
Ayah dan ibu membawa Aeleasha memasuki kamar, mereka mendudukkan Aeleasha di tepi ranjang. Aeleasha masih terus saja terisak. rasanya hatinya begitu hancur, Aeleasha membayangkan memiliki madu saja, tidak. Ini tiba-tiba dia harus mengetahui sebuah fakta bahwa dirinya memiliki madu.
Aeleasha tak, sanggup jika harus berbagi ... Kevin itu, hanya milik Aeleasha dan baby Airumi. apa Aeleasha akan bisa berbagi suami dengan orang lain.
Ayah dan ibu pun mulai menceritakan tentang kejadian yang sebenarnya, ayah dan ibu menceritakan sesuai dengan yang Kevin ceritakan. Bahwa Kevin pun terpaksa menerimanya.
Aeleasha hanya menatap kosong ke depan, sambil terus mendengarkan cerita ayah dan ibunya.
Aeleasha akui Kevin memang tidak sepenuhnya salah, setelah mendengar cerita ibu dan ayahnya, tapi tetap saja, rasanya batin Aeleasha menolak keputusan itu, kenapa harus Kevin yang menikahi Denisa? kenapa tidak orang lain saja.
"Jika pada saat itu, Aeleasha ada di sana. Aeleasha lebih memilih Mas Kevin di penjara," ujar lirih Aeleasha dengan suara serak, pandanganya masih menatap lurus ke depan.
"Ibu pun pasti akan melakukan itu, tapi ketakutan Kevin adalah dia tidak bisa jauh dari kamu, dan juga baby Airumi, jika dia sampai masuk penjara," ujar ibu memegang pundak Aeleasha.
"Bukankah jika, Mas Kevin menikah dengan Denisa. dia juga akan tetap jauh dengan Aeleasha dan Airumi, karena dia harus bisa adil dengan keduanya." Aeleasha beralih menatap ibunya tatapannya masih sama, kosong.
Ibu bungkam, dia bingung bagaimana cara menjelaskan ini kepada Aeleasha, Aeleasha sama saja dari dulu, jika menghadapi masalah selalu pakai logika, jika masalah yang dihadapi tidak masuk logika. Aeleasha akan terus saja keras kepala.
"Ayah, yakin. kamu akan bisa memahaminya nanti," ujar Ayah mengelus rambut Aeleasha.
Aeleasha hanya diam, pandangannya kembali menatap lurus ke depan.
Ayah dan ibu pun memutuskan untuk keluar, dan membiarkan Aeleasha tenang lebih dulu.
"Iya, Nak." Ibu menjawab sambil mengusap tangan Kevin, kemudian Ayah dan ibu melangkah pergi.
Ceklek!
Kevin memasuki kamar, dia melihat Aeleasha sedang duduk di tepi ranjang, dengan tatapan kosong. tangannya tak henti meremas ujung baju.
Kevin memalingkan wajahnya, dia begitu tidak tega melihat Aeleasha seperti ini. rasanya dunia serasa menghimpit dadanya, saat melihat Aeleasha seperti itu.
Kevin berjalan mendekati Aeleasha. dia bersimpuh di hadapan Aeleasha, Kevin memegang tangan Aeleasha. "Sha!" Panggil Kevin, tapi Aeleasha tetap diam tatapannya masih kosong.
"Maafin saya ... Saya janji, saya hanya milik kamu seutuhnya Aeleasha, saya tidak akan menyentuh Denisa. Pernikahan ini hanya sementara, jika Denisa sembuh. maka saya dan dia akan bercerai, kamu jangan khawatir, ya," ucap Kevin menatap lekat Aeleasha, yang ditatap tetap sama sejak tadi.
Kevin menc1um kening Aeleasha. "Cuma kamu, cinta, hidup, saya, selamanya ... enggak akan pernah ada orang lain, yang mengisi hati ini selain kamu," ujar Kevin memeluk Aeleasha, Aeleasha hanya diam merasakan kehangatan pelukan Kevin. Yang dia fikir mungkin tidak akan pernah lagi merasakan pelukan hangat itu, setelah semua yang terjadi, Aeleasha antara senang dan sedih mendengar ucapan Kevin.
"Saya cuma milik kamu."
"Saya janji," ujar Kevin setengah berbisik.
Sekian lama Aeleasha berada dalam dekapan Kevin, Kevin merasakan pelukannya semakin berat. saat dia menunduk dia melihat Aeleasha sudah tertidur, Kevin tersenyum tipis. Mungkin Aeleasha lelah, lelah batin, dan fisik.
Kevin pun membaringkan Aeleasha lalu menyelimutinya, tak lupa Kevin kembali menc1um kening, kedua pipi, dan b1b1r Aeleasha.