
Pulang dari rumah sakit Malika dan bertemu dokter Usman. Rakha terus menerus diam tanpa berkata sepatah kata pun. Mala yang mengerti jika Rakha tak ingin di ganggu ia pun membiarkan Rakha menenangkan dirinya.
Dari tenda miliknya, Mala terus memperhatikan rakha yang menjauh dari teman-temannya. Tatapan matanya kosong. Kesedihan yang di rasakan Rakha membuat Rakha terpuruk.
"Aku harus apa ya biar bisa ngehibur Rakha?" tanya Mala pada Dira dan Haura.
"Aku juga bingung, aku gak pinter kalau soal ngehibur" ujar Haura menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Apalagi aku, yang ada orangnya malah tambah sedih kalau aku yang ngehibur" balas Dira.
Mala terdiam, tiba-tiba saja ia teringat sesuatu.
"Bentar ya" ujar Mala. Ia menghampiri Rakha yang duduk diam di tendanya.
"Rakha" panggil Mala.
"Kenapa?" tanya Rakha, wajah Rakha terlihat kusut dan muram. Mala sangat tidak menyukainya.
"Ikut aku bentar"
"Nanti aja Mala"
"Bentar aja kok" ujar Mala menarik tangan Rakha. Mau tau mau Rakha pun mengikuti Mala.
.
.
.
Mala dan Rakha berdiri di sebuah makam, makam dari orang yang sangat di cintai Rakha. Makam dari orang yang membuat Rakha sangat terpuruk karna kehilangannya.
"Ma, Rakha datang" lirihnya.
"Mama apa kabar?"
"Mama kenapa gak mau cerita sama kita kalau mama sakit?"
"Mama gak tau apa sehancur apa aku sama papa kehilangan mama?"
"Papa jadi orang pendendam sekarang ma"
"Dia bukan papa yang dulu sama kita, papa udah berubah. Aku aja gak kenal lagi sama papa" tanpa sadar Rakha meneteskan air mata membasahi nisan mamanya.
"Dan sekarang Rakha harus gimana ma? gimana caranya biar papa gak jadi orang pendendam lagi. Papa terus nyalahin keluarga om Herman atas kematian mama. Papa terus aja nyari cela buat mencelakai keluarga itu ma"
"Ma, Rakha kangen mama. Rakha gak suka gak ada mama. Rakha butuh mama" lirihnya memeluk nisan mamanya.
"Kamu harus ikhlas Rakha, mama kamu pasti sedih liat kamu kayak gini. Dia pasti gak mau liat kamu hancur karna kehilangannya" ujar Mala membantu menenangkan Rakha.
.
.
.
Setelah dari pemakaman mamanya, Rakha terlihat lebih tenang. Wajahnya tidak sekusut dan semuram sebelumnya.
"Mala!" panggil Kevin.
"Kenapa kamu masih aja berduan sama dia? apa kamu lupa?" tanya Kevin.
"Kamu gak usah ikut campur bisa!" bentak Mala. Ia sudah habis kesabaran menghadapi Kevin yang terus saja mengusiknya.
"Tapi Rakha itu ngebahayain kamu, apa kamu lupa apa yang di lakuin papanya sama kamu?"
"Bukan urusan kamu!" ujar Mala.
"Kevin, lain kali jangan terlalu berharap sama Mala. Sampai kapan pun kamu gak akan pernah dapatin hatinya Mala!" ujar Rakha tegas dan menusuk.
"Udah Rakha, ngapain ngeladenin manusia gak ada kerjaan ini!" ujar Mala.
"Kamu benar" balas Rakha.
Rakha dan Mala meninggalkan Kevin yang terlihat sangat kesal karna di acuhkan.
"Liat aja. Karna aku gak bisa dapetin Mala kamu juga gak bisa dapetin Mala, rakha!" lirih Kevin dengan tatapan penuh keyakinan.
.
.
.
Malam harinya adalah kegiatan jerit malam. Semua murid berkumpul di bagi perkelompok.
"Baik anak-anak, silakan di mulai! dan tetap hati-hati ya!" pinta Bu Salma.
"Baiiiiiikkkkkk Buuuuuuu"
Semua murid memasuki hutan dan melalui jalur yang telah di arahkan oleh para guru.
"Sumpah Mala, ini serem banget" ujar Dira yang takut dengan suasana hutan yang gelap.
"Nanti kalau kita nginjak ular gimana?" pikir Dira.
"Hush, gak boleh mikir aneh-aneh. Ini hutan kalau kejadian beneran gimana?" ujar Haura.
"Iya-iya, gak lagi deh" balas Dira.
"Dira, gak usah mikir macam-macam. Gunakan aja senter di tangan kamu itu dengan bener!" kekeh Rakha. Karna sedari tadi Dira terus saja mengarahkan senternya ke atas. Bukan ke jalan yang akan mereka lalui.
"Liat deh, itu arah panahnya" ujar Mala.
"Iya aku juga" balas Dira.
"Gak papa, itu karna kalian parno aja sama hutan yang gelap ini" ujar Mala.
"Bener tuh kata Mala" tambah Rakha.
.
.
.
Kelompok pertama yang baru saja menemukan tanda panah berikutnya terlihat sangat senang.
"Nah itu, bentar lagi kita sampai di tempat camping" ujar Tika senang.
"Iya, seneng banget deh akhirnya kita bisa keluar dari hutan yang gelap ini" ujar Dinda.
"Tapi apa gak bahaya kita putar arah panah tadi?" tanya dini. Ia takut jika kelompok sebelum mereka akan nyasar.
"Biarin aja sih Din, gak usah sok care gitu sama mereka" bantah dinda.
"Mala gimana ya? semoga aja dia gak papa" batin Kevin.
"Semoga Rakha gak papa, aku ngelakuin ini cuman buat ngerjain Mala doang. Rakha malah satu kelompok sama dia" batin Dinda.
.
.
.
Mala, Rakha, Dira dan Haura sudah berputar sedari tadi. Bahkan mereka terus saja melewati tempat yang sama.
"Ini kenapa kita lewat tempat ini terus ya?" ujar Haura.
"Aku juga gak tau, kenapa kita kayak mutar-mutar disini aja" balas Mala.
"Jangan-jangan kita nyasar!" ujar Dira.
"Mungkin aja sih" balas Rakha.
"Ihhh serem banget, nyasar di hutan. Kalau ada binatang buas gimana?" ujar Dira menebak-nebak.
"Dira, bisa gak sih gak usah bikin panik!" ujar Haura.
"Ya maaf, orang aku takut!"
"Udah, sekarang yang harus kita pikirin adalah gimana caranya buat keluar dari hutan ini?" ujar Mala.
"Kita gak akan ketemu jalan keluar kalau kita gak usaha nyarinya!" ujar Rakha.
"Ayo jalan lagi" tambah Rakha.
1 jam kemudian.....
Sudah satu jam Mala, Rakha, Dira, dan Haura berjalan. Tapi tetap saja mereka kembali pada tempat yang sama.
"Udah satu jam kita jalan, tapi belum juga ketemu jalan keluarnya. Kaki aku udah gak kuat jalan" ujar Dira.
"Kaki aku juga udah pegel banget ini" tambah Haura.
"Kita istirahat dulu ya, setelah itu baru kita cari jalan keluar lagi" ucap Mala.
.
.
.
Semua kelompok telah sampai di tempat camping. Kecuali rombongan Mala, Rakha, Haura dan Dira.
"Semuanya udah sampe?" tanya Bu Salma.
"Belum Bu, Dira, Mala, Haura dan Rakha belum sampe Bu" ujar Affan.
"Kenapa mereka belum sampe, bukannya semua temen yang lain udah sampai?"
"Apa mungkin mereka nyasar ya Bu?" ujar Zayyan.
"Kita tunggu 15 menit lagi, kalau mereka belum sampe juga kita susul mereka" ujar Bu Salma.
"Baiiiiikkkk Buuuu"
.
.
.
Hutan terasa semakin dingin dan mencekam.
"Ini kenapa jadi serem gini ya?" ujar Haura.
"Mana dingin lagi" tambah Dira.
"Bentar aku bikin api unggun dulu, kalian tunggu sini!" ujar Rakha.
"Jangan lama-lama" pinta Mala.
Jangan lupa like dan comen....