruhku untuk menghadap langsung kepadanya.
Seiren juga terpaksa bersiap, meskipun dirinya saat ini sedang kehabisan kata-kata ketika suara Yang Mulia terdengar.
Entah takdir seperti apa yang akan menantiku ketika aku melangkah, yang pasti aku harus benar-benar menghadap kepadanya.
Di depannya langsung, jarak kami hanya 2 meter saat itu, aku berlutut di depan Yang Mulia.
Reftia maju dan berdiri sejajar dengan Yang Mulia, mereka berdua kini memandangi diriku yang sedang menundukkan kepala.
“Tadi aku bertanya, apakah ini adalah sosok yang kau jadikan Dewi, dan kau mengangguk. Sekarang, apa alasanmu melakukan itu?”
Tanya Yang Mulia kepada Reftia lagi. Tanpa menaikkan kepala pun, aku bisa membayangkan ekspresi macam apa yang dibuat oleh Reftia dari pertanyaan itu.
“Kukira.. kukira Vedetta masih mengingatnya..”
Jawab Reftia. Aku merasa ada yang aneh ketika Reftia memanggil Yang Mulia langsung dengan namanya. Aku sendiri bahkan tidak bisa menyebutkan nama Yang Mulia walau di dalam hati sekalipun. Apakah Dewi Agung diberikan kesempatan berbeda?
“.. jangan-jangan.. ini adalah Darren Corter yang kau maksud dulu?”
Ucap Yang Mulia.
Tak ada balasan dari Reftia, aku mengasumsikan kalau dia hanya membalasnya dengan anggukan.
Tapi disini juga aneh, kalau Yang Mulia sampai tahu namaku dan dia mengatakan ‘yang kau maksud dulu’, ini sungguh tidak masuk akal. Dulu itu maksudnya apa? Apakah Reftia sempat bercerita kalau dia membangkitkan diriku?
Yang Mulia kemudian berjalan menjauhiku. Tapi di sela-sela langkahnya, ia menyertakan beberapa kalimat,
“Aku menciptakan jagat raya ini karena aku ingin, dan aku menciptakan makhluk yang berkesempatan untuk membuat dunia-nya sendiri, itu adalah kalian para Dewi Agung. Kuberikan kalian kesempatan untuk membuat semesta, kekuatan, bahkan lawan kalian sendiri..”
Ketika Yang Mulia tengah berbicara, aku menaikkan kepalaku dan berdiri. Reftia tampak terkejut ketika aku melakukan hal yang begitu tidak sopan, tapi dia hanya tersenyum aneh ketika Yang Mulia pun tak mempermasalahkannya.
“Begitu juga manusia, kuciptakan mereka dengan bentuk yang sama denganku. Terkadang aku menyebut mereka, ‘anak-anak Dewi’. Tapi, diantara anak-anakku, Reftia dan Darren Corter adalah yang paling membuatku kecewa!”
Yang Mulia membentak keras ke arah kami berdua. Layaknya seorang pelatih militer yang akan menghina habis-habisan prajuritnya yang lemah, Yang Mulia juga menekankan kalimat terakhirnya kepada kami.
Aku merasa biasa saja dengan perkatannya itu, tak heran lagi kalau Yang Mulia akan memarahiku setelah apa yang kulakukan. Tapi sepertinya Reftia sangat terpukul, dia hampir menangis ketika Yang Mulia memarahinya.
Saat mata Reftia berkaca-kaca, aku seperti mengingat masa lalu yang sangat jauh sekali.
Setelah mengatakan hal itu dengan keras, Yang Mulia berjalan mendekatiku. Aku sempat ingin menunduk, tapi Yang Mulia jalan begitu cepat hingga dirinya kini berdiri tepat di depanku. Wajah kami bahkan tak lebih dari 30 centi, sepertinya ia sengaja mendekatkan wajahnya.
“Dewi Corter, apa alasanmu melakukan perbuatan keji ini?”
Yang Mulia melontarkan pertanyaan itu. Aku ragu apakah Pencipta yang satu ini bisa dibohongi atau tidak, masalahnya aku tidak ingin menjawab pertanyaan itu dengan jujur. Hidupku bukanlah kisah romantis dimana hati semua orang akan tergerak hanya karena cinta. Tak mungkin aku mengatakan kalau orang yang kusukai disiksa di tanah ini.
Aku juga bukan siapa-siapa di matanya, tidak bisa seenaknya saja.
“Aku.. hanya ingin membasmi iblis dan orang-orang yang menyembahnya! Asal Yang Mulia tahu.. para iblis itu sudah menghina kita para Dewi, termasuk menghina Reftia!”
“.. iblis? Oh, makhluk ciptaan Teressa itu? Kalau di semesta lain, makhluk seperti iblis itu tidak ada. Yang lebih penting, aku hanya heran dengan caramu melakukannya. Apa kau tak takut menghabisi jiwa sebanyak itu?”
Aku memasang wajah serius. Dalam diriku masih bertanya-tanya, apakah barusan Yang Mulia mempercayaiku? Kalau dari nada bicaranya seharusnya dia memang mempercayaiku, tapi apakah memang semudah itu untuk membuatnya tertipu?
Berulang kali aku melirik ke arah Reftia untuk meminta jawaban tapi sepertinya Reftia tidak mengerti apa maksudku.
“Aku menganggap kalau iblis di tanah ini sudah mendarah daging sampai ke anak-anak. Iblis menawarkan kepada kita kekuatan yang amat besar, sama seperti tanah ini yang meminta kemakmuran dari iblis. Aku takut ideologi semacam itu akan menyebar luas di dunia.”
“..hmm.. pada akhirnya ini salah iblis, begitu? Baiklah, aku paham apa yang akan kau ucapkan.. Teressa, kemarilah!!”
Yang Mulia secara tiba-tiba saja menghadap ke langit sambil meneriaki nama Teressa, seolah suaranya akan sampai ke langit. Aku dan Reftia hanya bisa diam membeku, melihat ke titik yang sama dengan Yang Mulia.
Tapi ternyata itu benar-benar terjadi. Sebuah berkas cahaya berwarna-warni yang indah seketika turun dari langit. Terlihat sosok seperti manusia di antara cahaya-cahaya itu. Ah, sepertinya aku tidak perlu bertanya siapa sosok itu.
Ketika cahaya itu sampai di tanah, begitu juga dengan sosok yang dibawanya.
Ternyata memang benar, ia adalah Teressa, Dewi Agung kehidupan dan Kematian. Dia memiliki wujud wanita dewasa dengan rambut pirang yang tumbuh sampai ke lututnya. Pakaiannya sedikit berbeda dengan Reftia, dia cenderung terlihat menggunakan seragam atau pakaian yang terlihat formal.
“Teressa, aku ingin bertanya, apakah benar kalau iblis yang kau buat itu adalah makhluk yang pantas dilawan?”
Tanya Yang Mulia, Teressa memasang wajah aneh ketika mendengar pertanyaan itu.
“Hei, tunggu dulu! Bukankah aku sering mengingatkan? Jangan pernah salahkan diri kalian para Dewi Agung, karena kalian adalah makhluk yang paling benar. Kalaupun kalian ingin membuat semesta ini kiamat pun itu tidak masalah.”
“Yah.. kuharap memang begitu. Tapi aku sendiri juga tidak sudi kalau para manusia menundukkan kepalanya kepada para iblis.”
Teressa mengatakannya dengan nada serius. Aku sepenuhnya setuju dengan kalimatnya, alasan aku melawan Astaroth mati-matian pasti karena alasan ini.
Yang Mulia mengerti betul perkataan Teressa, tapi dirinya yang merupakan Pencipta tertinggi sepertinya tidak terlalu memperdulikan hal itu. Yang Mulia Vedetta bahkan tidak perlu bergerak untuk bisa menghancurkan seluruh semesta, itu adalah bukti kebesaran kekuatannya.
Setelah itu, ketika kami semua terdiam, Yang Mulia mendadak tersenyum lebar. Senyumannya itu diarahkan kepadaku. Sambil terus mendekat, Yang Mulia memainkan rambut poniku yang tertiup angin.
“Iblis.. makhluk yang membelot.. aku cukup menyukai konsep itu. Baiklah, Darren Corter, atas nama Vedetta sang Pencipta, dengan ini menyatakan mulai saat ini dirimu akan menjadi Dewi yang menjelajahi dua alam. Jadilah iblis, wahai Dewi!”
Yang Mulia mengutukku, dengan mudahnya ia tersenyum ketika kutukan itu terlontar dari mulutnya.
Seketika tubuhku mulai berubah, ini ditandakan dari berubahnya statusku. Aku memang tidak kehilangan gelar Dewi, tapi aku juga mendapatkan gelar yang saling bertolak belakang. Gelar itu adalah gelar iblis.
Ya, aku adalah iblis sekarang.
Reftia menjadi panik ketika lingkaran pentagram tiba-tiba muncul di tanah dengan aku sebagai pusatnya. Teressa hanya diam dan Yang Mulia tersenyum bahagia. Kalau dalam kasus normal, aku seharusnya menerima kutukan itu bulat-bulat, tapi melihat Reftia yang begitu panik membuatku menjadi panik juga.
Secara fisik, rambutku berubah menjadi lebih panjang. Yang tadinya hanya sepanjang bahu, kini rambutku memanjang sampai ke punggung. Warnanya juga sedikit lain, sekarang terdapat warna kehitam-hitaman di ujung rambutku, sedangkan sebaian besarnya masih berwarna biru.
“Tunggu dulu! Tunggu dulu, Vedetta! Darren tidak sepenuhnya salah, dia melakukan tugasnya untuk membawa nama baik Dewi!”
“Reftia.. diantara semua Dewi Agung, dirimu adalah yang paling kuhormati. Sayangnya, keputusan tetap ada pada diriku. Meskipun kau memberontak sekalipun, aku tak akan mengubahnya!”
“Vedetta.. padahal, ini semua juga salahmu. Bukankah kau yang memberikan Darren gelar nafsu dan keegoisan?! Karena itulah dirinya selalu bertindak ceroboh! Darren sejak awal sudah kau berikan kutukan, dan kau masih terus menyalahkannya! Pencipta macam apa kau ini!?”
Dengan lantang dan berani, Reftia melabrak Pencipta tertinggi tanpa keraguan, sebenarnya Reftia sempat berpikir ulang sebelum melontarkan kalimat itu.
Perkataan itu teerkesan kejam bahkan untuk sesama Pencipta sekalipun. Aku dan Teressa sama-sama terkejut ketika melihat sisi lain Reftia yang begitu keras. Tak pernah kusangka kalau Reftia akan membelaku dan membentak Yang Mulia, padahal diriku saja tidak bisa melawan.
Ini gawat, pandangan Yang Mulia menjadi sangat dingin kepada Reftia. Meskipun begitu, tidak mengecilkan tekad Reftia untuk terus membantah sang Pencipta.
“Reftia, kau berani menyalahkanku?”
“.. ya, kalau kau mempermainkan Darren.. aku tak masalah bisa harus bermusuhan denganmu!”
Pemandangan ini tidak terlihat seperti percakapan antar Dewi, melainkan percakapan antara sahabat yang tengah
berkelahi. Apakah aku pernah melihat momen ini di suatu tempat? Entahlah. Aku khawatir dengan perkataan Reftia, takut itu akan menjadi bumerang untuk dirinya sendiri.
Yang Mulia menunduk kesal, dia mengangkat kepalanya dan menunjukkan wajah kesal itu kepadaku bukan kepada Reftia.
“Selalu Darren Corter.. Reftia, aku kecewa padamu. Mulai saat ini, aku memerintahkanmu untuk terus berada di sisi Darren Corter! Sekian!”
Yang Mulia menghilang begitu saja ketika dia menyelesaikan kalimatnya. Begitu juga Teressa yang pergi setelah bertatapan dengan Reftia untuk beberapa saat.
Tinggallah hanya aku dan Reftia saja disini.
Apakah Reftia akan marah kepadaku? Tadi Yang Mulia sempat memerintahkannya untuk terus berada di sisiku, bukankah itu terlihat seperti kutukan juga? Itu berarti Reftia seperti ditawan dan tidak boleh jauh dariku.
Astaga, ini menyebalkan. Ketika aku tahu sifat asli dari Pencipta yang sebenarnya, memang benar itu adalah sifat seorang Pencipta yang patut disembah. Tidak peduli apa yang dia lakukan terhadap ciptaannya, Yang Mulia hanya ingin mengatur dunia ini sesuai kehendaknya.
“Darren.. tubuhmu baik-baik saja?”
“Y-Ya.. aku cukup sedih karena harus berubah menjadi iblis.”
“Maafkan aku, ya.. pada akhirnya Vedetta tetap tidak mau menarik kutukan itu, dia justru mengutukku juga.”
‘Akulah yang seharusnya minta maaf’, aku ingin berkata seperti itu, tetapi sepertinya itu bukanlah kalimat yang ingin didengar Reftia. Dia terlalu peduli padaku, inilah yang patut dipertanyakan.
“Reftia.. kenapa kau sebegitu inginnya membelaku? Itu adalah Yang Mulia loh.. Pencipta kita semua! Apa kau tidak takut?”
Reftia berbalik memandangku, dia mendekat dan memelukku dengan erat. Aku tak mengerti kenapa Reftia tiba-tiba memeluk, anggap saja itu hanyalah kesalahpahaman. Ketika aku memeluk tubuhnya, aku merasakan perasaan yang sangat dalam. Ini mengingatkanku kembali dengan kejadian ketika aku dan Reftia berpelukan dulu. Tapi, apa sebelum kematianku, aku pernah memeluk Reftia?
Serius, ini sangat aneh, ketika aku melihat Reftia dan Vedetta berdiri bersebelahan, seperti ada sesuatu yang mengganjal di pikiranku. Aku seperti sudah pernah melihat momen itu, tapi di sisi lain ingatanku berkata kalau itu hanyalah kesalahpahaman.
“Vedetta tak akan mungkin marah kepadaku.. karena aku adalah sosok yang berharga baginya.”
Sambil tetap memelukku, dia berkata dengan lembut kepadaku. Reftia yang inilah, yang mengingatkanku dengan Reftia yang pernah menginjak wajahku.
“Apa kau tidak kecewa kepadaku, Reftia?”
“.. tidak. Satu dollar tetaplah satu dollar.”
“Hmm?”
Saat aku sedang menikmati pelukan sesama kelamin ini, ada seseorang dari kejauhan yang berteriak dan memanggilku.
Dia adalah Colt Rayen, pujaan hatiku yang kuselamatkan beberapa jam yang lalu. Rayen melambai-lambaikan tangannya dan berlari menuju kami.
Tapi apa yang Rayen lakukan disini? Bukankah aku sudah mengirimnya kembali ke kerajaan Megaira?
Ternyata, Rayen tidak sendiri, ada banyak orang berlari di belakangnya. Ada tiga ratu idiot disana, para anggota ahli sihir kerajaan, dan yang paling mengejutkan adalah para penduduk Akarka. Ras Half-Elf berparas cantik itu berlarian kemari.
Sebelum aku sempat melambaikan tanganku kepada Rayen, tiba-tiba Reftia mencubit punggungku.
“Darren, sepertinya kau sudah menemukan cinta di dunia barumu, ya?”
Cubitannya itu terasa makin kuat. Aku berusaha untuk melepaskan pelukan Reftia dariku, entah kenapa aura Reftia menjadi sedikit menyeramkan.
Reftia saling bertatap wajah denganku, ternyata ia memasang wajah kesal imut seperti yang pernah ia tunjukkan, ia menggembungkan pipinya.
“Dasar tukang selingkuh!”