
Aeleasha tiba di lokasi Airumi diculik, dia langsung turun dan berlari ke arah sebuah rumah tua.
"Nona!" Panggil Zian.
"Gimana. Apa Airumi baik-baik aja?" tanya Aeleasha.
"Semoga, Nona ... Beberapa anak buah, sedang berusaha menyelamatkan baby Airumi," ujar Zian.
"Terus, di mana kak Kevin?" Tanya Aeleasha melihat sekeliling.
"Tuan tidak bisa ke sini, Nona."
"Kenapa?"
"Kata, Tuan. Dia tidak sengaja menabrak seseorang di jalan. Saat menuju ke sini, dan sekarang Tuan sedang di rumah sakit," jelas Zian.
"Astaga."
Aeleasha mengambil handphone dari tasnya, dan menghubungi Kevin.
"Halo," ujar Aeleasha.
"Halo, sayang."
"Kakak di mana?"
"Kakak di rumah sakit."
"Apa benar yang dibilang Zian, kalo. Kakak nabrak orang?"
"Iya, sayang. Sekarang kakak lagi di rumah sakit."
"Terus kondisinya gimana?"
"Belum tau, dokter masih belum keluar, sayang. Kamu sekarang di mana?"
"Di lokasi Airumi diculik."
"Kamu kenapa ke sana, kalo. Ada apa-apa gimana."
"Maaf, kak. Abis Aeleasha khawatir."
"Kamu di sana sama, siapa?"
"Zian."
"Yaudah, kamu jangan jauh-jauh dari Zian, ya. Kalo ada apa-apa langsung telpon."
"Iya, kak, Aeleasha tutup." Aeleasha langsung mematikan telpon tersebut.
......................
"Gimana keadaan Ayah saya, Dok?" Tanya sang gadis.
"Maaf, mba. Kami sudah berusaha sebaik mungkin, tapi maaf nyawa pasien tidak bisa kami selamatkan, kami turut berduka cita," jelas dokter.
Deg.
"A–ayah saya meninggal, Dok?"
"Iya, mbak yang sabar, ya."
Kevin yang mendengar itu, benar-benar merasa bersalah. Atas ketidak sengaajanya yang dia lakukan.
"Saya, permisi."
"Silahkan, terima kasih Dok," ujar Kevin, dokter tersebut mengangguk lalu melangkah pergi.
"Denisa!" Panggil seseorang.
"Gimana keadaan Ayah?"
"Ayah, udah meninggal Bu," lirih gadis tersebut yang sudah menangis tersedu-sedu.
"Apa, kok. Bisa sih, hah!" bentak wanita paruh baya itu.
"Pasti kamu, ya. Yang menyebabkan suami saya meninggal!" Bentak wanita paruh baya tersebut, menunjuk Kevin.
"Maaf, Bu. Saya tidak sengaja," ujar Kevin.
"Maaf kamu bilang, emang maaf kamu bisa menghidupkan suami saya lagi!" Bentaknya.
"Saya, benar-benar minta maaf." Kevin menundukkan kepalanya, dia benar-benar merasa bersalah karena dia, suami dari wanita paruh baya itu, meninggal.
Kevin terkejut atas ucapan wanita paruh baya di depannya. "Tolong, saya akan bertanggung jawab, dan kasih uang berapapun yang ibu mau, tapi tolong maafkan saya, dan jangan laporin saya ke polisi, saya benar-benar tidak sengaja tadi, say---"
"Cukup!" Bentaknya. "Kita bicarakan ini lagi nanti, setelah saya menguburkan jenazah suami saya," ujar lagi.
Kevin hanya mengangguk pasrah, semoga saja nanti dia bisa berbicara baik-baik kepada keluarga korban, dan tidak membawa polisi dalam hal ini.
...----------------...
"Tuan Zian, cepat ke mari!" Panggil anak buah Zian.
"Nona, sebaiknya Nona tetap di sini, biar saya yang ke sana," ujar Zian.
"Tapi---"
"Nona, ini bahaya sebaiknya Nona tetap di sini jika terjadi, sesuatu. saya bisa mengandalkan Nona untuk meminta bantuan," ujar Zian berusaha meyakinkan Aeleasha.
"Baiklah, kamu hati-hati!" Peringat Aeleasha.
Naga mengangguk, kemudian berlari ke arah anak buah yang tadi, memanggilnya.
Saat ini perasaan Aeleasha campur aduk, rasanya antara khawatir dengan Airumi, dan juga merasa akan ada sesuatu yang menimpa rumah tangganya, walaupun dia tak tahu apa itu, yang pasti perasaannya begitu campur aduk.
"Tuan Zi, kami mendengar suara tangisan bayi," ujar salah satu anak buahnya.
"Di mana?" Tanya Zian.
"Di sana, Tuan." Tunjuk anak buahnya.
Zian dan anak buahnya segera berjalan menuju tempat yang dimaksud, dan memang benar. ketika Zian semakin mendekat terdengar suara tangisan bayi.
"Apa yang harus kita lakukan, Tuan. apa kita langsung masuk, dan selamatkan Nona muda?" Tanya anak buahnya.
"Tidak! Kita tidak boleh gegabah, sesuai dengan pesan Tuan. kita harus tetap hati-hati, apa lagi ini menyangkut nyawa Nona muda," jelas Zian mewanti-wanti anak buahnya agar tidak gegabah, sepertinya orang yang menculik baby Airumi bukan orang sembarangan.
Zian mendekati suara tangisan bayi tersebut, dia mengintip di balik jendela yang sudah rusak. Zian melihat seorang wanita tengah berusaha menenangkan bayi tersebut.
Zian masih berusaha untuk melihat wajah bayi yang menangis itu, dia hanya ingin memastikan itu, benar baby Airumi atau bukan. Walaupun memang lokasi baby Airumi diculik adalah di tempat ini, tapi tetap saja dia harus memastikan semuanya agar tak salah langkah.
......................
Di sisi lain, Kevin tengah berada di kuburan karena siang ini juga, jenazah orang yang tak sengaja dia tabrak di kuburkan.
Dia benar-benar merasa bersalah atas ketidak sengaajanya, semoga saja pihak keluarga mau menerima maaf darinya.
"Kamu," ujar wanita paruh baya menunjuk Kevin.
"Iya, Bu."
"Kamu harus tanggung jawab, karena kamu suami saya meninggal, siapa yang akan membiayai hidup kami? ditambah anak pembawa si4l ini, yang penyakitan. dari mana biaya berobatnya. jika, Ayah nya saja sudah di alam baka!" Bentak Susi—istri dari orang yang ditabrak Kevin.
Kevin hanya menatap iba seorang gadis bercadar yang menangis sesenggukan, bukannya menenangkan sang anak. yang begitu terpukul atas meninggalnya sang Ayah, ibunya malah memikirkan kedepannya, dan malah mengatakan anaknya sendiri anak pembawa si4l.
"Bu, saya janji, saya akan menanggung kehidupan ibu, dan biaya berobat anak ibu. itu," ujar Kevin, dia merasa kasian terhadap gadis itu, sepertinya dia bukan anak kandung dari ibu ini.
"Bagus memang itu, yang seharusnya dilakukan oleh orang yang sudah membuat suami saya meninggal," ujar bu Susi melirik dengan tatapan tak suka terhadap putrinya.
"Tapi bu, kalo boleh jangan usut kasus ini ke polisi," ujar Kevin.
"Kenapa kamu itu, salah!" Bentak bu Susi.
"Tolong bu, saya akan melakukan apapun, tapi tolong jangan penjarakan saya," ucap Kevin, dia tidak takut masuk penjara. hanya saja, bagaimana nasib Airumi dan Aeleasha? jika tau dirinya di penjara, Aeleasha dan Airumi pasti jadi gunjingan orang-orang atas ketidak sengaajanya yang dilakukan Kevin.
Yang Kevin Fikirkan adalah kemungkinan terburuk jika dirinya di penjara.
"Yakin, kamu mau turutin semua permintaan saya?" Tanya bu Susi.
"Iya, bu."
"Kalo gitu, sebagai pertanggung jawaban kamu ... pertama, kamu harus hidupi kebutuhan saya, dua. biayai pengobatan anak si4alan ini sampai sembuh, ketiga. Nikahi anak saya, Denisa."
Deg.
Apa! Menikah, tapi Kevin sudah menikah dengan Aeleasha, mana mungkin dia menikahi anak dari bu Susi.
"Bagaimana? pilihannya ada dua, masuk penjara atau setujui semua permintaan saya," ujar bu Susi bersedekap dada.
Nafas Kevin naik-turun, apa-apa ini. Mana mungkin Kevin setuju untuk menikah dengan anak dari bu Susi ya itu, Denisa.
Bagaimana Aeleasha? Bagaimana baby Airumi?... Argh! Rasanya Kevin ingin berteriak, tapi suaranya tercekat, si4l.
Guys di part selanjutnya, akan lebih menyakitkan dari perpisahan, dan kemat1an, standby Ok