
Senin pagi mala berangkat sekolah di antar oleh pak Adi. Ia tak ingin jika Rakha yang menjemputnya maka Rakha dan Mala sendiri akan di marahi oleh orang tuanya.
Sepanjang perjalanan menuju sekolah mala terus saja melamun menatap keluar kaca mobil. Kejadian semalam sangat mengusiknya, ia bahkan tidak bisa tidur semalam. Mala bingung kenapa ada orang yang ingin meneror keluarganya? padahal setau Mala keluarganya itu tidak pernah punya musuh dengan orang lain.
"Non, gak baik pagi-pagi melamun" ujar pak Adi sembari mengintip dari kaca mobil. Sudah sejak tadi pak Adi memperhatikan anak majikannya itu. Sepertinya ia sedang banyak pikiran hingga terus menatap kosong ke arah luar.
"Pak, aku boleh nanya?" tanya Mala. Ia pikir mungkin pak Adi bisa membantunya atau gak memberikan sedikit informasi padanya.
"Boleh non" balas pak Adi, ia bersyukur setidaknya anak majikannya itu tak lagi melamun dengan tatapan kosong. Ia sudah mau berbicara dengannya, itu adalah suatu keberhasilan tersendiri bagi pak Adi.
"Pak Adi, papa ada musuh ya?" tanya Mala.
"Musuh?" tanya pak Adi kaget, bagaimana tidak selama ini ia mengenal keluarga gralind tidak pernah ia mendengar jika keluarga itu punya musuh.
"Iya pak, ada gak?" tanya Mala lagi, karna pak Adi tak juga kunjung menjawab pertanyaannya.
"Gak ada non, emangnya kenapa? non ada yang gangguin?" tanya pak Adi. Ia menjadi khawatir dengan Mala karna Mala merupakan anak yang tertutup dan enggan bercerita tentang masalahnya pada orang lain.
"Gak pak, aku iseng aja nanya" balas Mala. Ternyata harapannya untuk mendapatkan informasi dari pak Adi tidak berhasil. Sepertinya ia harus menyelidikinya sendiri.
Sesampainya di sekolah Mala pamit pada pak Adi. Ia berjalan menyusuri koridor sendirian.
"Mala" panggilan Rakha membuat Mala menoleh dan berhenti.
"Baru sampe?" tanya Mala.
"Iya" angguk Rakha. Rakha dan Mala berjalan beriringan menuju kelas.
"Rakha, aku mau ngomong sama kamu. Nanti kita ngomong di tempat biasa ya" ujar Mala terlihat tegas.
"Serius banget, ada apa?" tanya Rakha. Karna tidak biasanya Mala bersikap begitu tegas padanya. Rakha yakin ada sesuatu yang besar yang telah terjadi.
"Nanti aku ceritain"
"Oke" balas Rakha.
***
Pulang dari sekolah Rakha dan Mala segera menuju danau tempat biasanya mereka bertemu.
"Mau ngomong apa?" tanya Rakha to the point. Karna sedari tadi mala tidak terlihat raut wajah ramah sama sekali. Hanya raut wajah datar dan tegas yang terlihat di wajahnya. Namun bagi Rakha seperti apa pun raut wajah Mala, Mala tetap cantik.
"Semalam ada yang ngelempar batu ke rumah, dan buat kaca jendela pecah" ujar mala.
"Kok bisa, kamu punya musuh?" tanya Rakha.
"Aku gak tau, tapi yang aku tau mereka ngancam keluarga aku dan bilang kalau kami akan membayar semuanya" ucap Mala mengingat tulisan di kertas itu. Malam itu Mala sangat takut, tapi ia juga harus berani agar orang itu tak lagi mengganggu keluarganya lagi. Mala akan berusaha menyelidiki masalah itu dan mencari tau siapa di balik ini semua.
"Lalu apa?" tanya Rakha tidak mengerti dengan jalan pikiran mala.
"Aku mau menyelidikinya, kamu bisa bantu aku?" tanya Mala.
"Pasti" balas Rakha.
"Orang tuaku melarang ku berkeliaran di luar terlalu lama. Mereka khawatir jika orang yang mengancam kami semalam akan menyakiti ku. Aku harus pulang sekarang" ujar Mala.
"Aku antar" ujar rakha.
Mala mengangguk mengiyakan ucapan Rakha.
Sesampainya di depan gerbang rumah Mala, Rakha menghentikan motornya. Selama orang tua Mala di rumah, ia tak mungkin bisa mengantarkan Mala langsung di depan rumah. Karna itu akan menimbulkan masalah bagi Mala. Bagi Rakha jika ia di marahi karna mengantarkan Mala bukan masalah baginya. Tapi jika Mala yang di marahi Rakha tak akan tega.
"Aku pulang ya! kamu masuk gih!" pinta Rakha pada mala.
"Iya, thanks"
Saat Mala memasuki rumah bertepatan dengan itu Alisia keluar dari rumah.
"Mama" ujar Mala melotot kaget, ia kembali melihat ke pagar rumah. Ternyata Rakha sudah pergi.
"Mala, kamu kenapa kaget gitu liat mama?" tanya Alisia.
"Gimana gak kaget ma, mama nongol gitu aja" Balas Mala dengan nada yang aneh terdengar di telinga Alisia.
"Ada-ada aja kamu, perasaan mama gak ngagetin kamu deh"
"Ma, Mala masuk dulu ya mau istirahat capek" ujar Mala langsung nyelonong memasuki rumah.
"Iya"
Alisia celingak celinguk melihat ke arah pagar rumah. Ia merasa kalau Mala takut sekali jika ia melihat ke pagar rumah.
"Gak ada apa-apa, anak itu kenapa ya?" pikir Alisia. Pusing dengan pikirannya sendiri yang sibuk menerka-nerka. Akhirnya Alisia memasuki rumah. Ia duduk di ruang tamu dan menonton sinetron favoritnya yang tayang jam segini.
Sementara itu, di kamar Mala sudah selesai mengganti baju seragamnya dengan pakaian rumah. Ia mengambil buku pelajarannya, berhubung tadi sebelum pulang gurunya memberikan tugas sekolah jadi Mala mengerjakannya terlebih dahulu. Karna malam ini Mala ingin menyelesaikan membaca novel My Ice Girl yang kemarin baru di bacanya setengah.
Setengah jam sudah berlalu, Mala menyimpan bukunya. Tugas yang di berikan gurunya tadi sebelum pulang sekolah telah selesai. Dan sekarang Mala merasa lapar, ia turun dan menuju meja makan.
"Bi Inem!" panggil Mala.
"Iya non, ada apa?" tanya Bi Inem yang langsung menghampiri Mala. untungnya jarak meja makan dan dapur itu berdekatan sehingga bi Inem bisa dengan cepat menghampiri Mala.
"Aku laper bi, bikinin makanan"
"Siap non, tunggu bentar ya"
Sembari menunggu Bi Inem menyiapkan makanan untuknya. Mala memakan camilan yang tersedia di meja makan. Tak lama bi Inem datang membawakan makanan untuk Mala.
"Ini non, bibi bikinin pecel ayam" ujar Bi Inem.
"Makasih ya bi"
Selesai makan, Mala menghampiri mamanya yang masih setia duduk di ruang tamu.
"Ma" panggil Mala.
"Kenapa?" ujar Alisia sedikit menoleh lalu kembali fokus pada tv yang menayangkan sinetron favoritnya.
"Papa mana ma?"
"Lagi keluar katanya ada meeting mendadak"
"Ohh"
Melihat mamanya yang sangat fokus menonton. Mala jadi ikutan tertarik dengan sinetron favorit mamanya.
Suara bel rumah membuat bi inem langsung menuju pintu rumah. Bi Inem agak heran dengan seseorang yang berdiri di depan rumah. Karna wajahnya terasa asing bagi bi inem.
"Mau cari siapa ya?" tanya Bi Inem.
"Mala nya ada?"
"Ada, kamu siapa ya?" tanya Bi Inem.
"Kevin, temennya Mala" balas Kevin.
"Tunggu sebentar, saya panggilin non malanya dulu"
Bi Inem kembali memasuki rumah dan menghampiri Mala dan Alisia yang tengah asyik menonton.
"Non, ada temennya di luar" ujar Bi Inem.
"Siapa?"
"Kevin"
Jangan lupa like dan comen...