
Di siang hari ini, terlihat awan sedikit mendung. di ayunan taman terlihat seorang wanita mungil sedang melamun, tatapan yang kosong, penuh luka, ketidak relaan, kemarahan, semua bercampur menjadi, satu. tatapannya yang sendu seolah menunjukkan ada luka yang, tak dia tunjukkan kepada orang lain selain dirinya.
Terlihat seorang pemuda yang sejak tadi, memperhatikan gadis tersebut. Sang pria berjalan menghampiri wanita itu.
"Nona!" Panggilnya, sang gadis yang, tak. lain adalah Aeleasha menoleh, dan tersenyum tipis. "Iya," jawabnya, sang pria yang, tak. lain adalah Zi duduk di samping Aeleasha.
"Kenapa duduk sendirian?" Tanya Zi memulai obrolan, setelah sempat beberapa lama hening.
"Gak apa-apa ... Apa, baby Airumi bangun?" Aeleasha balik bertanya karena tadi, Aeleasha meninggalkan baby Airumi yang sedang tertidur. Dia fikir mungkin baby Airumi terbangun. "Enggak, kok. dia masih tidur," jawab Zi pandangannya juga lurus ke depan, memperhatikan bunga-bunga yang mekar dengan indah, serta banyak kupu-kupu yang singgah di setiap tangkainya, bunga mawar merah, dan putih, ada juga beberapa bunga yang kebanyakan hanya bisa tumbuh. di tempat yang dingin, seperti Swiss.
"Ada apa, kok. tumben kamu nyamperin aku?" Tanya Aeleasha karena, tak. Biasanya Zi berbicara dengannya.
"Ini, Nona. saya mau izin," ujarnya menatap Aeleasha yang juga menatapnya. "Izin, izin apa?"
"Saya mau cuti, apa boleh?" Tanya Zi tatapannya kembali lurus ke depan. "Cuti? Memangnya ada apa, kok. tumben kamu mau cuti, dan untuk berapa hari?" Tanya Aeleasha, tumben sekali Zi izin cuti. biasanya saat hari raya pun dia jarang minta cuti, ini tiba-tiba meminta cuti.
Zi menahan senyum malunya, Aeleasha yang melihat itu, semakin penasaran. "I--itu, anu. em, anu itu," ujar Zi gugup. "Anu-anu apa?" Bingung Aeleasha, Zi menghembuskan nafas. "Saya mau cuti sekitar dua minggu, soalnya saya mau nikah," ujar Zi sedikit memelankan kata 'Nikah'.
"Apa nikah!" Kaget Aeleasha, dia tidak pernah tau, jika. Zi memiliki kekasih tiba-tiba, izin menikah. "Iya, Nona. Apa boleh?" Tanyanya melihat ekspresi Aeleasha membuat Zi takut.
Aeleasha menarik nafas panjang. "Boleh," ujarnya, Zi yang mendengar itu, bernafas lega. "Terimakasih Nona." Senang Zi. "Tapi, kok. aku gak pernah tau kamu punya pacar." Aeleasha menatap penuh selidik, Zi hanya tersenyum.
Aeleasha tersenyum senang. "Tapi secepat itu, persiapan menikah itu, kan cukup memakan waktu. Bagaimana pernikahan kalian bisa diadakan besok lusa," ujar Aeleasha.
"Acaranya hanya sederhana, lagi pula Dinda tinggal di desa. rasanya tidak enak jika membuat acara besar-besaran. walaupun saya mampu, tapi dari pihak Dinda sendiri hanya menginginkan pernikahan sederhana," jelas Zi membalas senyuman Aeleasha, terlihat dari wajahnya Zi sangat bahagia.
"Kalo. begitu, aku izinkan ... semoga lancar, ya. acaranya, semoga bisa menjadi, keluarga bahagia ... maaf mungkin aku gak bisa hadir," ucap Aeleasha merasa bersalah. "Tidak apa-apa, Nona. dengan Nona memberi izin. itu, sudah lebih dari cukup."
"Apa kamu sudah, izin. ke Tuan?" Tanya Aeleasha "Sudah Nona, semua sudah beres saya tinggal berangkat."
"Baiklah, hati-hati di jalan!" Peringat Aeleasha.
"Terimakasih. saya pamit, assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumussalam." Zi pun melangkah memasuki rumah, dia harus segera bersiap untuk pulang ke kampung, dan melaksanakan pernikahan yang selama empat tahun ini dia nantikan.
'Semoga rumah tangga Zi, tak. sama dengan nasib rumah tangga Aeleasha, aamiin ya allah.' doa batin Aeleasha.
BERTEMBUNG....