Desmala Gralind

Desmala Gralind
Pulang malam



Mala melihat jam di pergelangan tangannya, sudah menunjukkan pukul 23.00. Ia perlahan membuka pagar rumah dan memasuki rumah. Setelah bertemu dengan Rakha, ia langsung di antarkan pulang tapi tidak sampai di depan rumah. Mala meminta di berhentikan agak jauh dari rumahnya. Agar nanti saat orang tuanya keluar mereka tidak melihat Rakha. Mala tak ingin kejadian tadi siang terulang lagi.


Ia memasuki rumah dengan perlahan agar tak kedengaran oleh orang rumah. Sementara itu, Rakha mengamati Mala dari jauh. Ia memastikan jika gadis itu benar-benar masuk ke dalam rumah. Setelah Mala benar-benar memasuki rumah. Rakha kemudian melajukan motornya dan pulang.


Sementara itu Mala yang mendapati rumah yang gelap membuatnya mengerenyitkan dahinya heran. Karna biasanya rumah ini tidak pernah mati lampunya. Walaupun saat orang-orang tidur sekali pun.


"Mati lampu apa gimana sih? tapi tadi di luar lampunya hidup kok" lirih mala bermonolog dengan dirinya sendiri.


Mala menghidupkan senter ponselnya dan berjalan menuju kamarnya dengan mengendap-endap.


Clekkkk


Mendadak rumah kembali terang. Semua lampu yang awalnya mati tiba-tiba saja langsung menyala.


"Dari mana kamu?" tanya Herman dengan nada datar dari belakangnya.


Mala berbalik melihat orang tuanya dan Oma yang tengah menatapnya datar.


"Dari luar" singkat Mala.


"Kamu ini anak gadis! gak baik pulang malam!" ujar Herman.


"Yang ngajakin makan malam kan papa"


"Tapi kamu kabur? pergi kemana kamu?"


"Ke rumah temen"


"Jangan bohong! kamu pasti ketemu Rakha kan!"


"Gak siapa bilang!" balas Mala tak mengaku.


"Udahlah pa, Mala pasti masih kesal sama kamu. Biarin dia istirahat dulu, besok Mala sekolah" nasehat Alisia pada suaminya.


"Alisia bener, biarin Mala istirahat! sampai kapan kamu bersikap seperti ini sama dia!" ujar Oma Lia juga ikut membantu Mala.


"Masuk kamar!" kata singkat yang keluar dari mulut Herman.


Untuk saat ini Mala tak peduli jika papanya itu benar-benar marah. Karna ia juga marah pada papanya karna telah mengambil keputusan sebelah pihak atas hidupnya.


Di kamar Mala menghempaskan tubuhnya yang kecil di atas ranjang. Hari ini sungguh melelahkan dan banyak sekali hal yang membuat Mala kewalahan.


"Kenapa hidupku jadi rumit gini ya?"


"Ya Allah Mala capekkk" keluh Mala.


Tanpa sadar dengan keluhannya itu ia sudah terlelap ke dalam alam mimpi.


.


.


.


Mala menginjakkan kakinya di atas rerumputan hijau. Ia menatap ke depan di mana banyak sekali bunga indah di sekitarnya. Ia menyusuri jalan setapak yang entah membawanya kemana.


Mala terdiam ketika melihat sosok wanita yang duduk di atas kursi di ujung taman bunga itu. Ia mengenakan gaun putih selutut. Rambutnya yang panjang terurai dengan indahnya. Mala yang hanya bisa melihat bagian belakang tubuh wanita itu semakin di buat penasaran. Ia menghampirinya dan berdiri di belakang wanita itu.


"Duduklah di sampingku" pintahnya.


Mala yang merasa heran karna wanita itu bisa mengetahui jika ia datang. Ia langsung duduk di sampingnya. Wanita itu menatap Mala dengan senyum manisnya.


Mala sedikit familiar dengan wajah wanita itu. Ia seperti pernah melihatnya sebelumnya. Wanita di depannya ini sepertinya seusia dengan mamanya. Dan sangat cantik sama seperti mama Mala.


"Tante siapa?" tanya Mala.


"Kamu gak kenal aku?"


"Gak" Mala menggeleng.


"Nanti kamu akan tau sendiri"


"Nunggu kamu datang"


"Nunggu aku? tapi untuk apa?" tanya Mala tak mengerti.


"Aku ingin melihat gadis seperti apa yang di cintai putra ku" ujarnya menatap Mala dan membelai rambut panjang mala.


"Putra Tante? siapa?"


"Kamu jaga dia ya! semenjak dekat sama kamu dia udah gak pernah keluyuran lagi"


"Maksud Tante apa?"


"Nanti kamu akan mengerti maksudku, sekarang dengarkan saja aku" pintanya.


"Tapi_"


"Suamiku hanya salah paham dengan yang terjadi. Dia pikir aku pergi karna sahabatku. Tapi itu semua tidak benar, yang sebenarnya terjadi adalah aku memang tidak memiliki umur yang panjang. Saat itu aku sudah di vonis kanker stadium 4 oleh dokter. Dokter bilang jika usia ku tidak akan lama lagi. Dan saat itu aku bertemu dengan sahabat baik ku, dia bercerita kalau dia juga di vonis gagal ginjal dan harus segera melakukan transplatansi ginjal. Aku bersedia melakukannya karna aku ingin bermanfaat baginya sebelum aku pergi. Namun, saat operasi itu selesai ternyata kanker ku telah menjalar ke ginjal sehingga aku harus pergi saat itu"


Tiba-tiba saja Mala menyadari sesuatu.


"Tante Andini" lirih Mala. Andini tersenyum saat Mala mengenalinya.


"Pergilah ke Bogor! Cari dokter Usman yang bertugas di rumah sakit Malika. Dia akan membantu mu menjelaskannya pada suamiku"


"Dokter Usman" ujar Mala, Andini mengangguk. Perlahan tubuh Andini seperti menghilang secara perlahan. Namun sebelum itu Andini tersenyum dan berkata sesuatu pada Mala.


"Putraku beruntung mencintai gadis sebaik dan setulus kamu" ujarnya sebelum benar-benar hilang.


"Tante Andini!" teriak Mala.


Sontak Mala langsung bangun dari tidurnya. Ia melihat sekeliling, ia masih berada di kamarnya. Ternyata semua itu hanya mimpi. Tapi kenapa terasa sangat nyata.


"Apa maksud dari mimpi itu? kenapa Tante Andini bilang kalau aku harus ke Bogor. Rumah sakit Malika, dokter Usman. Apa ini petunjuk yang ingin di sampaikan Tante Andini?" pikir Mala.


"Aku harus cerita sama Rakha" lirih Mala.


***


Pagi harinya Mala kembali pergi ke sekolah di antarkan oleh pak Adi. Tapi kali ini pak Adi tidak pulang. Ia memiliki tugas dari papanya Mala untuk mengawasi Mala selama di sekolah. Agar Mala tidak berhubungan lagi dengan Rakha.


Mala sangat kesal karna papanya mulai mengusik privasinya. Walaupun Mala tau jika papanya melakukan ini untuk menjaganya. Tapi tetap saja mala merasa terkekang dengan perlakuan papanya.


Dengan kesal Mala menyusuri koridor. Namun, satu orang lagi membuatnya kesal.


"Mala!" panggilan Kevin membuat Mala sangat jengkel.


"Apa?!"


"Ketus banget" kekeh Kevin.


"Gak ada yang lucu gak usah ketawa!" bentak Mala.


Mala langsung berjalan menuju kelas meninggalkan Kevin.


"Ternyata mala galak ya? tapi tambah cantik" ujarnya yang masih bisa terdengar di telinga Mala.


"Sakit nih orang" gumam Mala.


Di dalam kelas Mala melihat Rakha yang tengah duduk di kursinya. Namun, saat ia ingin menghampiri Rakha Kevin tiba-tiba saja berbisik di telinganya.


"Ingat, kamu di larang deket-deket sama Rakha! kalau gak_" Kevin menjeda ucapannya dan berjalan menuju bangkunya. Ia tau jika Mala akan mengerti dengan maksudnya.


"Ihhhhhh" ujar Mala menghentak-hentakkan kakinya karna kesal. Dan akhirnya Mala duduk di bangkunya. Dira yang duduk di sampingnya hanya bisa menatap heran pada Mala. Karna jika ia bertanya maka ia takut kena semprot juga.


Sedangkan Rakha yang melihat itu juga ikut kesal. Rakha tau jika Kevin sudah mendapatkan kepercayaan papa Mala untuk mengawasinya dengan Mala.


"Awas aja nanti kamu Kevin!" batin Rakha.


Jangan lupa like dan comen...