Desmala Gralind

Desmala Gralind
Ice cream coklat



3 hari kemudian...


Keluarga Gralind baru saja keluar dari bandara. Setelah 3 hari mereka berada di Amerika untuk pemakaman Oma Lia. Mereka akhirnya kembali lagi ke Indonesia.


Kecelakaan yang menimpa Oma Lia sungguh tak pernah mereka bayangkan. Kecelakaan itu di sebab kan karna Oma yang buru-buru bertemu dengan klien opa. Sehingga tanpa ia sadari saat ia menyebrang lampu jalan masih berwarna hijau. Sehingga sebuah truk dari arah lain langsung menabrak Oma. Dan pada saat itu oma sudah meninggal di tempat sebelum ia di bawa ke rumah sakit.


"Kenapa Oma cepet banget ninggalin kita?" ujar Mala.


"Mala yang ikhlas ya, mungkin tuhan lebih sayang sama Oma" balas Herman.


"Papa benar Mala, kita gak boleh berlarut-larut dalam kesedihan" ujar Alisia.


"Iya ma"


.


.


.


Sampai di rumah, Mala langsung beristirahat begitu juga dengan kedua orang tuanya.


Rakha calling...


"Rakha" lirih Mala.


Mala menggeser ikon hijau pada layar ponselnya.


"Halo" ujar Mala.


"Mala, kamu baik-baik aja?" tanya Rakha.


"Iya Rakha, aku baik-baik aja"


"Kamu sedih ya? jangan sedih terus nanti Oma sedih loh liat kamu sedih" ujar Rakha.


"Iya gak kok, aku gak sedih" balas Mala.


"Besok masuk sekolah kan?"


"Iya"


"Besok pulang sekolah aku ajak jalan deh, biar kamu gak sedih lagi. Sekarang kamu istirahat dulu, pasti capek kan baru pulang dari Amerika" ujar Rakha.


"Iya"


.


.


.


Alisia mengetok pintu kamar Mala. Ia ingin mengajak putrinya untuk makan malam. Sedari siang tadi mala tidak makan apapun. Alisia takut jika nantinya Mala jadi sakit karna berlarut-larut dalam kesedihan.


Tok Tok Tok


"Mala, kita makan dulu yuk!" ajak Alisia.


"Aku gak laper ma" balas Mala.


"Mala, ayo sayang makan dulu. Dikit aja nanti kamu sakit kalau gak makan. Dari siang kamu belum makan apa-apa" ujar Alisia. Tapi Mala tak menyahuti ucapannya.


"Mala, ayo nak! Mala gak mau kan bikin mama sama papa sedih liat Mala sakit" ujar alisia.


Ceklek


Mala berdiri di depan pintu sembari menunduk.


"Maafin Mala" ujarnya.


"Gak papa, ayo kita makan!" ajak Alisia.


***


Sekolah sudah ramai dengan para murid. Berhubung hari ini adalah hari Senin, jadi semua murid akan melakukan upacara di lapangan.


30 menit kemudian...


Upacara bendera telah selesai. Semua murid kembali ke kelas menunggu guru yang mengajar datang.


"Mala, turut berduka cita ya atas meninggalnya Oma kamu" ujar Dira.


"Iya makasih"


"Kita semua juga turut berduka cita ya Mala" ujar Haura mewakili Zayyan, Affan dan teman-temannya yang lain.


"Makasih ya semuanya"


.


.


.


Jam istirahat telah berbunyi 5 menit yang lalu. Mala dan teman-temannya duduk di kantin seperti biasa.


"Ohya Mala, materi tadi kamu ngerti gak?" tanya haura.


"Ngerti, emang kamu gak?" tanya Mala.


"Gak, nanti ajarin aku ya Mala"


"Oke"


"Makanya kalau guru lagi ngejelasin itu di dengerin, gak ngerti kan jadinya" ujar Dira.


"Kayak kamu ngerti aja" balas Haura.


"Hehe, enggak sih"


Sontak semuanya terkekeh dengan tingkah Dira.


.


.


.


Pukul 14.00 waktu sekolah telah berakhir 30 menit yang lalu. Rakha dan Mala sudah ada di tepi danau. Keduanya sedang menikmati suasana yang begitu nyaman dengan terpaan angin yang sepoi-sepoi.


"Mau kemana?" tanya Mala. Namun, Rakha sudah terlanjur pergi.


"Mau kemana sih?" lirih Mala.


Sembari menunggu Rakha, Mala menikmati pemandangan danau yang sangat menakjubkan di siang hari. Apalagi di tambah dengan langit biru dan adanya awan yang mengumpal-gumpal. Semakin menambah keindahan danau itu.


"Nih" ujar Rakha memberikan sebuah Ice cream pada Mala.


"Ice cream coklat?"


"Yaps"


"Kok tahu sih, aku suka Ice Cream coklat?" tanya Mala.


"Aku pikir dengan Ice Cream itu maka kesedihan kamu bakalan cair kayak ice cream nya" kekeh Rakha.


"Makasih ya, kamu care banget sama aku"


"Ya pastilah aku care sama pacar sendiri, kalau orang lain mah bodoh amat" jawab Rakha.


.


.


.


Mala baru saja pulang di antar oleh Rakha. Namun tidak sampai di depan rumah.


"Bi inem" ujar Mala yang melihat Bi Inem sedang menyiram tanaman.


"Iya non"


"Bi inem kapan baliknya?"


"Tadi pagi non" balas bi inem.


"Ohh"


"Non mau makan apa? biar bibi siapin!" ujar Bi inem.


"Nasi goreng aja bi"


"Oke, tunggu di kamar ya non. Nanti bibi anter ke kamar"


"Siap bi"


.


.


.


Pukul 4 sore, Mala baru saja selesai menonton drakor kesukaannya.


Papa calling...


"Halo pa, kenapa?" tanya Mala.


"Mala, berkas papa ada yang ketinggalan. Kamu bisa anter ke kantor papa?"


"Bisa pa, berkas yang mana?"


"Map warna biru di atas meja papa"


"Oke pa"


.


.


.


Mala memasuki ruangan kerja papanya. Ia mencari berkas yang di maksud papanya.


"Ini kali ya" ujar Mala mengambil map biru yang terletak di atas meja.


.


.


.


Mala menaiki taksi online menuju kantor papanya. Karna pak Adi sedang libur jadi dia tidak bisa mengantar jemput Mala. Namun sialnya, setiap kali Mala pergi sendiri. Selalu saja ada masalah yang datang padanya.


"Loh pak, ini bukan jalan ke kantor papa saya!" ujar Mala.


Tapi sopir taksinya tak menghiraukannya. Ia malah mempercepat laju taksi. Hal itu membuat Mala panik.


"Pak berhenti! saya mau turun!" pinta Mala. Entah kenapa Mala merasa kalau sopir taksi ini punya niat jahat padanya.


"Pak berhenti! bapak mau bawa saya kemana?" pekik Mala. Ia Manarik lengan sopir taksi agar menghentikan taksinya. Tapi sopir taksi itu Mala menyikutnya hingga ia terhempas ke belakang.


"Om Andi" lirih Mala yang tak sengaja melihat wajah dari sopir taksi itu.


"Om! turunin aku! Om mau bawa aku kemana?" ujar Mala.


"Diam! Herman dan Alisia harus merasakan bagaiman rasanya kehilangan orang yang di cintainya!" tukas Andi.


"Om! Semua itu cuma salah paham! Om gak seharusnya kayak gini! Tante Andini pasti sedih liat om kayak gini!" ujar Mala.


"Tau apa kamu tentang Andini! kamu cuma anak kemarin sore!" ketus Andi.


Andi mengarahkan mobilnya menuju jurang. Mala yang melihat itu sangat takut dengan tindakan Andi.


"Om, itu jurang om! minggir om!" ujar Mala merebut setir mobilnya. Namun, lagi-lagi Andi mendorongnya hingga terhempas ke bangku belakang.


"Selamat tinggal Mala" ujar Andi, tiba-tiba ia meloncat keluar dari mobil dan meninggalkan mala yang terjebak di bangku belakang.


Duarrrrrrrr


Suara ledakan mobil dari bawa jurang membuat Andi sangat bahagia. Ia berhasil membuat keluarga Gralind kehilangan orang yang paling di sayangnya. Seperti ia kehilangan Andini dulu. Dan penyebabnya adalah keluarga Gralind.


"Akhirnya, dendam ku terbalas kan! Herman dan Alisia bisa merasakan rasanya kehilangan orang yang di cintainya" kekeh Andi menyaksikan betapa indahnya ledakan di bawah jurang itu.


Jangan lupa like, comen dan votenya ya....