Falling Into Your Smile

Falling Into Your Smile
Part 45



Saat ini Kevin masih terus memikirkan cara bagaimana agar bisa kembali dekat dengan Aeleasha seperti dulu, Kevin rela tak masuk kantor hanya untuk bisa bersama dengan Aeleasha dan baby Airumi, tapi dia bingung sendiri bagaimana caranya? Zi dia pulang kampung karena menikah. Dia harus meminta bantuan siapa?


Akhirnya Kevin pun memutuskan menelepon Zi semoga saja, tidak menganggu pasangan pengantin baru itu.


"Halo, Tuan," jawab Zi di sebrang telpon.


"Halo, Zi."


"Ada apa Tuan telpon saya, apa ada masalah?"


"Tidak, iya. Eh itu," jawab Kevin dia gugup sendiri.


Zi di sebrang sana terkekeh, biasanya orang lain yang akan gugup bila berbicara dengan Kevin. Ini Kevin sendiri yang bicara dengan gugup padanya.


"Ada apa Tuan? Kata, 'kan!"


"Apa tidak menganggumu?" Tanya Kevin.


"Tidak, memangnya ada masalah apa. Apa Tuan membutuhkan bantuan saya di sana? Jika, iya saya bisa kembali ke sana sore ini," ujar Zi dari suaranya sepertinya dia khawatir dengan apa yang ingin dikatakan Kevin.


"Bukan-bukan! Tidak ada masalah apapun, kok. Kamu nikmati saja masa-masa pengantin barumu, tapi aku. Maksudnya saya ingin bertanya sesuatu," ucap Kevin sambil menggaruk kepalanya.


"Baik, ingin bertanya apa?"


"Saya sedang coba untuk kembali dekat dengan Aeleasha, tapi masalahnya saya tidak tau bagaimana caranya. Agar saya bisa kembali dekat dengan dia. Kau tau, 'kan jika Aeleasha sudah marah itu, agak susah untuk dibujuk," jelas Kevin.


"Hmm, benar. Jadi, Tuan ingin menghabiskan waktu bersama nona agar bisa kembali dekat, begitu?"


"Iya, tapi saya tidak tau caranya."


"Kalo, begitu. Kenapa Tuan tidak membawa nona pergi jalan-jalan bersama, tanpa ada orang lain." Saran Zi.


"Kalo, begitu. Aeleasha tidak akan mau dia mana mau jika harus meninggalkan baby Airumi, semenjak kejadian penculikan Airumi. Aeleasha jadi, sedikit posesif jika berjauhan dengan Airumi."


"Kenapa Tuan tidak mengajak baby Airumi dan nona Aeleasha pergi ke pantai, atau taman gitu, ya kayak piknik kecil-kecilan. Jadi, cuma kalian bertiga, tanpa ada bodyguard, tanpa ada orang lain selain kalian. Kalian melakukan banyak aktivitas yang akhirnya bisa membuat kalian dekat lagi Itung-itung, 'kan bisa sedikit membuat nona Aeleasha melupakan kejadian yang terjadi akhir-akhir ini," jelas Zi panjang lebar, Kevin hanya manggut-manggut di sebrang telpon.


"Benar juga, kalo. Begitu saya akan membawa Aeleasha dan baby Airumi pergi ke suatu tempat," ujar Kevin.


"Ke mana?"


"Kau tidak usah tau!" Ketus Kevin.


"Baiklah, sepertinya Tuan hanya bersikap lembut jika ada maunya." Canda Zi.


"Tidak-tidak bukan begitu, aku Maksudnya saya sangat berterima kasih padamu," ucap Kevin, jika Zi bisa melihat ekspresi Kevin saat ini mungkin dia sudah tertawa terbahak-bahak. Wajah Kevin terlihat lucu saat Zi mengatakan itu.


"Iya, saya ngerti, yaudah silakan lakukan semoga berhasil."


"Aamiin, semoga saja Aeleasha mau pergi."


"Semoga."


"Yaudah, saya tutup."


Tanpa mendengarkan jawaban dari sebrang sana, Kevin langsung mematikan telpon tersebut, yang membuat Zi menghembuskan nafas berat. Ternyata kebiasaan Tuannya tidak pernah berubah.


Kevin langsung berlari menuju kamar, di tangga dia bertemu Denisa.


"Mas mau ke mana, kok. Buru-buru?" Tanya Denisa lembut.


"Mas!" Panggil Denisa membuyarkan lamunan Kevin.


"Itu, saya mau meeting dulu," jawab Kevin berlalu dari hadapan Denisa.


"Meeting, kok. Perginya ke kamar Aeleasha," ujar Denisa "Kayanya ada yang disembunyikan, deh."




Tanpa basa-basi Kevin langsung memeluk Aeleasha yang sedang memberikan ASI kepada baby Airumi "Astaga, kak!" Bentak Aeleasha, yang tak habis pikir dengan Kevin.


"Apa?" Bingung Kevin tak berasa bersalah.


"Main peluk-peluk aja, kalo Airumi gak sengaja ke senggol gimana?!" Kesal Aeleasha.


Kevin hanya cengengesan. "Maaf-maaf."


Plak!


Aeleasha menepuk punggung tangan Kevin, saat tangan Kevin asik menoel-noel ... Kalian tau, lah.


"Malah mukul, masa Airumi boleh aku enggak!" Kesal Kevin kembali ke mode Aeleasha ngambek.


"Enggak! Sekarang ini punya Airumi bukan punya kakak," ujar Aeleasha, Kevin yang mendengar itu, memanyunkan b1b1rnya.


"Aeleasha jahat ... Hei, Airumi. Sebelum kamu itu, punya Daddy lebih dulu ... Bukan kamu," ujar Kevin menatap horor baby Airumi yang masih asik meminum ASI.


Tapi sepertinya baby Airumi tidak takut. Dia mahal semakin asik. "Aaa! Aeleasha!" Rengek Kevin kembali bergelayut di lengan Aeleasha.


Aeleasha hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah Kevin. "Udah, lebay banget!" Sinis Aeleasha.


"Ihh, Aeleasha. Aja, kalo ngambek aku bujuk, aku turutin maunya, masa aku yang ngambek malah dibilang lebay!" Kesal Kevin.


Aeleasha menghembuskan nafas berat. "Iya-iya, apa. Mau apa?" Tanya Aeleasha.


"Mau, kita pergi bertiga sama baby Airumi jalan-jalan ke puncak," ujar Kevin memasang wajah menggemaskan.


"Hah! Enggak, ah dingin!" Tolak Aeleasha.


"Ayolah, healing kita healing." Mohon Kevin.


"Enggak!" Kekeuh Aeleasha.


"Aeleasha!" Rengek Kevin berguling-guling kaya anak kecil yang minta dibeliin mainan.


Aeleasha yang melihat tingkah Kevin benar-benar tak habis pikir, ternyata dibalik sikap dingin, cueknya dia punya sifat anak-anak yang menyebalkan.


"Iya-iya, ok, tapi cuma bertiga, 'kan?" Tanya Aeleasha.


"Iya, cuma aku, kamu dan baby kita. Tanpa ada bodyguard dan orang lain termasuk, ibu, ayah, dan Denisa," jelas Kevin. dengan semangat 45.


Aeleasha mengangguk, Kevin menc1um seluruh wajah Aeleasha.


Semoga saja, tidak ada yang menganggu liburannya.


BERTEMBUNG...