Goddess Corter

Goddess Corter
Rayen-Double Royale



Permainan gila dimulai, dimana 9 miliar pemain akan bertarung demi memperebutkan satu-satunya kursi pemenang. Penipuan, kecurangan, pengkhianatan, semuanya akan terjadi disini. Semua orang ingin menang, semuanya ingin hadiah. Tak ada yang namanya rekan disini.


Colt Rayen, peserta pria utusan Darren Corter, kini tengah berjalan di sebuah gunung batu yang penuh dengan pasir. Yang menemaninya adalah bulan dan bintang di langit malam, serta sosok raja iblis di dalam tubuhnya.


Dengan tangan kosong, dan tanpa perlindungan, Rayen sedang memutar otak untuk mencari tahu bagaimana cara mendapatkan makanan.


Ini sudah dua jam sejak permainan dimulai, dimana siaran langsung dari permainan ini ditonton oleh Dewi Corola dan Dewi Corter. Permainan diprediksi selesai dalam satu sampai dua minggu.


Jalan berundak-undak dan ada banyak batu untuk bersembunyi, Rayen tak bisa lengah sedikitpun. Ia siap kapan saja menarik pedangnya.


“Kira-kira seberapa besar medan perang ini?”


Tanya Rayen kepada sosok di dalam tubuhnya.


“Sebesar planet ini, berarti sebesar planet yang kau tinggali.”


“Percayalah, aku bahkan belum mengelilingi dunia, dan sekarang aku harus berperang dengan medan sebesar ini?”


“Ya.. aku tak mengatakan ini akan mudah. Tapi, kau sendiri juga sudah bukan manusia biasa, kalau kau serius maka semuanya akan berakhir.”


“Jangan mengatakannya seolah..”


Tiba-tiba, sebuah tombak meluncur tepat di depan Rayen, hampir saja ujung tombak itu membolongi kepalanya. Tombak itu dijatuhkan dari atas tebing, ketika Rayen menoleh terlihat seorang pria muda yang siap dengan tombak keduanya. Rayen segera bersembunyi di balik batu.


“Lihat, satu dari sembilan miliar pemain ada disini. Kau ingin menghabisinya, atau aku saja?”


Rayen mengintip sedikit ke atas tebing. Dia mulai memperkirakan kalau jarak ke atas tebing adalah 15 meter, itu terlalu tinggi untuk dicapai dengan lompatan.


“Azazel, bagaimana cara menghabisi musuh yang ada di atas sana? Jangan bilang aku harus melempar pedangku.”


“Apa kau tak mau menunjukkan hasil kerja kerasmu, dengan kekuatan barumu?”


“.. baiklah. Kali ini saja.”


Rayen mulai serius.


Akhirnya tiba juga dimana dia menggunakan jurus yang ia pelajari dari Azazel secara khusus.


Rayen menarik napas, mencoba menjadi satu dengan energi yang mengalir di dalam tubuhnya. Ada lima energi dalam tubuh Rayen, dan yang sedang Rayen coba tarik saat ini adalah energi petir.


Azazel pernah menanamkan lima jiwa iblis pada tubuh Rayen, dimana masing-masing menguasai satu energi. Dan untuk bisa bergerak cepat naik ke atas, petir adalah energi yang pantas di coba.


Jiwa iblis petir, Dantalion.


“Dantalion Form.. Thunder Sword!”


Seketika sebuah petir muncul dari depan Rayen, itu tidak menyambar dari langit tetapi muncul tepat di udara. Tempat yang gelap itu seketika dipenuhi cahaya kuning yang menyilaukan.


Dari cahaya itu, muncul sebuah pedang yang tercipta dari petir yang memadat. Sebuah pedang berwarna emas berbentuk katana, sebagaimana pedang yang diperuntukkan untuk serangan cepat.


Rayen memegang pedang itu dengan mudah, seandainya orang lain mungkin akan gosong karena terbakar.


“Ini dia!”


Rayen memasang kuda-kuda, kepalanya menghadap ke atas tebing dimana musuh berada.


Seketika, Rayen melompat dengan kecepatan suara dan menebas kepala dari musuhnya. Serangan yang sangat cepat sampai musuhnya tak sempat bergerak.


Tapi yang pasti, jurus yang dikeluarkan Rayen terlalu mengundang perhatian. Suara petir yang terlalu bising, cahaya yang terlalu terang di tengah gelap, dan juga ledakan di tengah kesunyian. Serangan seperti ini bisa membocorkan lokasi sendiri.


Dalam sekejap Rayen sudah berada di atas tebing, ia bahkan masih bertanya-tanya bagaimana ia bisa melompat tebing setinggi 15 meter secepat itu.


“Bersyukurlah pada nona Corter, karena dia memberkatimu dengan Reft yang begitu melimpah.”


“Ya.. ini satu keuntungan bagi kita.”


Mayat orang yang mati dari peperangan ini tidak akan selamanya mati. Ketika perang berakhir, mereka akan kembali hidup dan menjalani kehidupan seperti biasa.


Dewi Corola bilang, makhluknya tidak memiliki sistem reproduksi. Namun populasi pria ataupun wanita akan terus ditambah oleh Dewi Corola, mendengar itu pertama kali, makhluk yang tinggal di sini seolah seperti mainan.


Pedang Dantalion menghilang, dan energi petir kembali masuk ke dalam tubuh Rayen.


Di atas tebing, Rayen bisa melihat betapa gelapnya semesta ini ketika malam hari. Medannya memang tak jauh beda dengan dunia lamanya, tetapi disini bulan seolah lebih jauh. Bahkan di atas tebing, pemandangan jurang dan kawah terlihat hitam pekat.


Rayen bersantai sesaat sambil menikmati hembusan yang sejuk.


Sampai telinganya mendengar suara dari kejauhan.


Suara yang begitu bising, tetapi terdengar sangat pelan. Rayen bertanya-tanya, suara apa itu? Itu bukanlah suara yang bisa dibayangkan sosok penimbulnya.


Rayen menoleh ke belakang, tempat dimana suara itu berasal. Penasaran, Rayen mulai melangkahkan kakinya dan berjalan mendekat.


Semakin lama suara terdengar semakin jelas, Rayen semakin berhati-hati.


Ternyata, suara bising itu muncul dari sebuah jalanan yang berada di bawah tebing.


Diantara batu-batuan yang tinggi, ditengahnya terselip sebuah jalan lebar yang memungkinkan orang bisa melewatinya. Rayen melongok ke jalanan itu, terlihat sekumpulan orang yang banyak sekali, sedang berjalan menggunakan obor.


Yang aneh bukanlah kenapa mereka berjalan disana, tapi kenapa mereka bisa bersama? Seharusnya dalam perang ini tak ada yang namanya rekan.


“Rekan memang tak ada, tapi bukan berarti budak juga tidak ada.”


Ucap Azazel mencoba menjawab rasa penasaran Rayen.


“Apa maksudmu?”


“Coba lihat barisan terdepan mereka.”


Mengikuti kalimat Azazel, Rayen menggeser pandangannya ke ujung dari barisan orang-orang itu. Diantara banyaknya orang yang membawa obor, terlihat seseorang dengan zirah emas yang berkilau sedang duduk di atas kursi, dan dia diangkat oleh orang-orang di bawahnya.


Rayen langsung paham kalau itu adalah orang yang dominan, dan tentu saja orang yang lemah akan mengikutinya. Orang-orang lemah seperti mereka, pasti tidak tertarik dengan hadiah Dewi Corola.


Tujuan Rayen adalah memenangkan perang ini dan mempersembahkan kemenangan kepada kekasihnya, mengesampingkan fakta bahwa dia hanya ingin bertarung.


Elemen apa yang cocok untuk ini? Tanya Rayen dalam hati.


“Mungkin kita tak perlu gegabah.”


Rayen terjun bebas dari atas tebing, kemudian mendarat tepat di depan rombongan orang.


Di depannya, berdiri banyak sekali pria kekar yang memegang obor dan pedang di punggung mereka. Orang-orang di barisan depan mengangkat sebuah kursi mewah, dimana seseorang duduk disitu, orang itu menggunakan zirah emas dan memiliki tatapan sombong.


Rombongan berhenti ketika Rayen menghadang, pria berzirah emas tetap dengan tatapan sombongnya.


“Makhluk bodoh mana yang mau menyerang seorang diri? Apa kau sudah gila.. anak muda?”


Pria berzirah emas berbicara dengan merendahkan, dia sama sekali tidak bergerak sedikitpun dari kursinya.


“Kenapa kau menyuruh mereka menjadi bawahanmu? Bukankah tak ada kelompok di permainan ini?”


Tanya Rayen.


Mendengar itu, pria berzirah emas tertawa sangat keras, suaranya menggema hingga ke ujung tebing,


“Tak ada aturan seperti itu.. lagipula, memang dari dulu, orang yang dominan pasti membuat kelompoknya sendiri. Ini bukan pertarungan individu, tetapi pertarungan antar kelompok dominan.”


Rayen marah di dalam hatinya. Kenapa orang-orang dominan merampas hak yang lemah untuk bisa menang? Apapun yang mereka lakukan, sekuat apapun, kemungkinan untuk menang pasti ada bagi setiap orang.


Kalau dipikir secara logis mungkin ada benarnya juga. Agak sedikit mustahil rasanya ada orang yang mampu mengalahkan 9 miliar orang seorang diri.


“Hmm..?”


“Agares Form, Water Wave!”


Rayen mengaktifkan jiwa iblis air miliknya, Agares. Seketika, sebuah lingkaran berwarna biru laut muncul di depan Rayen seolah sedang membentenginya. Orang-orang yang melihat itu langsung panik, kecuali si pria berzirah.


Lingkarang itu kemudian menembakkan ombak air dengan derasnya, dan dalam sekejap mampu menyapu bersih rombongan di depan Rayen. Ada beberapa yang bertahan dengan perisai, tapi itu tak cukup untuk menahan kuatnya arus air.


Sihirnya sudah berhenti, dan air mulai surut. Kaki Rayen kini terendam sepuluh senti akibat serangannya sendiri. Tak ada satu orangpun yang bertahan, rata-rata dari mereka sudah berubah menjadi mayat, tentu saja itu karena mereka terbentur tebing sana-sini.


Tidak, sebenarnya ada satu orang yang bertahan. Tentu saja, pemimpin mereka, pria berzirah emas.


“Mampu mengeluarkan sihir sebesar itu.. apa kau benar-benar manusia?”


“.. entahlah.. bagaimana aku menjawabnya?”


“Apa kau membawa benda pusaka bersamamu?”


“Tidak. Itu murni kekuatanku sendiri.”


Pria berzirah diam sejenak, kemudian,


“Namaku Zavkielon, pemenang pertandingan Double Royale War tiga tahun lalu. Katakan namamu, bocah!”


“.. Colt Rayen,.. penjinak iblis.”


“Hihi.. menarik..”


Rayen merasa frustasi ketika Zavkielon tiba-tiba muncul di depannya dan menebaskan pedang, jarak mereka awalnya sangat jauh, tapi ketika Rayen berkedip orang itu sudah siap dengan pedangnya. Beruntung, reflek Rayen lebih cepat, telat sesaat saja maka Rayen akan mati.


Zavkielon terkejut ketika Rayen berhasil menghindar, tetapi dia terus menebaskan pedangnya tanpa memberikan


Rayen kesempatan untuk pergi. Saking cepatnya serangan itu, Rayen bahkan tak sempat melompat jauh ke belakang. Dia hanya bisa menghindar ke kiri dan ke kanan.


Di momen yang tepat, Rayen menarik katana dari pinggangnya dan digunakan untuk menangkis tebasan pedang besar Zavkielon.


Rayen aman sekarang, tetapi jantungnya masih berdegup kencang karena terkejut. Siapa sangka perbincangan yang lancar itu bisa dijadikan strategi untuk menyerang.


“Boleh juga, tubuhmu cukup cepat untuk mengimbangiku.”


“Apa sebelumnya kau mengatakan kalau kau pernah memenangkan permainan ini?”


“.. kalau iya memang kenapa?”


“Hadiah apa yang diberikan Dewi padamu?”


Wajah Zavkielon berubah menjadi sedikit lebih serius. Atau sebenarnya, wajahnya menjadi menjijikan. Dia


tersenyum seperti orang bodoh, kemudian tertawa selepas mungkin.


“Hadiahnya adalah wanita.”


“.. hah?”


“Ketika kau menang, kau akan diberikan kesempatan untuk bersetubuh dengan makhluk perempuan. Asal kau tahu


saja.. betapa nikmatnya sensasi itu. Sensasi yang tak pernah dirasakan planet ini selama ribuan tahun. Hahaha!!! Kalau aku menang, aku akan mendapatkannya lagi!!”


“Kita dijebak ya..”


Lebih menjijikan dari yang diduga, hadiah yang paling tidak ingin diambil oleh Rayen. Sampai saat ini, Rayen bahkan belum berani menyentuh kekasihnya sendiri, bukan tidak mau, tetapi lebih merasa tidak pantas.


Jadi tak ada gunanya Rayen memenangkan pertandingan ini.


Yah, paling tidak kalau dia kalah maka Rayen akan kehilangan muka di depan Dewi Corter.


“Maaf ya, bocah, kali ini pun aku yang akan menang. Sekali melakukannya, nafsumu tidak akan terbendung lagi.”


Zavkielon menodongkan pedangnya lagi kepada Rayen.


Rayen sudah cukup memperoleh informasi, ia tak ingin lagi mendengar bualan-bualan nafsu dari musuhnya.


“Asmoday Form, Light Speed.”


Rayen bergerak dengan kecepatan cahaya.


Dengan kecepatan itu, ia hampir tak terkalahkan. Tentunya Zavkielon bukan orang yang mampu menahan cepatnya cahaya, kepalanya melayang sekejap ketika Rayen mulai berlari.


***


Seminggu permainan berlalu, sudah setengah dari populasi musnah.


Rayen salah, perang ini jauh lebih pecah dari perkiraannya. Sihir ledakkan dimana-mana, tanah retak, lautan mengering, bahkan laut berubah menjadi hitam. Hitamnya langit juga diiringi dengan jatuhnya debu hitam yang tebal.


Debu itu membakar orang-orang yang tidak mampu menahannya, itulah kenapa populasi bisa terkikis dalam waktu yang sangat singkat.


Tepat hari ini juga, dimana perang besar terjadi di satu titik. Semua pemain yang tersisa menghabiskan tenaga mereka di satu tempat ini.


Yaitu sebuah lapangan besar dimana di pusatnya terdapat benda yang disebut-sebut sebagai pusaka.


Opsi untuk memenangkan peperangan tinggal satu, yaitu mendapatkan pusaka. Semua orang mengetahui betapa hebatnya kekuatan pusaka, terlebih rata-rata pemenang adalah yang mampu memegang pusaka.


Namun untuk itu, ada resiko yang begitu besar untuk mengambilnya. Orang yang bukan pilihan Dewi tidak bisa mencabut pusaka itu. Karena itu sedikit sia-sia untuk mengambilnya.


Resikonya sendiri datang dari orang-orang yang berusaha melindungi pusaka. Takut akan datangnya orang pilihan Dewi, manusia terbagi menjadi dua kelompok yaitu pelindung dan perebut. Walau nyatanya kelompok perebut tetap berperang untuk mendapatkan giliran.


Bayangkan miliaran orang berkumpul dan membuat kerusuhan, tentu saja itu terlihat seperti neraka. Semua yang masih ikut berperang bukanlah orang yang bisa mati dengan mudah, mereka mengeluarkan kemampuan terbaik mereka.


“Kau berencana mengambil pusaka?”


“Aku tidak tahu seberapa kuat pusaka itu, tapi aku sudah punya yang lebih berharga.”


“.. Pedang Agung?”


“Starlight Eternity.”


“Padahal dengan itu kau bisa memenangkan peperangan ini dengan mudah, tapi kenapa?”


“Tidak semudah itu, hanya dengan memakainya saja umurku serasa berkurang. Lagipula itu pedang yang dibuat Corter dengan nama Dewi, aku begitu beruntung karena mampu mengangkatnya.”


Dari miliaran pemain, ada satu orang yang masih bingung harus mulai darimana ia menyerang. Colt Rayen, terbang di atas peperangan itu sambil memperhatikan pusaka yang menawan.


Tak semua orang bisa terbang, namun beberapa yang terbang menggunakan kekuatannya untuk serangan udara. Benar-benar, hanya Rayen seorang yang berdiam diri di perang ini.


Di saat itulah, ketika semua orang tak memperhatikan Rayen, maka persiapannya sudah selesai.


“Demon Caster Form, The Great Demi God.”


Mendadak sebuah aura yang menyeramkan datang dari langit-langit.


Perang berhenti, perhatian semua orang tertuju pada pada satu, yaitu sosok yang terbang tinggi di atas mereka.


Langit menjadi semakin hitam, lebih hitam dari apapun. Di tengah hitamnya langit, sosok itu mengintai dengan aura yang sangat mengerikan. Aura yang bisa menghancurkan apapun dengan hanya kehendaknya.


Siapa sosok itu? Orang-orang mulai bertanya.