
Kevin paling benci dengan ekspresi wajah seperti itu, karena dia tidak akan tega, pasti merasa bersalah jadinya. Argh!
"Yaudah, saya makan." Pasrah Kevin dia pun mengambil rantang tersebut, dan membukanya. Denisa tersenyum senang karena Kevin mau memakan makanan darinya.
"Duduk!" Titah Kevin, Denisa pun duduk di samping Kevin. Kevin dengan perlahan mulai memakan makanan tersebut. "Gimana enak gak masakannya?" Tanya Denisa. "Enggak! biasa aja," jawab Kevin mulai dengan sikap dingin bin datarnya keluar.
Denisa yang mendengar itu, merasa sedih. Ternyata masakannya tak terlalu di sukai Kevin, yang dia pikir Kevin akan sangat menyukai masaknya ternyata tidak terlalu suka. Denisa mulai merasa bersalah, pikirannya terus berfikir keras bagaimana agar Kevin menyukai masakannya nanti, dia tidak ingin membuat Kevin kecewa.
"Aduhh!" Ringis Denisa memegangi kepalanya yang terasa sakit, begitulah Denisa jika mendapat beban pikiran sedikit saja, pasti kepalanya akan sakit.
"Kenapa?!" Panik Kevin.
"Kepala aku sakit," jawab Denisa masih memegangi kepalanya.
"Yaudah, kita ke rumah sakit," ujar Kevin.
"Enggak pulang aja, soalnya obat aku ada di rumah," ujarnya dengan lirih.
"Oke."
Kevin pun menelpon sekertaris-nya "halo, Rara. batalin semua meeting saya hari ini!" ujar Kevin. "Baik, pak," jawab Rara di sebrang telpon.
Kevinn langsung membantu Denisa untuk berjalan menuju mobilnya.
"Iya, Bu."
"Kalo kamu tidak kuat menjalani pernikahan kamu dengan, Nak Kevin sebaiknya kamu berpisah saja. dengan, Nak Kevin supaya kamu tidak merasakan sakit. karena satu rumah dengan madu kamu," jelas ibu. Dia benar-benar khawatir dengan Aeleasha, bagaimana seorang istri bisa hidup nyaman, dan tentram bila satu rumah bersama istri lain dari suaminya, ibu hanya takut Aeleasha hanya akan semakin terluka.
"Ibu gak papa. kok, Nak. jika kamu ingin berpisah dengan, Nak Kevin kita bisa kembali ke kampung." Sambung ibu menggenggam tangan Aeleasha.
Aeleasha menggeleng dengan senyum tipis. "Kalo, Aeleasha mau kemarinpun Aeleasha pasti akan langsung meminta pisah bu. sama kak Kevin, tapi yang Aeleasha pikiran bagaimana baby Airumi? dia masih terlalu kecil untuk jauh dari ayahnya, dia masih butuh kedua orang tuanya. plus jujur, Aeleasha masih sangat-sangat mencintai kak Kevin, Aeleasha gak bisa, kalo harus berjauhan dengan kak Kevin, Aeleasha gak bisa," ujar Aeleasha lirih.
"Tapi sampai kapan kamu mau bertahan seperti ini, apa kamu sudah bisa menerima Denisa. sebagai istri kedua suami kamu?" Tanya Ibu.
"Enggak Bu, Aeleasha belum bisa menerima itu, tapi Aeleasha akan tetap bertahan walaupun sakit, dan Aeleasha akan menunggu dan pergi dari kehidupan kak Kevin, ketika kak Kevin sendiri yang meminta Aeleasha untuk pergi dari kehidupannya," jawab Aeleasha, tak terasa Air matanya jatuh kembali. rasa sakit yang coba Aeleasha redam kini meluap kembali.
"Apa kamu sanggup?"
In Syaa Allah, bu. intinya bertahannya Aeleasha di sini, di kehidupan rumah tangga ini, semata-mata hanya untuk baby Airumi. semarah-marahnya Aeleasha, Aeleasha gak akan tega pisahin baby Airumi dan kak Kevin ... walaupun berat untuk Aeleasha, Aeleasha akan tetap berlayar walaupun ombak menerjang kapal dengan kuat, Aeleasha akan bertahan selama kapal itu, tak tenggelam. akibat ombak yang berusaha membalikkan kapal, Aeleasha akan menyerah dan pergi hanya di saat kapal itu, sendiri yang terbalik bukan sebab ombak yang menerjang.
BERTEMBUNG..
Note: jangan pada protes yehh "kok. alurnya gini, sih. bla-bla." biarin aja, gue yang nulis. mau lo baca silakan baca! mau kagak lo baca kagak masalah.