Falling Into Your Smile

Falling Into Your Smile
Part 13



Kevin terkekeh. "Pokoknya, saya. Mau dipanggil Daddy! Bukan papa."


"Daddy Corbuzier?" canda Aeleasha.


"Enak aja, Daddy Corbuzier!" ketus Kevin, sedangkan Aeleasha hanya tertawa renyah.


Saat mereka sedang asik menyantap makanan, tiba-tiba handphone Kevin berbunyi.


"Halo," jawab Raiden.


"..............."


"Apa?!" kaget Kevin, membuat Aeleasha terlonjak kaget.


"..."


"Dari mana, kamu. Dapat info itu?" tanya Kevin.


"..."


"Bagus, terus cari tahu! Pokoknya saya mau denger, kabar baik Minggu depan, ngerti?"


"..."


Tut!


"Siapa, kak?" tanya Aeleasha setelah Kevin mematikan telpon tersebut.


"Ehh?" Kevin bingung harus mengatakan apa kepada Aeleasha.


'sebaiknya jangan saya kasih tau. Dulu deh. Takutnya nanti Aeleasha banyak tanya' batin Kevin.


"Kakak!" bentak Aeleasha membuyarkan lamunan Kevin.


"Hah?...Apa? Kenapa, hah?"


"Kakak, yang kenapa? Orang Aeleasha tanya tadi siapa. Yang telpon? Sampai Kakak kaget gitu," lirih Aeleasha sedangkan Kevin dia berusaha mencari-cari jawaban.


"I--itu, itu? Em ... Asisten saya, dia bilang ada masalah di kantor yang di Korsel." Gugup Kevin.


"Masalah apa? Besar, ya. Masalahnya?" tanya Aeleasha lagi semakin membuat Kevin bingung.


'Aeleasha gak boleh tau dulu, nih. Tapi saya harus jawab apa?' batin Kevin bingung.


"Kak!"


"Hah? Itu, biasalah! Kalo ada problem mereka suka heboh gitu. Mungkin juga, karena saya udah hampir Lima bulan enggak ngontrol kantor secara langsung, g--gitu," ujar Kevin sambil menggaruk Tengkuk lehernya.


"Oh, yaudah kenapa Kakak enggak pergi aja ke Korsel. Nanti kalo masalahnya enggak, kelar-kelar gimana?" Saran Aeleasha.


Kevin mengelus rambut Aeleasha. "Ya, nggak mungkin dong! Saya tinggalin kamu, kamu kan lagi hamil muda, saya khawatir kalo harus ninggalin kamu sendiri," ujar Kevin lirih.


"Enggak! Gak ada yang lebih penting, dari kamu," ujar Kevin membuat pipi Aeleasha memerah.


"Apaan, sih!" kesal Aeleasha dengan pipi merona.


"Apaan, sih! Apaan, sih! Tapi tuh. Pipi merah gitu, kayak abis digigit nyamuk." goda Kevin semakin membuat jantung Aeleasha tak karuan.


Aeleasha menutupi wajahnya dengan kedua tangan mungilnya, dan membuat Kevin terkekeh. "Udah makan! Habis itu, tidur lagi."


"Aeleasha enggak ngantuk! Tadi, kan udah tidur," ujar Aeleasha cemberut.


"Yaudah, gimana kalo habis, ini---" Kevin menaik-turunkan alisnya.


"Apaan?" bingung Aeleasha.


"Itu, loh? Masa kagak tau, sih!" kesal Kevin.


"Itu, apa?"


"Itu?"


"Apa?


"Enggak jadi," ujar Kevin kembali memakan makanannya dengan wajah kesal.


Aeleasha masih terus berfikir apa yang dimaksud Kevin?


...----------------...


Sampai kamar, Kevin langsung mengunci pintu dan tidur membelakangi Aeleasha.


"Kakak kenapa, ya? Masa marah cuma gara-gara itu padahal Aeleasha enggak tau itu-itu apa, Aeleasha masih terus berfikir tentang itu-itu yang dimaksud Kevin.


"Huhhh! Dasar gak peka! Susah, ya. Kalo punya istri polos." Omel Kevin dalam hati.


20 menit, Aeleasha berfikir. Tentang itu-itu yang dimaksud Kevin, Dia baru menyadari apa itu-itu yang dimaksud.


'Ohhh, Aeleasha tau sekarang! Apa yang bikin kak Kevin marah.. Ih! Aeleasha kok. Enggak peka sih!' gerutu Aeleasha dalam hati.


"Kakak!" panggil Aeleasha..


"Hmm?" dehem Kevin masih memunggungi Aeleasha.


"Ih, jangan marah!" ujar Aeleasha mencolek-colek telinga Kevin.


Tapi Kevin tak merespon. "Aeleasha sekarang udah ngerti, kok Maksud Kakak tadi," ujar Aeleasha.


Kevin yang mendengar itu, langsung bangkit dan menatap Aeleasha.


BERTEMBUNG...