
Rumah Rayen kini dipenuhi tiga gadis cantik yang kedua diantara mereka saling menunjuk. Jangan ditanya lagi, aku bukan salah satu dari itu.
Tampaknya kedua Ratu bersaudara, Tisifon dan Megaira, ini sama-sama tidak mengetahui kalau saudaranya yang lain sedang ada disini saat ini juga. Tapi menurutku ini bukanlah hal yang mengejutkan, mengingat alasan Ratu Tisifon datang ke sini adalah karena ingin melihat lokasi jatuhan meteor, kalau begitu ada kemungkinan Ratu Megaira juga sama.
Masalahnya aku tidak mengetahui dengan pasti jarak antara Tisifon – Megaira, apakah jaraknya cukup dekat hingga Ratu Megaira bisa sampai disini dengan cepat? Atau memang dia sedang kebetulan berkeliling disini.
Ah, aku memikirkan hal yang tidak penting.
“Aku kesini untuk mencari seseorang bernama Darren Corter!”
Ucap Ratu Megaira tegas kepada saudarinya.
Rayen yang baru bangun justru saling bertatap denganku, seolah bertanya apa yang terjadi. Meskipun dia baru bangun sekalipun, tentu saja situasinya akan membingungkan kalau Rayen bangun dan rumahnya sudah penuh. Aku menaikkan bahu seolah menjawab tidak tahu.
“Ada urusan apa kakak dengan Darren Corter?"
Jawab Ratu Tisifon. Dilihat dari kalimat yang ia ucapkan, sepertinya Tisifon adalah adik dan Megaira adalah kakak.
“Urusanku dengan Darren Corter tidak ada hubungannya denganmu!”
“Tentu saja ada! Kami berdua baru saja membahas hal yang penting, lalu tiba-tiba kakak datang mengganggu.. aku tidak suka itu!”
“Ara.. asalkan urusanku selesai, aku tidak masalah kalaupun kau tidak suka!”
“Begitulah sifat kakak, tidak pernah peduli dengan perasaan orang lain.. karena itulah.. karena itulah kau tidak pernah mendapat jodoh!”
Hah? Jodoh? Kenapa tiba-tiba membicarakan jodoh?
Sumpah, aku tidak mengerti apa yang dari tadi dibicarakan kedua kakak beradik ini. Tadinya kukira sang kakak adalah orang yang anggun, penuh wibawa dan elegan, tapi ternyata dugaanku salah. Ternyata si kakak hanyalah orang yang suka membodohi adiknya, dan adiknya adalah orang yang mudah dibohongi. Wow, ini adalah struktur keluarga yang sempurna.
Tatapan sang kakak menjadi sinis kepada adiknya. Dan adiknya bergetar ketakutan dengan ekspresi yang lucu.
“Bocah, coba katakan sekali lagi!”
“.. geh.. i-itu.. DASAR NENEK TUA PERAWAN!”
Sang adik berteriak dengan sangat keras. Efek gema yang terjadi di ruangan ini membuat suaranya terputar berulang-ulang. Masuk dan semakin masuk ke dalam otak.
“.. pfftt!”
Itu barusan aku yang menahan tawa.
Kami semua berdiam sebentar ketika suara tawaku berada di tengah-tengah keheningan.
Dalam fase ini, biasanya apa yang akan dilakukan oleh manusia? Jujur saja ini adalah adegan paling canggung seumur hidupku. Detik-detik ketika seorang adik menghina kakaknya, dan kita semua sedang menunggu momen ketika sang kakak marah. Kira-kira apa yang akan terjadi? Apa Ratu Megaira akan menjadi iblis?
“Kau..”
Ratu Megaira menunduk dan mengucapkan kata dengan nada berat. Kami semua menelan ludah, bersiap-siap saja kalau dia tiba-tiba saja berontak dan menyerang.
“Jahat! Jahat! Jahat! Padahal kau sendiri juga perawan, dasar ratu tepos!”
Sangat tidak sesuai dengan dugaanku, sang Ratu justru merengek seperti anak kecil dan menangis lucu. Parahnya Ratu Tisifon memasang wajah bangga ketika kakaknya merengek, tapi wajah bangga itu hilang ketika Ratu Megaira melontarkan hinaan ratu tepos.
“D-Dadaku ini normal! Dada kakak saja yang terlalu besar!”
Balas sang adik terbata-bata, dia memegangi dadanya entah untuk apa tujuannya.
Oh, begitu, jadi ada drama ukuran dada diantara mereka berdua. Memang benar kalau Ratu Megaira memiliki gumpalan yang sangat besar, aku yakin gunung-gunung itu akan berguncang hebat ketika dia sedang berlari. Sebaliknya, sang adik justru memiliki dada seperti laki-laki, aku sama sekali tidak melihat lekukan indah di bajunya.
Omong-omong punyaku juga tidak menonjol, apakah Rayen tidak mempermasalahkannya ya?
“Haha! Bodoh! Justru seorang Ratu harus memiliki dada yang besar untuk memenangkan hati rakyatnya!”
Sahut Ratu Megaira, sepertinya dia hanya berakting ketika merengek tadi. Kini dia membalas adiknya dengan cara yang sama, yaitu dengan memasang wajah bangga. Ini adalah tamparan besar untuk sang adik, bagaimanapun juga dia tidak akan bisa melawan kalau jelas-jelas dadanya sudah kalah jauh.
Tapi, Ratu macam apa yang memenangkan hati rakyatnya dengan ukuran dada? Kalau begitu aku yakin sekali Kerajaan Bagian Megaira hanya dipenuhi oleh laki-laki mesum.
Yah, sepertinya debat itu berakhir dengan kekalahan sang adik, bagaimanapun juga aku sudah tahu kalau Ratu Megaira tidak berniat untuk mengalah. Terserahlah, aku justru malu kalau harus mendukung salah satu diantara mereka. Bahkan aku dan Rayen bagaikan menonton drama secara langsung, kami hanya bisa berkomentar dalam hati.
Mereka berdua saling diam, Ratu Megaira dengan tatapan sombong, dan Ratu Tisifon dengan tatapan kesal malu.
“Bukankah menghina satu sama lain itu sudah sering kularang?”
Dan lagi-lagi suara wanita terdengar dari pintu, kami semua menoleh ke sana dan melihat sosok yang sedang menengahi perdebatan itu.
Ah, muncul lagi satu Ratu konyol.
Sudah, aku tidak perlu bertanya lagi, dia pasti adalah Ratu Alekto. Bagaimana aku tahu? Dilihat dari bagaimana dia berbicara dengan santai kepada kedua Ratu, serta tanggapan Megaira dan Tisifon yang terkejut melihat kedatangan wanita itu, sepertinya memang benar kalau wanita itu adalah Ratu Alekto.
Ratu Alekto memiliki rambut hitam yang disanggul, dua rambut memanjang sengaja dibiarkan di depan kedua telinganya. Yah, dia memang sangat cantik, wajahnya terlihat sangat dewasa. Tetapi tatapannya terlalu datar untuk seorang wanita cantik, dia terlihat lemas, apalagi dengan nada suaranya yang tidak bernyawa. Aku ragu apakah dia benar-benar Ratu atau bukan.
“Muncul wanita lagi..”
Gumam Rayen pelan, tapi gumaman itu sampai di telingaku.
“K-Kak Alekto!?”
Ratu Tisifon dan Megaira berseru secara bersamaan, mereka menatap lekat kepada kakaknya itu, yang benar sesuai dugaanku adalah Ratu Alekto.
Ratu Alekto mendesah kecewa, kemudian masuk ke dalam ruangan dan berdiri di antara Ratu Tisifon dan Megaira. Ketiga Ratu ini berdiri melingkar, sedangkan aku dan Rayen tetap duduk di sofa. Aku bertanya-tanya apakah keberadaan kita masih diperlukan dalam pertemuan ini?
“Aku mendengar masalah dada, dada, ada apa?”
“Ratu Megaira, kak! Ratu Megaira menyebutku ratu tepos!”
Owh, sepertinya si Ratu Alekto ini adalah perempuan yang cukup dewasa, aku bisa tahu dari adik-adiknya yang hormat dan cukup mengandalkan Ratu Alekto. Bahkan Ratu Tisifon tidak ragu-ragu membuat laporan yang blak-blakan seperti itu. Kalau Alekto jahat, tidak mungkin Tisifon mau melakukan itu.
“Dasar kalian ini.. tirulah diriku ini. Tubuhku bagus, bagaikan ‘jam pasir’ yang sempurna. Aku cantik, aku dewasa, aku cerdas.. adik-adikku tirulah kakak kalian ini!”
Sialan, dugaanku salah, si kakak justru yang paling bodoh diantara yang lain. Dia lebih sombong dari yang lain, apakah sifat kedua adiknya itu adalah turunan dari kakaknya? Yang benar saja, ini bukan kakak yang pantas dijadikan panutan!
Ah, kenapa? Kenapa wajah Megaira dan Tisifon begitu takjub ketika kakaknya sedang sombong begitu?!
-
Singkat cerita, kebodohan demi kebodohan yang dilakukan ketiga Ratu itu sudah sangat memuakkan. Ketika Ratu Alekto muncul, mereka menjadi semakin berisik dan saling mengejek satu sama lain. Astaga, inilah yang akan terjadi kalau saudara sekeluarga berkumpul.
Untungnya aku tidak memiliki kakak ataupun adik, hidup anak tunggal!
“Jadi, apa yang membuat kalian bertiga datang kesini?”
Tanyaku.
Ratu Alekto sengaja batuk pelan untuk menandakan bahwa dia yang ingin menjawab. Lagipula pertanyaanku itu terlalu universal, bisa saja mereka menjadi ricuh hanya karena ingin menjawab lebih dulu. Untungnya Ratu Alekto berinisiatif untuk menghentikkan kedua adiknya, dan dia mulai menjawab.
“Sebelumnya aku ingin tahu siapa dirimu, karena kau sudah tahu siapa kami jadi bagian perkenalan kami dilewati saja.”
“Aku Darren Corter, dan di sebelahku ini adalah Colt Rayen.. tuan rumah ini.”
“Oh.. suami-istri, ya? Salam kenal!”
Suami-istri? Apakah Ratu serius mengatakan itu? Ya ampun, aku bahkan tidak tahu apakah itu adalah kalimat pujian atau dia hanya menggoda saja. Tapi apapun itu, aku sangat terkejut dia bisa beranggapan seperti itu. Apa kita memang terlihat seperti pasangan yang sudah menikah? Berarti aku cocok dengan Rayen begitu?
Aku hanya bisa menyembunyikan wajahku dengan kedua telapak tangan, menahan malu yang tidak bisa kukendalikan.
“Yang lebih penting.. Darren Corter, apa kau penasaran kenapa aku dan Megaira bisa ada disini?”
Aku menghilangkan Maluku, menaikkan kepala dan mulai serius.
“O-Oh, ya begitulah.. Ratu Tisifon bilang dia hanya ingin melihat lokasi meteor, dan berakhir dengan pertemuanku dengannya.. tapi..”
“Ya, Benar sekali, aku dan Megaira bahkan tidak pernah tahu kalau desa ini sempat dihujani meteor.. aku saja baru mendengar kabarnya ketika sedang berpindah ke sini.”
“Itu berarti.. tujuanmu datang kemari bukanlah untuk melihat meteor, begitu?”
“Tepat..”
Apakah ini hanya kebetulan? Tiga Ratu sekaligus datang menemuiku dengan tujuan yang berbeda-beda, tapi yang pasti itu semua tetap berhubungan denganku. Jujur saja ini agak sedikit merepotkan dan menyebalkan. Kalau seandainya yang menemuiku bukanlah tiga ratu idiot ini, sepertinya tidak akan ada masalah. Sialnya, aku tidak pernah tahu kalau pemimpin Erinyes adalah tiga mansuia konyol, gara-gara mereka aku bahkan melupakan pertarunganku dengan Astaroth yang baru saja terjadi beberapa waktu yang lalu.
“Darren Corter.. apakah kau tahu Negara seperti apa Erinyes itu?”
Tanya Ratu tegas, sudah tak ada lagi candaan di nada bicaranya.
“Jujur aku tidak terlalu paham dengan pemerintahannya..”
“Ini bukan masalah pemerintahan, ini masalah ideologi seluruh penduduk Erinyes. Seperti yang kau tahu, Erinyes adalah Negara yang dipecah menjadi tiga, tanpa ada pemimpin pusat.. meskipun ada, itu hanya ibukota milik Tisifon saja, nyatanya ibukota sama sekali tidak berpengaruh terhadap Kerajaan Bagian yang lain.”
“.. lalu kenapa?”
“Meskipun dipecah mejadi tiga, kami memiliki satu kepercayaan.. yaitu kepercayaan terhadap Dewi Reftia. Aku tidak akan terkejut kalau kau sudah mengetahuinya.”
Reftia, ya? Jadi begitu, Reftia membangkitkanku di Negara yang semua penduduknya menyembah kepadanya. Aku tak tahu apakah itu adalah bentuk kecurangan seorang Pencipta, atau dia hanya bercanda karena saat itu aku masih bodoh. Yah, sebenarnya tak heran juga kalau Negara ini menyembah Reftia, lagipula kakek yang pernah menceritakan sejarah Erinyes juga berkata seperti itu.
“Apakah kau datang kesini hanya untuk mempromosikan Dewi Reftia? Maaf saja, aku sudah menyembahnya sejak lama.”
Jawabku.
“Beberapa hari sekali, terkadang aku melakukan ritual untuk mengobrol langsung dengan Dewi Reftia.. tapi hampir semua ritual itu gagal dan Dewi Reftia sama sekali tidak menjawab. Dan ajaibnya ada pada tiga hari yang lalu, coba tebak apa yang terjadi?”
“.. ritualmu berhasil?”
“Ya! Dewi Reftia menjawab. Dia muncul dengan sosok anak perempuan kecil yang sangat cantik. Sayangnya aku tak sempat berbicara kepadanya. Yang dia ucapkanya hanya ‘Ada Darren Corter di kota Tisifon, temui dia kalau kau mau lebih dekat denganku!’, begitulah yang dia katakan!”
Mendengar pernyataan dari Ratu Alekto, Ratu Megaira sepertinya ingin mengatakan sesuatu, raut wajahnya juga aneh seolah terkejut dan ingin menanggapinya. Tapi setelah kutunggu, dia tidak kunjung bicara, dia hanya menunggu sampai kakaknya menyelesaikan kalimatnya.
“Pertanyaannya adalah.. kenapa Dewi Reftia sampai menyebutkan namamu.. jelaskan pada kami, Darren Corter!”
Sekarang semua mata tertuju kepadaku. Semuanya menanti jawaban apa yang keluar dari mulutku. Sebenarnya aku tidak berniat untuk menjawab, tapi merepotkan juga kalau situasinya begini. Apakah aku masih bisa berpura-pura?
Rayen juga menatapku dengan penasaran, tapi tidak sepenasaran ketika bertemu Roh Agung dulu. Aku tidak mau berbohong kepada Rayen, karena itu seharusnya tindakan yang tepat adalah menghindari pertanyaannya. Namun itu mustahil, harus bertindak apa aku kalau situasinya sudah menyudutkanku seperti ini?
Apakah Reftia sengaja membuatku mengaku kalau aku adalah seorang Dewi? Reftia adalah Dewi Kecerdasan, seharusnya dia sudah memperkirakan ini. Aku tidak mau berprasangka buruk kepada Reftia, kalau ini memang rencananya berarti aku harus menurut.
Tapi, apa-apaan dengan perasaan tidak enak ini?
“Aku.. tidak mau menjawabnya!”
Jawabku pelan.
“Kenapa? Apa karena kau adalah seorang Dewi?”
Aku terkejut ketika Ratu Alekto mengatakan hal itu. Dia dengan mudahnya berkata kalau aku adalah seorang Dewi, terlebih lagi dengan wajah datarnya, ia mengatakan seolah itu bukanlah hal yang besar. Bodohnya aku karena aku memasang wajah terkejut, ini justru memberikan jawaban yang jelas untuk Alekto.
“Ternyata benar.. Darren Corter adalah seorang Dewi.”
Aku hanya bisa menunduk diam. Padahal sebenarnya menjadi Dewi adalah hal yang patut dibanggakan, tapi nyatanya aku sama sekali tidak merasa senang.
Bukan berarti ada yang menyalahkanku karena aku adalah seorang Dewi, hanya saja aku tidak ingin gelar dan kekuatan ini sampai diketahui oleh siapapun. Seperti yang kukatakan sebelumnya, aku memiliki perasaan yang tidak enak dengan ini.
“Corter.. apa kau benar seorang Dewi?”
Rayen bertanya seperti itu.
Aku menjawabnya dengan anggukan lemas.
“Mustahil.. kukira seorang Dewi enggan berkehidupan bersama manusia..”
“T-T-Tapi, Rayen.. meskipun aku adalah Dewi.. kamu.. akan tetap menjadi rekanku, kan? Kau tidak akan menjauhiku, kan?”
“Hah?”
“Apakah kamu akan menjauhiku.. apakah kamu akan takut kepadaku?”
Rayen berpikir dulu sebelum dia menjawabnya. Hampir beberapa saat dia mendiamkanku. Di selang waktu itulah, aku merasa kalau harapanku sudah hancur. Ternyata benar dugaanku kalau pengakuanku sebagai Dewi hanya akan membawa ketakutan bagi seseorang. Bahkan Rayen sekalipun, dia pasti menganggapku sebagai orang bodoh.
Aku semakin menunduk lemas, pikiranku dipenuhi dengan hal negatif dan itu membuatku hampir menangis. Mungkin saat itu aku sudah memikirkannya terlalu jauh.
“Bodoh, tentu saja tidak! Aku akan tetap menjadi rekanmu.. meskipun kau adalah iblis sekalipun!”
Jawab Rayen dengan senyuman lebar.
Kata-katanya itu meluluhkan hatiku. Itu membuat jantungku berdetak kencang, dan hampir membuatku pingsan. Rayen yang selalu setia denganku, ternyata memang benar kalau dia akan selalu ada untukku.
Aku hampir saja mendaratkan pelukanku kepadanya, tapi aku sadar kalau tiga Ratu Erinyes sedang memperhatikan momen romantis ini sambil tersenyum. Jadi aku mengurungkan niatku, dan hanya bisa menyembunyikan perasaan senang ini dalam-dalam.