
Mala sudah siap dengan perlengkapan campingnya. Setelah sarapan ia berpamitan pada orang tuanya. Dan langsung berangkat di antar oleh pak Adi menuju sekolahannya.
Sampai di sekolah Mala langsung menghampiri Dira dan Haura yang sedang menunggu di dekat bus.
"Haura, Dira!" panggil Mala.
"Kamu udah sampe?" tanya Haura.
"Iya, baru aja sampe"
"Kamu bawa apa aja buat camping?" tanya Dira.
"Gak banyak sih, cuman bawa baju, jaket, camilan, trus obat-obatan" balas Mala.
"Obat? kamu sakit?" tanya Haura.
"Gak kok, maksud aku tuh obat-obatan kayak obat alergi, obat merah, plester sejenis P3K gitu lah" jelas Mala.
"Oh aku kira kamu sakit" kekeh Haura.
"Gak kok" kekeh Mala.
Mala melihat ke sekeliling, ternyata Rakha sudah datang dan sedang ngobrol bersama Affan dan Zayyan. Mala yang ingin menghampiri Rakha tiba-tiba saja melihat Kevin yang terus memperhatikan gerak geriknya. Sehingga Mala mengurungkan niatnya untuk menghampiri Rakha. Ia ingat dengan ucapan papanya semalam, jika ia sampai ketahuan maka ia akan langsung di pindahkan sekolah.
Mala tidak takut pindah sekolah, tapi ia tak ingin berpisah dengan teman-temannya saat ini. Apalagi Rakha yang sangat ia sayangi. Mala merupakan gadis dengan tipe introvert. Ia sulit bergaul dengan lingkungan baru.
"Anak-anak ayo berbaris, kita akan segera berangkat. Sebelum berangkat kita absen dulu, agar tidak ada yang ketinggalan" ujar guru pembimbing acara campingnya. Yang akrab di panggil dengan sebutan Bu Salma.
Bu Salma mengabsen satu persatu muridnya. Dan yang telah di absen langsung menaiki bus.
.
.
.
Sampai di lokasi. Para murid segera keluar dari bus. Seperti biasa Bu salma kembali mengambil absen agar muridnya tak ada yang hilang atau pun ketinggalan.
"Anak-anak ibu silakan siapkan tendanya masing-masing. Setelah selesai kita akan berkumpul kembali di sini!" pinta Bu Salma.
"BAIK BU"
Semua murid segera menyiapkan tenda mereka masing-masing.
"Dira, pegangin! Aku masang pasaknya dulu!" pinta Haura.
"Iya Haura, ini juga udah di pegangin" balas Dira.
"Sini aku bantu Dira" ujar Mala.
.
.
.
1 jam kemudian....
"Anak-anak ayo kumpul dulu!" ujar Bu Salma dengan toa di tangannya.
"Udah kumpul semua?" tanya Bu Salma.
"UDAH BU"
"Sekarang kita pembagian tugas ya, ibu akan bagi jadi beberapa kelompok" ujar Bu Salma.
"Kevin, Dinda, Dini, dan Tika. kalian cari air di tepi danau!" pinta Bu salma.
"Mala, huara, Dira dan Rakha. Kalian cari bahan makanan di pasar terdekat!"
"Affan, Zayyan, Rendy, Gio. Kalian cari kayu bakar"
"Dan yang lain yang belum ke bagian tugas. Kalian bagian masak makanannya"
"Ada yang keberatan dengan tugas yang ibu berikan?"
"Saya Bu!" ujar Kevin.
"Kamu keberatan bagian apa Kevin?"
"Saya mau sekelompok sama Mala Bu, bisakan?"
"Gak bisa Kevin, ibu udah atur semuanya"
"Ada lagi yang keberatan?"
"GAK ADA BU"
.
.
.
Mala, Haura, Dira, dan Rakha yang di tugaskan mencari bahan makanan di pasar mereka segera menuju pasar dan membeli semua yang di perlukan.
"Udah semua kan?" tanya Mala.
"Udah kayaknya" balas dira.
"Yaudah ayo buruan, pegal nih" keluh Rakha yang bertugas menenteng semua belanjaan.
"Eh bentar deh, kita kan di kasih waktu sama Bu salma 60 menit. Baru kepake 30 menit. Gimana kalau kita ke rumah sakit tempat dokter Usman praktek" usul Mala.
"Haura, Dira aku boleh minta tolong" ujar Mala.
"Iya" balas Dira.
"Kalian tolong balik ke tempat camping bawa semua belanjaan nya, nanti kalau Bu Salma nanya kita dimana, bilang aja kalau aku sama Rakha lagi nyari bahan makanan yang masih kurang"
"Gak masalah" balas Dira mengacungkan jempol.
"Tapi kalian ngapain ke rumah sakit, dan dokter Usman siapa?" tanya Haura yang di angguki oleh Dira.
"Kalian balik aja ke tempat camping dulu, nanti aku bakalan ceritain semuanya"
"Oke" balas Dira dan Haura.
"Ayo rakha!" ajak Mala.
.
.
.
Rumah sakit Malika, sebuah rumah sakit yang jadi salah satu rumah sakit terbesar di kota Bogor. Sekarang mala dan rakha ada di depan rumah sakit tersebut.
Di depan resepsionis Mala dan Rakha langsung bertanya tentang dokter Usman.
"Maaf mbak, di sini ada dokter Usman gak ya?" tanya Mala.
"Ya dokter Usman praktek di sini"
"Bisa kita ketemu?"
"Maaf apa sebelumnya sudah buat janji?"
"Belum" ujar mala.
"Tapi ini penting, kita mau ketemu dokter Usman bentar aja" ujar Rakha.
"Maaf mas, tapi itu udah peraturan rumah sakit ini. Jika mau bertemu dengan salah satu dokter di sini harus buat janji terlebih dahulu"
"Yaudah, kita mau konsultasi sama dokter Usman, bisanya kapan?" tanya Mala.
"Sebentar, saya cek jadwal dokter usman terlebih dahulu"
"Besok jam 2 kalian bisa konsultasi dengan dokter Usman" ujar suster.
"Gak ada jadwal kosong sekarang?" tanya Rakha.
"Maaf mas, untuk sekarang jadwal dokter Usman sudah full "
"Kalau gitu, besok kami datang lagi jam 2" putus Mala.
"Baik mbak, biar saya aturkan jadwal konsultasinya"
.
.
.
Pulang dari rumah sakit, Mala dan Rakha segera kembali ke tempat camping. Untungnya mereka tidak terlambat datang. Sehingga tak ada yang curiga jika mereka keluar dari lokasi camping.
"Aku ke tenda dulu" ujar Mala. Ia menghampiri Haura dan Dira yang duduk di depan tenda. Begitu juga Rakha, ia menghampiri Affan dan Zayyan yang tengah asyik memainkan game di ponselnya.
"Gimana? berhasil gak?" tanya Dira.
"Berhasil apa?"
"Ketemu dokter Usman"
"Gak, kalau mau ketemu harus bikin janji dulu"
"Trus gimana? gak ketemu dong"
"Gaklah"
"Emangnya buat apa sih ketemu dokter Usman, penting banget kayaknya?" tanya haura yang sejak tadi di liputi rasa penasaran.
"Sebenarnya..."
Mala menceritakan semua yang terjadi antara ia dan Rakha, antara kedua keluarga yang berselisih paham. Dan masalah mimpi Mala yang bertemu dengan mamanya Rakha. Dan ia menyuruh Mala untuk pergi ke Bogor dan bertemu dokter Usman.
"Gitu" ujar Mala.
"Whattt, jadi masalah kamu sama Rakha serumit itu?" tanya Dira tak habis pikir.
"Tapi Mala, kamu yakin pesan di mimpi kamu bakalan nyelesain masalah antara keluarga kamu dan Rakha?" tanya Haura.
"Apa salahnya mencoba?"
Mendengar itu haura dan Dira hanya mengangguk membenarkan ucapan Mala. Jika kita tidak mencoba, dari mana kita tau hasilnya.
"Gak nyangka, di sekolah kita ada juga yang berfikiran luas kayak Mala" kekeh Haura.
"Iya, salut aku sama kamu Mala. Kamu gak pernah nyerah sebelum mencapai tujuan kamu" ujar Dira.
"Kalian terlalu berlebihan, aku cuma ngelakuin apa yang aku anggap benar aja. Gak lebih" balas Mala merendah.
Jangan lupa like dan comen....