
Raja Alard Albarac, hanya bisa terdiam melihat Negara rekannya tiba-tiba hilang dari bumi, seakan tidak pernah ada peradaban disana.
Bahkan ketika masih kecil, Raja merasa takjub ketika melihat gedung-gedung di tanah Kardagon, gedung itulah yang menginspirasi raja untuk memakmurkan rakyatnya.
Tapi kini, gedung-gedung itu seolah tidak pernah ada. Raja bahkan bingung apakah yang dilihatnya selama bertahun-tahun adalah asli atau hanya khayalannya saja.
“Astaga, ini membingungkan.”
Ucap raja yang tampan itu, ketika dia memandang ulang setiap hari dari jendela istana, dan yang ia lihat ternyata memang benar kalau tanah Kardagon telah hilang.
Hari berikutnya, ini adalah perintah raja, ketua pasukan militer diharuskan untuk membuat anggota pengintai beranggotakan 100 orang. Nantinya pasukan pengintai ini akan melakuan penyelidikan terhadap misteri hilangnya tanah Kardagon.
Yang spesial dalam penyelidikan kali ini adalah karena Raja Albarac membimbing sendiri para pasukannya untuk melangkah di tanah kosong itu.
Sialnya, konspirasi masyarakat mulai tersebar. Mulai ada pertanyaan, kenapa raja mau ikut kedalam pengintaian yang berlokasi di tanah kosong? Apa yang ada disana? Intinya, rakyat hanya bingung kenapa rajanya melakukan hal yang tidak penting.
***
-Rolovko, kota di bagian pusat Kerjaan Albarac-
Sang Raja Iblis, Demon Lord Azazel, dengan pakainnya yang menyamar sebagai pasukan militer, ia berjalan di kota Rolovko ketika malam hari.
Ini adalah 13 jam sebelum misi pengintaian Kardagon dimulai. Anggota pasukan militer yang sudah terbiasa dengan misi seperti ini tentunya menikmati waktu senggang mereka dengan beristirahat dan minum-minum.
Azazel memandangi kerajaan kecil yang bersih dan makmur itu. Obor-obor besar yang digantung di jalan utama membuat Azazel mampu melihat ke jalan 1 kilometer di depannya dengan sangat jelas.
Tapi di lain sisi, sekiranya sudah tidak banyak orang-orang yang peduli dengan obor itu. Sebagian besar orang sudah berada di rumah mereka dan menikmati hangatnya kumpul keluarga.
Ketika kaki Azazel melangkah, dan pandangannya sedang berkeliling, Azazel melihat seorang gadis tengah duduk di bangku trotoar, terlihat kecemasan tercermin dari wajah gadis itu.
“Permisi, ada yang bisa kubantu?”
Kata Azazel.
Gadis itu menaikkan wajahnya yang sangat cantik. Dengan mata terkaca-kaca, ia sempat terkejut ketika seorang polisi militer tiba-tiba menegurnya.
“Oh, maaf..”
Jawab gadis itu seraya berdiri dan menunduk.
“Yah.. aku menawarkan bantuan loh.. apa kau memiliki masalah?”
Tanya Azazel sekali lagi, memaklumi tindakan canggung yang dilakukan sang gadis.
Tak langsung menjawab, gadis itu sempat terdiam. Sesuatu yang dipikirkan gadis itu sepertinya sedikit sensitif, ia bahkan tidak menatap Azazel sedikitpun. Sempat berpikir berulang-ulang, sambil pandangannya terus menjelajahi pakaian militer Azazel, gadis itu mulai luluh dan berniat untuk bicara.
“Itu.. bisakah anda membawa saya ke dalam sini? Saya ingin bertemu dengan ayah saya.”
Si gadis menunjuk ke bangunan di belakangnya. Samar-samar akan cahaya, bangunan itu memiliki pelang bertuliskan ‘Bar’.
Azazel yang baru saja sampai, menyamar, dan bersandiwara tentunya sama sekali tidak paham dengan maksud si gadis. Saat itu Azazel sadar kalau dirinya yang menawarkan bantuan sepertinya adalah suatu kesalahan. Hal merepotkan seperti ini, mungkin lebih baik kalau Azazel membunuh si gadis.
Tapi, kecerdasan Azazel berada di tingkatan yang gila. Ia meramalkan sesuatu yang menurutnya itu menguntungkan. Sesuatu yang dimaksud si gadis sebagai bar, entah kenapa Azazel merasa kalau datang kesana akan menjadi keharusan.
“Kenapa kau tidak masuk sendiri? Juga.. kenapa kau mencari ayahmu?”
“Itu.. seorang gadis sepertiku rasanya agak sulit untuk masuk ke dalam bar. Dan ayah, dia terlalu mudah mabuk, kalau dibiarkan lebih lama mungkin dia akan berada di sana selamanya.”
“Begitu, karena itulah kau ingin datang dan menegurnya?”
Si gadis mengangguk.
Menghela napas, Azazel berulang kali memikirkan berbagai macam kemungkinan dari keputusan yang ia buat. Ribuan atau bahkan jutaan kemungkinan yang bisa terjadi kalau seandainya dia membuka pintu bar, semuanya dipikirkan oleh Azazel.
Tapi untuk menginjakkan kaki di dunia ini, Azazel tidak bisa membantah kalau dirinya cukup berhati-hati. Azazel mampu memainkan semua iblis di semesta ini layaknya budak, tapi kekuatannya sendiri secara personal justru tersegel oleh Dewi Teressa.
Sekarang yang menjadi tujuannya adalah pencampuran gen dengan makhluk unik Darren Corter, sosok yang cantik itu sudah mengait hati Azazel semenjak pertarungannya dengan Astaroth.
“Baiklah, ikut saja denganku.”
Ucap Azazel dengan senyum yang ramah.
Azazel dan si gadis berjalan hanya beberapa langkah beriringan hingga sampai ke depan pintu bar. Si gadis yang sedikit cemas dengan bau alkohol tentu saja mengikuti Azazel dari belakang sambil memegangi perutnya.
Beberapa ketukan ke pintu bar yang tertutup, Azazel sadar yang ia ketuk adalah pintu dimana kenikmatan berkumpul. Tak panjang lebar, raja iblis itu langsung masuk dan menginjakkan kakinya di dalam.
Benar-benar parah, bau anggur menyebar ke seluruh ruangan. Selain itu, bar ini hanya dipenuhi oleh para prajurit saja, padahal beberapa jam lagi mereka akan melakukan misi, dan raja memerintahkan mereka untuk beristirahat.
Ada yang pingsan, ada yang gemetaran ketika meminum tenggukan anggurnya, ada juga yang melantur tak jelas. Manusia-manusia di hadapan Azazel tidak lebih dari sampah.
Tapi disinilah justru rencana Azazel dimulai.
Tujuan awal Azazel datang ke kerajaan ini adalah untuk menyabotase protokol pengintaian, dengan cara menghipnotis sebagian kecil dari prajurit yang nantinya akan melaksanakan misi. Walaupun hanya satu yang terhipnotis, tapi nyatanya hipnotis milik Azazel dapat menyebar.
Ada tujuh orang di dalam bar dan satu gadis perempuan yang tengah mencoba membangunkan ayahnya. Kehadiran gadis itu terlalu mengganggu, takut ada insformasi yang bocor keluar dari mulutnya.
Tak pikir panjang, Azazel langsung membakar tubuh gadis itu dengan api neraka yang luar biasa panas. Apinya tidak menyebar, asapnya pun juga tidak. Bahkan pembarakannya terjadi sangat cepat sampai-sampai suara teriakan sang gadis sama sekali tidak terdengar. Pada akhirnya, mayatnya menghilang bagai abu yang tertiup angin.
Kembali ke rencana, Azazel mengaktifkan sihir The Lesser Key, sihir khusus yang hanya dimiliki oleh seorang raja iblis. Dengan sihir ini, Azazel mampu membuat makhluk manapun yang lebih rendah darinya untuk menyembahnya.
Mengesampingkan hal itu, nyatanya sihir itu hanya bisa dipakai di semesta ini. Juga, apabila terlalu sering digunakan Azazel takut Dewi Reftia akan marah dan mengadukannya ke Vedetta. Jujur atas nama raja, sebenarnya Vedetta adalah sosok yang luar biasa menakutkan di mata Azazel.
“Bersujudlah di hadapanku, wahai manusia sampah sekalian!”
Ucap Azazel kepada orang-orang mabuk yang sudah berubah menjadi mayat hidup ketika dia mengaktifkan sihirnya.
“Menjadi budakku tidak akan membuatku bangga, karena itu kalian harus membuktikan kegunaan kalian di depan sang dewa. Tentu saja.. tangkap utusan Reftia, Darren Corter. Tapi jangan sampai membuatnya terluka sedikitpun, satu senti goresan saja maka akan kuhantam kalian dengan jutaan ton meteor.”
***
Layaknya sekumpulan orang konyol yang melakukan pengintaian di tempat yang tak berarti. 100 orang pasukan militer kerajaan Albarac, menunggangi kuda dengan dipimpin langsung oleh rajanya, melewati padang tanah yang luasnya sejauh mata memandang.
Tak usah ditanya lagi, bahkan dengan kuda sekalipun mereka sudah bosan dengan perjalanan walaupun baru mulai setengah jam. Menurut para pengikut raja, tak perlu ada pengintaian di tempat kosong melompong ini.
“Apa raja berniat mencari sisa harta karun Kardagon ya? Hihihi! Itu konyol sekali!”
“Hentikan, dia bisa saja mendengarmu!”
“Tetapi, mau bagaimana lagi.. ini membosankan, jauh lebih membosankan daripada tidur dengan istri jelekku.”
“Astaga, itu bukan sesuatu yang pantas dibicarakan.”
Kedua pemuda berbadan kekar yang menunggai kuda tak jauh dari raja, mereka tertawa setelah saling bergurau satu sama lain.
Namun setelahnya, kedua pemuda itu terkejut dan segera menghentikan kudanya ketika sang raja yang berada di barisan paling depan mendadak mengangkat tangannya tinggi-tinggi, pertanda bahwa pasukannya harus segera berhenti.
Tapi bukan perintah raja yang terdengar, tapi justru bunyi pecahan es yang terdengar nyaring, bunyi itu terdengar seperti hujan es yang sangat jarang terjadi. Asal suaranya berasal dari tempat di depan mereka.
Beberapa prajurit yang berada di barisan belakang menjadi sedikit penasaran, mereka mendongakkan kepalanya untuk melihat pemandangan di depan, dan yang terlihat adalah sihir aneh yang tampil di hadapan mereka 1 kilometer jauhnya.
Sihir itu menciptakan banyak sekali bongkahan es, turun dari langit dengan kecepatan yang tak terduga. Tapi yang menarik adalah apa yang terjadi setelahnya. Sungguh menakjubkan, es-es itu mendadak berhenti dan berubah bentuk, bersamaan dengan aura yang sangat kuat muncul.
“Apa-apaan itu?”
Gumam raja kepada para pengikutnya.
“Apakah ada yang sedang bertarung?”
“Sepertinya itu bukan sihir sembarangan, kapasitasnya terlalu besar.”
“Bagaimana raja? Apa kita harus mengecek yang itu juga? Menurut saya itu bukan sesuatu yang patut dilihat dari dekat.”
Kata penasehat raja. Ia adalah sosok yang loyal, selalu berdiri disamping raja.
Berpikir sejenak, raja menunggu sihir itu berhenti.
“Tak masalah, lanjutkan saja. Aku merasakan aura yang aneh datang dari sana.”
Sambil mengatakan itu, raja memacu kudanya dan lekas pergi begitu saja. Pengikutnya yang sempat tertinggal beberapa meter segera mengejar sang raja. Ada beberapa yang bersemangat, takut, dan ada juga yang merasa bosan.
Yang manapun itu, semuanya juga tetap terkejut. Apalagi selama perjalanan satu kilometer mereka, ada banyak sihir yang keluar disana.
Dan yang paling terakhit sekaligus yang paling aneh adalah, ketika sebuah hutan dengan danau tiba-tiba muncul. Raja jelas-jelas tahu bahwa tidak ada tumbuhan satupun di tanah kosong ini, tapi pepohonan itu tumbuh.
Darimana datangnya?
***
“Apa tidak ada cara lain selain bertapa?”
Tanya Pisces dengan nada merendah.
Aku mengangkat kepalaku dan menyilangkan kedua tanganku, dengan sombongnya diriku berkata,
“Tidak ada. Ini adalah satu-satunya jalan untuk menjadi lebih kuat.”
“T-Tapi.. aku tidak begitu tertarik dengan elemen air.”
“Karena itulah kamu harus bertapa supaya tertarik.”
“Yah.. kalau Pisces tidak mau seharusnya kamu tidak perlu memaksanya.”
Bantah Rayen dengan nada halus.
“E-Eh?! Kamu tidak mendukungku? Memangnya kamu tidak mau Pisces menjadi kuat?”
“Bukan begitu. Maksudku, kalau elemen Pisces adalah kayu, maka kita harus melatih kayu itu supaya kuat, bukan?”
Penuh kepercayadirian dari seorang Rayen, ia menasihatiku seolah menasihati muridnya sendiri. Entah kenapa belakangan ini harga diri Rayen menjadi lebih tinggi daripada biasanya.
“Hiks.. padahal aku sudah susah payah menciptakan ini.”
“Nona, ada yang mendekat.”
Perkataan Seiren yang memotong adeganku dengan Rayen memang tidak bisa tertunda, roh agung yang satu ini selalu berkata secara tiba-tiba.
Tapi, aku juga merasa ada yang mendekat. Karena tidak peduli aku lebih memikirkan bahasan tentang Pisces, tak kusangka kalau Seiren akan membahasnya.
Dari belakang kami, mulai terdengar suara grasak-grusuk aneh seperti sesuatu yang menembus rerumputan liar. Suaranya semakin dekat dan dekat, tak terlihat jelas apa yang ada disana.
Renatta siap dengan lingkaran sihirnya yang mampu menembakkan peluru es berkecepatan suara, menodongkannya ke arah suara itu berasal. Seiren juga sudah memanas, dia siap melancarkan serangan api dahsyatnya. Rayen juga, bahkan Pisces juga, dan aku? Aku adalah orang paling santai karena merasa dilindungi.
Dari rerumputan, terlihat sosok pria tampan menunggai kuda, membelah semak-semak dengan pedangnya dan akhirnya ia sampai ke dalam sini. Pria tampan itu mengenakan mahkota emas di kepalanya, berjubah, dan memiliki tampilan yang tegas.
Tapi, apa dia datang kesini hanya seorang diri, ya? Entah kenapa aku merasa sedikit aneh dengan aura dibelakang semak-semak. Apa ada orang lain?
Melihatku layaknya seorang alien, dia memandangi kami berempat terlebih dahulu barulah turun dari kudanya.
“Siapa kau?”
Tanya Rayen dengan tidak kalah tegasnya.
“Perkenalkan, aku adalah raja Albarac ke-68, Alard Albarac, pemimpin kerajaan Albarac.”
“.. kenapa raja Albarac bisa ada disini?”
Tanyaku santai.
Sang raja merasa sedikit terganggu dengan nada bicaraku yang seolah tanpa memandang harga diri, tapi dia mungkin mencoba menahannya terhadap orang yang baru ia lihat.
“Kami sedang melakukan misi pengintaian terhadap hilangnya tanah Kardagon, dan kebetulan saja melihat ada yang janggal dengan tempat ini. Kami ingin memastikan kalau semuanya baik-baik saja.”
Aduh, merepotkan, ternyata ada juga yang menyelidiki tentang misteri hilangnya tanah Kardagon. Aku harus bicara apa supaya dia tidak kerepotan? Tapi kalau dipikir, memangnya dia bisa menerima begitu saja kalau aku mengaku bahwa akulah yang melenyapkan Kardagon? Kupikir dia justru akan menganggapnya sebagai lelucon.
“Tenang saja, semuanya aman. Kami hanya berlatih..”
“Hwaa!! Tolong!!”
“Raja?!! Raja, tolong kami!!”
Memotong kalimatku, tiba-tiba saja teriakan minta tolong yang sangat keras dan ramai muncul dari luar pepohonan. Baik aku ataupun raja tidak bisa menyembunyikan wajah keterkejutan kami.
Raja Albarac segera bergegas menuju ke arah teriakan itu, meninggalkan kudanya yang ia lepaskan begitu saja. Aku, setelah saling pandang heran dengan Rayen, pada akhirnya kami memutuskan untuk mengikuti raja, keluar dari tempat yang kubuat sendiri.
Tak kusangka, ada beberapa meter semak belukar yang harus kami lewati untuk bisa keluar.
Dan ketika kami berhasil keluar, yang kami lihat adalah pemandangan layaknya neraka hidup.
Darah tumpah dimana-mana, teriakan kesakitan, pedang yang terjatuh, serta aksi saling tebas, itulah yang kami lihat ketika keluar dari tempat ini. Ternyata memang benar, sesuai dugaanku kalau raja membawa pasukan yang aneh.
“Hentikan! Hentikan! Apa yang kalian lakukan?!!”
Raja berteriak kalang kabut kepada para prajuritnya.
Pertengkaran ini sepertinya tak lain adalah pertarungan saudara. Mau dilihat bagaimanapun juga, para prajurit dengan zirah tipis itu memang saling menyerang satu sama lain. Gerakan dan serangan yang brutal, mereka seolah tidak pandang bulu ketika menghunuskan pedang.
Aku heran, perbuatan siapa ini? Tidak lucu kalau ini hanya kebetulan dan raja yang mengaturnya.
Dan juga, kenapa ada aroma Azazel disini?