Desmala Gralind

Desmala Gralind
Makan malam



Keluarga Gralind sampai di sebuah kafe yang terletak di pusat kota. Sampai di sana keluarga Gralind langsung di sambut oleh pelayan dengan sangat ramah. Kemudian mereka di arahkan ke suatu tempat yang sepertinya sudah di booking oleh papa.


"Kita ngapain ke sini pa?" tanya Mala.


"Nanti juga kamu bakalan tau, kamu pasti senang" ujar herman membanggakan diri dengan usahanya.


"Nah itu mereka datang" ujar Herman terlihat senang saat melihat ke arah pintu masuk.


Ternyata yang di lihat papanya adalah Kevin dan orang tuanya. Makan malam kali ini bukan makan malam khusus keluarga saja. Ada orang luar yang juga ikut terlibat.


"Mario, apa kabar?" tanya Herman berpelukan dengan ayah dari Kevin.


"Tentu nya baik"


"Mbak Alina, seneng bisa bertemu lagi" ujar Herman menjabat tangannya.


"Senang juga bisa bertemu dengan kamu"


Sedangkan Mala, Alisia dan Oma yang tak mengetahui rencana Herman hanya diam mengamati.


"Ayo silakan duduk!" pinta Herman.


Herman tersenyum sangat senang dengan kedatangan Kevin dan orang tuanya. Beda halnya dengan Alisia, oma dan Mala yang masih saja bingung kenapa Herman mengajak orang luar makan malam bersama.


"Kalian pasti bingung kenapa papa mengajak Kevin dan orang tuanya makan malam sama kita?" ujar Herman, namun tak ada yang menyahutinya hanya tatapan bertanya yang tersirat di mata ketiga wanita itu.


"Malam ini papa mau ngenalin Mario sahabat papa dan istrinya Alina, Mario ini adalah partner bisnis yang sangat papa percaya" ujar Herman, Mario terlihat sangat senang dengan pujian dari Herman. Begitu juga dengan alina yang tampak bahagia karna suaminya mendapat penghargaan dari Herman.


"Makan malam kali ini, papa mau ngejodohin kamu sama Kevin" lirih Herman yang langsung membuat Mala melotot kaget.


"Pa, papa apa-apaan sih!" balas mala tak terima.


"Kenapa, kamu mau sama Rakha lagi?" tanya Herman dengan nada kesal.


"Aku gak suka di jodohin pa, ini bukan zaman Siti nurbaya!" kekeuh Mala pada pendiriannya.


"Kenapa gak mau? Kevin anaknya baik kok. Dia juga satu sekolah dan satu tempat latihan karate sama kamu. Dia bisa ngelindungin kamu! malahan lebih baik dari Rakha itu!"


"Tetap aja aku gak mau pa!"


"Pa, kenapa gak di omongin dulu dirumah masalah perjodohan ini?" tanya Alisia. Ia tau sekali watak suami dan putrinya yang sama keras kepalanya.


"Di omongin atau enggak, perjodohan ini akan tetap berjalan baik itu atas kemauan Mala atau tanpa kemauannya sekali pun!" ujar Herman terdengar tegas. Mendengar itu Kevin sangat senang, ia seakan punya peluang besar untuk mendapatkan Mala. Saat mendengar Herman mendukungnya 100%.


"Herman, apa kamu yakin? Mala masih sekolah. Apa gak terlalu cepat?" tanya Oma Lia.


"Aku cuman ngejodohin dia, bukan menikahkannya ma"


Mendengar itu oma Lia hanya bisa diam. Ia tak lagi bisa berkata-kata jika Herman sudah teguh akan pendiriannya.


"Mala mau pulang!" ujar Mala tiba-tiba berdiri.


"Duduk Mala!" pinta Herman.


"Gak mau! Mala mau pulang!"


"Jangan negebantah! dengerin papa!"


"Papa aja gak ngedengerin aku! gimana aku mau dengerin papa!" bantah mala.


"Pokoknya Mala mau pulang!" ujar Mala meninggalkan kafe itu.


"Mala!" ujar Alisia tapi tak di kubris olehnya. Alisia yang hendak menyusul putrinya itu, namun ucapan Herman membuat nya berhenti.


"Alisia, duduk!"


"Tapi, pa_"


"Biarin aja"


***


"AHHHHH PAPA NGESELIINNNN" teriaknya.


"Kamu ngapain disini?" suara yang familiar di telinga Mala. Ia langsung mendongak menatap sosok yang baru saja bertanya itu.


"Rakha" ujar Mala girang. Ia langsung berdiri dan memeluk Rakha. Rasanya lebih nyaman saat ada di pelukan Rakha. Mala merasa lebih baik saat ini. Perlahan rasa kesalnya mulai menghilang. Hangatnya pelukan Rakha membuat Mala sangat nyaman.


"Kamu kenapa?" tanya Rakha, ia membalas pelukan Mala. Sepertinya gadis di depannya ini sedang punya masalah.


"Kamu bisa cerita sama aku. Tenang aja aku bisa di percaya kok" ujar Rakha.


"Apaan sih?" ujar Mala memukul Rakha, ia terkekeh dengan ucapan Rakha barusan. Kata-kata nya seperti seseorang yang ingin tau rahasia besar dari sahabatnya.


"Tuh cantik, kalau ketawa" kekeh Rakha. Ia hanya ingin menghibur Mala agar kembali ceria seperti biasanya.


"Ngapain malam-malam disini? ada masalah?" tanya rakha.


"Hm" angguk Mala, ia kembali mengambil posisi duduk di tepi danau begitu juga dengan Rakha.


"Mau cerita?"


"Aku di jodohin sama Kevin" ujar Mala, mendengar itu Rakha sangat kaget. Bagaimana bisa papa Mala secepat itu menjodohkan Kevin dengan Mala? padahal baru saja tadi siang ia melihat Kevin dan papa Mala tertawa dan ngobrol bersama.


"Kenapa gitu?"


"Aku juga gak tau, mungkin karna papa liat kamu nganterin aku pulang tadi siang"


"Trus kamu terima?"


"Ya gaklah, ngapain! gak jelas banget!" balas Mala sewot.


"Santai! jangan sewot gitu!" kekeh Rakha.


"Trus kamu ngapain di sini malam-malam?" tanya balik Mala.


"Berantem sama papa" lirih Rakha. Mala menatap Rakha lekat. Ia merasa kasihan padanya. Bahkan di saat Rakha ada masalah pun, ia masih bisa menghibur Mala. Jadi bagaimana bisa Mala yakin kalau Rakha juga punya keiinginan untuk menghancurkan keluarganya. Sedangkan Rakha sendiri selalu berusaha membuatnya bahagia.


"Masalah apa?"


"Aku denger papa mau nyekalakain kamu"


"Nyelakain aku?"


"Iya, aku gak akan biarin siapa pun nyakitin kamu. Bahkan itu papa aku sekali pun!" ujar Rakha sangat yakin dengan ucapannya. Mala tersenyum hangat pada Rakha.


"Makasih ya, udah selalu jadi malaikat buat aku"


"Apapun buat kamu" balas Rakha.


Mala menyandarkan kepalanya pada bahu Rakha. Mereka menikmati pemandangan danau yang sangat indah di malam hari. Dan yang paling indah adalah Meraka yang mempunyai satu sama lain.


Setengah jam berlalu, Mala teringat akan sesuatu.


"Rakha" ujar Mala tiba-tiba.


"Kenapa?"


"Sekarang aku udah tau kenapa papa kamu benci banget sama keluargaku" ujar mala.


"Kenapa?"


Mala menceritakan semuanya pada Rakha. Semua yang di ceritakan mamanya. Mala tampak serius menjelaskan masalah yang membuat keluarganya dan Rakha bermusuhan. Sedangkan Rakha ia menyimak setiap kata yang keluar dari mulut Mala.


"Jadi, orang yang mendapat donor ginjal mama itu mama kamu?"


"Iya"


Rakha sekarang sudah mengetahui semuanya. Setidaknya ia tak lagi di liputi rasa penasaran atas apa yang sebenarnya terjadi. Namun satu hal yang harus di tuntaskannya sekarang adalah bagaimana membuat kedua keluarga itu kembali membaik.


Jangan lupa like, comen dan vote