Desmala Gralind

Desmala Gralind
Kevin



Pagi harinya Mala terbangun sedikit terlambat dari pada biasanya. Berhubung hari ini adalah hari libur jadi Mala sangat malas untuk bangun pagi.


Ia melirik jam bekernya yang sudah menunjukkan pukul 8 pagi. Tidak biasanya ia bangun selambat ini. Mala langsung bangun dan membersihkan diri di kamar mandi. Setelah selesai ia turun untuk sarapan pagi.


"Bi Inem!" panggil Mala ketika melihat bi Inem lewat dengan serbet di bahu dan kemoceng di tangannya.


"Mama sama papa udah berangkat?" tanya Mala.


"Udah non"


"Oma?"


"Kalau Oma ada non, di kamarnya"


"Yasudah bi"


Mala duduk di meja makan dan mengoleskan selai coklat pada roti tawar. Ia mengunyahnya sambil berjalan keluar rumah.


Mala duduk di ayunan di depan rumahnya sembari menikmati mentari yang sudah mulai meninggi.


Getaran ponselnya membuat mala mendelik, ia melihat nama penelfon yang tak lain adalah rakha.


"Kenapa Rakha?" tanya Mala.


"Siang ini kita ketemuan di danau yuk!"


"Boleh"


"Aku jemput ya!"


"Eh gak usah!"


"Kenapa?"


"Nanti aku ceritain, kita langsung ketemu di danau aja ya!"


"Hm oke"


Mala mengakhiri panggilannya saat ia melihat Oma menghampirinya.


"Mala" panggil Oma.


"Iya Oma"


"Kamu lagi telfonan sama siapa? kenapa saat Oma datang telfonnya di matiin?" tanya Oma penasaran.


"Gak kok Oma, Emang udah selesai kok nelfonnya" balas mala.


"Ohya Oma, bentar lagi Mala kan latihan karate. Mala mau siap-siap dulu ya" ujar Mala.


"Iya"


Mala kembali ke kamarnya dan bersiap untuk pergi ke tempat latihan karatenya. Sudah beberapa hari sejak Mala mulai berlatih karate. Hari demi hari ia sudah bisa menguasai beberapa gerakan dasar untuk menjaga dirinya sendiri.


Setelah selesai Mala berpamitan pada Oma.


"Oma Mala pergi dulu ya"


"Hati-hati"


Mala pergi di antar oleh pak Adi. Setelah mengantar Mala pak Adi disuruh Mala untuk kembali ke rumah dan pak Adi menurutinya.


Di tempat karate seperti biasa mala berlatih di pimpin oleh pelatihnya. Namun kali ini ada yang berbeda. Saat Mala telah selesai berlatih ia duduk di pinggir lapangan dan tiba-tiba saja seseorang duduk di sebelahnya.


"Hai" sapanya.


"Hai" balas Mala.


"Kenalin aku Kevin" ujarnya mengajak Mala berkenalan.


"Mala" balas Mala.


"Udah beberapa hari ini aku perhatiin kamu terus" ujarnya.


"Buat apa?" tanya Mala acuh.


"Aku liat peningkatan kamu cepat banget dalam belajar karate" pujinya.


"Thanks"


"Kamu emang dingin gini ya?"


"Emang kenapa?"


"Gak papa, malahan aku lebih tertantang" kekehnya.


"Aneh" lirih mala.


"Kamu ngomong apa?" tanya Kevin.


"Gak ngomong apa-apa, udah ya aku mau pulang dulu. Bye"


"Mau aku antar?"


"Gak perlu"


Mala langsung meninggalkan tempat latihan karate itu. Ia berangkat dengan menggunakan taksi online menuju danau tempat ia dan Rakha ketemuan.


Sesampainya di danau, Mala tidak melihat adanya Rakha. Sepertinya Rakha belum sampai. Mala memutuskan duduk di tepi danau sembari menunggu Rakha datang.


"Coklat" ujar Rakha memberikan coklat pada Mala.


"Mau" balas Mala mengambil coklat pemberian Rakha.


Rakha duduk di samping Mala, keduanya sama-sama menatap kearah danau.


"Aku bingung deh Mala" ujar Rakha.


"Bingung kenapa?" tanya Mala.


"Aku tuh suka bingung, kenapa ya kalau aku jauh dari kamu itu rasanya berattttt bangettt" ujar Rakha. Hal itu membuat Mala terkekeh.


"Gombal aja truss"


"Masa?!"


"Mala!" panggil Rakha.


"Kenapa?"


"Aku mau nanya deh"


"Apa?"


"Kenapa kamu gak mau aku jemput di rumah?"


Mala terdiam sejenak dan mulai menceritakannya pada Rakha.


"Semalam, papa ngelarang ku buat dekat sama kamu. Bahkan oma dan mama juga ngedukung keputusan papa" terang Mala.


"Jadi karna itu kamu ngelarang aku buat jemput kamu di rumah"


"Iya" angguk Mala.


"Seharusnya masalah sepele itu gak usah di takutin" kekeh Rakha.


"Maksud kamu?"


"Iya, kalau aku terus-menerus gak jemput kamu di rumah. Orang tua kamu mana tau kalau aku serius sama kamu. Malahan dengan aku sembunyi-sembunyi ngobrol sama kamu kayak gini yang bakalan bikin orang tua kamu nilai buruk tentang aku"


"Kamu benar! tapi untuk sementara gak papa kita sembunyi-sembunyi dulu ketemuannya. Sampai kekesalan papa sama papa kamu mereda"


"Aku gak masalah, kalau itu mau kamu aku bakal turutin"


"Udah mau sore, kita pulang sekarang?" tanya Rakha.


"Aku naik taksi aja"


"Aku anter sampai depan gang, aku gak bakalan masuk ke rumah kamu" ujar Rakha.


"Oke"


Rakha mengantarkan Mala pulang, tapi tak seperti biasanya. Rakha hanya mengantarkan Mala sampai di depan gang rumahnya. Hal itu di lakukan agar orang tua Mala tak curiga jika Mala masih dekat dengan Rakha.


Sesampai di rumah, oma heran dengan cucunya yang terlihat berjalan kaki pulang ke rumah.


"Mala, kamu kenapa jalan kaki? kan bisa minta jemput pak Adi" ujar Oma.


"Gak kok Oma, Mala gak jalan kaki. Tadi Mala naik taksi, tapi taksinya sampai depan pager aja" Alibi Mala.


"Oh gitu, Oma kira kamu jalan kaki. Yasudah kalau gitu, kamu mandi ya, udah asem!" ujar Oma mengendus tubuh Mala.


"Iya Oma"


Mala menuju kamarnya dan langsung membersihkan diri. Selesai mandi Mala kembali menikmati sore di balkon kamarnya.


Getaran ponsel Mala membuat Mala kembali memasuki kamar dan mengambil ponselnya di atas nakas.


"Nomor gak di kenal" lirih Mala.


"Halo, ini siapa ya?" tanya Mala.


"Hai, ini aku Kevin"


"Kevin?" tanya Mala.


"Iya, yang tadi pagi ngobrol sama kamu di tempat karate"


"Ohiya, aku inget. Ada apa nelfon?"


"Gak papa, cuman mau ngobrol aja"


"Gakjelas" balas Mala.


"Aku gak ganggu kan?" tanya Kevin.


"Ganggu banget" balas Mala.


"Maaf ya kalau aku ganggu waktu kamu"


"Iya udah ku maafin. Jadi jangan di ganggu lagi, bye" ujar Mala ia langsung mengakhiri panggilan telfonnya.


Mala langsung menghempaskan ponselnya ke kasur.


"Ganggu aja" lirih Mala. Ia kembali menuju balkon.


"Emang yang paling enak cuman disini" ujar Mala.


"Mala!" panggilan Oma Lia membuat Mala kembali terusik.


"Iya Oma ada apa?" tanya Mala. Ia menghampiri Oma Lia yang berteriak dari ruang tamu.


"Mala sini deh, mama sama papa mau bicara" ujar Oma.


"Mama sama papa udah pulang?" tanya Mala.


"Belum, tapi bentar lagi nyampe rumah"


"Mau ngomongin apa sih Oma, kayaknya penting banget?"


"Tunggu aja nanti"


"Yaudah deh Oma"


Tak lama Alisia dan Herman pulang ke rumah. Dengan raut wajah yang bahagia mereka langsung duduk diruang tamu.


"Ada apa nih, bahagia banget keliatannya" ujar Mala.


"Iya dong, tebak mama punya kejutan apa?" tanya Alisia.


"Apa?" tanya Mala.


"Kita sekeluarga akan liburan ke Bali" ujar alisia kegirangan.


Jangan lupa like dan comen...