
"Iya sayang. Kamu bertahan," ujar Kevin kemudian dia langsung menelpon anak buahnya untuk mengirim ambulance.
"Halo, sekarang kirim ambulance! Lokasinya saya sharelock," ujar Kevin.
"Baik, Tuan."
Setelah mematikan telpon, Kevin pun mengambil ranting-ranting dan daun-daunan kering dan mulai menyalakan api, apipun menyala sedikit membuat suasana hangat.
"Kak, Aeleasha Gak kuat," ujar Aeleasha yang kembali menangis.
"Sssst! Tahan bentar, ya? Sebentar lagi ambulance datang." Kevin meletakkan kepala Aeleasha di pangkuannya, dan menggenggam erat tangan Aeleasha.
"Enggak kak. Aeleasha gak bisa nunggu ambulance, aakghh" Aeleasha benar-benar sudah tidak tahan lagi.
"Ya gak. Mungkin dong! Kamu melahirkan di sini, sayang." Kevin membelai rambut Aeleasha yang penuh dengan keringat.
"Gak papa kak. Mungkin ini jalanya, anak kita harus lahir di sini!" Aeleasha mengambil posisi yang nyaman dan mulai menarik nafas untuk melahirkan bayinya.
Kevin menggenggam erat tangan Aeleasha.
"Aaaaa!" teriak Aeleasha dengan sekuat tenaganya terus menarik nafas dan mendorong agar sang bayi segera lahir, Kevin terus berdoa dalam hati agar anak dan istri kecilnya selamat.
"Ayo, sayang. Kamu bisa!" ujar Kevin terus memberikan semangat kepada Aeleasha.
Hujan turun semakin lebat, petir bergemuruh, angin bertiup kencang, kilatan petir semakin menambah kesan mencekam, Aeleasha terus berusaha untuk melahirkan bayinya. Apapun keadaannya.
Bersamaan dengan kilatan petir, bayi mungil dan cantik lahir dengan tangisan yang bersahutan dengan derasnya air hujan.
Kevin menutup matanya kala mendengar tangisan sang bayi. Yang baru lahir itu, dia benar-benar tidak menyangka. Bahwa buah hatinya akan lahir di tempat seperti ini.
Kevin membuka jaketnya, kemudian melepaskan kaos yang dia gunakan, untung saja jaket yang digunakan Kevin anti air jadi, pakaiannya tidak basah.
Kevin menutupi tubuh polos bayi kecilnya menggunakan kaos berwarna putih miliknya, agar sang bayi tidak kedinginan.
"Hai, cantik." Aeleasha mengusap pipi chubby dan kemerah-merahan bayi kecilnya.
Kevin mengec*p kening Aeleasha. "Hebat banget, sih. Istri kakak." puji Kevin membuat Aeleasha tersenyum malu.
"Iya, dong," ujar Aeleasha menahan senyumnya.
"Nak, kamu harus jadi orang seperti bunda ya," ujar Kevin mengusap kepala bayi kecilnya.
"Kak, Kakak. Enggak mau azanin?" tanya Aeleasha.
"Astaghfirullah, kakak lupa." Kevin menepuk jidatnya.
Aeleasha tertawa kecil, kemudian Aeleasha menyerahkan bayi kecilnya untuk diazani Kevin.
Setelah selesai mengadzani, Kevin menatap lekat wajah imut bayi kecilnya. "Nama kamu Airumi Alaska Soxukai." Kevin menci*m kening sang bayi yang diberi nama Airumi.
"Bagus ... Jadi, panggilannya apa?" tanya Aeleasha ikut mengelus pipi Airumi.
"Baby Air."
"Kok, Air?" bingung Aeleasha.
"Karena, dia. Lahir bersama derasnya air hujan, dan sifat kepribadiannya. Akan mengalir seperti air walaupun terhalang oleh sesuatu. Dia akan tetap bisa menemukan jalannya menuju lautan," ujar Kevin menatap Airumi atau baby Air.
"Walaupun dia ditimpa sebuah permasalahan hidup, dia akan kan bisa menemukan solusi dan jalan untuk menyelesaikan masalah itu, sifatnya yang tenang, seperti 'Air' akan membuatnya menjadi, orang yang berfikir sebelum bertindak, bersikap tenang agar tak salah langkah." imbuh Kevin beralih menatap Aeleasha.
"Bagus."
"Sekarang kamu istirahat, ya? Kemungkinan ambulance akan tiba besok, karena ini hujan lebat," ujar Kevin mengelus rambut Aeleasha.
Aeleasha mengangguk, Kevin menjadikan tangannya sebagai bantal dan baby Air tidur di tengah-tengah antara Kevin dan Aeleasha.