Falling Into Your Smile

Falling Into Your Smile
Part 33



"Diam kamu perempuan si4lan!" Bentak Aeleasha matanya memerah menatap Denisa, Denisa langsung menunduk takut, air mata yang sudah membasahi pipi, wajah yang memerah menahan amarah yang kapan saja, bisa meledak itu, terlihat begitu menyeramkan.


"KURANG APA SAYA, HAH?! KURANG APA?!" Teriak Aeleasha, menatap Kevin penuh kemarahan.


"Kamu enggak kurang apapun sayang," lirih Kevin.


"TERUS KENAPA, ANDA MELAKUKAN INI KEPADA SAYA KEVIN SOXUKAI!" Teriak Aeleasha memukul-mukul dada bidang Kevin.


"Saya terpaksa."


"Terpaksa apa?!" Bentak Aeleasha, kini air mata Aeleasha sudah jatuh berderai, bak air terjun.


Kevin hanya bungkam, dia benar-benar takut melihat Aeleasha, untuk pertama kalinya selama menikah Kevin tidak pernah melihat Aeleasha seperti ini, rasanya ini bukan Aeleasha, tapi ini Aeleasha ... Aeleasha yang murka atas dirinya.


"Udah, Nak." Ibu memegangi pundak Aeleasha, untuk menahan Aeleasha agar tak melakukan sesuatu yang berbahaya, karena saat ini Aeleasha sedang diliputi amarah.


"Zi, sebaiknya kamu bawa baby Airumi ke belakang!" Titah Ayah yang tidak mau cucunya terganggu dengan keributan ini.


"Baik, pak." Zi langsung melangkah membawa baby Airumi ke belakang, agar tidak mendengar keributan yang sedang terjadi.


Brakk!


Brakk!


Brakk!


Bugh!


Aeleasha melempar benda-benda yang ada di sampingnya, termasuk Gucci yang harganya tidak main-main, dia tidak perduli dengan Gucci yang hancur itu, perasaan dan dirinya juga hancur seperti Gucci itu.


"Udah, Nak." Ayah berusaha untuk menghentikan Aeleasha, agar tak menghancurkan semua barang-barang yang ada di dekatnya.


Denisa hanya menutup mulutnya dengan kedua tangan melihat Aeleasha semurka itu, saat tau Kevin menikah lagi, wajar Aeleasha berlaku seperti itu, istri mana yang terima suaminya menikah lagi tanpa alasan yang jelas, istri mana yang hatinya tak sakit mengetahui suaminya menikah lagi tanpa sepengetahuannya.


"Arghhh!" Teriak Aeleasha kesal, rasanya seluruh tubuhnya lemas, dunia rasanya hancur.


"Maaf," lirih Kevin.


"Maaf kamu bilang, maaf kamu sudah. tidak berarti lagi!" Bentak Aeleasha benar-benar kesal, Kevin hanya bisa menunduk. dia tau ini tak benar, tapi ....


"Aeleasha masuk kamar, yuk!" Aja ibu.


"ENGGAK! AELEASHA MASIH BELUM SELESAI, AELEASHA PERLU JAWABAN!" teriak Aeleasha dengan suara serak.


"Nanti ibu jelaskan," ujar ibu, ibu dan ayah terpaksa menyeret Aeleasha menunju kamar, karena jika dibiarkan sudah pasti seisi rumah akan hancur karena ulah Aeleasha.


Kevin terduduk lemas melihat Aeleasha seperti itu, rasanya jiwa, hati, dan raga lepas begitu saja, melihat orang yang dulu begitu lembut dan manja, kini tidak lagi. malah hanya terus mengumpat dirinya, Kevinn tidak marah dengan Aeleasha yang mengumpat dirinya, bahkan setiap anak tangga yang diinjak Aeleasha dia terus saja mengumpat Kevin, tapi Kevin tidak marah. dia tau dia salah, Aeleasha hancur mengetahui suami yang begitu dia cintai menikah lagi, Kevin juga hancur melihat Aeleasha seperti itu.


"Argh! B0DOH, brengs3k!" Umpat Kevin memukuli kepalanya sendiri dengan tangannya.


Denisa yang melihat itu, langsung menggenggam tangan Kevin. mau bagaimanapun Kevin tidak boleh melakukan itu, jika sampai kepalanya terluka bagaimana.


"Mas!" Panggil Denisa.


"Tinggalkan saya sendiri," lirih Kevin.


"Tapi---"


"Denisa Putri Aisyah."


Denisa bangkit dan mengangguk, dia mengerti Kevin pasti butuh waktu.


Denisa pun berjalan meninggalkan Kevin yang masih terduduk lemas.


"ARGHHHH!" teriak Kevin.


Denisa pergi ke halaman belakang, dan tak sengaja berpapasan dengan Zi.


Zi menatap datar Denisa. "Jangan melakukan, kesalahan yang sama," ujar Zi berlalu pergi, Sakinah berusaha mencerna apa maksud Zi, 'Jangan melakukan kesalahan yang sama?'