
Brakk!
Zi dan anak buahnya mendobrak pintu rumah tua tersebut.
Seluruh anak buahnya sudah mengepung rumah tersebut dari segala arah, Zi dan beberapa anak buahnya masuk ke dalam rumah, dan melihat seorang wanita tengah menggendong bayi dan ternyata itu, benar adalah baby Airumi.
Wanita tersebut terlihat panik dengan tindakan yang dilakukan Zi secara tiba-tiba, dia melirik kesana-kemari seolah mencari sesuatu. Dia mundur perlahan.
"Jangan mendekat! jika, kalian mendekat. aku akan melempar bayi ini!" Ancamnya melihat Zi, dan anak buahnya bergantian.
"Jangan g1la anda, cepat serahkan bayi itu, kepada kami," ujar Zi.
"Tidak akan!" Bentaknya.
Zi dan anak buahnya semakin maju, wanita itupun semakin memundurkan langkahnya. tangannya sibuk menekan-nekan sesuatu di layar ponselnya.
"Saya tidak akan macam-macam, tapi berikan bayi itu, kepada saya," ucap Zi langkahnya semakin mendekat, wanita tersebut pun semakin mundur ke arah jendela yang sudah rusak.
"Tidak akan, sebaiknya kalian mundur! jika, tidak. kalian akan mati di sini," ujarnya, Zi membulatkan matanya kala mendengar sebuah suara seperti hitungan mundur.
"Si4l!... bom," ujar Zi setelah mengamati suara nyaring tersebut, dan ternyata itu, adalah bom yang sengaja dipasang jika sewaktu-waktu terjadi, hal seperti ini, mereka benar-benar licik.
Seluruh anak buah yang berada di dalam rumah tersebut langsung waspada, yang mereka pikirkan bukanlah nyawa mereka, tapi nyawa baby Airumi yang masih berada dalam gendongan wanita g1la ini.
Untuk apa coba memasang bom di rumah tua seperti ini, yang sudah pasti jika bom tersebut meledak rumah ini akan hancur, sehancur-hancurnya.
"Cepat serahkan bayi itu," ujar Zi dengan geram.
"Tidak akan ... hahaha, selamat tinggal," ujarnya bersiap untuk melompat keluar, setelah hitungan bom tinggal sepuluh detik lagi.
Zi dengan cekatan langsung melompat ke arah wanita tersebut, dan merebut paksa Airumi dari tangannya, seluruh anak buahnya juga ikut melompat bersama Zi keluar, dari rumah yang akan segera meledak itu.
"Aaaa!"
Brukk!
DUUUAARR!
Zi memeluk erat baby Airumi, Aeleasha menutup telinganya kala suara ledakan besar terjadi, di depan matanya.
Rumah tua tersebut hancur oleh ledakan bom yang meledak itu, Zi melihat baby Airumi yang berada dalam gendongannya. dia mengucapkan syukur Airumi dan anak buahnya selamat, dari ledakan bom yang dipastikan itu, adalah bom bunu*h diri.
Aeleasha langsung berlari ke arah Zi yang jaraknya tidak terlalu jauh dari tempatnya berdiri.
"Airumi." Aeleasha langsung mengambil Airumi dari gendongan Zi, dia menc1um setiap inci wajah Airumi. dia bersyukur anaknya tidak apa-apa.
"Zi, apa kamu baik-baik aja?" Tanya Aeleasha melihat Zi yang bangkit dengan sedikit tertatih-tatih.
"Saya tidak apa-apa Nona, nona sendiri?" Tanya balik Zian.
"Aku gak papa," jawab Aeleasha.
"Syukurlah." Zi mengusap dadanya lega.
"Tuan Zi, bagaimana dengan wanita yang menculik nona muda? dia masih ada di dalam," ujar salah satu anak buahnya.
"Iya, tapi percuma rumah itu, sudah hancur dan bisa dipastikan wanita itu, juga ikut hancur bersama rumahnya," ujar Zi menatap rumah yang sudah hancur akibat bom bun*h diri.
"Apa! jadi, yang culik Airumi itu, perempuan!" Kaget Aeleasha.
"Iya, Nona, tapi kami masih harus menyelidikinya. takutnya dia orang suruhan," ucap Zi.
Aeleasha mengangguk mengerti, dia memandang wajah Airumi yang tertidur di gendongannya. Aeleasha benar-benar bersyukur, anaknya selamat. Kevinn juga pasti senang karena bidadari kecilnya selamat sekarang.
Saat ini Kevin berada di KUA terdekat, bu Susi memaksa untuk Kevin menikahi Denisa hari ini juga, dan segera membawa Denisa pergi dari rumahnya, Kevin sempat menolak karena dia berfikir untuk berbicara dulu dengan Aeleasha, dan menanyakan tentang Airumi apakah anaknya selamat dan baik-baik saja, tapi bu Susi sama sekali tidak mengizinkannya, Bu Susi malah kembali mengancam Kevin.
Dia benar-benar bingung apakah keputusannya ini benar?