
"Kenapa, Sha?" tanya Kevin yang baru memasuki kamar.
"Gak, tau. Kak dari tadi, Airumi nangis terus," ujar Aeleasha, yang masih berusaha untuk membuat baby Airumi tenang. Karena dia terus saja menangis.
"Yaudah, sini." Kevin mengambil alih baby Airumi dari gendongan Aeleasha.
Kevin berusaha untuk menenangkan Airumi, dengan cara menyanyikan lagu sholawat, kadang menyerukan takbir, dan lain-lain.
Aeleasha hanya memperhatikan Kevin dan Airumi, dia tersenyum. Ntah perasaan apa ini, tapi Aeleasha merasakan perasaan yang berbeda dari sebelumnya, dia merasa akan ada kejadian dimana dia mungkin tidak akan melihat Dunia lagi.
'Apapun itu, semoga suatu saat. Kak Kevin tetap bisa bahagia, dan hidup rukun. Dengan atau tanpa aku,' ujar batin Aeleasha.
"Sha!" panggil Kevin membuyarkan lamunan Aeleasha.
"Hah, iya. Kak?" tanya Aeleasha terperanjat dari lamunannya.
"Kamu kenapa?... Ini Airumi udah tidur," ujar Kevin.
"Ohh, iya." Aeleasha mengambil alih baby Airumi, kemudian menidurkannya di box bayi.
Saat Aeleasha hendak melangkah keluar, Kevin langsung menarik Aeleasha ke dalam dekapannya.
"Kenapa?" tanya Kevin, dia seperti melihat sesuatu yang berbeda.
"Enggak papa," jawab Aeleasha berusaha menampilkan senyum di wajahnya.
"Yakin? Kalo kamu ada masalah, cerita aja, oke." Kevin menc1um pipi Aeleasha.
"Oke, kak." Aeleasha membalas menc1um pipi Kevin.
"Duh! Mulai nakal, ya. Sejak kapan kamu berani c1um saya duluan?" tanya Kevin dengan senyuman nakalnya.
"Sejak barusan," jawab Aeleasha dengan polos, membuat Kevin menahan tawanya.
Kevin pun kembali memeluk Aeleasha erat, ntah dia juga merasakan perasaan yang sama seperti Aeleasha, seperti akan ada suatu kejadian yang ntah apa itu.
'Aeleasha, saya harap apapun yang terjadi, kita akan tetap sama-sama,' ujar batin Kevin.
'Aeleasha mau terus kayak gini, selamanya sama Kakak, Aeleasha gak mau pergi jauh dari kakak, semoga tidak ada kejadian yang akan membuat Aeleasha terpisah dengan kakak selamanya,' ujar batin Aeleasha mempererat pelukannya.
Kini keduanya sama-sama merasakan perasaan yang ntah apa itu, keduanya merasakan perasaan tidak ingin berpisah, atau berjauhan. Padahal itu, tidak mungkin, tapi ....
"Aeleasha, sayang." Kevin membuka pintu kamar, Aeleasha yang sedang menulis diary langsung menghentikan aktivitasnya, menutup buku diary, dan memasukkannya ke dalam laci.
"Kamu lagi ngapain?" tanya Kevin.
"Enggak ngapa-ngapain, kok." Aeleasha tersenyum manis.
"Bener?" tanya Kevin memastikan, Aeleasha hanya mengangguk.
"Kakak ngapain cari-cari Aeleasha, apa ada sesuatu?" Tanya Aeleasha mengalihkan pembicaraan.
"Gak ada, saya cuma kangen aja, sama kamu," ujar Kevin memeluk Aeleasha dari belakang.
"Masa kangen, perasaan dari tadi, Aeleasha gak jauh-jauh. Sama Kakak," ujar Aeleasha mengusap rahang tegas milik Kevin.
Kevin membalikkan Aeleasha menghadapnya. "Emang harus jauhan, baru boleh kangen?"
"Gak juga, sih." Aeleasha hanya menyengir kuda.
"Aeleasha, saya boleh jujur?" tanya Kevin kini dia terlihat begitu serius.
"Boleh."
Kevin mengusap kedua pipi Aeleasha. "Muka kamu, kok. Aneh," ujar Kevin.
"Aneh gimana?"
"Kaya lebih putih, terus ada kayak kuning-kuning gitu," ucap Kevin memandang seksama wajah polos Aeleasha.
Aeleasha berdiri, dan menghadap cermin dia memperhatikan wajahnya. "Masa, sih kak? Orang muka Aeleasha biasa aja," ujar Aeleasha masih menatap pantulan dirinya di cermin.
Kevin kembali memeluk Aeleasha dari belakang. "Mungkin tadi, cuma perasaan saya aja, soalnya belakangan ini saya selalu ngerasa ada yang aneh gitu, setiap deket maupun ngeliat wajah kamu," ujarnya sesekali menc1um leher Aeleasha.
Aeleasha tersenyum tipis. "Mungkin umur Aeleasha, udah gak panjang lagi."
Deg.
Ntah apa yang terjadi, tapi setelah Aeleasha mengatakan itu, dia semakin merasakan perasaan yang aneh. Seperti ada sesuatu yang akan terjadi, tapi apa?
"Jangan ngomong gitu, nanti saya sama Airumi gimana?"
Aeleasha hanya bisa tersenyum simpul, dia juga merasakan perasaan yang aneh belakangan ini, seperti tidak ingin jauh-jauh dari Airumi, Kevin, kedua orang tuanya, Aeleasha selalu ingin menatap wajah orang-orang yang dia sayangi, dan cintai berlama-lama, rasanya ... Ntahlah.