Desmala Gralind

Desmala Gralind
Kesepian



Pukul 14.00, sepulang dari sekolah teman-temannya Mala datang ke rumah Mala. Setelah mendengar cerita Mala jika rumahnya tidak terawat dan berdebu. Teman-temannya mengusulkan untuk membantu Mala membersihkan rumah.


"Makasih ya, udah pada mau bantuin" ujar Mala.


"Sama-sama" balas semuanya.


"Kita mulai dari mana nih?" tanya Affan.


"Lantai bawah aja dulu kali ya, jadi di ruangan ini ada beberapa ruangan. Yang pertama kamar orang tua aku, di sebelah sana, trus kamar tamu di sebelah situ, trus ada ruang tamu sama dapur. Jadi kita bagi tugas ya!" ujar Mala.


"Ogheeyy"


"Dira, kamu beresin kamar orang tua aku ya. Haura kamu beresin kamar tamu. Dan Affan sama Zayyan kalian beresin ruang tamu, kamu Rakha aku lupa satu hal, meja makan tadi gak kesebut. Jadi kamu beresin meja makan. Aku beresin dapur!"


"Siap" balas Rakha.


Semuanya sibuk dengan pekerjaan mereka masing-masing.


30 menit kemudian...


Mala dan teman-temannya berkumpul di ruang tamu. Mereka cukup lelah dengan pekerjaan yang tidaklah banyak itu.


"Istirahat bentar ya, capek nih" ujar Affan.


"Iya gak papa. Aku ke indamaret dulu ya beli makanan sama minuman buat kalian" ujar Mala.


"Cepetan ya Mala" ujar Zayyan.


"Aku anterin" ujar Rakha.


"Ayo!"


.


.


.


Di Indomaret, rakha mengambil keranjang. Dan Mala memilih makanan dan minumannya.


Di tempat yang sama, keduanya tak sengaja bertemu dengan Kevin dan Dinda.


"Kevin, Dinda!" ujar Mala.


"Hai Mala, Rakha" sapa Dinda.


"Kalian ngapain disini?" tanya Mala.


"Mampir beli minum" balas Kevin.


"Kalian ngapain? banyak banget. Belanja bulanan ya?" tanya dinda.


"Enggak, ini tuh buat teman-teman yang lain" balas Mala.


Sebelumnya Kevin dan Dinda sudah tau dengan kabar kembalinya Mala. Jadi mereka tak terlalu terkejut saat bertemu mala.


"Kita udah nih, duluan ya! lanjut belanja nya" ujar Dinda.


"Duluan ya, Mala, Rakha" pamit Kevin.


"Yoi"


Selesai berbelanja, Rakha dan Mala langsung membayarnya di kasir. Kemudian mereka kembali ke rumah. Teman-temannya pasti sudah haus dan juga kelaparan.


Sampai di depan rumah, Mala langsung bersorak jika ia telah pulang.


"I am came back" ujarnya sedikit berteriak.


"Nih, aku bawain makanan sama minumannya! ambil aja sepuasnya!" ujar Mala meletakkan belanjaannya di atas meja.


.


.


.


Setelah teman-temannya pulang. Mala kembali merasa sendirian. Ia tau jika teman-temannya bisa menemaninya. Namun,tidak mungkin mereka selalu menemani Mala. Mereka juga punya aktivitas masing-masing.


Jam masih menunjukkan pukul 16.00. Mala kembali melanjutkan beberes rumahnya di lantai dua. Ia membereskan kamarnya, ruang kerja papanya, perpustakaan pribadi milik papanya.


Tak terasa jam sudah menunjukan pukul 19.00. Mala merasakan perutnya lapar. Ia menuju dapur dan menceplok telur. Untung saja saat di Indomaret tadi ia menyempatkan membeli beberapa stok untuk di kulkasnya.


"Makan sendiri, ternyata gak enak ya" lirih mala.


"Kapan ya mama, papa balik ke sini! emangnya mama papa gak kangen sama Mala?" lirihnya.


***


Sudah beberapa jam pelajaran ia lewati. Tapi Mala sepertinya tak ada niatan untuk kembali ke kelas. Setelah jam istirahat Mala tak lagi masuk ke kelas. Ia berdiam diri di perpustakaan sendirian.


Ia mengambil sebuah buku untuk dibacanya. Tapi pikirannya malah terbang bebas entah kemana. Bahkan buku yang di bacanya terbalik saja ia tidak tau.


"Maaf kak, lagi baca apa?"


"Baca buku" balas Mala.


"Beneran baca buku?"


"Iya, gak liat apa?" ketus mala.


"Ini seni baru baca buku ya?"


"Maksudnya?"


"Iya seni baca buku kebalik"


"Eh iya kebalik" kekeh Mala. Ia menurunkan bukunya.


"Gimana sensasi baca buku kebalik nya?" tanya Rakha.


"Rakha, ternyata kamu!" ujar Mala sedikit berteriak.


"Shttt" ujar Rakha menempelkan telunjuk di bibirnya.


"Shttt" balas Mala mengikuti Rakha.


"Ngapain disini? kenapa gak masuk kelas?"


"Lagi badmood" balas Mala.


"Kenapa? lagi pms?"


"Gak, ngerasa kesepian aja"


"Kan ada aku sama teman-teman. Gak cukup?"


"Aku kangen mama papa"


Mendengar perkataan Mala, Rakha kehilangan kata-katanya. Bagaimana ia bisa menghibur Mala jika ia tidak bisa menghibur dirinya sendiri atas kepergian mama dan papanya yang mendekam di penjara.


"Aku yakin mereka bakalan balik, kamu berdoa aja ya!"


.


.


.


Pulang dari sekolah, Rakha mengajak Mala untuk pergi ke danau. Karna hanya di sana mereka bisa menghibur diri mereka.


"Udah lama ya kita gak ngehabisin waktu disini " ujar Rakha.


"Kata siapa?" balas mala.


"Benerkan aku, kita udah lama gak ngehabisin waktu disini" ujar Rakha mengulang perkataannya.


"Gak kok, saat kamu ngehabisin waktu di danau ini. Tanpa kamu tau aku jug ada kok disini sama kamu, cuma kamu aja yang gak liat"


"Maksud kamu? kamu ada disini. Tiap kali aku kesini, tapi aku gak liat kamu, gitu?"


"Yaps bener banget" kekeh Mala.


"Jadi kamu stalking aku dong" ujar Rakha.


"Kalau iya kenapa? gak boleh stalking pacar sendiri" balas Mala.


"Gak ada yang ngelarang sih " kekehnya.


"Aku suka senja tau" ledek Mala.


"Hmm sekarang aku yakin kamu selalu ada disini, makanya aku suka banget kesini" balas Rakha.


.


.


.


Rakha mengantarkan Mala pulang ke rumahnya. Setelahnya ia kembali kerumahnya.


"Tiap kali pulang ke rumah ini, rasanya kembali kesepian" lirih Mala.


Ia memasuki rumah yang tak berpenghuni itu. Kecuali dirinya sendiri.


Mala merebahkan dirinya di sofa ruang tamu. Ia terlalu lelah walau hanya untuk berjalan menaiki tangga.


Ting... Tong...


Suara bel rumah membuat Mala kembali terbangun. Padahal dirinya baru saja akan terlelap.


Dengan malas Mala berjalan menuju pintu rumah dan membuka pintu.


"Malaaaa, ini beneran Mala?"


"Pa, ini benar-benar Mala"


Suara dua orang yang sangat di kenali Mala. Namun, Mala tidak bisa melihat keduanya dengan jelas karna matanya masih blur baru bangun tidur.


Saat pandangannya mulai jelas, Mala baru menyadari jika yang di depannya saat ini adalah orang tua nya.


"Mama, papa" lirih Mala.


"Iya sayang" Balas Alisia.


"Ah gak mungkin, aku pasti mimpi" oceh Mala kembali memasuki rumah.


"Gak sayang! kamu gak mimpi. Ini beneran mama sama papa" ujar Herman. Namun mala sudah kembali terlelap di atas sofa.


"Kayaknya dia kecapean" ujar Herman.


"Gendong ke kamar aja pa" pinta Alisia.


"Iya"


Herman membaringkan Mala di tempat tidurnya. Keduanya sangat bersyukur ternyata putrinya benar-benar kembali. Tuhan masih menjaga putri mereka itu sudah lebih cukup bagi Herman dan Alisia.


Bagi mereka Mala adalah segalanya. Untungnya seseorang memberitahu Herman jika putrinya sudah pulang. Jadi mereka langsung memastikan untuk pulang ke Indonesia saat itu juga. Untuk memastikan kebenarannya. Dan ternyata kabar itu bukan kebohongan belaka. Mereka bisa melihat putri mereka masih bernafas di hadapan mereka sendiri.


Jangan lupa like dan comen...