
Aeleasha yang baru selesai mandi, tampak tersenyum tipis melihat Kevin, dan baby Airumi andai tidak ada kejadian seperti kemarin. mungkin saat ini Aeleasha bisa tersenyum lebih lebar melihat anak dan suaminya yang asik bermain.
Tapi apalah daya, nasi sudah menjadi bubur.
Aeleasha melanjutkan langkahnya menuju ruang ganti, Kevin yang melihat Aeleasha hanya tersenyum tipis, tapi Aeleasha hanya membalas dengan wajah datar. membuat Kevin memanyunkan b1b1rnya.
"Bunda kamu, kok. tega, sih sama Daddy." Adu Kevin kepada baby Airumi yang masih mengoceh, sambil mengigit-gigit telunjuk Kevin.
"Waw ...." Hanya itu, yang baby Airumi ucapkan, ntah dia mengerti, ntah tidak.
"Sini, aku mau mandiin baby Airumi." Aeleasha menyodorkan tangannya. meminta baby Airumi untuk diberikan padanya. "Daddy-nya gak di mandiin?" Tanya Kevin manja. "Mandi sendiri, emang mayat harus di mandiin!" Ketus Aeleasha langsung menggendong baby Airumi menuju kamar mandi.
"Yeah, ngamuk ... Uhhh serem," ujar Kevin sok takut dengan Aeleasha, Aeleasha hanya memutar bola matanya malas.
Kevin pun pergi ke kamar mandi bawah, untuk mandi setelah mengambil baju ganti.
...----------------...
Malam tiba, malam ini hujan turun dengan lebat. sama seperti ketika di malam lahirnya baby Airumi, hujan yang sama seketika membangkitkan kenangan di malam itu, siapapun pasti tidak akan menyangka jika di malam itu, dengan guyuran hujan yang lebat, terlahir seorang bayi cantik dan lucu. yaitu, Airumi Alaska Soxukai.
Andaikan semua baik-baik saja, inilah yang di namakan takdir. Tidak ada yang tau ke depannya akan seperti apa.
"Denisa!" Panggil Kevin di sela-sela makan malam mereka.
"Iya, mas."
"Kamu, kalo makan cadarnya di buka aja, gak papa, kok," ujar Kevin datar kembali menyuapkan nasi ke mulutnya.
Denisa seketika langsung gelagapan. "Ah, gak papa, kok. aku udah biasa," jawabnya gugup.
"Oh." Hanya kata itu, yang keluar dari mulut Kevin.
'Kak Kevin, kayaknya pengen banget lihat mukanya Denisa.' batin Aeleasha kesal, walaupun dia kecewa dengan Kevin. Ternyata Aeleasha masih memiliki kecemburuan terhadapnya.
Selesai makan malam, Kevin seperti biasa sedang berkutat dengan laptopnya di ruang tengah. "Mas, ini kopinya," ujar Denisa bmenaruh secangkir kopi hitam.
"Hem, makasih," ujar Kevin matanya masih fokus pada laptop.
"Iya, aku permisi sebentar," ucap Denisa.
Kevin beberapa kali menyeruput kopi tersebut. sampai tiba-tiba dia merasa sensasi aneh dalam dirinya, dia seperti menginginkan sesuatu, tapi apa?
Kevin mulai gelisah dan sesekali menarik nafas untuk menetralkan dirinya, ntah. Sedang kenapa, tapi ada sensasi aneh rasanya.
"Kenapa, ya?" Ujarnya bertanya-tanya.
Kevin semakin gelisah dia sudah mencoba untuk fokus, tapi tidak bisa. Kevin melirik kesana-kemari seolah mencari sesuatu.
Dengan saat bersamaan Kevin melihat Aeleasha melintas di depannya. sepertinya Aeleasha baru dari dapur, sensasi aneh itu, semakin mencari gara-gara saat melihat Aeleasha.
Kevin coba untuk menahannya, tapi argh! "Aeleasha!" Panggil Kevin langsung berlari mengejar Aeleasha.
Saat Aeleasha tiba di kamar. dia ingin menutup pintu, tapi Kevin lebih dulu masuk. "Kakak ngapain di sini? Udah sana!" Usir Aeleasha.
Tanpa menghiraukan Aeleasha, Kevin langsung memeluk tubuh Aeleasha, dan menc1um leher Aeleasha seolah menginginkan sesuatu. "Kakak kenapa?" Bingung Aeleasha, tapi Kevin tak menjawab dia asik sendiri.
Pergerakan Kevin semakin nakal, Aeleasha jadi, takut sedang kenapa rupanya?
"Please." Hanya itu, yang keluar dari mulut Kevin, membuat Aeleasha semakin bingung. "Apanya?" Tanya Aeleasha mencoba menjauhkan Kevin darinya.
Tapi tenaga Kevin lebih kuat dari Aeleasha. "Please." Lagi-lagi hanya itu, yang diucapkan Kevin.
Aeleasha tetap mencoba menjauhkan Kevin darinya, tapi lagi-lagi gagal. Setelah beberapa menit Aeleasha berusaha melepaskan pelukan Kevin, Aeleasha baru mengerti kenapa Kevin bersikap seperti ini. "Kakak minum obat itu," ujar Aeleasha. "Itu, apa?" Lirih Kevin semakin brutal dengan pergerakannya.
'Wah, bahaya. nih, mat1lah kau Aeleasha,' ujar batin Aeleasha.
"Kakak minum sesuatu?' Tanya Aeleasha tetap berusaha mengontrol pergerakan Kevin. "Enggak, cuma kopi dari Denisa," jawabnya. Aeleasha berpikir mungkin Denisa sengaja memberikan obat itu, agar bisa memiliki Kevin seutuhnya, tapi kenapa harus dengan cara seperti ini?
"Yaudah, kakak pergi ke kamar Denisa!" Usir Aeleasha yang mengerti akan tujuan Denisa. "Enggak! saya, tau saya kenapa, Kalo saya pergi ke sana bahaya. emang kamu mau saya jadi milik dia seutuhnya?!" Bentak Kevin menatap lekat Aeleasha.
Aeleasha menggeleng, jujur dia tidak pernah rela jika Kevin dimiliki orang lain.
"Turuti saya, dan jangan banyak tanya!" Bentaknya langsung membawa Aeleasha menuju tempat tidur, dan kalian tahulah apa yang terjadi setelah itu.
"Loh, mas Kevin ke mana?" Bingung Denisa celingak-celinguk mencari keberadaan Kevin, setelah kembali dari kamar mandi.