
Saat ini perkelahian sengit sedang terjadi antara Kevin dan Tara, keduanya sama-sama belum ada yang menyerah. Walaupun wajah keduanya sudah babak belur dan mengeluarkan darah.
Sedangkan disisi lain, Aeleasha yang sekitar lima menit yang lalu sadar. Mendengar ada suara orang yang sedang berkelahi dia berusaha untuk mencari tahu siapa yang sedang berkelahi itu.
"I-itu suara, orang berantem. T-tapi siapa?" bingung Aeleasha memegangi kepalanya.
Aeleasha berusaha untuk bangkit dari tidurnya, dia mendekat ke arah pintu. Tapi saat hendak membukanya ternyata pintunya dikunci dari luar.
"Ya, ampun! Pintunya dikunci lagi," lirih Aeleasha sambil celingak-celinguk mencari sesuatu yang bisa membuka pintunya.
"Tolong! Siapa itu? Tolong, Aeleasha!" teriak Aeleasha, tapi sayang Kevin maupun Tara sama-sama tidak mendengar teriakkan Aeleasha karena terlalu fokus berkelahi.
"Aeleasha, harus cari sesuatu?" ujarnya sambil melihat sekeliling siapa tau ada benda yang bisa membuka pintunya.
"Udahlah, Vin Lo ngaku kalah!" ujar Tara dengan nafas yang ngos-ngosan karena diantara mereka tidak ada satupun yang tumbang.
"Heem! Ngaku kalah? Itu bukan sifat seorang laki-laki!" tegas Kevin tersenyum miring.
"Oke, kalo gitu kita lihat! Sampai kapan? Lo bisa terus berdiri dengan kaki Lo itu," ujar Tara kembali mengambil ancang-ancang untuk menyerang Kevin.
"Enggak, takut gue!" ucap Kevin suaranya sedikit meninggi dan membuat Aeleasha menoleh ke arah pintu dia seperti mengenali suara itu.
"Itukan, suara kak Kevin." ujar Aeleasha lirih.
Terdengar suara perkelahian yang semakin memanas, Aeleasha dia mulai yakin bahwa suara tadi adalah suara Kevin.
"Aeleasha, harus keluar! Tapi gimana?!" frustrasi Aeleasha dia menggaruk-garuk kepalanya kasar.
Saat sedang menggaruk-garuk kepala Aeleasha merasakan sesuatu di rambutnya, dia mengambilnya dan ternyata itu adalah jepitan rambut.
"Jepitan? Apa, Aeleasha. Pakai ini aja, ya?" ucap Aeleasha, kemudian tanpa berfikir Aeleasha langsung menggunakan jepitan rambutnya untuk membuka pintu tersebut.
"Ayo, dong bisa!" mohon Aeleasha.
Ceklek!
Dan akhirnya pintu terbuka dan membuat Aeleasha bernafas lega.
"Aeleasha, harus tolong kakak," ujarnya kemudian berlari ke arah suara orang yang sedang berkelahi itu.
Dan kira-kira apa yang akan Aeleasha lakukan untuk menolong Kevin?
Aeleasha dengan langkah berhati-hati, berjalan menghampiri asal suara orang berkelahi itu.
Saat sudah sampai Aeleasha benar-benar terkejut melihat Kevin yang sudah babak belur, begitu juga lawannya. Tapi mereka sama sekali tidak ada keinginan untuk berhenti berkelahi.
"Aeleasha harus gimana? Aeleasha, Harus tolong Kakak, tapi gimana?!" kesal Aeleasha.
"Ga udah, stop! Kalo kayak gini. Gak ada yang menang dan kalah!" ujar Kevin dengan nafas ngos-ngosan.
"Kalo gitu, lo ngaku kalah!" ujar Tara dengan nafas yang ngos-ngosan juga.
"Gue, bakal ngaku kalah dan nerima apapun yang mau. Lo lakuin sama gue, asal? Lo bebasin Aeleasha." ucap Kevin berjalan menghampiri Tara.
"Oke," ujar Tara.
Aeleasha yang mendengar itu menggelengkan kepalanya tak percaya? kenapa Kevin malah melakukan itu.
"Sesuai dengan janji. Lo tadi, sekarang kalo gue mukulin lo dan lo gak boleh ngelawan sama sekali!" tegas Tara.
"Oke, tapi Lo juga harus janji! Lo bakal bebasin Aeleasha," lirih Kevin.
"Dengan senang hati," jawab Tara.
Kemudian Kevin berhadapan dengan Taraa, Tara sudah siap untuk kembali menghajar Kevin.
Plak!
Plak!
Dug!
Dug!
Aeleasha yang menyaksikan adegan tersebut hanya bisa meringis melihat Kevin yang dipukuli dengan brutal, sedangkan Kevin dia pasrah tanpa melawan sama sekali.
Aeleasha melihat Kevinn sudah tersungkur dengan wajah yang lebam dan darah mengalir dari pelipisnya.
"Kakak!" teriak Aeleasha berlari ke arah Kevin dan memeluknya.
"Ael-leasha k-kamu k---"
"Ssstt!... Kakak kenapa, kenapa Kakak ngelakuin ini?" ujar Aeleasha mengelus wajah Kevin yang sudah luka parah.
"B-buat kamu," lirih Kevin.
"Tapi, gak gini caranya!" tangis Aeleasha memeluk erat Kevin.
Kevinn pun membalas pelukan Aeleasha.
Tak berselang lama Tara langsung menarik Aeleasha dan mencengkram kedua pipinya dan membuat sang empu meringis kesakitan.
"TARAAAA!" bentak Raiden.