
Rakha terus saja mondar mandir di kamarnya. Ia masih penasaran dengan foto yang di temuinya. Jika Andini dan Alisia berteman, lantas mengapa Andi sangat membenci keluarga Mala. Bukannya Andi dan keluarga Mala punya hubungan yang baik. Bukannya Malah memiliki dendam pada keluarga itu.
Rakha mengambil ponselnya dan menghubungi Mala. Ia ingin menceritakannya pada Mala agar ia tak stres karna memendamnya sendiri.
"Halo Rakha, kenapa?" terdengar sahutan Mala dari seberang telfon.
"Mala, aku mau cerita" Rakha terdengar ragu untuk mengatakannya pada Mala.
"Cerita apa?"
"Tadi aku gak sengaja nemuin foto"
"Foto apa?"
"Mama kamu dan mamaku"
"Hah? kok bisa?" tanya Mala terdengar kaget.
"Iya, kayaknya dulu mereka sahabatan deh. Soalnya di foto itu mereka masih make baju putih abu-abu dan kelihatan akrab banget" terang Rakha.
"Coba nanti ku tanya sama mama deh" ujar mala.
"Iya, kalau udah kabarin aku ya"
"Oke"
Panggilannya berakhir, Mala terdiam sejenak. Ia berusaha mencerna perkataan Rakha. Sama halnya dengan Rakha, jika mamanya itu berteman dengan mama Rakha. Lalu kenapa orang tuanya melarang Mala untuk dekat dengan Rakha. Dan kenapa juga Andi ingin menculiknya?
Pusing dengan pikirannya sendiri, Mala segera mencari mamanya. Ia ingin mencari tau apa yang sebenarnya terjadi di antara keluarganya dengan keluarga Rakha.
"Ma!" panggil Mala.
"Iya kenapa?" tanya Alisia yang sedang asyik menonton televisi sembari menyeduh teh.
"Mama aku boleh nanya gak?" tanya Mala.
"Tumben mau nanya bilang dulu, biasanya langsung nanya" kekeh Alisia.
"Gimana ngomongnya ya" batin Mala. Jika ia bilang kalau Rakha menemukan fotonya bersama mama rakha maka mamanya akan curiga kalau ia masih berhubungan dengan Rakha.
"Katanya mau nanya, kenapa Mala bengong?" tanya Alisia, ia heran dengan putrinya yang sering kali berubah-ubah moodnya.
"Mama dulu punya teman Deket gak sih ma?" tanya Mala.
Alisia terdiam, raut wajahnya tampak senduh dengan pertanyaan mala.
"Kenapa ma? kok diem?" tanya Mala.
"Ah, gak papa" balas alisia, ia langsung tersenyum pada Mala.
"Kenapa nanya gitu?"
"Mala penasaran ma, gimana sih rasanya punya temen Deket" ujar Mala.
"Punya temen Deket itu enak banget, ada yang selalu ngertiin kamu, ada yang selalu bantu kamu saat lagi susah, ada yang bikin kamu ketawa waktu sedih, ada yang nemenin kamu kalau mau kemana-mana" ujar Alisia seakan tengah mengingat sebuah memori yang tak bisa ia ulang kembali.
"Mama punya temen Deket?" tanya Mala.
"Punya, dia cantik, baik, ramah dan juga penyayang" balas Alisia. Ia seakan bersyukur pernah punya teman dekat seperti itu dalam hidupnya.
"Sekarang dia dimana ma?"
"Dia udah surga" lirih Alisia.
"Temen Deket mama udah meninggal?"
"Iya"
"Kenapa ma?"
"Dia donorin ginjalnya buat seseorang, tapi dia gak tau kalau ginjalnya yang lain rusak. Sehingga dia pergi ninggalin mama selamanya "
"Dia baik banget ya ma, Mala juga pengen punya temen Deket kayak temen mama" ujar Mala.
"Kamu pasti punya kok, kan kamu anak baik" balas alisia.
"Ma, aku boleh tau nama temen mama gak?"
"Namanya, Andini"
"Cantik banget namanya ma, pasti orangnya juga cantik"
***
Paginya, Mala kembali di antar oleh pak Adi ke sekolah. Sesampai di sekolah Mala langsung melihat Rakha yang sedang memarkirkan motor.
"Rakha!" panggil Mala.
"Iya"
Mala langsung menarik Rakha menuju tempat yang agak sepi.
"Kenapa Mala?" tanya Rakha.
"Nama mama kamu siapa?" tanya Mala. Sejak semalam ia menerka-nerka jika sahabat yang di maksud mamanya itu adalah mamanya rakha.
"Tumben kamu nanyain nama mama aku, buat apa?"
"Jawab aja"
"Andini, nama mamaku Andini"
Mala langsung reflek menutup mulutnya karna kaget. Jadi benar, jika mamanya dan mama Rakha itu teman dekat.
"Kenapa Mala? kenapa kamu kaget gitu?"
"Semalam mama aku cerita kalau mama kamu itu teman baiknya. Dan mama kamu meninggalkan karna donorin ginjalnya buat seseorang. Dan ternyata ginjalnya yang satu lagi bermasalah"
"Mama memang meninggalkan karna gagal ginjal, tapi aku gak tau kalau mama pernah donor ginjal. Papa atau pun mama gak pernah cerita hal itu sama aku"
Bel masuk berbunyi, Rakha dan Mala langsung menuju kelas dan mengikuti pelajaran.
Sepanjang pelajaran Rakha dan Mala masih memikirkan seseorang yang di donorkan ginjal oleh Andini. Rakha dan Mala yakin orang itu adalah orang yang penting bagi Andini, sehingga ia rela memberikan ginjalnya.
"Siapa dia?" batin Rakha dan Mala.
Pulang dari sekolah, Dira dan Haura mengajak Mala untuk main bersama nanti siang. Dan Mala mengiyakannya, karna jarang sekali ada yang mau mengajaknya main keluar.
***
Siang harinya, pukul 14.00 Mala telah siap untuk pergi main bersama Dira dan Haura.
Hari ini mereka berencana akan pergi berkeliling di mall. Mereka ingin belanja sepuasnya. Mala yang awalnya tak hobi belanja akhirnya juga menikmatinya bersama Dira dan Haura. Ternyata kedua gadis itu sangat mengasyikkan.
Selesai belanja mereka merasa lapar dan mampir untuk makan di sebuah kafe. Di kafe itu mereka di ganggu oleh beberapa cowok yang tertarik dengan kecantikan mereka. Namun, mereka memasang wajah datar sehingga cowok-cowok yang ingin mendekati mereka jadi enggan.
Di depan mall, mereka memesan taksi untuk pulang ke rumah. Namun, sebuah motor tiba-tiba saja ingin menabrak Mala padahal ia sudah berada di pinggir jalan. Haura yang melihat hal itu langsung menarik Mala. Sehingga Haura jatuh dan kakinya terkilir.
"Awhh" ringis Haura.
"Woi, bawa motor hati-hati dong!!" teriak dira pada pengendara motor yang ugal-ugalan itu.
"Haura, kamu gak papa?" tanya Mala menghampirinya.
"Kayaknya kaki aku terkilir deh" ringis Haura memegangi kakinya.
"Haura kamu gak papa?" tanya Dira.
"Kakinya terkilir, kita bawa ke rumah sakit aja" ujar Mala.
"Iya, nah itu taksi datang"
Mala dan dira langsung membantu Haura berjalan menuju taksi. Mereka menuju rumah sakit untuk memeriksa keadaan kaki haura. Sesampainya dirumah sakit, haura langsung di periksa oleh dokter.
"Gimana keadaanya dok?" tanya Mala.
"Kakinya gak papa, tapi untuk sementara waktu tetap harus di perban agar mempercepat pemulihannya"
"Baik dok, makasih ya" ujar Dira.
"Haura maaf ya, gara-gara aku kamu jadi kayak gini?" lirih Mala. Ia sangat merasa bersalah pada Haura. Jika saja Haura tak menyelamatkan nya maka tidak mungkin Haura akan celaka.
"Gak papa Mala, santai aja. Kita itu sahabat jadi harus saling jaga" balas Haura tersenyum tulus.
"Haura makasih banget ya, aku beruntung punya sahabat kayak kamu" ujar Mala langsung memeluk Haura. Entah kenapa ia menjadi mellow karna ucapan Haura.
"Aku juga mau peluk" ujar Dira merasa iri.
Jangan lupa like dan comen ya...