
Zi pun melangkah memasuki rumah, dia harus segera bersiap untuk pulang ke kampung, dan melaksanakan pernikahan yang selama tiga tahun ini dia nantikan.
'Semoga saja rumah tangga Zi, tak. sama dengan nasib rumah tangga Aeleasha, aamiin.' doa batin Aeleasha.
Setelah beberapa saat Aeleasha kembali ke dalam rumah, kebetulan ini sudah siang. dirinya juga sangat lapar, belakangan ini dirinya selalu tak nafsu makan.
"Kok, sepi," ujar Aeleasha, pada ibu yang sedang menyiapkan makan siang. "Ayah. dia sedang tidak enak badan, kalo. Denisa. dia sedang keluar," jawab ibu masih sibuk menata piring, padahal yang makan hanya dua orang.
Aeleasha mengerutkan alisnya. "Denisa keluar, keluar ke mana?" Tanya Aeleasha lalu duduk di kursi. "Katanya tadi, mau nganter makan siang buat, Nak Kevin."
Deg.
Nganter makan siang? Aeleasha saja tidak pernah mengantar makan siang untuk Kevin, karena biasanya Kevin akan makan bersama klien-nya setelah meeting, kalo tidak ada meeting. dia pulang hanya sekedar untuk makan siang, dan bermanja-manja pada Aeleasha.
"Bu!" Panggil Aeleasha. "Hem." Dehem ibu. "Aeleasha, kok. takut, ya." Aeleasha menatap ibu yang juga menatapnya. "Takut apa?"
"Mungkin gak, sih. Bu lama-lama kak Kevin akan jatuh cinta sama Denisa, dengan perhatian yang dia tunjukkan untuk kak Kevin. seperti istri pada umumnya," ujar Aeleasha mengambil beberapa lauk.
"Wajar Denisa bersikap seperti itu, dia pasti belajar bagaimana kewajiban seorang istri. dalam melayani suami itu, kan dijelaskan di agama kita. bagaimana istri bersikap pada suami, begitupun sebaliknya. Denisa, kan juga lebih dewasa dari Aeleasha. wajar jika dia menunjukkan kedewasaannya sebagai seorang istri, kalo. soal, Nak Kevin akan jatuh cinta atau tidak. itu, tergantung bagaimana perasaan yang dia miliki untuk Aeleasha, jika perasaan cintanya lebih besar kepada Aeleasha, ibu. yakin, Nak Kevin nggak akan pernah jatuh cinta sama Denisa. sebesar apapun usahanya," jelas ibu memegang tangan Aeleasha.
"Tidak ada yang tidak mungkin, Bu," ujar Aeleasha menyuapkan nasi ke mulutnya.
Ibu hanya tersenyum, wajar Aeleasha memiliki kekhawatiran terhadap Denisa yang mungkin saja, akan bisa menaklukkan hati seorang Kevin, tapi. itu, semua kembali lagi kepada kepercayaan diri. Jika, memang suatu saat nanti Kevin akan jatuh cinta terhadap Denisa, Aeleasha yang akan mundur walaupun berat, tapi yang namanya hati tidak akan pernah bisa dipaksakan, lebih. baik, dia mundur walaupun berat. asalkan dia, tak merasakan sakit. karena melihat orang yang dia cintai bersama dengan orang lain.
Tok! Tok! Tok!
"Masuk!"
"Assalamualaikum, mas."
"Wa--walaikumssalam, Denisa!" Kaget Kevin, Denisa hanya tersenyum dibalik cadarnya. Denisa melangkah mendekati Kevin dengan rantang di tangannya.
"Kamu, kok. Bisa di sini?" Tanya Kevin bangkit dari duduknya.
"Iya, mas. ini aku mau nganterin makan siang," ujar Denisa meletakkan rantang di atas meja.
"Padahal gak usah, ini juga saya mau pulang," ujar Kevin dengan wajah datarnya.
Kevin berusaha untuk cuek terhadap Denisa, karena dia tidak ingin jika suatu saat. Denisa memiliki perasaan padanya, dan Kevin tidak bisa membalas perasaan itu, Denisa tidak akan terlalu sakit mengetahui kenyataannya, lagi pula pernikahan ini hanya sementara.
"Tapi, mas. aku udah jauh-jauh, loh bawain ini, ini juga aku yang masak," ujarnya dengan tatapan sedih.
Kevin paling benci dengan ekspresi wajah seperti itu, karena dia tidak akan tega, pasti merasa bersalah jadinya. Argh!
BERTEMBUNG...