
"Tuan, ada apa? Tumben datang ke halaman belakang?" tanya salah satu tukang kebun, yang sedang menyapu Daun-daun kering.
"Mau panjat mangga!" ketus Kevin.
"Loh kalo. Tuan mau mangga biar saya aja yang manjat!" seru tukang kebun, kita panggil saja mang Kosim.
"Jangan! Biar Kaka aja," ujar Aeleasha tiba-tiba, mang Kosim langsung mengerti mungkin saja Nona-nya sedang ngidam.
"Baik, Nona." Mang Kosim kembali menyapu Daun-daun kering.
"Ayo kak, manjat!" kesal Aeleasha.
"Sabar!"
Aeleasha terbangun, dan melihat jam sudah menunjukkan pukul 21.05 Aeleasha celingak-celinguk mencari keberadaan Kevin, ke mana dia? Apa mungkin laki-laki itu, masih marah.
Aeleasha berjalan menuju kamar mandi, untuk membersihkan diri. Setelah itu, dia turun untuk mencari keberadaan Kevin.
"Bi, lihat. Tuan Kevin, enggak?" tanya Aeleasha pada maid yang sedang menata piring untuk makan malam.
"Kayaknya tuan, belum turun dari tadi, sore. Nona," jelas maid tersebut menatap Aeleasha yang terlihat sedih.
"Ohh, makasih Bi," ujar Aeleasha lirih, kemudian berjalan meninggalkan ruang makan untuk kembali mencari keberadaan Kevin.
"Sama-sama Non.* Nona Aeleasha kenapa, ya?" bingung maid tersebut.
Aeleasha berjalan lunglai, dia menyusuri setiap ruangan yang ada di rumah itu, tapi tak kunjung menemukan Kevin. Akhirnya Aeleasha memutuskan untuk pergi ke ruang kerja Kevin, mungkin saja Kevin ada di sana.
Aeleasha mengintip dari pintu, kebetulan pintu ruangan kerja Kevin terbuat dari kaca, dan ternyata Kevin berada di sana sedang sibuk dengan laptopnya.
Tok! Tok! Tok!
"Masuk!" ujar Kevin dingin.
"Kak makan, yuk!" ajak Aeleasha menghampiri Kevin, yang sedang sibuk dengan laptopnya. Dan sesekali melirik berkas yang ada di tangannya.
"Duluan aja," ujar Kevin dingin.
"Tapi, 'kan Kakak belum makan."
"Saya, belum laper. Kalo kamu mau makan, makan aja, gak usah ngajak saya, saya lagi sibuk!" ketus Kevin, Aeleasha yang mendengar itu, kembali meneteskan air mata, apakah Kevin benar-benar marah.
"Kok, gitu. Sih?"—Aeleasha bersimpuh di kaki Kevin. "Maaf, kak. Aeleasha mohon jangan marah! Aeleasha janji, Aeleasha enggak akan kayak gitu, lagi. Nyuruh-nyuruh kakak!" tangis Aeleasha.
Aeleasha menangis di pelukan Kevin, Kevin mengelus punggung Aeleasha untuk menenangkannya.
"Udah, jangan nangis!" ujar Kevin menghapus air mata Aeleasha.
"Kakak jangan marah ya? Aeleasha enggak bisa kalo, Kakak marah," ujar Aeleasha sesegukan.
"Iya," jawab Kevin dan memeluk Aeleasha erat.
"Wajar aja sih. Kalo kamu minta yang aneh-aneh, kan bawaan baby-nya. Iya, kan sayang." Kevin mengelus-elus perut Aeleasha.
"Terus, kenapa? Kakak turutin kemauan Aeleasha?" tanya Aeleasha menatap lekat Kevin yang hanya tersenyum.
"Kalo misalnya anak. Saya ileran gimana? Gara-gara kamu ngidam gak keturutan," ungkap Kevin membuat Aeleasha tertawa kecil.
"Iya-ya." Aeleasha hanya cengengesan.
"Kamu belum makan, kan? Yuk makan sayang kasian baby-nya kelaparan!" ajak Kevin
"Tapi kakak juga, makan."
"Iya sayang."
Kevin pun membawa Aeleasha menuju lantai bawah, untuk makan malam. Kebetulan ini sudah waktunya.
"Makan yang banyak! Biar baby-nya sehat," ujar Kevin menaruh beberapa lauk ke piring Aeleasha.
"Iya, papa," ujar Aeleasha menirukan suara anak kecil.
Kevin terkekeh. "Pokoknya, saya. Mau dipanggil Daddy! Bukan papa."
"Daddy Corbuzier?" canda Aeleasha.
"Enak aja, Daddy Corbuzier!" ketus Kevin, sedangkan Aeleasha hanya tertawa renyah.
Saat mereka sedang asik menyantap makanan, tiba-tiba handphone Kevin berbunyi.
"Halo," jawab Raiden.
"..............."
"Apa?!" kaget Kevin, membuat Aeleasha terlonjak kaget.