Falling Into Your Smile

Falling Into Your Smile
Part 24



Bugh!


Terdengar suara lemparan yang cukup keras ke arah kaca kamar Kevin.


Kevin membuka gorden, dan melangkah menuju balkon, dia menemukan sebuah batu yang dibalut kertas.


"Siapa kak?" tanya Aeleasha menghampiri Kevin di balkon.


"Enggak, tau, tapi ini batu ada kertasnya," ujar Kevin memperlihatkan batu tersebut.


"Yaudah, coba buka," ucap Aeleasha.


Kevin pun membuka kertas tersebut.


Isi surat.


________________________________________


Setelah apa yang kamu lakukan, jangan harap kami diam saja.


________________________________________


Kevin menatap Aeleasha, Aeleasha mengambil kertas dari tangan Kevin, dia menatap surat itu, bingung. Siapa yang mengirimkannya?


"Ini maksudnya apa, kak?" tanya Aeleasha pada Kevin.


"Kakak juga kurang, tau. Yang pasti ini ada hubungannya sama penculikan kedua orang tua kamu," ujar Kevin.


"Terus, kita harus gimana?" Aeleasha menatap sendu Kevin.


"Kamu tenang aja, ya." Kevin menarik Aeleasha ke dalam dekapannya.


...****************...


"Sha, Nak Kevin, ayo makan!" ajak Ibu yang tengah menyiapkan makan malam.


"Iya, bu." Aeleasha duduk bersebelahan dengan Kevin, sedangkan baby Airumi bersama sang baby sitter.


"Ayah, mana Bu?" tanya Kevin.


"Ekhem ... Kayaknya, ada yang kangen Ayah, nih," ujar Ayah dan langsung duduk.


"Ayah, bisa aja," ucap Kevin, Ayah terkekeh.


Kemudian merekapun melakukan makan malam bersama.


"Ibu, Ayah!" panggil Aeleasha disela-sela makan malam.


"Iya, Nak." Ibu dan Ayah menoleh ke arah Aeleasha.


"Kalian belum cerita, soal. Siapa yang udah culik kalian," ujar Aeleasha, Ayah dan Ibu saling pandang.


"Soal itu, kita belum bisa cerita," ujar Ayah.


"Kenapa?" tanya Aeleasha.


"Apa ada yang Ayah sama Ibu sembunyikan, dari Aeleasha?" tanya Aeleasha tampak memanyunkan b1b1rnya.


"Nak---" ucapan ibu terpotong.


"Udahlah, ibu sama Ayah gak, sayang. Sama Aeleasha, sampai gak mau jujur." Aeleasha bangkit lalu pergi menuju kamarnya.


"Ayah, ibu, Kevin nyusul Aeleasha dulu, ya," ujar Kevin, ibu, ayah hanya mengangguk.


"Belum saatnya, Ayah takut Aeleasha syok Bu," ujar Ayah.


...----------------...


Ceklek!


Kevin berjalan mendekati Aeleasha, yang sedang memberi as1 baby Airumi.


"Sayang." Kevin membelai rambut Aeleasha lembut.


"Apa!" ketus Aeleasha.


"Loh, kok. Ngegas." Kevinn terkekeh melihat sikap Aeleasha.


"Udah, sana!" Usir Aeleasha, sepertinya dia sedang dalam mode singa.


"Dek, Daddy diusir Bunda." Adu Kevin menatap baby Airumi.


Saat itu, juga. Baby Airumi menangis seolah mengerti apa yang diadukan daddy-nya.


"Tuh, 'kan baby Airumi aja, gak mau daddy-nya diusir," ujar Kevin menatap Aeleasha yang memanyunkan b1b1rnya.


"Udah dong, jangan marah lagi, ayah, ibu pasti punya alasan untuk gak cerita," ujar Kevin memegang tangan Aeleasha.


"Iya, tapi apa alasannya? Sampai mereka gak cerita, kalo misalnya mereka cerita, 'kan kita bisa langsung masukin orang itu, ke penjara," ujar Aeleasha lirih.


"Kakak, tau, tapi kita juga harus ngertiin ibu dan ayah. Mereka pasti punya alasan, nanti juga mereka pasti akan cerita." Kevin mengelus pipi Aeleasha.


Dorr!


"TUAN, ADA PENYUSUP!" teriak bodyguard yang berjaga.


Kevin yang mendengar itu, langsung bangkit dari tidurnya, dan berlari ke lantai bawah.


"Siapa?" tanya Kevin setelah sampai, dan melihat semua bodyguardnya tengah siaga.


"Kami kurang, tau. Tuan tadi, ada yang menembakkan peluru ke pagar," jelas salah satu bodyguard.


"Kalo begitu, kalian perketat penjagaan di rumah ini, jangan sampai ada orang asing atau sesuatu yang mencurigakan. Jarena saya yakin, ini semua pasti ada sangkut pautnya sama penculikan itu," ucap Kevin menatap semua bodyguardnya, dan anak buahnya.


"Baik, Tuan," jawab serempak mereka.


Kemudian para bodyguard langsung melaksanakan tugas masing-masing, ada yang berjaga di depan pintu, depan gerbang, halaman belakang, samping rumah.


"Zian!" panggil Kevin, Zian pun langsung menghampiri Tuannya.


"Iya, Tuan."


"Saya, mau kamu pasang cctv disemua sudut ruangan di rumah ini, di luar rumah juga, pasang juga alat pendeteksi, jika ada orang yang masuk ke dalam rumah atau mendekati area rumah, bisa ketahuan. Sambungkan semua rekaman cctv dan alat pendeteksi ke laptop saya!" tegas Kevin.


"Baik, Tuan." Zian pun segera pergi, dan melaksanakan perintah Tuannya.


Walaupun di dalam rumah dan di luar rumah sudah terdapat cctv. Namun, Zian ingin semakin memperketat keamanan di rumahnya, apa lagi terdapat bayi, dan kedua orang tua Aeleasha yang harus dijaga.


"Yah, kita harus gimana?"


"Ibu tenang, ayah yakin semua akan baik-baik aja," ujarnya.


Bersambung