Falling Into Your Smile

Falling Into Your Smile
Part 23



Keesokan harinya, sesuai dengan janji Kevin kepada kedua orang tua Aeleasha. Kini Kevin membawa kedua orang tua Aeleasha ke rumah sakit, untuk menemui Aeleasha yang sudah lama tak bertemu.


Ceklek!


"Aeleasha!" panggil kedua orang tuanya.


Aeleasha menoleh ke arah pintu dia tersenyum dan air matanya langsung meneteskan. Ada rindu yang begitu besar didalamnya.


"Ibu, Ayah," panggil Aeleasha dengan suara lirih.


Ayah dan ibu, Aeleasha langsung memeluk Putri satu-satunya dengan penuh rasa rindu. Mereka sama-sama menangis menumpahkan kerinduan.


"Ibu sama Ayah, apa kabar?" tanya Aeleasha setelah melepaskan pelukan yang dia rindukan.


"Kami, b--baik." gugup Ibu.


"Bohong," ujar Aeleasha menatap kedua orang tuanya.


Ayah dan ibu saling pandang. "Kalo kalian baik-baik aja, kenapa kalian kurus seperti ini," ucap Aeleasha kembali menangis, melihat keadaan kedua orang tuanya.


"Maafkan ayah dan ibu, Nak." Ayah memeluk Aeleasha


"Ayah, ibu, sebenarnya siapa yang sudah culik kalian?" pertanyaan itu terlontar begitu saja dari Aeleasha.


Kevin yang mendengar itu hanya menatap intens kedua orang tua Aeleasha, dia sebenarnya ingin bertanya dari kemarin. Namun, dia urungkan.


"Jawab Bu, yah," ujar Aeleasha memegang tangan ibu dan ayah.


"Sebenarnya ceritanya panjang, Nak nanti akan kami ceritakan setelah di rumah," ujar Ayah.


"Tapi, yah ...."


"Aeleasha, udah! Mungkin Ibu dan Ayah masih enggan untuk menceritakannya, biarkan mereka tenang dulu, ya?" ujar Kevin mengelus kepala Aeleasha.


"Iya, kak." Aeleasha tersenyum kepada Kevin.


"Maaf. Ya, Nak." Ibu menunduk sedih.


"Gak papa Bu ... Yang penting sekarang kalian ada di sini sama Aeleasha," ujar Aeleasha tersenyum manis.


Kedua orang tua Aeleasha ikut tersenyum. "Apakah, ini Anak kalian?" tanya Ibu melihat bayi kecil yang cantik tengah tertidur di samping Aeleasha.


"Iya, bu," jawab Aeleasha.


Ibu menggendong baby Airumi. "Lihat, pak Lucu, kan?" ibu memperlihatkan bagaimana baby Airumi begitu cantik.


"Iya, bu Cantik banget sama kayak ibunya," ujar ayah mengelus pipi mulus Airumi.


"Ayah bisa aja," ujar Aeleasha malu-malu.


"Maksud, Ayah ibu kamu Aeleasha." Ayah menahan tawa melihat ekspresi Aeleasha yang terlihat kesal.


"Ciee, ke-pdan." ledek Kevin melihat Aeleasha yang cemberut.


"Aaa! Ayah, jahat." Aeleasha menangis dan memeluk Kevin.


"Dih, ngadu." ledek ibu.


"Kakak." Aeleasha semakin mempererat pelukannya.


Kevin hanya terkekeh, ternyata walaupun Aeleasha sudah menjadi ibu, dia tetap sama seperti Aeleasha yang dulu, cengeng.


"Udah-udah! Yang penting sekarang kita sudah bisa berkumpul lagi," ujar Kevin menghapus air mata Aeleasha.


"Betul itu, Nak," ucap ibu.


"Ayah, ibu, kalian juga akan ikut tinggal di mansion," ujar Kevin.


"Tap---"


"Tidak ada tapi-tapian Bu!" tegas Kevin


Kedua orang tua Aeleasha tersenyum. "Baiklah, sekali lagi terima kasih Tuan," ucap Ayah.


"Iya, Tuan. Ehh, Nak Kevin." ibu tersenyum kikuk.


'Akhirnya, sekarang Aeleasha bisa melihat tawa Ibu dan Ayah lagi.' batin Aeleasha tersenyum.


...----------------...


Satu Minggu kemudian ....


Kini Aeleasha sudah diperbolehkan untuk pulang, karena kondisinya sudah membaik. Begitu juga dengan baby Airumi dia tampak begitu sehat.


"Pelan-pelan!" peringat Kevin membantu Aeleasha untuk bersandar di kepala ranjang.


Ibu menidurkan baby Airumi di box bayi berwarna pink muda itu, dengan beberapa boneka kecil dikiri kanannya.


"Nak, ibu keluar dulu ya? Kalian istirahat," ucap ibu mengelus rambut Aeleasha.


"Iya, bu." Aeleasha dan Kevin mengangguk.


"Kaka, tidur sini!" ajak Aeleasha, Kevin mengangguk kemudian berbaring di pangkuan Aeleasha.


"Sayang!" panggil Kevin.


"Iya," jawab Aeleasha yang asik mengelus kepala Kevin.


"Aku bahagia sekarang. Keluarga kita lengkap," ujar Kevin menatap lekat Aeleasha


"Aku?" beo Aeleasha dengan senyuman meledek, ya baru pertama kali mendengar Kevin berbicara menggunakan kata 'Aku'.


"Ma--maksudnya, saya." Kevin menjawab dengan ekspresi gugup.


Aeleasha menahan tawanya melihat ekspresi Kevin." Kalo, mau Pake 'Aku kamu' juga gak papa," ujar Aeleasha.


"Enggak, ah. Bukan saya banget!" ketus Kevin.


"Yeahhh." Aeleasha hanya tertawa sambil terus memandang wajah tampan Kevin.


Lama-kelamaan tatapan mereka semakin dalam, membuat Aeleasha perlahan menundukkan kepalanya dan semakin mendekatkan wajahnya ke wajah Kevin, Kevin memejamkan matanya. Dia menanti apa yang akan Aeleasha lakukan kepadanya.


Semakin dekat, dan ....


"Oek! Oek! Oek!" baby Airumi menangis dengan kencang, membuat aksi kedua orang tuanya terhenti.


Kevin menatap Cemberut Aeleasha, Aeleasha hanya tertawa melihat wajah Kevin yang kesal.


"Udah gih. Gendong baby Airumi!" titah Aeleasha, Kevin dengan wajah cemberutnya bangkit dan menggendong baby Airumi.


"Kamu, ya. Gangguin aja, hem. Gemes pengen Daddy gigit." Kevin menci*mi baby Airumi dengan gemas karena telah menggagalkan aksi romantisnya.


Sedangkan baby Airumi langsung berhenti menangis dan terkikik geli, saat Kevin menci*mi seluruh wajah dan perutnya.


"Udah, kak kasian baby-nya," ujar Aeleasha terkekeh melihat kelakuan Kevin.


"Dia aja, gak kasian sama saya!" kesal Kevin.


"Wajarlah, bayi suka nangis tiba-tiba." Aeleasha mengambil alih baby Airumi dari gendongan Kevin, Aeleasha kasian melihat anaknya yang cekikikan karena ulah Kevin sampai wajahnya merah.


"Uluh-uluh! Kenapa cantik? Digangguin Daddy, ya. Biar nanti Daddy, Bunda pukul," ujar Aeleasha berbicara pada baby Airumi yang menatapnya dengan tatapan polos khas bayi.


"Mau, dong. Dipukul Bunda," ujar Kevin memeluk Aeleasha dari samping.


"Tuh, Daddy sendiri yang nawarin, pukul nih ... Pukul, ya?" ujar Aeleasha mengangkat satu tangannya yang siap-siap seperti ingin memukul Kevin.


Tapi baby Airumi malah menangis kencang, seperti tidak ingin Daddy-nya dipukul oleh Bunda-nya, yaitu Aeleasha


"Tuh, kan baby Airumi. Aja, gak mau daddy-nya yang ganteng ini dipukul," ujar Kevin mengambil baby Airumi dari gendongan Aeleasha.


"Iya, deh." Aeleasha bersedekap dada, melihat kedua orang yang begitu berarti dalam hidupnya, setelah ayah dan ibunya.


"Gembul-gembul." Kevin terus saja menci*mi baby Airumi, sampai baby Airumi terkikik geli khas bayi sampai wajahnya kembali memerah.


Aeleasha tertawa bahagia melihat itu, semoga saja kebahagiaan ini gak akan pernah hilang.