
Sesampainya di sekolah, Rakha dan Mala langsung menuju kelas. Tak lama setelah sampai di kelas guru yang mengajar langsung memasuki kelas. Dan pelajaran pagi di mulai.
.
.
.
Baru saja bel istirahat berbunyi. Ruangan kelas sudah kosong. Hanya menyisakan Mala dan Rakha.
Mala melirik Rakha yang duduk di belakang. Ia terlihat mengeluarkan bekal yang di berikan Mala pagi tadi. Mala kembali tersenyum saat Rakha menghargai pemberiannya.
Mala menghampiri Rakha dan duduk di bangku tepat di depan Rakha.
"Gimana? enak gak?" tanya Mala. Saat Rakha menyendok nasi goreng ke mulutnya.
"Hmm enak banget, ini kamu yang bikin? ternyata kamu pinter masak ya" puji Rakha. Ia sangat menyukai nasi goreng yang di berikan Mala. Tidak sia-sia ia mengambil bekal pemberian Mala.
"Heheheh" Mala tertawa kikuk sembari menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"kenapa?" tanya Rakha.
"Itu bukan aku yang masak, bi Inem yang buatin" kekeh Mala sekaligus malu.
"Ohhh bi Inem aku kira kamu yang masak, tapi gak papa yang penting niatnya" ujar Rakha agar Mala tak berkecil hati.
"Hehe bisa aja kamu, tapi kamu suka kan?" tanya Mala.
"Suka banget"
"Besok mau aku bawain lagi?" tanya Mala.
"Boleh sih, tapi bi inemnya gak keberatan kan?"
"Pastinya gak dong"
Asyik dengan pembicaraan mereka, mereka tak menyadari jika bel istirahat telah selesai.
.
.
.
Sepulang sekolah, Mala mengikuti Rakha ke parkiran.
"Mau ikut aku gak?" tanya Rakha.
"kemana?"
"Suatu tempat, aku yakin kamu bakalan suka"
"Yaudah boleh, tapi bentar aja ya"
"Pasti"
Rakha melajukan motornya menuju tempat yang menjadi rumah keduanya. Tempat di mana ia merasa punya keluarga.
"Ini tempatnya?" tanya Mala agak heran. Ia tak tau tempat apa itu. Tapi itu seperti rumah kecil yang hanya berbentuk persegi. Dan di luar rumah itu terdapat banyak coretan. Dan motor yang berderetan parkir di luar rumah itu.
"Iya"
"Tempat apa ini?" tanya Mala.
"Nanti kamu bakalan tau, ayo masuk!" ajak Rakha. Mala terlihat ragu sebelum akhirnya Rakha menariknya untuk masuk.
"Hai gayss" sapa rakha saat memasuki rumah itu. Di dalam ada banyak sekali orang yang memakai jaket yang sama satu sama lain. Di belakang jaket itu ada nama "The Dark".
"Siapa nih ka?"
"Tumben kamu ngajak cewek kesini"
"pacar kamu ya?"
Kurang lebih begitulah tanggapan dari orang-orang disana saat pertama kali melihat Mala.
"Kenalin ini Mala, temen sekelas ku" ujar Rakha memperkenalkan ku pada teman-temannya.
"Halo aku Mala" sapa Mala.
"Halo Mala" balas semua yang ada di sana. Aku tak menyangka ternyata mereka sangat terbuka dengan kedatanganku.
"Mala, kenalin ini Dean, Akash, dan Kenzo"
Aku hanya mengangguk sembari tersenyum pada ketiganya.
"Kamu ngobrol sama mereka dulu ya, aku mau angkat telfon dulu" ujar Rakha.
"Hm" balas Mala mengangguk.
"Mala duduk sini, jangan berdiri aja" ujar Dean.
"Iya Mala, jangan sampai nanti kita di omelin sama Rakha, gara-gara gak ngasih kamu tempat duduk" kekeh Akash.
"Iya, makasih"
Mala duduk di samping Dean yang ada kursi kosongnya.
"Oh ya Mala, kamu kenal Rakha udah berapa lama?" tanya Dean.
"Belum nyampe sebulan, mungkin baru 2 mingguan" balas Mala.
"Busyettt, ini mah fixs kalau si Rakha udah naksir sama kamu sejak pandangan pertama" kekeh Dean.
"Gak salah lagi sih, emang kamu orangnya" Ujar akash.
"Maksudnya gimana ya?" tanya Mala heran.
"Rakha itu gak pernah bawa cewek ke tongkrongan, dia juga gak pernah pacaran selama ini. Dan cuman kamu doang yang di bawa kesini dan di kenalin ke teman-temannya. Berarti kamu itu spesial Mala" terang Akash.
"Masa sih? gak ah kalian becandain aku aja kan?"
"Dia gak percaya" kekeh Dean. Sementara itu kenzo hanya diam mendengarkan pembicaraan.
"Kenapa?"
"Ayo aku anter pulang"
"Hm iya"
Rakha meninggalkan tempat tongkrongannya dan mengantarkan Mala ke rumahnya.
"Mau mampir dulu?" tawar Mala.
"Gak usah, aku langsung balik aja"
"Oke"
Setelah Rakha pergi Mala memasuki rumah. Dan ia mendapati Bi Inem yang sedang beberes rumah.
"Bi!" panggil Mala.
"Iya non"
"Besok bikinin bekal nasi goreng lagi ya" ujar Mala.
"Siap non"
"Papa sama mama udah pulang Bi?"
"Belum non, mungkin nanti sore"
"Aku ke kamar dulu ya bi"
"Iya non"
.
.
.
Sore harinya pukul 4 sore. Mala menghirup udara segar dari balkon kamarnya.
Tok Tok Tok
Ketukan pintu kamar membuat Mala menoleh. Ia segera menuju pintu dan membukanya.
"Mama" ujar Mala.
"Mama kapan pulang? kok suara mobilnya gak kedengaran" tambah Mala.
"Mama baru aja nyampe rumah, mama kesini mau ngasih tau kamu. Kalau nanti malam itu kita di undang ke rumah Om Andi"
"Om Andi?" tanya Mala. Sepertinya ia pernah mendengar nama itu. Tapi di mana?
"Tetangga baru kita, dia ngundang kita buat makan malam di rumahnya"
"Siap ma" balas Mala tersenyum lebar.
"Senang banget, ada angin apaan nih?" tanya Alisia curiga pada putrinya.
"Gak ada apa-apa ma, gak usah curigaan deh ma"
"Iya-iya"
Alisia meninggalkan putrinya dan kembali ke kamarnya. Sementara itu Mala menutup pintu dengan cepat. Ia seperti ingin berteriak karna malam ini akan makan malam di rumahnya Rakha.
"Aku pakai baju apa ya?" pikir Mala.
Mala mulai mencari-cari baju di dalam lemarinya. Sehingga kasurnya penuh dengan tumpukan baju.
"Pakai ini aja deh" ujar Mala setelah menemukan pakaian yang cocok.
Mala terkejut saat melihat kasurnya sudah penuh dengan tumpukan baju miliknya.
"Astaga aku ngapain?" ujarnya tak habis pikir dengan tingkah nya sendiri.
"Apa aku minta tolong bi Inem aja ya" pikir Mala.
Mala segera keluar dari kamarnya dan mencari Bi Inem.
"Bi Inem!"
"Bi Inem!"
"Bibi di depan non" terdengar sahutan bi Inem dari halaman rumah.
"Bi Inem" ujar Mala menghampiri BI Inem yang tengah menyirami tanaman.
"Kenapa non?"
"Bi bantuin aku"
"Bantuin apa non?"
"Rapihin baju aku"
"Bukannya udah bibi rapihin ya non?"
"Iya, tapi tadi aku gak sengaja ngeberantakinnya lagi" ujar Mala tidak enak. Karna ia sudah merepotkan Bi Inem.
"Yasudah, nanti setelah selesai nyiram tanaman bibi beresin ya non"
"Makasih ya bi"
"Iya"
Mala sangat girang dan kembali ke kamarnya. Ia kembali menghirup udara segar dari balkon kamarnya. Suasana di balkon selalu mampu membuat Mala tenang. Saat ia tengah lelah, suntuk, bahkan sedih di balkon inilah Mala menenangkan diri.
"Rakha Hermawan, aku harap suatu saat kamu bakalan punya perasaan yang sama sepertiku" lirih Mala. Menatap rumah besar di depannya. Itu adalah rumah Rakha Hermawan.
Jangan lupa like dan comen ya...