
"Aeleasha sayang, turun dong!" mohon Kevin
"Enggak!"
"Aeleasha turun! Atau saya pukul?!" ujar Kevin sedikit membentak.
"Kakak jahat," lirih Aeleasha.
"Makanya turun."
"Tapi, Aeleasha enggak bisa turun."
"Masa bisa naik enggak bisa turun sih?"
"Huwwaa! Tolong." tangis Aeleasha.
"Uwa, tolong," ujar Aeleasha pada mang Kosim yang biasa dia sebut uwa.
"Aduh lagian, Nona teh ada-ada saja," ujar mang Kosim.
"Tolongin Wa!" ujar Aeleasha mulai menangis.
Sedangkan Kevin dia hanya menatap datar Aeleasha, salah sendiri sudah tahu tidak bisa turun pake acara naik ke atas pohon.
"Tolongin gimana? Di goyang-goyangin pohonnya kan gak bisa atuh," ujar mang Kosim.
"Uwa naik!" ujar Aeleasha.
Mang Kosim pun naik ke atas pohon. "Lagian Teh Nona, pake acara naik ke atas pohon segala kenapa enggak nyuruh Uwa aja atuh Uwa, mah kalo jatuh tinggal ke rumah sakit," ujar mang Kosim.
"Terus kalo Aeleasha jatuh ke mana?" ujar Aeleasha.
"Nona, mah ke saung sawah." jawab mang Kosim.
"Nona, pegang tangan Uwa! Terus loncat, Tuan tangkap Nona ya?" ujar mang Kosim.
"Hmmm." hanya itu yang keluar dari mulut Kevin.
Kevin pun merentangkan tangannya siap menyambut Aeleasha
"Aaaaa!" teriak Aeleasha.
Happ!
Aeleasha berhasil melompat ke gendongan Kevin.
"Kakak." Aeleasha langsung memeluk leher Kevin.
"Jangan ulangi lagi ya?" ujar Kevin menatap dingin Aeleasha.
"Iya."
Kemudian Kevin membawa Aeleasha masuk ke dalam rumah.
Tiga bulan kemudian ....
Kini Aeleasha sedang melakukan USG ditemani Kevin.
"Wah babynya cewek," ujar Dokter tersebut.
Kevin tersenyum tipis, melihat sang jabang bayi yang terlihat begitu aktif seperti Mama-nya.
"Huwaaa!" tangis Aeleasha membuat panik Dokter dan Kevin.
"Kenapa mbak?" tanya Dokter.
"Sayang kenapa?"
"Babynya cewek!" tangis Aeleasha.
"Terus?" bingung Kevin.
"Kan Kakak, pengen bayinya cowok tapi ternyata bayinya cewek Nanti kakak marah sama Aeley!" tangis Aeleasha membuat Kevn tertawa kecil.
"Mau cewek atau cowok yang penting bayinya sehat, Kamu juga sehat," ujar Kevin menghapus air mata Aeleasha.
"Jadi Kaka enggak bakal usir Aeleasha dan buang babynya kan?" ujar Aeleasha membuat gelak tawa Dokter dan Suster, mereka tertawa melihat tingkah Aeleasha yang menggemaskan.
"Enggak sayang." Kevin memeluk Aeleasha, Kevin memang pernah mengatakan bahwa dia ingin memiliki anak laki-laki, tapi bukan berarti jika Anak yang dikandung Aeleasha perempuan. Kevin akan membuangnya mana mungkin Kevin tega membuang anaknya sendiri.
BERTEMBUNG...
Klik link ini ya 👉 untuk sukai halamannya karena di sana sudah part 36 https://www.facebook.com/103674679056352/posts/115421561214997/?flite\=scwspnss
[4/1 11.15] Saia: #Gadis_Imut_Milik_CEO_Dingin
#Part_26
"Kak!" panggil Ara.
"Kenapa?"
"Gimana, soal. Perkembangan pencarian kedua orang tua Ara, apa udah ketemu?" tanya Ara dengan wajah sedih.
"Belum, sayang," lirih Raiden.
Ara menghela nafas. "Bukanya waktu itu, anak buah Kakak udah nemuin lokasi mereka, ya?" ujar Ara.
"Iya, sih, tapi ternyata orang yang udah culik kedua orang tua kamu itu, tau, dan mereka membawa kedua orang tua, kamu pergi, ntah. Kemana," jelas Raiden.
"Tapi kamu jangan khawatir, anak buah Kakak bilang, kedua orang tua kamu masih di Jakarta. Jadi, masih ada harapan untuk bisa menemukan mereka," ujar Raiden membelai rambut Ara.
"Kakak, yakin?" ujar Ara sedikit tidak terlalu yakin.
"Maksudnya?"
"Waktu sembilan tahun itu, enggak sebentar. Apa mungkin kedua orang tua Ara masih dalam keadaan hi---" ucapan Ara terpotong.
"Ssst! Jangan kamu ngomong kayak gitu, kita sama-sama berdoa. Semoga kedua orang tua kamu baik-baik aja, dan dalam keadaan sehat," ujar Raiden menatap lekat Ara.
"Tapi siapa yang sudah tega culik mereka? Apa salah mereka? Dan kenapa ayah ibu Ara bilang mau pergi ke luar negeri, tapi ternyata mereka diculik," lirih Ara, Raiden pun menarik Ara ke dalam pelukannya.
"Kita akan, tau. Setelah kita menemukan kedua orang tua kamu jadi, kita berdoa semoga mereka cepat di temukan."
"Iya."
"Semoga mereka bisa menemukan kedua orang tua Ara, pasti. Mereka seneng, deh. Bisa gendong cucu." Ara mengelus perutnya yang sudah membuncit dengan senyuman manisnya.
"Pasti, dong." Raiden juga mengelus perut Ara dan sesekali menci*mnya.
"Kamu baik-baik, ya. Nak, in syaa Allah kalo kamu lahir nanti. Kamu bisa melihat nenek dan kakek," ujar Raiden mengelus perut Ara.
"Aamiin," ujar Ara, Raiden tersenyum melihat kedua malaikat dalam hidupnya.
***
Dua bulan kemudian ....
"Halo, kamu yakin?"
"..."
"Kalo gitu, sekarang juga! Kita jalankan rencananya."
"..."
"Pastikan semuanya sesuai dengan rencana. Jangan sampai kedua mertua saya celaka, ngerti?"
"..."
Tut!
'Semoga aja, semua. Berjalan dengan baik.' batin Raiden.