
Mala sampai di rumahnya. Ia langsung menuju kamarnya untuk beristirahat. Untungnya orang tuanya tidak ada di rumah. Jadi ia tidak di tanya kenapa pulang terlambat. Sehingga Mala juga tidak perlu berbohong.
"Ahhh, badan ku sakit semua" keluh Mala.
"Mandi air hangat enak kali ya" pikir Mala.
.
.
.
Saat ini Mala merasa perutnya keroncongan. Ia segera mencari oma Lia untuk meminta di buatkan makanan. Karena bi Inem sedang libur untuk pulang kampung.
"Oma!" panggil Mala. Namun tak ada sahutan. Karna pintu tidak di kunci Mala langsung saja masuk ke kamar Oma.
Suara desiran air membuat Maa mengerti jika oma Lia sedang mandi.
"Apa nih?"
Mala sedikit penasaran dengan amplop putih yang terletak di atas meja rias Oma.
"Tiket pesawat"
"Amerika?"
Mala melotot kaget melihat tiket pesawat yang ada dalam amplop putih itu.
"Oma mau balik ke Amerika?" lirih Mala.
"Mala, ngapain kamu di kamar Oma?" ujar Oma yang baru saja keluar dari kamar mandi.
"Oma, ini apa? Oma mau balik ke Amerika?" tanya Mala memperlihatkan tiket di tangannya.
"Oh itu, kamu udah tau" balas Oma terlihat santai.
"Kok oma jawabnya santai banget? oma seneng ya ninggalin Mala?" tanya mala merasa kecewa.
"Bukan gitu, tapi oma emang harus balik ke sana. Kan kasihan opa kalau terlalu lama Oma tinggalin" jelas Oma Lia agar Mala bisa memahaminya.
"Kenapa gak opa aja yang di suruh balik ke Indonesia, kenapa harus Oma yang kesana?"
"Opa kan harus ngurus perusahaan nya di sana"
"Tapi mala gak mau pisah sama Oma, Oma di sini aja ya!" rengek Mala.
"Mala kan udah gede, Mala ngerti ya sayang Oma harus nemenin opa di sana"
"Tapi kalau Mala kangen gimana?"
"Mala kan bisa vidcall Oma, kalau Mala mau, Mala bisa nyusul Oma kan?"
"Yaudah deh Oma"
"Ini baru cucunya Oma" ujar Oma Lia.
.
.
.
Malam harinya orang tua Mala pulang. Mereka langsung menghampiri kamar mala. Setelah mendapat kabar dari pak Adi jika tadi siang mobil yang di tumpangi Mala di cegat preman. Keduanya sangat khawatir dengan keadaan putri semata wayang mereka.
"Mala!"
"Sayang!"
Mala yang sedang asyik rebahan di buat bertanya-tanya dengan kedatangan orang tuanya yang terlihat panik.
"Loh, mama sama papa kenapa?" tanya Mala.
"Mala kamu gak papa?" tanya Alisia memeriksa badan putrinya.
"Tadi pak adi cerita kalau mobil di cegat preman" ujar Herman.
"Pak Adi, udah dibilangin jangan di kasih tau. Tetap aja di kasih tau" batin Mala.
"Ma, pa, aku gak papa kok" ujar Mala.
"Kamu gak ada luka kan?"
"Gak ada ma"
"Pa, apa gak sebaiknya Mala ikut mama aja. Biar dia sekolah di luar negri. Mama takut kalau Mala kenapa-kenapa" usul Alisia.
"Papa gak masalah? Mala mau?" tanya Herman.
"Gak pa, Mala udah nyaman sekolah di sini" tolak Mala.
"Tapi ini buat kebaikan kamu!"
"Mala gak bakalan kenapa-kenapa kok ma, mama tenang aja"
"Tapi mama khawatir"
"Percaya sama Mala!"
***
Keesokkan paginya Mala kembali sekolah seperti biasanya. Kali ini adalah pelajaran matematika. Mala sangat mengantuk jika belajar hal yang berhubungan dengan angka. Sangat membosankan.
"Pak, saya izin ke toilet" ujar mala.
"Ya silakan"
Mala segera menuju toilet. Di depan wastafel ia menatap wajahnya yang sangat mengantuk.
"Kenapa ya, kalau udah berhubungan sama angka aku ngantuk banget?" pikir Mala.
Ia membasuh wajahnya agar rasa kantuknya sedikit menghilang. Setelahnya Mala mengeringkan wajahnya dengan tisu.
"Hey, kamu Mala kan?"
"Iya" balas Mala menatap pantulan gadis di cermin.
"Kamu siapanya Rakha?"
"Bukan siapa-siapa" balas Mala.
"Jangan bohong kalian Deket banget. Masa iya gak ada hubungan apa-apa?"
"Iya, emang gak ada"
"Kamu suka sama rakha?"
"Gak, aku sayang sama Rakha"
Gadis itu tampak berdecih dengan ucapan mala.
Mala tersenyum kecut dengan ucapan gadis itu.
"Siapa nama kamu?" tanya Mala.
"Dinda" balasnya.
"Oke Dinda, silakan kamu lakukan apa pun! tapi kita saingannya secara sehat ya! jangan curang!"
Mendengar itu Dinda terlihat cengo. Niatnya ia ingin memanas-manasi Mala. Tapi kenapa Malah ia yang menjadi panas dengan sikap santai Mala.
"Aku duluan ya!"
.
.
.
Di kelas Mala tidak lagi mengantuk. Tapi tetap saja pelajaran matematika tidak pernah bisa ia pahami.
Ting.
...Rakha...
^^^Dari mana aja?^^^
Toilet
^^^Kenapa lama banget?^^^
Gak papa
^^^Ada masalah?^^^
Gak ada
Pelajaran matematika telah berakhir bersamaan dengan bel istirahat.
"Mala ke kantin yuk?" ajak Kevin yang langsung menghampiri Mala.
"Gak, aku udah janji sama Dira dan Haura"
"Iya, kamu mau ikut gabung sama kita Kevin?" tanya Dira memperlihatkan sikap genitnya.
"Gak usah, aku ngumpul sama teman-teman yang lain aja" balas Kevin yang ngeri dengan sikap Dira.
Setelah Kevin keluar, ketiganya langsung tertawa dengan ekspresi lucu Kevin.
"Mukanya biasa aja! gak usah di melas-melasin gitu!" sentak Affan.
"Ih honeyyy, aku kan gak serius. Cuman buat bantu mala doang kok" ujar Dira.
"Iyaa"
"Jangan marah!"
"Gak marah kok"
.
.
.
Dikantin keenam teman itu duduk di tempat yang sama. Untungnya di kantin tidak ada Kevin yang akan mengusik mereka.
"Tumben, Kevin gak ada" ujar Mala.
"Kamu nyariin dia?" tanya Rakha sewot.
"Bukan gitu, biasanya kan dia selalu ngawasin kita"
"Bener kan kamu nyariin dia"
"Rakha bukan gitu"
"Dahlah"
"Yaallah berikan aku kesabaran" batin Mala.
Sementara itu ke empat temannya hanya terkekeh.
"Oh ya, tadi aku ketemu cewek yang namanya Dinda. Beeuhhhh cantik banget" ujar Mala sembari melirik Rakha.
Melihat wajah Rakha yang santai membuat Mala tersenyum senang.
"Anak mana Mala?" tanya Affan.
"Kelas berapa dia?" tanya Zayyan yang ikut penasaran.
"Awhhhhhh" teriak Zayyan dan Affan bersamaan karena Haura dan Dira menjewer telinga mereka penuh dendam.
"Ampunnnnn!"
Mala dan Rakha terkekeh melihat tingkat temannya yang menggelitiki perut.
"Makanya jangan jelalatan" kekeh Rakha.
"Dia ngancam aku tau Rakha" adu mala.
"Ngancam apa dia?"
"Katanya gak boleh dekat sama kamu! dia bilang Rakha itu cuma milikku" ujar Mala.
"Cailah, Mala punya saingan nih" kekeh Haura.
"Udahlah biarin aja"
"Kok gitu sih Rakha, kan kasihan Mala di ancam" ujar Dira.
"Ya biarin aja dia ngehalu, kan kalian tau sendiri di hati rakha cuma ada Mala"
"Eyaaakkkkk" sorak ke empat temannya.
"Bucin woyyyy" teriak Affan.
"Kayak kalian gak aja" ledek Zayyan.
"Trus Klian apa?" tanya affan.
"Hehe" kekeh Zayyan.
"Udahlah, trio bucin kita" kekeh Rakha.
Jangan lupa like dan comen ya...