
Pulang dari sekolah, Mala, Rakha, affan, Dira dan Zayyan tengah berkumpul di parkiran. Mereka akan pergi bersama ke rumah Haura. Mereka menaiki motor berpasang-pasangan terkecuali Zayyan. Ia sendirian Karna tujuannya adalah rumah Haura.
30 menit perjalanan mereka sampai di rumah Haura. Sampai di depan rumah Dira mengetuk pintu rumah.
Tak lama seorang wanita paru baya keluar, dia adalah ibu Haura.
"Siang Tante, kita mau jenguk Haura" ujar Dira.
"Iya-iya, Haura ada di dalam silakan masuk!" Ibu Haura terlihat sangat ramah menyambut kedatangan mereka.
Namun, saat melihat Mala ibu Haura terlihat kaget.
"Kamu!" ujar ibu Haura menatap kaget pada Mala.
"Kenapa Tante?" tanya Zayyan.
"Dia Mala Tante, teman Haura juga" tambah dira.
"Apa ibu haura marah ya karna aku Haura jadi terkilir" batin Mala.
"Maaf ya Tante, aku gak sengaja" balas Mala merasa bersalah.
"Kamu putri gralind? Desmala Gralind?" tanya ibu haura pada akhirnya.
"Iya" angguk Mala.
"Saya nindi, saya karyawan di kantor papa kamu. Senang sekali bisa bertemu dengan putrinya bapak Herman dan ibu Alisia" ujar nindi sangat bersemangat.
"Ayo silakan masuk!" ajak ibu nindi pada Mala. Ia bahkan melupakan teman-teman Haura yang lainnya karna terlalu senang.
"Kamu mau minum apa? biar Tante siapin"
"Gak usah Tante, aku cuma mau ketemu Haura aja"
"Masa ke rumah Tante gak minum sih, Tante siapin dulu ya! Kamu duduk dulu" pinta nindi.
Nindi pergi untuk menyiapkan minuman untuk Mala. Sementara itu, mala dan teman-temannya duduk di ruang tamu. Tak lama nindi kembali dengan membawa nampan berisi minuman.
"Ini susu coklat buat kamu" ujar nindi.
"Makasih Tante, tapi kenapa yang lain beda ya tan?" tanya Mala, ia tak suka jika di perlakukan beda oleh ibu Haura seperti ini. Ibu haura memberikannya susu cokelat sementara teman-temannya yang lain hanya di beri teh hangat. Mala merasa tidak enak dengan teman-temannya yang lain.
"Susu coklat kesukaan kamu kan? makanya Tante bikinin. Yang lain Tante gak tau suka apa?"
"Tante maaf ya, aku kesini sama teman-teman mau ketemu sama Haura. Jadi tante gak usah ngebedain aku sama teman-teman yang lain. Disini itu kita sama, aku gak suka di nomor satukan" balas Mala. Hal itu membuat teman-temannya melongo. Ternyata Mala begitu bijak dalam bersikap.
"Maaf ya udah buat kamu gak nyaman" ujar ibu Haura.
"Gak papa kok Tan, susu coklatnya enak" ujar Mala mencicipi minumannya.
Terlihat wajah nindi kembali ceria, setidaknya usahanya di hargai oleh Mala.
"Tante panggilkan hauranya dulu ya"
Semuanya mengangguk mengiyakan.
"Busyet Mala, kamu keren banget" ujar dira kagum.
"Gak usah segitunya, biasa aja kok"
Haura datang di bantu ibunya. Kakinya yang masih sakit membuatnya sulit berjalan.
"Kalian ngobrol-ngobrol dulu aja ya" ujar Nindi. Ia meninggalkan Haura bersama teman-temannya.
"Gimana kaki kamu?" tanya Zayyan. Sepertinya cowok itu sangat khawatir dengan keadaan pacarnya.
"Gak papa, udah baikan kok"
"Beneran?"
"Iya, gak percayaan banget sih"
***
Pulang dari rumah Haura Rakha dan Mala pergi ke danau. Tempat favorit mereka. Mereka menghabiskan hari di sana. Rakha dan Mala yang tengah asyik duduk di tepi danau tiba-tiba saja mendengar teriakan.
"Tolong!"
"Tolong!"
"Rakha kamu denger gak?" tanya Mala.
"Iya, kayaknya dari sebelah sana deh"
Rakha dan Mala langsung menghampiri sumber suara. Dan betapa kegetnya mereka melihat seorang anak yang tenggelam sedangkan anak yang lainnya berteriak minta tolong agar ada yang membantu temannya.
Rakha langsung meloncat ke dalam danau dan membantu anak itu. Untungnya Rakha bisa berenang dan ia berhasil menyelamatkan bocah yang berusia sekitar 7 tahun itu.
Di tepi danau, anak itu tak lagi sadar. Sepertinya ia sudah meminum banyak air sehingga membuatnya kehilangan kesadaran.
Rakha berusaha membantu anak itu dengan memompa dadanya. Sementara itu Mala yang panik terus saja berharap jika anak itu baik-baik saja.
"Kak, temen aku gak papa kan? kok dia gak bangun-bangun" ujar anak yang tadi meminta tolong.
"Hah" ujar Rakha menghembuskan nafas kasar. Ia berhasil menolong anak itu, dan anak itu bangun dengan memuntahkan banyak air dari mulutnya.
"Gilang, kamu gak papa?" tanya anak perempuan itu.
"Gak papa Nayla" balasnya masih bisa tersenyum pada temannya.
"Bikin panik aja" ujarnya memukul lengan anak laki-laki yang di panggil Gilang itu.
"Kalian ngapain di tepi danau?" tanya Mala.
"Kita lagi main kak, tapi Gilang tiba-tiba aja jatuh karna gak sengaja aku dorong" ujarnya merasa bersalah.
"Lain kali lebih hati-hati ya, sekarang kalian pulang! kasihan nanti Gilang masuk angin" ujar Mala.
"Iya kak"
Mala teringat jika ia sudah sangat lama berada di luar rumah. Jika ia pulang sebelum mamanya ada dirumah maka ia akan di marahi.
"Rakha, kita pulang yuk! udah sore" ajak Mala.
"Iya, ayok"
Rakha mengantarkan Mala sampai di depan pager. Namun yang membuatnya aneh adalah pemandangan di depan rumah mala. Ia melihat Kevin tengah bermain catur dan asyik tertawa bersama papanya mala.
"Harusnya aku yang di situ" batin Rakha.
"Kamu liatin apa sih?" tanya Mala penasaran. Ia mengikuti arah pandang Rakha.
"Itu Mala om" ujar Kevin yang melihat Mala.
"Mampusss" batin Mala, saat papanya melihat kearahnya dan rakha.
Berbeda dengan Kevin yang terlihat senang karna Mala sudah pulang. Herman terlihat sangat marah karna Mala berani membangkangnya.
"Rakha, mending kamu pulang sekarang!" pinta Mala.
"Tapi, papa kamu pasti marah. Biar aku jelasin semuanya sama papa kamu" ujar Rakha
"Jangan, yang ada papa bakalan tambah marah" larang Mala yang tau betul betapa keras kepalanya papanya itu.
"Tapi_"
"Udah kamu pulang aja! dengerin aku!"
"Kalau ada apa-apa, kabarin aku ya" pinta Rakha.
"Ya"
Mala memasuki rumah, sedangkan Rakha ia juga pulang ke rumahnya.
"Pa" ujar Mala.
"Dari mana kamu?" tanya papanya datar.
"Jenguk temen yang lagi sakit pa"
"Jangan bohong!"
"Enggak pa, kalau papa gak percaya coba aja tanya sama Tante nindi karyawan papa di kantor. Tadi aku jenguk anaknya yang satu sekolah sama aku"
Herman langsung merogoh ponselnya dan menelfon karyawan yang di maksud Mala.
"Halo, nindi"
"..."
"Apa benar Mala tadi ke rumah kamu untuk jenguk anak kamu?"
"...."
"Yasudah, Terimah kasih"
Herman langsung mengakhiri panggilannya.
"Kamu masuk sekarang!" pinta Herman.
"Iya pa" Mala menuruti papanya. Ia tak mau papanya semakin marah padanya.
Lalu Herman, berbalik menatap Kevin yang masih duduk menyaksikan obrolannya bersama putrinya.
"Kamu, kevin" ujar Herman.
"Iya om"
"Sekarang pulang dulu ya!"
"Tapi kenapa om?" tanya Kevin, Herman tak menjawab. Ia hanya diam menatap Kevin.
"Yaudah om, kalau gitu saya pamit" ujar Kevin meninggalkan rumah Mala dengan motornya.
Jangan lupa like dan comen...