Falling Into Your Smile

Falling Into Your Smile
Part 30



Dia benar-benar bingung apakah keputusannya ini benar?


Aeleasha, dia pasti akan sangat terpukul, dan sedih. bagaimana juga dengan kedua mertuanya? Apakah mereka akan membenci Kevin karena telah memberikan Aeleasha seorang madu, tanpa sepengetahuan Aeleasha maupun mereka. sebagai kedua orang tua istrinya itu, bagaimana reaksi mereka nanti.


"Bagaimana, sudah siap?" Tanya pak penghulu membuyarkan lamunan Kevin.


Kevin mengangguk ragu, dan menjabat tangan pak penghulu dengan ragu, dia kembali teringat ketika dulu dia menikah dengan Aeleasha. tampak senyuman terpancar dari keduanya, tapi kini senyuman itu, tidak ada. Yang ada hanya perasaan cemas dan takut.


"Saya nikahkan, dan kawinkan engkau Kevin Soxukai. Dengan saudari Denisa Aisyah Putri, dengan mas kawin uang tunai sebesar tiga juta rupiah. dibayar tunai."


"Saya terima nikahnya, Song Sho---" Kevin memejamkan matanya, kala menyebut nama Aeleasha, dia kembali dihantui perasaan bersalah pada orang yang begitu dia cintai.


"Bisa kita ulang?" Tanya pak penghulu.


Kevin menghembuskan nafas berat. "Iya," lirih Kevin.


"Saya nikahkan, dan kawinkan engkau Kevin Soxukai. dengan saudari Denisa Aisyah Putri, dengan mas kawin uang sebesar tiga juta rupiah dibayar. tunai."


"Saya terima nikah, dan kawinnya Denisa Aisyah Putri. dengan mas kawin tersebut tunai."


"Sahh."


Denisa menc1um punggung tangan Kevin, Kevin dengan ragu menc1um kening Denisa. Dia kembali teringat Aeleasha dulu Kevin melakukannya dengan senang hati, tapi kini dia melakukannya dengan keraguan, Aeleasha maafkan saya karena telah melakukan kesalahan yang pastinya akan membuat kamu marah, saya terpaksa. apakah saya bisa adil terhadap kamu dan juga Denisa? Arghh! Kevin saja tidak pernah yang namanya belajar ilmu berpoligami, ini tiba-tiba dia menikah untuk kedua kalinya, apa dia sanggup berlaku adil?


Kevin memejamkan matanya, dia kembali terbayang wajah Aeleasha, 'brengs3k lo Kevin, beraninya lo nyakitin hati orang yang cintanya begitu tulus buat lo, lo laki-laki brengs3k.' batin Kevin terus mengumpat atas keb0dohan yang dilakukannya, keputusannya untuk menikahi Denisa benar-benar b0doh, ah si4lan! Bagaimana perasaan Aeleasha? Apa dia akan terima Kevin menikah tanpa izin darinya, tanpa sepengetahuannya, lo laki-laki paling brengs3k di dunia, Kevin Soxukai!


"Sekarang kalian berdua sudah, sah menjadi, pasangan suami, istri selamat, ya." Pak penghulu menyalimi tangan Kevin, kemudian melenggang pergi meninggalkan Kevin yang masih termenung atas keputusannya.


"Tuan Kevin, sekarang silakan bawa Denisa pergi, dan kenalkan dia kepada istri pertama anda. semoga saja, Denisa tidak di hina-hina dan diusir oleh istri pertamamu," ujar bu Susi, dia seakan mendoakan agar Denisa diperlakukan buruk oleh Aeleasha.


"Istri saya, bukan tipe orang seperti itu," jawab Kevin dengan ekspresi datar.


Mendengar ucapan bu Susi, Kevin jadi, semakin takut akan reaksi Aeleasha. apa mungkin yang dikatakan oleh bu Susi benar, Aeleasha yang selama ini begitu polos, dan menggemaskan bisa menjadi, singa yang mematikan? Rasanya tidak mungkin.


"Sebenarnya apa tujuan ibu menyuruh saya menikah dengan Denisa. Jika, ujung-ujungnya, ibu malah mendoakan istri pertama saya berlaku buruk terhadap Denisa" ujar Kevin seakan paham apa yang ada dalam isi pikiran bu Susi.


"Tidak ada, saya kan hanya berbicara kemungkinan," ujarnya.


Kevin hanya memutar bola matanya malas, dan jengah dengan sikap bu Susi yang menurutnya penuh dengan tipu muslihat.


"Ayo, Denisa kita pergi!" Ajak Kevin.


"B--baik, mas."


"Ibu, Denisa pamit, ya. makasih selama ini ibu sudah mau menerima Denisa di rumah, dan sudah mengurus Denisa, maaf. jika selama kehadiran Denisa membuat ibu repot," ujar Denisa menatap sang ibu, yang hanya memandangnya tak suka.


"Saya menerima kamu juga, cuma demi bapak kamu itu, jika bukan karena dia. sudah saya buang kamu ke panti asuhan," ujar bu Susi dengan tatapan j1j1k.


Denisa hanya bisa beristighfar dalam hati. atas makian ibunya ini, sekarang dia lega dirinya tidak akan lagi merepotkan ibunya.


"Ayo, Denisa!" Panggil Kevin yang sudah menunggu di mobil.


"I--iya, mas." Denisa menyalimi tangan ibunya, dan hanya dibalas deheman kecil.


"Denisa pamit, assalamu'alaikum," ujar Denisa.


"Wa'alaikumussalam."


"Tuan, jangan lupa setiap bulannya transfer uang, sebesar sepuluh juta!" Terika bu Susi, Kevin hanya mengangguk dingin.