
Pagi tiba, ambulance sudah menunggu di luar hutan. Sedangkan beberapa bodyguard dan perawat memasuki hutan untuk membawa Aeleasha ke rumah sakit, agar keadaannya tetap stabil dan sekaligus memeriksa keadaan baby Airumi.
Aeleasha sudah berada di dalam ambulance bersama baby Airumi, dan bersiap untuk pergi.
"Sayang, kamu ke rumah sakitnya ditemani Zidan dulu, ya?" ujar Kevin mengelus rambut Aeleasha.
"Kakak, mau ke mana?" tanya Aeleasha.
"Balik lagi ke dalam hutan, Kakak harus pastiin bahwa Ayah, ibu, selamat dan baik-baik aja," ujar Kevin tersenyum manis.
"Yaudah, kakak. Hati-hati ya? Terus jangan lupa, ketemuin Aeleasha sama ibu dan ayah," lirih Aeleasha, Kevin mengangguk kemudian menci*m kening Aeleasha.
"Zidan, kamu jagain Istri dan anak saya baik-baik, pastiin keadaan keduanya selamat, kalo. Ada apa-apa langsung telpon!" tegas Kevin pada asisten pribadinya Zidan.
"Baik Tuan, Kalo ada apa-apa pasti saya kabari," ujar Zidan.
"Bagus."
Zidan dan ambulance sudah berjalan meninggalkan area hutan, Kevin pun kembali masuk dan menemui anak buahnya di rumah yang terdapat kedua orang tua Aeleasha.
Sampai sana, Kevin melihat beberapa anak buahnya sedang berjaga di luar rumah kosong itu.
"Selamat pagi, Tuan," ujar para bodyguard tersebut dengan ramah, dan membungkukkan badannya.
"Hmm."
"Gimana? Apa kedua mertua saya baik-baik aja, dan siapa yang sudah menculiknya? Apa mereka tertangkap?" tanya Kevin bertubi-tubi.
"Untuk kedua orang tua, Nona Aeleasha Baik-baik saja, Tuan. Mereka sedang makan di dalam kalo. Untuk orang yang sudah menculik mereka, mereka berhasil kabur Tuan," jelas salah satu bodyguard.
"Si4l! Pokonya, saya tidak mau tau. Kalian harus terus mencari siapa pelakunya," ujar Kevin, semua anak buahnya mengangguk.
Kevin pun memasuki rumah tersebut dan terlihatlah kedua orang paruh baya. Yang sedang menikmati makanan yang dibelikan oleh anak buahnya, mereka terlihat kurus dan tidak terawat.
"Tuan," ujar anak buahnya yang berjaga di dalam, kedua orang tua Aeleasha menoleh dan mereka langsung berdiri.
"Ayah, Ibu, apa kalian baik-baik saja?" tanya Kevin menghampiri kedua pasangan paruh baya itu.
"K--kami baik," jawab keduanya.
"Anda siapa?" tanya Ibu Aeleasha.
"Maaf ... Itu, adalah. Tuan Kevin Soxukai orang yang sudah menyelamatkan kalian berdua," jelas anak buah Kevin.
"B--benarkah?"
"Iya," jawab Kevin.
"Terima kasih banyak Tuan. Kami benar-benar berterima kasih," ujar Ayah Aeleasha menyatukan kedua telapak tangannya.
"Sama-sama."
"Kalo begitu. Mari ikut saya, kita pulang!" ajak Kevin, kedua orang tua Aeleasha saling pandang.
"T--tapi k---"
"Apa kalian tidak ingin. Bertemu Aeleasha?."
"A--eleasha, p--putri. Kecilku," ujar ibu.
"Iya, sekarang dia sudah dewasa dan tumbuh menjadi anak yang cantik dan hebat," ujar Kevin menatap lekat kedua mertuanya.
"Benarkah lalu. Di mana dia sekarang?" tanya Ayah.
"Di rumah sakit," jawab Kevin.
"Apa! Putriku sakit apa?!" panik Ibu.
"Dia, tidak sakit. Hanya habis melahirkan," ucap Kevin.
Deg!
"A--apa melahirkan?!" kaget keduanya.
"I--iya."
"Aeleasha, Putri kita sudah memiliki anak, yah," ujar ibu memegang tangan sang suami.
"Iya, Bu."
"Tapi siapa. Suami Putri kecil kami itu?" tanya Ayah.
Kevin tersenyum. "Saya."
Deg!
"Jadi, Tuan. Ini suami Aeleasha putri saya ?" tanya ibu Marwah.
"Iya, Bu."
"Sama-sama, justru saya senang bisa memiliki Aeleasha," ucap Kevin tersenyum manis.
"Syukurlah."
"Kalo boleh. Tau anak kalian laki-laki atau perempuan Nak?" tanya Ibu.
"Perempuan dan cantik seperti ibunya," ujar Kevin, membuat kedua orang tua Aeleasha ikut tersenyum senang.
"Kalo, begitu. Ayah dan ibu, ikut dengan Ammar pulang ke rumah! Untuk istirahat, besok. Supir pribadi saya akan mengantar ibu dan ayah ke rumah sakit, untuk ketemu Aeleasha," jelas Kevin.
"Tapi kenapa tidak hari ini? Kami sangat rindu dengan Aeleasha," lirih Ibu.
"Ibu, Ayah dan ibu perlu istirahat. Lagipula kalian mau bertemu dengan Aeleasha dalam keadaan seperti ini? Apa Aeleasha tidak akan sedih ... Sebaiknya Ayah dan ibu pulang lebih dulu untuk istirahat! Besok setelah ibu dan ayah lebih baik kita akan bertemu Aeleasha." terang Kevin.
"Nak Kevin benar, Bu kita Jangan menemui Aeleasha dalam keadaan seperti ini," ujar Ayah merangkul pundak ibu.
"Baiklah." Pasrah ibu, walaupun sebenarnya dia sedih. Karena tidak bisa bertemu Aeleasha untuk sekarang, tapi dia senang kini. Mereka punya harapan untuk bersama.
"Ammar, bawa Ibu dan Ayah pulang! Pastikan semua keperluan mereka lengkap, ngerti?!" tegas Kevin.
"Mengerti. Tuan," jawab Ammar—orang kepercayaan Kevin setelah Zidan, yang menjaga kedua orang tua Aeleasha sejak semalam setelah diselamatkan.
"Bagus ... Dan ya. Bawa baju ganti saya ke rumah sakit!" titah Kevin.
"Baik."
"Tuan, Nyonya, mari!" ajak Ammar ramah.
Marwah dan Ferdy menatap Kevin, Kevin pun tersenyum dan memberikan kode mata. Agar keduanya ikut dengan Ammar, kedua orang tua Aeleasha pun pergi mengikuti Ammar.
Setelah kepergian kedua orang tua Aeleasha, Kevin pun menuju mobilnya untuk segera ke rumah sakit.
...----------------...
"Nona, baby Airumi sangat lucu." puji Zidan yang sedang menemani Aeleasha di ruang rawatnya.
"Tentu saja sama, kan kayak Ibunya," ujar Aeleasha dengan PD, membuat Zidan tertawa.
"Iya, tapi hidungnya lebih mancung seperti tuan," ujar Zidan.
"Maksudmu, aku tidak punya hidung!" kesal Aeleasha.
"Maaf Nona, Nona bukan tidak punya hidung hanya saja, pesek," ucap Zidan dia begitu senang menjahili Nona kecilnya ini.
Aeleasha tertawa begitu juga Zidan, mereka benar-benar konyol sejak tadi, mereka terus saja membahas hal-hal yang tidak masuk akal.
"Ekhem." Dehem seseorang, membuat tawa keduanya berhenti dan menoleh.
"Kak Kevin."
"Tuan."
Kevin berjalan menghampiri keduanya dengan tatapan tajam, membuat Aeleasha dan Zidan menelan saliva.
"Maaf, Tuan. Saya tidak bermaksud untuk berduaan dengan Nona," ujar Zidan, dia benar-benar takut Tuanya salah paham.
"Iya, kak. Tadi Aeleasha yang minta Kak Zidan untuk temenin Aeleasha kita enggak bermaksud berduaan," terang Aeleasha yang melihat Kevin seperti sedang marah.
"Benar, Tuan k---" ucapan Zidan terpotong.
"Kalian jahat. Mengobrol tidak mengajakku!" ujar Kevin dengan wajah cemberut, rupanya dia sedang ngambek.
Aeleasha dan Zidan saling pandang kemudian terkekeh. "Uluh-uluh, yang ngambek," ujar Aeleasha meraih tangan Kevin, Kevin pun langsung memeluk Aeleasha.
"Kalian tertawa-tawa diatas penderitaanku," ujar Kevin memanyunkan b1b1rnya.
"Memangnya Tuan, menderita kenapa?" tanya Zidan.
"Kalian tidak lihat? Aku hanya memakai jaket, celana kotor, rambut lepek, wajah kusam!" kesal Kevin.
Aeleasha tertawa kecil, Zidan hanya terkekeh melihat tingkah Tuanya. "Yaudah, kenapa Kakak ke sini? Kenapa gak pulang?" Aeleasha mengelus wajah Kevin.
"Aku takut kamu selingkuh," ucap Kevin.
"Selingkuh sama siapa?" tanya Aeleasha.
"Tuhh!" Kevin menunjuk Zidan menggunakan dagunya.
Zidan yang merasa dirinyalah yang disebut Kevin, malah Mengalihkan pandangannya ke arah lain.
"Astaga Kak, ya nggak mungkin," ujar Aeleasha kembali menarik Kevin ke pelukannya.
"Tidak ada yang tidak mungkin," ujar Kevin membuat Aeleasha tertawa, sedangkan Zidan menutup mulutnya karena benar-benar tak habis pikir dengan Kevin.
Mana mungkin, Zidan berani selingkuh dengan Aeleasha. Yang ada bila ketahuan dirinya, hanya tinggal nama.