
Kedatangan Oma Lia membuat Mala sangat senang. Sudah sejak sepulang sekolah tadi Mala masih setia duduk di sofa bersama omanya.
"Mala bisa masak gak?" tanya Oma.
"Gak bisa Oma" balas Mala menggelengkan kepalanya.
"Emangnya mama kamu gak ngajarin?"
"Mama kan sibuk Oma, mana sempat ngajarin aku masak"
"Dasar anak itu! selalu saja mementingkan pekerjaan dari pada keluarganya" ujar Oma terdengar kesal pada mama.
"Udah Oma, gak papa kok. Mama kayak gitu juga kan buat aku, biar aku punya masa depan yang cerah"
"Mala, kamu ini memang cucu Oma yang sangat pengertian" puji Oma membelai lembut rambut Mala.
"Hehe iya Oma"
"Kalau gitu mau Oma ajarin masak?" tanya Oma.
"Boleh Oma?"
"Boleh dong"
"Iya Oma aku mau di ajarin masak" balas Mala sangat antusias.
Mala dan Oma segera menuju dapur untuk belajar masak.
"Mala mau Oma ajarin masak apa?" tanya Oma.
"Nasi goreng Oma"
"Kalau gitu kita siapin bahan-bahannya dulu"
"Siap Oma, apa aja bahannya?" tanya Mala.
Oma mengajari Mala membuat nasi goreng secara bertahap. Ia menjelaskan bahan-bahan apa saja yang di perlukan saat memasak nasi goreng kepada Mala. Walaupun beberapa kali Mala melakukan kesalahan, tapi Oma sabar menjelaskan kesalahannya pada Mala.
"Oma ngiris bawangnya kayak gini kan?" tanya Mala.
"Ya ampun Mala, irisnya tipis-tipis jangan tebal-tebal"
"Salah ya Oma?"
"Iya, sini Oma contohin" balas Oma.
"Gini ngirisnya" ujar Oma memperlihatkan cara mengiris bawang pada Mala.
"Oke Oma, Mala udah ngerti"
Selesai menyiapkan bahan-bahan, Oma mengajari mala cara memasak nasi goreng di dalam wajan.
"Mala tolong ambilin Oma garam" ujar Oma.
"Yang mana Oma?"
"Itu yang dalam toples, warna putih"
Mala mengambil toples yang di maksud Oma. Tapi ia sedikit ragu Karna ada dua toples yang sama-sama berisi warna putih.
"Feeling aja deh" pikir Mala mengambil asal toples tersebut.
"Ini Oma" ujar Mala.
Oma yang baru saja akan menyendok garam di dalam toples itu langsung menyadari sesuatu.
"Mala!"
"Iya Oma?"
"Oma minta apa tadi?"
"Garam kan Oma?"
"Iya, trus ini apa?"
"Garam"
"Ini gula Mala, masa bedain gula sama garam aja kamu gak bisa" ujar Oma terheran.
"Maaf Oma, Mala gak tau"
"Yaudah, ambilin Oma toples yang satu lagi"
"Baik Oma"
Mala mengambil toples yang satunya dan memberikannya pada Oma.
"Ini Oma" ujar Mala.
"Nah, ini baru garam. Lain kali kamu harus bisa bedain ya!"
"Iya Oma"
Selesai memasak nasi goreng. Mala dan Oma langsung menyantap nasi goreng buatan mereka.
"Gimana?" tanya Oma.
"Enak banget Oma" balas Mala.
***
Malam harinya Mala kembali menghirup udara segar di balkon kamarnya. Matanya kembali tertuju pada rumah di depannya. Rumah kediaman Rakha Hermawan. Seseorang yang mampu membuat seorang Desmala Gralind jatuh cinta.
Mala merasa haus, air di atas nakasnya sudah habis. Jadi ia keluar dari kamarnya dan pergi ke dapur untuk mengambil air.
Saat di perjalanan menuju dapur, mala tak sengaja mendengar perdebatan antara orang tua dan omanya.
"Mama kan udah bilang, Andi itu punya niat buruk sama keluarga kita" ujar Oma.
"Tapi ma, mama gak boleh nuduh ia tanpa bukti gitu" ujar Alisia.
"Alisia, mama tau kamu itu sangat polos dan selalu menganggap semua orang itu baik. Tapi, kamu Herman mama yakin sekali kamu bisa membedakan mana teman yang tulus dan mana teman yang punya niat buruk sama keluarga kamu" ujar Oma.
"Ma, Andi udah berubah. Dia gak kayak dulu lagi" balas Herman.
"Apa kamu yakin?" tanya Oma.
"Aku yakin ma"
"Lalu apa kamu bisa kasih tau mama, siapa dalang dari rencana penculikan Mala?" tanya Oma.
"Aku masih menyelidikinya ma"
"Kamu terlalu lambat Herman, asal kamu tau dalang di balik penculikan itu adalah Andi!" ujar Oma terdengar kesal.
"Aku yakin itu bukan Andi ma" balas Herman.
"Kalau mama liatin ini apa kamu masih bisa bilang kalau itu bukan Andi?" tanya Oma.
Melihat sebuah Vidio yang di tunjukkan Oma, papa dan mama terlihat syok dan seakan tak percaya.
"Aku gak nyangka Andi tega sama kita" ujar Alisia kesal.
"Ternyata aku salah percaya sama kamu Andi!" ujar Herman kesal hingga melempar vas bunga di atas meja.
Prakkk
"Ahhh" ujar Mala Reflek berteriak karna kaget.
Sontak orang tuanya dan Oma langsung menatapnya.
"Mala, sejak kapan kamu di sana?" tanya Herman.
Mala menghampiri orang tuanya dan Oma.
"Mala mau ambil air ke dapur, tapi Mala kaget pas ke dapur dengar vas pecah. Ada apa pa?" tanya Mala.
"Ga-gak ada apa-apa. Tadi mama gak sengaja nyenggol vas bunganya sampai jatuh" balas Herman.
"Bukannya vas bunga itu di meja ini, kenapa bisa kesenggol di situ?" tanya Mala.
"Mama yang naroh di situ, trus gak sengaja kesenggol deh sama mama" terang Alisia.
"Oh gitu, yaudah deh ma. Mala mau ambil air dulu"
"Iya"
Mala kembali ke dapur dan mengambil air. Setelah itu ia langsung kembali ke kamar. Kakinya kembali melangkah menuju balkon kamar. Matanya kembali tertuju pada rumah Rakha.
"Kenapa hal ini semakin rumit Rakha, saat perasaan ini mulai tumbuh. Kenapa hubungan keluarga kita jadi gak baik-baik aja?" lirih Mala.
Drtttt
Getaran ponselnya membuat Mala menoleh pada meja nakasnya. Ia melangkah mengambil ponselnya. Disana tertera nama Rakha. Ia dan Rakha memang sudah saling memiliki kontak. Tapi baru kali ini mereka saling berkomunikasi.
"Halo" ujar Mala.
"Halo Mala, kamu udah tidur ya?" tanya Rakha sedikit ragu.
"Belum kenapa?"
"Gak papa, cuma pengen denger suara kamu aja" balas Rakha.
"Dasar aneh!"
"Kok aneh?"
"Nelfon aku cuma buat denger suara aku aja"
"Dari tadi aku gak bisa berhenti mikirin kamu tau?"
"Buat apa kamu mikirin aku?"
"Senang aja kalau lagi mikirin kamu, kayak narkoba tau gak?"
"Kenapa narkoba?"
"Soalnya bikin candu" kekeh rakha.
"Udah malam tidur! jangan ngegombal!"
"Kamu kenapa sih Mala, tumben banget jutek?"
"Gak papa, lagi ngantuk aja"
"Oh yaudah, tidur gih!" pinta Rakha.
"Ya"
Panggilan langsung di akhiri oleh Mala. Ia tak bermaksud berbicara ketus pada Rakha. Tapi ia takut jika perasaannya pada Rakha yang mulai tumbuh akan menjadi masalah dalam keluarganya.
"Aku gak maksud Rakha! maaf. Aku cuman takut, rasa ini akan semakin tumbuh" lirih mala.
Jangan lupa like dan comen....