Feng xia he

Feng xia he
burung Phoenix



"hahaha..... kalau seperti ini aku tak perlu khawatir dengan kehidupan ku lg" ucap Xia he.


tak lama ia melihat sebuah telur yg berwarna biru dengan pedang bitung yg tertancap di atas tumpukan emas.


"telur apa itu?? " gumam Xia he.


saat Xia he mendekati telur itu tiba-tiba rasa dingin menyelimuti ruangan itu.


"aura yg kuat... sepertinya aku menemukan hal yg menarik" ucap Xia he girang.


Xia ingin mengambil telur itu namun tak sengaja tangannya tergores oleh pedang yg di tancapkan di samping telur tersebut.


"ukh..... darah dalam tubuh ku seakan-akan membeku" ucap Xia he.


tak Xia he sadari jika darahnya menetes ke telur tersebut.


telur itu bersinar ruangan yg awalnya dingin kini berubah menjadi dingin di satu sisi dan panas di satu sisi.


telur itu retak dan ruang dimensi bergetar.


"nona apa yg terjadi?? " ucap seorang pemuda tampan.


"siapa kamu??! " ucap Xia he.


"apakah nona sudah tak mengingat saya yg tampan dan rupawan ini?? " ucap pemuda itu.


"Lin Lauyan?? " tanya Xia he.


"akhirnya anda mengetahui hamba, lihat lh bukan kh hamba tampan dan masih sangat muda?? " ucap Lin Lauyan.


"tetua generasi narsis" ucap Xia he.


"heh.... narsis itu apa?? " ucap Lin Lauyan.


"diam lh, bukan waktunya bercanda di tengah dunia yg mau hancur ini" ucap Xia he.


"apa kau menyentuh telur suci itu?? " ucap Lin Lauyan.


"aku hanya tertarik saja, bukan kh kau yg mengatakan jika semua yg ada di ruang dimensi ini adalah milik ku?? " ucap Xia he.


Tiba-tiba telur itu pecah dan keluarlah seekor anak burung Phoenix biru.


"suatu kehormatan bagi hamba bisa di kontrak oleh tuan pemilik ruang dimensi" ucap burung mungil itu.


"nona... berlaku lh sopan dan jangan terlalu kuno" ucap Lin lauyan.


"khn.... kau akan menerima hukuman mu" bisik xia he.


"aku kebal dengan segala hukuman apa pun" ucap Lin lauyan.


"mari kita lihat nanti" ucap xia he tersenyum devil.


"jadi siapa nama mu?? " ucap xia he.


"hamba belum mempunyai nama, mohon nona memberikan nama kepada hamba" ucap burung Phoenix mungil itu.


"Yu feng??" ucap xia he.


"suatu kehormatan bagi hamba mendapat nama dari nona" ucap burung Phoenix mungil itu.


"sebagai tanda nona sudah mengontrak hamba, silakan nona menyentuh pedang suci itu. pedang suci itu akan menilai apakah nona pantas menggunakannya" ucap Yu Feng.


"pedang yg indah" ucap xia he.


sedangkan Yu Feng dan Lin lauyan menelan ludah kering menunggu apa yg terjadi jika xia he menyentuh pedang itu.


xia he menyentuh ganggang pedang itu dan terdiam.


"no... nona.... apa yg akan terjadi...?? " tanya Yu Feng dan Lin lauyan.


"ta... tangan ku..... seakan di tusuk dan aku merasa kalau tempat ini akan meledak" ucap xia he.


"tamat lh riwayat kita" ucap Yu Feng dan Lin lauyan, yg langsung menangis meratapi hidup mereka.


jika pedang suci itu tak menerima xia he menjadi tuan pemiliknya, maka ruang dimensi akan hancur dan mereka akan lenyap bersama ruang dimensi itu.


"hey... kenapa kalian menangis?? " tanya xia he.


"meratapi nasib nona" ucap keduanya.


xia he hanya Menggeleng-geleng kan kepalanya melihat keduanya, kemudian memilih menarik pedang tersebut.


BERSAMBUNG........