
Di sebuah benua besar, yang terkenal akan sumber dayanya yang berlimpah. Daratan tempat Negara-Negara besar saling bergandengan, sekumpulan ekosistem yang mereka sebut sebagai ‘Surga’.
Koukous, adalah nama dari benua tersebut. Daripada disebut benua, mungkin ini lebih tepat disebut sebagai pulau. Sebuah pulau yang sangat besar, tak ada seorang pun yang mampu membayangkan ujung-ujung dari pulau ini.
Erinyes, Kardagon, Albarac, Indersia, Misophi, Nimesta, adalah Negara-Negara yang mengusai benua ini. Kumpulan Negara yang sangat ditakuti oleh dunia. Walaupun nama ‘Albarac’ sering terdengar tabu, namun banyak orang yang beranggapan kalau Albarac seriung mendapat perlindungan dari Negara disekitarnya.
Lupakan saja soal Negara yang berkembang itu, karena ada sebuah ancaman dari Negara munafik.
Itu adalah Kekaisaran Kardagon, Negara yang katanya dipenuhi oleh lelaki yang tampan dan kuat. Sumber daya utama mereka adalah tambang, tak heran kalau banyak dari mereka yang bekerja di atas gunung atau di dalam gua.
Kesampingkan kehormatan itu, bagi mereka para penduduk Kardagon tinggal disana adalah sebuah siksaan.
Kemunafikan Kardagon adalah sesuatu yang hanya diketahui oleh rakyatnya, tak pernah ada satupun Negara yang mengetahui masalah ini, termasuk Erinyes sekalipun. Rakyatnya juga tidak boleh membeberkan masalah ini kepada dunia luar, atau mereka akan merasakan sendiri apa yang namanya ‘kutukan’.
*
-Phenom, Kardagon Barat Daya.-
Siang hari itu, di sebuah desa kumuh yang terpaksa kutinggali. Namaku Reine Deveralle dan adikku Vedetta, dengan pakaian kotor yang penuh dengan jahitan, kami tanpa alas kaki harus berjalan tak tentu arah demi mencari makanan.
Tak ada tempat yang menerima kami, desa yang penuh dengan kemiskinan inilah yang menjadi tempat bernaung kami.
“Kak.. aku lapar!”
Ucap Vedetta lirih. Dia menarik-narik bajuku dengan sangat keras. Bahkan dengan kekuatan Vedetta yang sangat lemah, bajuku mulai mengeluarkan bunyi seperti robek.
Kapan terakhir kali kami makan? Oh, benar juga, roti yang kupungut dari tempat sampah saat itu lumayan enak. Apakah itu terakhir kalinya aku makan?
“Kakak juga lapar.. kamu tunggu sebentar lagi..”
Vedetta tidak menjawab. Tiba-tiba dia menghentikan langkah dengan tanggannya menyangkut di bajuku. Ketika dia berhenti, bajuku benar-benar robek. Aku menoleh untuk menegurnya, tapi sepertinya tidak bisa. Vedetta pingsan, dia rubuh di jalanan dengan lemasnya.
Seketika aku panik dan mulai membangunkannya, tapi itu percuma, adikku sekarang bagaikan sudah tidak bernyawa.
Dengan penuh putus asa, aku menggendongnya untuk mencari bantuan. Entah datang darimana tenagaku ini, padahal mengingat aku yang belum makan beberapa hari, mengangkat semangka saja rasanya sudah mustahil. Mungkin karena adikku sedang kesusahan.
‘Apakah nyonya memiliki makanan?’, ‘apa kau memiliki makanan?’, ‘tidakkah seseorang mau memberi kami makanan.’ Selalu saja begitu, dengan banyaknya pertanyaan yang kulontarkan ke orang-orang yang berbeda, nyatanya tak ada satupun dari mereka yang membantu kami.
Ah, sepertinya ini adalah akhir dari hidupku.
Aku mulai menunduk dan menitikkan air mata. Apakah benar aku akan mati seperti ini? Setelah semua kesulitan yang kuhadapi? Aku bahkan belum memenuhi impianku untuk bisa bersekolah, aku sama sekali belum bahagia.
“Sudah.. cukup.”
Gumamku pelan. Entah apa itu, aku hanya ingin membakar semangat. Diriku yang diselimuti keputusasaan, dengan sangat terpaksa harus berlari lagi.
Tapi aku menghentikkan langkah lemasku, ketika kulihat seorang laki-laki dengan setelan jas. Laki-laki itu bersandar di sebuah kereta kuda, yang terparkir di pintu masuk desa. Ada banyak barang-barang mewah di dekatnya, seperti gelas, piring, atau jam.
“Tuan.. tuan.. tolong, tolong beri kami makanan..”
Tanpa sadar aku melangkah menuju laki-laki itu, meskipun aku tak mengenalnya. Semoga laki-laki kaya ini berhati dermawan dan siap membantuku.
Benar saja, ketika aku mulai roboh di depannya, dia menangkapku. Laki-laki itu mempersilahkanku duduk di dalam kereta kuda, dia membiarkan adikku berbaring juga.
“Adikmu harus dibawa ke dokter.. aku yang akan membawanya, kau tenang saja.”
Saat itu, aku melihat senyuman sehangat mentari. Dia dengan tulusnya membantu kami berdua, padahal kenal saja tidak, apalagi dengan tubuh kami yang kotor dan bau tetapi dia tetap menolong kami. Sungguh, dia adalah seorang malaikat.
“Nama kalian siapa?”
“Aku.. Reine. Dan adikku, Vedetta.”
“V-Vedetta?”
Laki-laki itu membeku, ketika nama Vedettta kuucapkan. Dia terlihat sangat kesal, tatapan matanya kosong dan tak ada lagi senyuman membekas di wajahnya. Justru terlihat seperti orang jahat, ketika wajahnya mulai menyeramkan, aku bahkan sempat melupakan kebaikan yang dia berikan kepadaku.
Laki-laki itu mulai menatapku, dengan tatapan yang sangat menyeramkan. Aku hanya bisa merinding ketakutan, memundurkan badanku dan bersiap untuk bertahan.
Sialnya, malaikat itu berubah menjadi iblis. Dia memukulku tepat di wajahku. Pandanganku seketika langsung hitam dan semuanya berdenging dengan keras.
*
Aku terbangun di sebuah penjara gelap. Dengan jeruji besi yang menghalangiku, aku terjebak disini. Penjara itu sungguh dingin, berlumut dan kotor. Berada disini rasanya lebih buruk daripada di tempat sampah. Ketika aku membuka mataku, penjara ini sudah menemaniku sejak beberapa jam yang lalu.
Entah tempat macam apa ini, tapi di depan penjara ini ada lorong yang memanjang. Lorong yang sangat panjang, sampai-sampai ujugnya hanya terlihat hitam dan pekat. Aku meringkuk dalam sepi, menatap kosong pada lantai berbatu di bawahku.
“Hei, bangunlah!”
Bentak seseorang kasar. Mereka sejak tadi sudah memperhatikanku, namun aku selalu mengabaikannya ketika mereka berbicara. Yang pasti mereka bukanlah orang-orang baik.
Dua laki-laki yang menggunakan jubah, wajahnya tak terlihat. Mereka berdua selalu saja berbicara kepadaku walaupun aku tak mau menjawabnya.
“Jangan diam saja..”
“Bagaimana.. bagaimana keadaan adikku?”
Tanyaku pelan.
Pertanyaan yang sangat berat untuk dilontarkan, aku yang kekurangan tenaga terpaksa untuk tidak banyak bicara.
Kedua pria itu saling berpandangan, mereka tidak menyangka kalau aku akan mengucapkan sebuah kalimat.
“Kami menyiksa adikmu. Apa kau ingin melihatnya?"
“.. bodoh. Aku.. aku tak tahu harus berbuat apa.”
Mereka menyiksa adikku. Entah itu fakta atau kebohongan, tetapi aku tidak bisa panik. Hidupku sudah berantakan, semua harapan sudah sirna. Aku bahkan tidak bisa lagi merasakan kesedihan karena pernyataan itu. Membayangkan Vedetta yang disiksa, walaupun menyakitkan, tetapi aku tidak bisa bersedih lagi.
“Kenapa.. kalian melakukan itu?”
Tanyaku. Tak ada nada kesedihan disana.
“Vedetta. Nama adikmu adalah Vedetta, kan? Kenapa orang tuamu memberi nama adikmu seperti itu?”
Apa yang salah dengan nama itu? Benar juga, kalau tidak salah nama itu juga yang menyebabkan laki-laki ber-jas itu marah. Hanya dengan mengucapkan nama ‘Vedetta’, kesengsaraan sudah menerpaku.
“Aku tak tahu. Aku tak pernah menanyakannya.”
“Bocah.. berarti kau selama ini tidak tahu siapa Vedetta yang sebenarnya itu?”
Sungguh, aku tidak mengerti maksud kedua orang ini. Mereka sejak tadi menanyakan pertanyaan yang tidak masuk akal.
“Dewi Vedetta. Pencipta dari segala Pencipta. Satu-satunya Pencipta yang menguasai seluruh alam semesta. Itulah nama yang diberikan oleh kedua orang tuamu.”
“Kardagon menyembah iblis. Membiarkan penduduk buangan sepertimu memakai nama Vedetta merupakan penghinaan bagi Dewa Azazel.”
Aku hanya bisa menelan kalimat itu bulat-bulat. Menyembah iblis? Kenapa itu berbeda dengan yang diajarkan oleh ibuku. Kenapa ibuku menangis saat itu? Kardagon, Negara macam apa ini?
Ketika kami sedang berbicara, tiba-tiba suara langkah yang menggema dari ujung lorong mulai terdengar. Langkah yang sangat dalam dan lambat. Lama-kelamaan, sosok pemilik langkah itu mulai tampak dari kegelapan. Dia berjalan mendekat ke arah kami.
Sama-sama menggunakan jubah, tapi memiliki motif yang berbeda. Sosok itu membawa tongkat dengan badannya yang membungkuk. Dia berjalan sangat lambat, mengarah ke sini.
Dua orang yang berbicara denganku tadi, seketika bersujud ketika sosok itu hanya berjarak 2 meter. Ya, mereka bersujud kepada sosok itu. Diriku sekalipun masih mengerti apa itu harga diri, dengan mereka bersujud artinya mereka mengakui bahwa ketinggian mereka merupakan kerendahan baginya.
“Reine Deveralle, benar?”
Sosok itu mulai berbicara. Aku tak dapat memahami, apakah itu adalah suara wanita atau pria. Pendengaran dan akal sehatku sepertinya sudah tidak benar. Yang pasti, suaranya sangat aneh, seperti dibuat-buat tapi itu terdengar nyata.
“Kau.. siapa?”
“Aku?.. aku adalah pemimpin dari sekte penyembah iblis Kekaisaran Kardagon.”
“Penyembah.. iblis?”
Kataku pelan.
“Kekaisaran menyembah 6 iblis elemen yang merupakan bawahan Dewa Azazel. Keenam iblis itulah yang memberikan kita kekuatan, sumber daya abadi. Akulah yang membuat Negara ini maju, dengan kekuatan iblis tentunya.”
Jawabnya sombong.
Aku mulai sedikit kesal dengan perkatannya itu. Badanku tidak lagi gemetar karena ketakutan, melainkan karena kesal. Aku berdiri, menghadapnya dengan keberanian. Meskipun begitu, apa yang bisa dilakukan wanita lemah sepertiku? Aku bahkan tak memiliki kesempatan untuk menyentuhnya dari penjara ini.
“Lepaskan adikku!”
“Ahaha!.. kau ingin menyelamatkan adikmu?”
“Bukankah sudah jelas?”
Sosok itu terdiam untuk beberapa saat, keadaan mulai hening seketika. Suasana benar-benar mati pada saat itu. Aku yang menatapnya dengan penuh kekesalan, dirinya yang terdiam setelah aku menjawab, dan dua sosok bodoh yang bersujud di depannya.
Tapi, setelah itu dia mulai menjawab.
“Dewa Asmodeus telah memberikanku peringatan.. katanya sosok agung utusan Reftia telah lahir, tepat beberapa jam yang lalu di tempat bernama Akarka.”
“.. lalu kenapa?”
“Aku ingin kau membuktikan kekuatan sosok itu dengan mata kepalamu sendiri. Kalau kau berhasil, adikmu akan berhenti disiksa. Tapi kalau kau berbohong tentang sosok itu, kami akan menyiksa kalian berdua.”
“.. Akarka? Aku belum pernah mendengarnya. Dimana tempat itu berada?”
“Ahaha!! Jangan meremehkan Dewa Asmodeus, dirinya bisa memprediksi masa depan. Sosok itu.. dalam beberapa hari akan menetap di Kerajaan Erinyes, Megaira. Kau.. pikirkanlah cara untuk mendekati sosok itu.”
Dengan semangat yang menggerogoti tubuhku, semakin diriku semangat, semakin aku kelelahan.
Tapi, pada saat itu aku sudah menetapkan tekadku. Aku akan mencari sosok agung itu. Tenang saja, aku hanya perlu membuktikan kekuatannya, tak perlu ada kebohongan. Dengan diselamatkannya Vedetta, maka itu sudah cukup bagiku.
*
Mulai dari saat itu, Kardagon memperlakukan diriku sebagai manusia. Mereka memberikanku makanan, minuman, dan tempat tinggal yang layak. Mereka juga mengajariku seni bela diri dan sihir. Tapi itu semata-mata hanya karena supaya aku bisa menyusup ke Megaira.
Tidak masalah, makanan yang kumakan bukanlah kepalsuan, semua yang mereka berikan bukanlah kepalsuan. Kalau kenikmatan ini bisa diberikan kepadaku, maka memuja iblis pun aku akan bersudi.
Kekaisaran mengajariku seni sihir elemen air, itu adalah sihir yang diwariskan langsung oleh Iblis Agares. Diriku yang notabene adalah wanita lemah, tak disangka-sangka ternyata cukup mahir dalam mengendalikan sihir ini. Katanya aku cukup berbakat untuk menguasai air menjadi es.
*
Beberapa hari setelahnya, aku berhasil menyusup ke Kerajaan Megaira. Ketika sudah sampai disini, entah kenapa keraguan menghantuiku. Padahal aku sudah repot-repot mencari seragam ahli sihir kerajaan untuk bisa masuk ke dalam istana, tapi ketika seragam itu sudah kukenakan, justru keraguan membuatku mundur.
Tidak, aku tidak boleh mundur, justru disinilah titik yang menentukan kehidupanku selanjutnya. Aku memang berhutang kepada iblis, tetapi aku juga membencinya. Vedetta juga harus kuselamatkan. Tak ada alasan bagiku untuk mundur lagi.
Dengan proses menyusupku, aku berhasil diterima menjadi ahli sihir kerajaan tanpa tes. Dan hari ini, seharusnya adalah hari kedua dimana sosok agung itu menetap di istana.
Sambil berkeliling istana, aku mulai memeriksa apakah ada informasi yang bisa kujadikan bukti atau tidak. Tapi sepertinya itu percuma, sosok agung itu tidak terlalu meninggalkan bekas. Hanya saja aku merasakan aura yang kuat dari kolam air hangat. Bodoh sekali, aku tidak ingin memeriksanya.
Kemudian aku pergi ke aula latihan, letaknya ada di lantai paling dasar istana. Ketika aku masuk, semua ahli sihir sudah berkumpul dan berbaris rapi. Di depan mereka, berdiri Ratu, seorang wanita cantik berambut biru dan pria berambut hitam.
Aura yang kuat berasal dari tiga orang yang berdiri di depan, Ratu tidak mungkin sosok agung, berarti kemungkinan sosok agung adalah si laki-laki atau si wanita.
“Tak salah lagi, pasti diantara mereka berdua.”
Gumamku pelan.
Aku yang belum pernah berlatih bersama ahli sihir kerajaan lain, memberanikan diri untuk menghampiri mereka. Tetapi aku menghentikan langkahku ketika wanita berambut biru itu berteriak dan memperkenalkan dirinya. Aku harus bisa mendengarnya sebaik mungkin, untuk mengonfirmasi namanya.
Darren Corter, dan Colt Rayen, adalah nama yang kudengar. Walaupun aku sudah fokus pun, nyatanya para ahli sihir yang protes membuat suara wanita itu tidak terdengar jelas. Aku yang dari kejauhan sepertinya bisa mengerti kalau para ahli sihir sedikit menentang kalimat yang diucapkap wanita berambut biru itu.
Ada apa ini? Dua-duanya nama laki-laki. Yang mana Darren Corter? Yang mana Colt Rayen? Sudah jelas lelaki berambut hitam itu memiliki satu nama, apakah dia Darren Corter? Atau namanya Colt Rayen? Astaga, ini merepotkan.
Selang beberapa waktu, duel terjadi antara si wanita dan ahli sihir kerajaan.
Pertarungan pertamanya melawan pria yang memiliki badan besar, tapi ajaibnya wanita itu mampu mengalahkannya. Lawan keduanya terlalu konyol untuk dianggap kuat, namun cara wanita itu mengeluarkan sihir yang besar lebih konyol lagi. Tak ada orang yang dengan bodoh mengeluarkan Reft besar hanya untuk sihir petir rendahan.
Aku menjadi lawan ketiganya, dan identitasnya akan kupastikan saat ini juga. Tentang siapa sosok agung yang sebenarnya, apakah pria berambut hitam yang berpura-pura menjadi pengadil? Atau justru wanita berambut biru ini?
*
“Hentikan saja! Aku bukan sosok agung atau semacamnya.”
Aku kalah, benar-benar kalah telak oleh wanita berambut biru itu. Diriku yang diberkati oleh iblis Agares, bisa dengan mudahnya tersungkur di depan wanita ini.
Dia memang kuat, tetapi dia mengatakan kalau dirinya bukanlah sosok agung. Lalu yang mana sosok agung? Aku harus cepat mencari tahu identisnya, atau Vedetta akan terus menerus tersiksa.
Wanita itu bertanya kepadaku tentang siapa yang menyuruhku. Saat itulah, aku merasa seperti dibodohi oleh diriku sendiri. Wanita itu mengeluarkan aura yang berubah-ubah, tapi auranya sekarang sangat nyaman dan hangat. Dia bagaikan malaikat, ya, dia mungkin malaikat yang sesungguhnya.
Mungkin saja wanita ini bisa membantuku. Wanita sekuat dia bisa membantuku.
Aku hanya perlu membiarkannya hidup tenang.
Sudah kuputuskan, aku melapor kepada Kardagon kalau sosok utusan Reftia sudah muncul.
‘Dia adalah sosok pria berambut hitam, dengan wajah polos yang sedikit bodoh, meskipun begitu dia sebenarnya kuat. Darren Corter, namanya’.
Itulah yang akan kuberikan kepada Kardagon.
Semoga saja, dengan ini Vedetta akan selamat.