
Seblak itu makanan khas sunda Tuan. Ada yang pedas, ada juga yang tidak. Dan isiannya macam-macam banyak yang jual di pinggir jalan bahkan, Restoran juga sekarang banyak yang menjual seblak dengan berbagai pilihan isian," jelas bodyguard tersebut, Kevin hanya manggut-manggut.
"Ohh kok Saya enggak tau ya?" ujar Kevin menggaruk kepalanya.
Bodyguard tersebut terkekeh. "Wajar Tuan Tidak tau kan makanan Tuan elit semua," ujar sang bodyguard.
"Sok tau!" ujar Kevin berjalan meninggalkan bodyguard yang hanya terkekeh, melihat tingkah Tuanya yang biasanya galak seperti singa.
"Aeleasha sayang." Kevin langsung memeluk Aeleasha dari belakang.
"Apa?!" ketus Aeleasha.
"Jangan marah! Aeleasha mau seblak kan? Yuk kita beli!" ajak Kevin.
"Aeleasha gak mau beli," ujar Aeleasha berbalik menatap Kevin.
"Terus?"
"Bikin."
"Yaudah kakak suruh maid buat bikini," ujar Kevinn tersenyum manis.
"Aeleasha maunya Kakak yang bikin," ujar Aeleasha, Kevin langsung melototkan matanya.
"Sayang, Kakak ini enggak pernah seumur hidup berurusan sama yang namanya kompor dan saya aja enggak tau mana jahe mana lengkuas," jelas Kevin kembali tak habis pikir.
"Pokoknya Aeleasha mau Kakak yang bikin!" kekeuh Aeleasha.
Kevin mengacak-ngacak rambutnya kesal. "Oke, fine." pasrah Kevin.
Kevinn dan Aeleasha berjalan menuju dapur.
...----------------...
Sampai dapur Kevin langsung menyuruh maid untuk menyiapkan bahan-bahan untuk membuat seblak.
"Ini apaan?" bingung Kevin.
"Coba aja gigit!" ujar Aeleasha.
Kevinn pun meng-gigitnya. "Hueek! Apaan nih?" Kevin langsung melemparkannya.
"Itu kencur. Tuan," ujar salah satu maid yang sedang berdiri menyaksikan Tuan-nya berkutat dengan bumbu.
"Pantes."
Kevin mengupas bawang merah sampai terisak kecil.
"Kakak nangis?" tanya Aeleasha.
"Siapa yang nangis!" ketus Kevin.
"Itu kayak, Orang nangis gitu," ujar Aeleasha.
"Perih nih ,Ngupas bawang!" kesal Kevin.
Aeleasha dan para maid pun tertawa, ternyata seorang Kevin Soxukai. Bisa nangis hanya karena si merah itu.
Setelah bumbu halus, Kevin pun memanaskan minyak lalu menuangkan bumbu tadi ke dalam wajan yang sudah panas.
Saat bumbu dimasukkan Kevin terlonjak kaget gara-gara minyak yang bletak-bletok.
"Ini kenapa?!" panik Kevin.
"Hahah Kakak, takut minyak!" ledek Aeleasha.
"Bukan takut," ujar Kevin kembali menetralkan ekspresi yang sempat panik.
"Terus?"
"Kaget," ujar Kevin kembali mengundang tawa.
Sedangkan Kevin hanya memanyunkan b1b1rnya lucu.
Malam hari, Kevin mendapatkan telpon dari seseorang.
"Halo,"
"......"
"Saya tidak mau, tau. Pokoknya seminggu lagi harus ada kabar baik."
"......"
"Gimanapun caranya, Kamu dan anak buahmu harus segera menemukan lokasi tempat orang tua Aeleasha disekap."
Brak!
Kevin menoleh ke sumber suara dan itu ternyata Aeleasha, gelas yang dipegangnya pecah karena terkejut.
"A--ara!" kaget Kevin langsung mematikan telpon tersebut.
"Ayah, ibu, Aeleasha diculik," ujar Aeleasha lirih air matanya lolos. Rasanya seluruh tubuh Aeleasha melemas.
Kevin berjalan menghampiri Aeleasha dan langsung memeluknya.
"Sayang, tenang dulu ya," ujar Kevin berusaha menenangkan Aeleasha yang sudah menangis di pelukannya.
"Siapa yang sudah culik mereka? Selama itu, kenapa mereka culik ibu dan ayah," ujar Aeleasha menangis pilu.
"Kakak juga kurang tau Sayang, yang pasti! Kakak janji akan selamatkan kedua orang tua kamu, Semoga aja belum terlambat." Kevin menghapus air mata Aeley yang mengalir deras.
"Janji kan? Pokoknya Aeleasha mau ketemu ibu dan ayah, kak." tangis Aeleasha kembali memeluk Kevin.
"Iya sayang, Iya nanti kamu pasti akan ketemu mereka ya," ujar Kevin mengusap-usap punggung Aeleasha.
Aeleasha terus menangis, dia begitu merindukan kedua orang tuanya. Kenapa disaat ada kabar baik tentang kedua orang tuanya, Aeleasha malah mendapat berita mengejutkan! Siapa yang sudah tega menculik mereka selama itu?
Kevin terus menenangkan Aeleasha dengan terus memeluknya tapi tiba-tiba ....
"Aakghh!" ringis Aeleasha.
"Kenapa sayang hmm?" tanya Kevin melepaskan pelukannya.
"P--perut, Aeleasha sakit k--kak, Aakgh!" ringis Aeleasha memegangi perutnya yang terasa sakit.
"Astaga! Yaudah kita ke Dokter sekarang ya? Kakak takut kandungan kamu kenapa-kenapa," ujar Kevin, Aeleasha hanya mengangguk kemudian Kevin segera gendong Aeleasha untuk ke rumah sakit.
"Sakit kak." tangis Aeleasha.
"Sabar ya Sayang, sebentar lagi," ujar Kevin, tangan satunya mengelus perut Aeleasha dan yang satu menggenggam tangan Aeleasha..
"Pak cepat!" ujar Kevin pada sopir pribadinya.
"I--iya, Tuan."