Goddess Corter

Goddess Corter
Kesalahan Terbesar



Tak ada dari kami yang termakan dengan rasa keterkejutan, masing-masing dari kami mulai mengaktifkan sihir untuk membuat perlindungan terhadap prajurit yang terluka.


God’s Will!


Licik memang, tapi hanya itu satu-satunya cara untuk menghentikan kekacauan ini.


Tapi..


Eh? God’s Will milikku tidak berfungsi? Apa-apaan ini, jelas-jelas aku sudah mengaktifkan kehendak milikku untuk membuat orang-orang ini berhenti bertengkar.


Ini sangat aneh, seharusnya tidak pernah ada yang lepas dari kendali God’s Will. Beberapa kemungkinan adalah karena aku yang sudah tidak bisa menggunakan sihir itu lagi, tapi sepertinya itu tidak mungkin, jelas-jelas aku masih merasakan darah dewi di dalam tubuhku.


Kecuali, ya, kecuali makhluk yang gelarnya lebih tinggi dariku, seperti Dewi Agung, tentu saja God’s Will dari Dewi biasa sepertiku tidak akan mempan.


Rasanya konyol sekali kalau ada Dewi Agung dari semesta lain datang kesini dan membuat keributan, atau ini ulah Dewi Tereessa?


Neutral Eyes!


Kulihat ke dalam sosok para prajurit yang menggila, aura mereka mengeluarkan warna yang berbeda-beda. Beberapa darinya ada yang berwarna putih, tapi yang mengejutkan adalah aura dari tujuh orang yang memainkan pedang disana. Aura ketujuh orang itu berwarna hitam pekat, sangat-sangat pekat.


“Warna ini.. tak salah lagi, Azazel.”


Gumamku pelan.


Setelah itu, tiba-tiba sesuatu yang sangat cepat, entah darimana datangnya, menabrakku hingga membuatku terpental beberapa meter ke belakang. Sempat menangkis sebentar, tapi keanehan terjadi lagi, aku merasakan sakit memar di lenganku dan itu sangat aneh. Seharusnya Dewi tak bisa dilukai oleh makhluk manapun, kecuali orang yang gelarnya lebih tinggi.


Benda itu datang lagi, benda berwarna putih yang bersinar dengan ekor panjang, persis seperti komet. Datang dari langit, begerak dengan lentur, dan lagi-lagi menabrakku. Sialnya, dia tidak melepaskan tabrakannya, itu membuatku terseret bersamanya hingga beberapa meter.


Selain itu kecepatannya luar biasa, aku tidak bisa melihat apapun.


Kucoba lepaskan benda itu dari tubuhku, dan syukurlah berhasil.


Tapi, ketika aku mendaratkan kaki, aku berada di satu tempat yang tidak kukenal.


Tepat setelah benda putih itu menabrakku, aku langsung berteleportasi ke tempat lain. Tempat dengan aroma gosong yang kuat, dimana-mana berwarna coklat berbayangan gelap. Selain itu juga aku bisa melihat lahar panas yang mengalir di sekitaranku. Tebing-tebing batu yang curam, serta bunyi-bunyian yang aneh.


“Azazel? Hei, apa kau yang melakukan ini, Azazel?”


Teriakku seorang diri di tempat ini.


Dan lagi-lagi benda putih datang, bergerak lambat menuju ke atas tebing dan berhenti disana. Benda itu berubah menjadi sang raja iblis, Azazel. Dengan pakainnya yang tampak kasual, dengan celana panjang hitam dan jaket tebal.


Sosok Azazel duduk di atas batu, beberapa meter di atasku.


“Selamat datang di duniaku, wahai kekasihku, Darren Corter.”


“Azazel, jangan bercanda! Cepat kembalikan aku ke duniaku!!”


“Hmm.. Darren, sebelumnya aku ingin bertanya.. apa kamu.. tahu dimana ini?”


“Siapa peduli?! Aku hanya ingin kembali, cepat kembalikan aku ke tempat Rayen!”


Memasang raut misterius, Azazel menatapku tidak seperti seorang putri. Dia berdiri dan terjun dari atas batu itu. Berjalan beberapa langkah ke depanku, menepuk pundakku, kemudian berkata sambil berbisik dengan nada licik,


“Kalau kau adalah seorang Dewi, gunakan saja kehedendakmu!”


Diam tak bisa berbuat apa-apa, aku tahu persis bahwa God’s Will tidak bisa digunakan di tempat ini. Karena yang menciptakan tempat ini adalah Dewi Teressa, yang tingkatannya lebih tinggi dariku. Sudah jelas, disini aku tak lebih unggul dari Azazel.


“Lihat, kau tidak bisa melakukannya, kan? Menyerah sajalah.. tinggallah disini, Darren, aku akan merawatmu, menjagamu..”


Azazel mengelus pipiku dengan kedua jarinya. Tangannya keras dan kasar, menjijikan.


Aku yang tak tahan karena disentuh olehnya, tanpa sengaja melepaskan tinju keras tepat di wajah Azazel. Walaupun kubilang tak sengaja, tapi nyatanya tinju itu mampu membuat Azazel terpental dan menabrak batuan tebing merah di belakangnya.


“Jangan asal menyentuhku!”


Ucapku pada Azazel yang tubuhnya tertanam di batu, beberapa meter di depan.


Bukannya merasa kesakitan, Azazel justru tersenyum. Dia dengan mudah lepas dari tebing itu, kemudian memandangku dengan tatapan kotor sambil berjalan mendekat.


“Darren, apa kamu tahu kalau aku melarang satupun makhluk di dunia ini untuk menyakitimu?”


“Memangnya aku peduli?”


“Hihi.. itu karena.. aku sendiri yang akan membuatmu terluka!”


Berlari dan melompat, dengan kaki kanannya Azazel mengincar kepalaku. Bahkan dari jarak yang masih bisa diamati, tendangan itu tidak sempat kulihat. Tiba-tiba saja pandanganku menjadi gelap dan wajahku terasa kaku.


Eh? Apa aku merasakan sakit?


Aku sangat bodoh karena mengharapkan hukum mutlak dewi. ‘Dewi tidak bisa dilukai oleh makhluk manapun’, nyatanya hukum itu hanya berlaku untuk Dewi Agung, kasta tertinggi di semesta. Ternyata aku tidak lebih dari Azazel bahkan setelah menerima gelar Demon God?


Aku mengusap pipiku yang lebam setelah terkena tendangan yang cukup keras, kepalaku pusing tetapi tetap kupaksakan untuk berdiri.


“Darren, di dunia ini, yang mana adalah neraka, akulah yang paling berkuasa. Dewi Teressa membiarkanku melakukan apapun di dunia ini, itu adalah kehendaknya. Sedangkan kamu? Kamu bahkan tidak bisa menggunakan kehendakmu disini, kan?”


Kekuatan yang sangat berbeda bila dibandingkan dirinya saat di dunia cermin Reftia. Saat itu Azazel tidak membantah kalau dirinya lebih lemah dari Rayen. Tapi kalau disini, dia justru lebih kuat daripada aku.


Memang benar, aku sama sekali tidak merasakan ada aura Dewi di dalam tubuhku. Tapi justru aura lain yang terasa membakar. Sebenarnya aura apa yang ada di dalam tubuhku ini?


Apakah Seiren? Tidak, Seiren bahkan tidak lagi ada di dalam tubuhku.


Sial, apa tidak ada yang bisa kugunakan untuk melawan balik? Mau kuserang sebanyak apapun, kalau memang ini adalah dunia Azazel maka aku tidak bisa berbuat apa-apa, dia jauh lebih diuntungkan.


“Azazel, kalau tujuanmu adalah untuk memiliki keturunan dari dewi setengah iblis sepertiku.. maka aku bisa menciptakan sosok yang lebih cantik dari diriku sendiri. Tapi tentunya tidak bisa kalau di dunia ini.”


Aku tidak kehilangan harapan, aku juga sedang tidak berbohong. Sadar kalau Azazel adalah dewa di dunianya sendiri, yang bisa kulakukan hanyalah menyusun strategi diluar otak, agar dia tidak bisa membacanya.


Mengerutkan alisnya, Azazel tidak bisa begitu saja menerima saran dariku. Tentu saja dalam negosiasi manapun, yang tertipu adalah yang kalah.


“Karena itu, Azazel..”


Sebelum aku selesai dengan kata-kataku, Azazel secara tiba-tiba bergerak cepat ke depanku tanpa ada sinyal apapun. Dengan tombak panjang di tangannya, dan itu menembus ke dadaku.


Terasa sangat sakit, tak salah lagi kalau itu adalah luka paling menyakitkan yang pernah kurasakan. Aku memuntahkan darah yang mengenai langsung pundak Azazel. Dia tidak peduli dengan itu dan terus saja mendorong tombaknya.


“Dewi Agung atau bahkan yang mulia Vedetta sekalipun.. aku tak peduli jika kau menawarkan mereka. Yang kumau adalah memilikimu seorang. Darren Corter, karya seni dari Reftia.”


Kata-kata itu bisa terdengar di telingaku, tetapi tidak bisa kutangkap artinya. Tidak dengan kondisi tubuhku yang sekarat ini.


Penglihatanku kabur, telingaku berdering, kepalaku seperti mau pecah. Aku terus merasakan penderitaan itu tanpa bisa merasakan kematian. Benar, Azazel membuat tubuhku tetap hidup. Jadi, kalau Azazel tidak mencabutnya


maka penderitaan ini akan terus berlanjut.


Air mataku menetes ketika panas yang luar biasa muncul dari ujung tombak itu. Rasanya seperti ditempeli lahar mendidih tepat di usus dan jantungku.


Beberapa detik yang terasa seperti selamanya, Azazel mencabut tombak itu ketika dirinya sudah puas melihat aku kesakitan.


Bahkan ketika tombak itu tercabut, rasa sakit dan panasnya masih tetap ada. Aku tersungkur, memegangi perutku sampai harus bersujud.


“Itu adalah bagian kecil dari api neraka yang kupunya, Darren Corter. Jika kau masih terus menentangku, aku dengan senang hati akan mengangkatmu ke tempat yang lebih tinggi.”


Aku tak bisa mendengarnya, penderitaan yang kurasakan terlalu pedih untuk bisa memfokuskan pikiran. Bahkan bernapas pun rasanya sulit, aku tidak bisa memikirkan apapun lagi.


“Begitu, tentu saja kau tidak bisa mendengarku. Baiklah..”


Perlahan, luka dan penderitaan itu mulai menghilang. Aku yang tadinya sampai menelan ludah karena tidak bisa menjerit, sekarang setidaknya sudah lebih baik.


Entah bagaimana luka-ku sudah sepenuhnya sembuh, ini terlihat seperti Azazel yang melakukannya.


Meskipun begitu, kini yang tersisa di dalam diriku adalah ketakutan dan rasa panik. Tak kuat kakiku ini untuk berdiri dan menghadap wajahnya, tidak setelah aku tahu bahwa neraka bukanlah tempat untuk seorang dewi.


Aku menunduk di depan Azazel, terdiam merapati nasibku tanpa bisa menangis.


Sayangnya Azazel bukanlah makhluk yang bersimpati, dia dengan mudahnya menendang kepalaku. Tendangan yang terasa berat dan keras itu membuatku tersungkur ke lantai. Bahkan ketika aku sudah rubuh pun, dia tetap menendang-nendang kepalaku.


Aku tidak bisa marah lagi seperti melawan Astaroth, bagaimana ini?


“Hanya segitukah kekuatan hatimu, Darren Corter? Kalau kau tak mau menunjukkan wajah sengsaramu.. aku akan menyiksamu selamanya.”


Ucap Azazel ketika dia menarik rambutku, menghadapkan kepalaku di depannya. Azazel memelototiku dengan tatapan kebencian.


“Aku.. aku tak pernah paham.. apa tujuanmu?”


Dengan rasa sakit di kepalaku, aku hanya bisa menjawabnya dengan pertanyaan konyol yang terlalu spesifik.


Mendengar pertanyaan dariku, Azazel menghembuskan napas panjang kemudian memejamkan mata, mungkin untuk melegakan pikirannya. Tapi ternyata aku salah, ketika ia membuka matanya kembali, terlihat wajah yang lebih menakutkan dari sebelumnya.


Dia merentangkan tangan kanannya, kemudian menciptakan lingkaran sihir untuk memanggil sebuah senjata. Itu adalah pedang panjang yang sangat cantik, pedang itu muncul bahkan tanpa perintah kalimat dari Azazel.


“Percuma, aku kecewa padamu.”


Azazel melepas tangan kirinya, membuat tubuhku yang sejak tadi dijambaknya hampir terjatuh. Tapi sebelum tubuhku terjatuh, tangan kanannya lebih dulu menebaskan pedang tepat di leherku.


Tebasan yang sempurna, tanpa suara dan tanpa getaran.


Itu memotong langsung diriku, memisahkan badan dan kepala.


***


Reftia merasakan sakit di jantungnya secara tiba-tiba, ketika dia sedang asyik memainkan rangkaian bunga yang dibuatnya di halaman istana. Itu terasa seperti sengatan listrik tetapi lebih menyakitkan.


Sang Dewi Kecerdasan itu memutar otaknya, kira-kira hal apa yang sampai membuat tubuhnya tiba-tiba merasakan sakit. Mustahil bagi seorang dewi memiliki kelainan pada organ dalam, ataupun terkena kutukan sihir.


“Dewi Reftia, ada masalah apa?”


Tanya Ratu Megaira yang menemani sang Dewi bermain.


“Megaira, dimana Darren?”


“Corter? Sepertinya dia pergi ke tanah Kardagon tadi pagi, dia bilang untuk latihan.”


Sesuatu yang sangat buruk pasti terjadi kepada Darren, itulah yang dipikirkan oleh Reftia.


Alasan kenapa tubuhnya sakit adalah karena bagian dari jiwanya telah hilang, tapi itu hanya terjadi apabila sosok Darren Corter sudah mati.


Sambil menggigit bibirnya dengan kesal, Reftia terus-menerus membohongi dirinya sendiri bahwa Darren Corter baik-baik saja. Miliaran tahun Reftia memburu iblis, tapi tak pernah merasa sekesal ini. Akan ada banyak hukuman baginya kalau Darren sampai celaka, itu termasuk kutukan Vedetta, dimana Reftia diwajibkan untuk terus bersama Darren.


Tanpa aba-aba dan mantra, Reftia berpindah langsung ke tempat Darren berada. Mengubah aturan dunia, merobek ruang dan waktu atas nama sang Dewi, untuk melakukan hal ini bahkan seorang Dewi Agung tidak perlu mengeluarkan tenaga.


“Datang juga akhirnya, malaikat pembunuhku.”


Apa yang dilihat Reftia sangatlah menyayat hatinya.


Sosok Azazel dengan kepala Darren di tangan kirinya. Badan Darren terpisah sejauh 1 meter dari tempat Azazel berdiri. Darah yang kental menetes deras dari kepala Darren, wajahnya yang sudah tak berekspresi itu memang benar terlihat seperti mayat.


Muncullah kenangan-kenangan Reftia bersama sosok yang dikaguminya, Darren Corter. Sosok yang menjadikan hati Reftia lebih kuat, juga sosok yang Reftia cintai. Tapi sayangnya cintanya itu sudah mati dengan cara yang mengenaskan.


“Aku mengagumi hasil karyamu ini karena dia adalah dewi setengah iblis. Tapi nyatanya dia lebih rendah dari manusia. Dimana kekuatan iblisnya? Dimana kekuatan dewinya? Dari dekat, aku semakin tidak melihatnya.”


Hati Reftia serasa diremukkan ketika Azazel melempar kepala Darren dan membuatnya menggelinding di bawah kakinya.


Tatapan dari mayat itu begitu kosong, tetapi juga penuh akan kesedihan. Yang mereinkarnasi dan memberi Darren kekuatan adalah Reftia, yang membawa Darren ke titik ini adalah Reftia. Itu artinya, yang membuat Darren tersiksa juga Reftia.


Reftia tidak bisa memaafkan dirinya sendiri, tapi dia lebih tidak bisa memaafkan Azazel.


Dengan kekuatan Dewi Agung, Reftia menghancurkan neraka yang dibuat oleh Teressa. Sebuah lubangan hitam yang berisikan energi negatif menelan neraka itu hingga tak ada satupun sepercik api yang tersisa.


Mayat Darren bahkan ikut menghilang. Tapi Reftia sudah tidak peduli, yang diinginkannya saat ini adalah kehancuran Azazel.


Hilangnya neraka membuat lapisan langit ke 5 menjadi kosong. Tidak ada suhu dan ruang, molekul atom pun tidak ada. Tempat itu benar-benar kosong, yang ada hanyalah satu warna. Warna putih adalah apa yang terlihat sejauh mata memandang.


Di depan Reftia, berdirilah Azazel dengan para bangsawan neraka. Azazel tidak bisa berekspresi apapun ketika sang Dewi Agung sudah menunjukkan kekuatannya. Raja iblis itu bahkan hampir gemetaran ketika dunia dimana menjadi dewa bisa hilang dalam sekejap saja.


“Kau menghancurkan lapisan langit ini, yang artinya kau menghancurkan neraka buatan Teressa. Apa kau ingin bertengkar dengan sesama Dewi Agung?”


Azazel menggertak kepada Reftia yang tengah marah.


Tapi sayangnya perkataannya bahkan tidak didengar. Apa yang terjadi setelah ini sudah tidak penting. Kalau menyangkut masalah Darren, melawan Vedetta pun tidak akan masalah, begitu pikir Reftia.