
Kevin terus menyusuri jalan setapak yang tadi dia, Lewati bersama anak buahnya, tiba-tiba saat Kevin hendak melangkah keluar dari hutan dia melihat sebuah jejak kaki yang lebih kecil dari jejak kakinya.
Kevin berjongkok dan memperhatikan jejak kaki tersebut. 'Apa mungkin ini, Jejak kaki Aeleasha ya?' batin Kevin bertanya-tanya.
Kevin pun mengukur jejak kaki tersebut dengan jarinya. 'Iya, ini jejak kaki Aeleasha.' Kevin bangkit dan memperhatikan ke mana jejak kaki itu pergi.
"Jejak kakinya ke arah sana! Apa, Aeley pergi ke sana ya? Tapi kalo. Dia ngikutin saya kenapa dia perginya ke sana?... Pasti ada sesuatu yang terjadi," ujar Kevin menatap jejak kaki Aeleasha dalam kegelapan dan hujan lebat.
"Perasaan saya kok, Enggak enak ya?" ujar Kevin merasa gelisah, tiba-tiba dia teringat akan sang bayi yang belum lahir itu.
"Sebaiknya saya, Ikuti jejak kaki itu," ujar Kevin mulai melangkahkan kakinya untuk mengikuti jejak kaki tersebut.
Sedangkan di sisi lain, Aeleasha terus mengerang kesakitan. Dia terus menerus memanggil nama 'Kevin' dia berusaha untuk bangkit, tapi rasa sakit yang dia rasakan benar-benar membuat Aeleasha lemah.
"Kak Kevin, tolong sakit," lirih Aeleasha.
"Apa mungkin kamu udah mau lahir, Nak? Tapi ini belum waktunya," ujar Aeleasha memegangi perutnya.
Rintihan kesakitan dan air mata menyatu bersama derasnya air hujan di malam yang dingin.
"Ya, Tuhan!" teriak Aeleasha saat merasakan perutnya semakin sakit.
Kevin yang sedang berjalan menghentikan langkahnya, kala mendengar suara teriakan seseorang.
"Suara siapa itu," ujar Kevin melihat sekeliling.
"Kok, jadi keinget Aeleasha," ujar Kevin, dia kembali melanjutkan langkahnya.
"Huhh! Sakit ... Tolong!" teriak Aeleasha.
Kevin terus berjalan mendekati suara teriakan yang semakin jelas terdengar.
"Tolong! Siapapun, tolong Aeleasha!" tangis Aeleasha.
"Aakghh," teriak Aeleasha perutnya semakin sakit.
"Astaghfirullah." Aeleasha terus beristigfar berusaha menenangkan dirinya dan mengatur nafas sebaik mungkin.
"Nak, jika ini saatnya kamu mau lahir ke dunia, bunda ikhlas. Walaupun tanpa Daddy kamu di sisi bunda," ujar Aeleasha terisak pilu, apakah dia akan melahirkan buah hatinya seorang diri, dan di hutan yang lebat ini dengan guyuran air hujan.
Aeleasha mengatur nafasnya, sepertinya memang dia akan benar-benar melahirkan di hutan ini seorang diri.
"Aeleasha apa itu, kamu?" ujar Kevin semakin mendekati suara teriakan Aeleasha.
Aeleasha yang sedang mengatur nafasnya menoleh ke belakang dan dengan pencahayaan yang minim dia melihat samar-samar seseorang.
"T--tolong, tolong!" ujar Aeleasha.
"Astaga, Aeleasha!" pekik Kevin langsung menghampiri Aeleasha yang bersandar pada pohon.
"K--kak." Aeleasha memegang tangan Kevin.
"Kamu kenapa?" tanya Kevin.
"Perut Aeleasha sakit kak. Kayaknya Aeleasha mau melahirkan," ujar Aeleasha membuat Kevin terkejut.
"Apa! Bukanya, ini belum waktunya." Kevin menyenderkan kepala Aeleasha ke dada bidangnya.
"Gak tau kak, tapi perut Aeleasha sakit banget!" tangis Aeleasha.
"Iya-iya, kamu tahan bentar, ya." Kevin melirik kesana-kemari, dia melihat satu gubuk bambu yang tidak terlalu jauh dari tempat mereka.
"Sayang, kita ke sana ya!" Kevin mulai menggendong Aeleasha yang basah kuyup.
Kevin berjalan dengan hati-hati dan membawa Aeleasha menuju gubuk tersebut.
Sampai sana, Kevin langsung membaringkan Aeleasha di sebuah tempat tidur yang terbuat dari bambu.
"Kak, sakit!" ringis Aeleasha terus memegangi perutnya.