
"A--aku cuma mau panggil, mas. buat sarapan," ujar Denisa.
"Iya, nanti saya turun, sekarang kamu keluar dari kamar saya!" Titah Kevin.
"I--iya." Denisa pun keluar dan menutup pintu, sampai di luar. Denisa memegangi dadanya yang deg-degan melihat Kevin tanpa busana tadi, dia senyum-senyum sendiri.
'Mas Kevin ternyata lebih ganteng, kalo. kayak gitu.' batin Denisa.
'Astagfirullah Denisa apaan, sih. ingat-ingat! dia memang suami kamu, tapi dia milik mbak Aeleasha seutuhnya.' batin Denisa berusaha melupakan kejadian tadi.
Denisa menghembuskan nafas, kemudian melangkah menuju meja makan.
Kevin turun langsung menuju meja makan di sana sudah ada ibu, ayah, Aeleasha, dan Denisa, mereka pun memulai sarapan.
Saat Aeleasha hendak bangkit tiba-tiba pergerakannya terhenti. "Aku ambilin, ya. mas," ujar Denisa, Aeleasha kembali mendudukkan dirinya mendengar ucapan Denisa.
Kevin yang melihat itu, merasa tidak enak dengan Aeleasha. karena biasanya Aeleasha yang mengambilkannya, kini malah Denisa, tapi kalo Kevin melarangnya Denisa juga pasti akan sedih.
Denisa mengambilkan lauk-pauk ke piring Kevin dengan senang, saat dia hendak menaruh tumis kangkung Kevin menahan tangan Denisa. "No! Saya, gak suka kangkung," ujar Kevin dengan hati-hati, jangan sampai menyinggung perasaan Denisa.
"Ohh, maaf. mas aku gak tau," ujar Denisa kembali menaruh tumis kangkung tersebut. "Gak papa." Kevin tersenyum, dan dibalas senyuman oleh Denisa.
Mereka pun memulai sarapan dengan hikmat, Aeleasha melihat Denisa dan Kevin saling melempar senyum. Aeleasha ia melihat itu, dari ekor matanya, sebenarnya Denise la yang lebih dulu tersenyum ke arah Kevin mau tidak mau, kan Kevin juga membalas senyuman Denisa, walaupun selama ini Kevin tidak pernah seperti itu, ketika sarapan. dengan Aeleasha sekalipun, hanya saja Kevin merasa tidak enak jika mengabaikan Denisa.
Aeleasha hanya fokus menikmati sarapannya saja, walaupun dadanya bergemuruh.
Selesai sarapan Kevin bersiap untuk pergi ke kantor. "Sha, Kakak berangkat, ya," ujar Kevin menatap Aeleasha. "Iya, hati-hati!" Kevin mengangguk, kemudian menc1um kening Aeleasha.
Aeleasha melihat Denisa yang berada di sampingnya. "Kak!" Panggil Aeleasha, Kevin menghentikan langkahnya. "Apa?"
"Denisa... maksudnya, Kaka gak mau c1um kening Denisa juga?" Tanya Aeleasga ragu. Kevin melototkan matanya, apa Aeleasha meminta Kevin untuk menc1um Denisa? Astaga.
"Tap---"—Aeleasha memotong ucapan Kevin. "Kakak harus adil, karena sekarang istri kakak bukan cuma Aeleasha aja," ujar Aeleasha, Kevin tak habis pikir dengan Aeleasha. Bagaimana mungkin Kevin menc1um Denisa di depannya.
Denisa hanya menunduk malu, dia terus memainkan ujung gamisnya. "Sha---". "Kak." Kevin berdecak kesal, tapi benar yang dikatakan Aeleasha. bagaimanapun Kevin harus bisa adil, setidaknya karena Kevin tidak bisa memberikan Denisa nafkah batin, ya. mau gimana lagi mungkin dengan cara adil dalam hal lain, lebih sedikit menghargai Denisa sebagai seorang istri.
Kevin dengan ragu mendekati Denisa, dan menc1um kening Denisa. Denisa menggigit b1b1rnya dibalik cadar, dia merasa senang. sedangkan Aeleasha, dia memalingkan wajahnya ... Istri mana yang sudi melihat suaminya menc1um orang lain di depannya, tidak ada istri yang sudi melihatnya.
BERTEMBUNG.. Semoga kalian suka gays