Desmala Gralind

Desmala Gralind
Zizi



Affan langsung melirik Rakha yang masih asyik menatap foto Mala di dalam ponselnya. Kerinduannya terhadap Mala membuatnya kehilangan dunianya sendiri.


"Rakha!" panggil affan menepuk bahu Rakha dari belakang.


"Apa?" tanya rakha menoleh.


"Lihat depan!"


Rakha langsung menoleh ke depan, di mana Zizi sedang berdiri memperkenalkan diri. Ia tersenyum hangat kepada teman-teman barunya.


"Mala" lirih Rakha. Tapi hal itu terdengar oleh Zizi.


"Mala, siapa dia?" tanya Zizi yang terlihat penasaran.


"Kamu" ujar Rakha tanpa sadar.


"Bukan, aku Queenzie, kamu bisa panggil aku zizi" balasnya tersenyum hangat pada Rakha.


"Zizi?"


"Sudah-sudah, Queenzie! kamu duduk di samping Dira! Dira angkat tangan kamu" ujar Bu guru.


"Baik Bu"


.


.


.


Jam istirahat, Zizi bingung harus duduk di mana. Semua meja di kantin penuh, dan ia tak bisa duduk untuk makan.


"Zizi!" panggilan Dira membuat Zizi menoleh padanya.


"Sini gabung!" ajaknya.


Mendengar itu, Zizi sangat senang. Akhirnya ia bisa punya tempat duduk untuk memakan makanannya.


"Aku boleh gabung?" tanya Zizi memastikan.


"Iya, kan aku yang ngajak" ujar Dira.


"Makasih, ya! aku bingung banget tau mau duduk di mana, mejanya pada penuh semua" kekeh zizi.


.


.


.


Di sisi lain, Rakha sedang bermain game di ponselnya. Tiba-tiba ia merasa lapar.


"Perut pake bunyi lagi" lirih Rakha.


Rakha keluar dari kelas dan menuju kantin.


.


.


.


Dira yang penasaran dengan Zizi yang mempunyai wajah yang mirip dengan Mala. Ia langsung mengeluarkan sifat keponya.


"Zi, aku boleh nanya sesuatu gak?" tanya Dira.


"Iya, boleh"


"Kamu pindahan dari mana?" tanya Dira.


"Aku pindahan dari Amerika"


"Wowww, kenapa malah pindah ke sini? bukannya di sana sekolahnya lebih keren?"


"Ya, karna ayah aku minta aku pulang. Dia gak mau aku terus-terusan tinggal dan sekolah di sana"


"Kenapa?"


"Nanya Mulu kamu Dira!" ujar Haura.


"Ya, gak papa" balas Dira.


"Ayah aku gak mau jauh dari aku, dia bilang kalau aku satu-satunya keluarga yang dia punya"


"Dari cerita kamu, sepertinya ayah kamu sayang banget ya sama kamu?" ujar Haura.


"Ya begitulah" kekeh Zizi.


"Oh ya Zizi, kamu punya saudara kembar gak?" tanya Affan.


"Saudara kembar?" tanya balik Zizi.


"Iya" balas affan.


"Aku pernah berharap sih punya saudara kembar, tapi ya mau gimana aku anak tunggal soalnya" kekeh Zizi.


Di sisi lain, Rakha yang tak sengaja mendengar omongan Zizi ia merasa kecewa. Karna ternyata gadis dengan wajah yang mirip dengan Mala itu ternyata bukan Mala. Dia orang lain yang memiliki wajah mirip dengan mala. Dan juga karakter dan sifatnya bukan Mala. Mala yang Rakha kenal dia selalu calm dan tenang. Sedangkan gadis yang baru saja ia temui itu memiliki sifat yang bertolak belakang dengan Mala. Bahkan dari segi penampilannya saja berbeda. Zizi dengan penampilannya yang feminim dan selalu terlihat elegan. Sedangkan Mala, ia selalu tampil apa adanya. Sederhana dan rapi sudah cukup baginya.


"Rakha!" panggil Zayyan yang tak sengaja melihat Rakha.


"Ayo sini gabung!" ajak Zayyan. Mendengar namanya di panggil Rakha langsung menghampiri teman-temannya.


"Iya" Balas Rakha.


"Tumben makan di kantin?" Tanya Affan.


"Gak sempet sarapan tadi pagi" singkatnya.


"Ohh"


"Oh ya Zizi, kenalin yang ini namanya Rakha" ujar Dira.


"Hai, kenalin aku Zizi" ujarnya menjulurkan tangan pada Rakha.


"Hm, senang ketemu kamu" balas Zizi, tapi Rakha tak menggubrisnya.


"Dia emang gitu ya?" bisik Zizi pada Dira.


"Iya" balas Dira.


"Pantesan"


.


.


.


Pulang sekolah, Rakha langsung mengendarai motornya. Namun, hampir saja ia meninggalkan sekolah. Di depan gerbang ia tak sengaja melihat sebuah mobil yang familiar baginya. Dan bersamaan dengan itu, ia juga melihat Zizi masuk ke dalam mobil itu.


"Aku kayak pernah lihat mobil itu, tapi di mana?" pikir Rakha.


Affan dan Dira yang juga hendak pulang. Melihat Rakha yang berhenti di dekat gerbang mereka pun berhenti.


"Tadi di cuekin, sekarang di perhatiin. Gimana sih" kekeh Affan yang tau jika Rakha tengah memperhatikan Zizi.


"Gak ada yang perhatiin dia" balas Rakha kemudian pergi.


.


.


.


Seperti biasa, setelah pulang sekolah. Rakha akan menghabiskan waktunya di tepi danau. Ia akan menceritakan setiap kejadian yang di laluinya di sini. Karna hanya di danau ini, rakha bisa merasakan kehadiran Mala.


"Mala, tau gak? tadi di sekolah ada cewek yang mirip banget sama kamu. Tapi kamu jangan cemburu dulu. Aku gak akan berpaling kok dari kamu. Karna di hati aku cuma ada Mala, gak ada orang lain lagi" lirihnya.


.


.


.


Matahari telah terbenam, dan Rakha masih saja duduk di tepi danau. Ia selalu senang menghabiskan waktunya di tempat ini.


"Liat deh, langit senja nya indah ya" lirih Rakha.


"Kamu suka senja kan?"


Tanpa, Rakha tau ada sepasang mata yang menatapnya dari kejauhan. Tatapannya penuh dengan keharuan. Ia tersenyum melihat rakha berbicara sendiri di tepi danau itu.


"Aku akan selalu ada di dekat kamu" lirihnya.


***


Pagi harinya saat Rakha hendak berangkat sekolah. Ia tak sengaja melihat Zizi yang tengah berdiri di tepi jalan. Rakha menghentikan motornya di depan Zizi.


"Ngapain masih disini? bentar lagi sekolah masuk" ujar Rakha.


"Eh iya, tadi taksi aku mogok jadi aku jalan kaki ke sini buat cari taksi tapi gak ketemu" balasnya.


"Naik, bareng aja ke sekolahnya" ujar Rakha.


"Beneran?"


"Iya"


Zizi langsung menaiki motor Rakha, dan Rakha langsung mengemudikan motornya.


.


.


.


Di parkiran sekolah, Zayyan, affan, Haura, Dira tengah membahas tugas yang belum mereka kerjakan. Dan berniat untuk meminta contekan pada Rakha.


"Tugas udah siap belum?" tanya Affan.


"Belum" geleng ketiganya.


"Nyontek Rakha aja kali ya" kekeh Affan.


"Iya, Rakha pasti udah selesai" ujar dira.


"Eits, Klian lihat deh" ujar Haura yang tak sengaja melihat Rakha dan zizi yang berangkat bareng.


"Udah ada kemajuan nih" ledek Affan, tepat saat Rakha menghentikan motornya.


"Ledek aja, nanti gak aku kasih contekan" balas Rakha.


"Yailah, baperan amat sih kha" kekeh Affan.


"Iya kha, kita kan cuma bercanda" kekeh Zayyan. Ia tak ingin kehilangan kesempatan untuk mencontek tugasnya Rakha.


"Zizi!" panggil haura.


"Iya" ujar Zizi menghampiri Haura dan dira.


"Kenapa bisa bareng Rakha?" tanya Dira.


"Tadi taksi aku mogok, eh gak sengaja ketemu Rakha. Dia nawarin aku buat berangkat bareng biar gak telat" jelas Zizi.


"Oh gitu, yaudah gak papa. Sering-sering aja taksinya mogok" ujar Dira.


"Kok gitu?"


"Biar bisa bareng Rakha terus" kekeh Dira.


"Apaan sih Dira, kan aku jadi malu" balas Zizi.


Jangan lupa like, comen, dan vote...